16 Desember 2009

Bersama

Tak pernah kita perincikan pada suatu masa, seperti apakah kita 14 tahun kemudian. Aku seperti apa, engkau seperti apa, kita ada di mana, siapa bersama kita, siapa yang tak lagi bersama kita. Tapi, meski tak kuingat jelas, aku yakin kita pernah memperbincangkan sesuatu yang seharusnya berlaku juga saat ini : kita masih tetap bersama.

Seperti itulah, kekasihku. Janji pada suatu Sabtu pagi 14 tahun yang lalu, nyatanya masih kita pegang teguh hingga hari ini.

Kita tak berniat memperbarui atau meneguhkan janji itu. Jika kita masih percaya dan bersandar pada kesetiaan dan kejujuran bibir, maka janji itu tak akan kita ingkari hingga kita mati.

Akh, marilah kita perbincangkan, kekasihku. Ketika kebersamaan itu tidak terusik, adakah mimpi-mimpimu tentang indahnya kebersamaan itu telah menjadi nyata ? Adakah engkau mengucap syukur untuk apa yang ada hari ini, apa yang telah tiada dan belum ada hari ini, apa yang berlangsung dan tidak berlangsung di hari-hari yang telah lalu ? Apakah engkau mencintai hidup sebagaimana engkau menginginkan hidup ?

Tuhanlah yang meneguhkan kebersamaan kita. Dialah juga yang tetap menjadi nakhoda kita mengarungi lautan luas di depan. Dia juga yang memberi makna atas kebersamaan ini.

15 Desember 2009

Pembela Tuhan

Membaca sebuah situs Kristen yang berisi perdebatan doktrin Kristen dengan kata-kata yang kasar, aku bertanya dalam hati : apakah Tuhan pernah meminta untuk dibela dengan cara demikian ?

Siapakah kita manusia sehingga kita tahu siapa yang paling berkenan di mata Tuhan ? Ajaran mana yang paling sejalan dengan kehendakNya ?

Bukankah kita semua hanyalah musafir yang sedang berjalan menuju rumah yang kekal dan tak seorangpun pernah melalui jalan-jalan ini sebelumnya ?

Mengapakah kita berteriak-teriak mengenai kesesatan orang lain, seakan-akan dari sudut pandang orang lain kita ini tak kurang sesatnya ?

Mengapakah kita merasa sedang membela Tuhan ?

Tuhankah yang kita bela ? Ataukah jalan pikiran kita sendiri ?

14 Desember 2009

Di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan

1 Yoh 1 : 5

Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu : Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.

13 Desember 2009

Dua Natal

Sore dan malam ini aku menghadiri dua acara natal.

Pertama acara natal di Sekolah Minggu, kedua acara natal punguan marga ibuku.

Acara yang pertama berlangsung seadanya : kurang persiapan, kurang greget, kurang bermakna. Tampaknya para pengelola sekolah minggu kekurangan tenaga dan sumberdaya, sehingga acara tersebut dibuat tak sebaik acara tahun lalu. Hal yang baik adalah : tidak ada khotbah. Ini baik, karena anak-anak batita dan balita memang bukan jemaat yang siap mendengar khotbah. Namun, anehnya, ada banyak kata sambutan yang berpanjang-panjang yang membuat anak-anak menjadi bosan.

Acara yang kedua berlangsung lebih terrencana, meskipun tidak terlalu hikmat karena banyak anak-anak yang hilir mudik dan bersuara. Sayangnya, khotbahnya berpanjang-panjang, dan tak begitu nyambung dengan thema yang tertera di lembar acara.

Dua acara natal.

Entah yang mana yang membawa orang lebih dekat dan lebih kenal dengan Tuhannya.

09 Desember 2009

Kesetiaan adalah ....

Mengapakah Tuhan mengibaratkan hubunganNya dengan manusia seperti hubungan Mempelai Pria dengan mempelai wanita ?

Mengapakah Tuhan sering mengibaratkan kelakuan manusia yang menyembah berhala sebagai suatu perzinahan ?

