Tak pernah kita perincikan pada suatu masa, seperti apakah kita 14 tahun kemudian. Aku seperti apa, engkau seperti apa, kita ada di mana, siapa bersama kita, siapa yang tak lagi bersama kita. Tapi, meski tak kuingat jelas, aku yakin kita pernah memperbincangkan sesuatu yang seharusnya berlaku juga saat ini : kita masih tetap bersama.
Seperti itulah, kekasihku. Janji pada suatu Sabtu pagi 14 tahun yang lalu, nyatanya masih kita pegang teguh hingga hari ini.
Kita tak berniat memperbarui atau meneguhkan janji itu. Jika kita masih percaya dan bersandar pada kesetiaan dan kejujuran bibir, maka janji itu tak akan kita ingkari hingga kita mati.
Akh, marilah kita perbincangkan, kekasihku. Ketika kebersamaan itu tidak terusik, adakah mimpi-mimpimu tentang indahnya kebersamaan itu telah menjadi nyata ? Adakah engkau mengucap syukur untuk apa yang ada hari ini, apa yang telah tiada dan belum ada hari ini, apa yang berlangsung dan tidak berlangsung di hari-hari yang telah lalu ? Apakah engkau mencintai hidup sebagaimana engkau menginginkan hidup ?
Tuhanlah yang meneguhkan kebersamaan kita. Dialah juga yang tetap menjadi nakhoda kita mengarungi lautan luas di depan. Dia juga yang memberi makna atas kebersamaan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.