Mengapakah Tuhan menyuruh Hosea mengawini seorang pelacur untuk menunjukkan bagaimana perasaanNya terhadap pemberontakan manusia terhadapNya dan bagaimana perasaanNya ketika menerima manusia kembali sebagai umatNya ?

Mengapakah Tuhan memandang penting tentang pernikahan ? Mengapakah Tuhan begitu membenci perceraian ?

Mengapakah Tuhan memandang penting kekudusan hubungan suami isteri ?

Mengapa Tuhan seringkali mengingatkan bahwa Dia setia ?

Mengapa Tuhan berulang-ulang mengingatkan agar manusia berlaku setia ?

Apakah kesetiaan ?

Bukankah itu suatu kejujuran dalam suatu hubungan ?

Bukankah itu suatu kerelaan yang melampaui apa pun ?

Bukankah itu suatu penerimaan tak bersyarat ?

Bukankah itu suatu kesediaan menjalani takdir ?

08 Desember 2009

Luka

Luka
Tak mesti terbuka menganga

Mungkin mengendap diam sunyi
Di sudut-sudut yang tersembunyi

Ada luka yang tak pernah sembuh
Ada luka yang tak diinginkan sembuh
Ada luka yang berulang-ulang dikorek lagi meski telah sembuh

Ada yang gemar menggaruk-garuk luka
Ada yang gemar memamerkan luka atau bekas luka

Luka bisa menjadi alasan
Luka bisa menjadi kebanggaan

Luka bisa menjadi
Selubung segala dusta yang membalut nafsu

07 Desember 2009

Licik

Betapa licik hati manusia
Lancar memilih kata, terampil menata kalimat
Fasih menggerakkan lidah, bersegara menebarkan senyum
Tetapi juga,
Tak sungkan mengurai air mata, tak malu menghiba-hiba

Betapa licik si pendusta
Sehingga hati manusia tak sadar telah dikuasainya

Betapa dalam dusta di hati yang licik
Menjungkirbalikkan pikiran dan perasaan
Tak ragu menggunakan segala cara
Memuaskan keinginannya yang tersembunyi

Betapa licik kita manusia
Bersembunyi di balik kata
Bersembunyi di balik fakta
Bersembunyi di balik kepercayaan
Bersembunyi di balik cinta
Bersembunyi di balik logika
Bersembunyi di balik kesetiaan

Tak peduli apa yang dijadikan tempat persembunyiaan
Hati yang licik akhirnya cuma untuk melayani nafsu kedagingan

Tapi siapa yang percaya ?
Semuanya terbungkus rapi
Bak kado ulang tahun berwarna warni berpita cantik
Siapa percaya di dalamnya anak ular yang siap memagut ?

06 Desember 2009

Menyaksikan anak-anak latihan acara Natal

Di sekolah minggu, anak-anak melakukan gladi bersih acara natal yang berlangsung seminggu lagi. Anak batita hingga remaja memadati ruang serba guna dan melatih liturgi atau penampilan mereka sesuai urutan acara nanti.

Mereka terlihat ceria dan riuh.

Apakah arti Natal bagi anak-anak ?

Kapankah Natal berubah dari sukacita baju baru, pembagian hadiah, pementasan yang semarak,... menjadi sukacita penggenapan penebusan manusia ?

Segala sesuatu ada waktunya.

Sayangnya, banyak di antara kita yang telah dewasa tak pernah beranjak dari nostalgia Natal masa kanak-kanak. Natal hanyalah perayaan seperti pesta lainnya. Dimanakah Kristus ?

05 Desember 2009

Natal

Sore tadi ada acara natal oleh punguan marga.
Acaranya lumayan lancar.
Ada koor bersama.
Semua kebagian membaca liturgi. Oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Pada bagian akhir ada lucky draw. Semua kebagian hadiah.
Orang-orang tampak ceria.
Tampak ceria.
Ceria.

Tuhan, bolehkah damai natal ini menetap ?