Ketika kita terjaga pagi hari, sadar atau tidak sadar, kita berharap bahwa hari yang baru tersebut akan menjadi hari yang baik. Kita berharap kesusahan, masalah dan beban hari kemarin telah terkubur bersama hari yang telah lalu.
Kita percaya bahwa hari-hari kita ada di bawah kuasa Tuhan. Dia dapat menjadikan suatu hari menjadi baik atau buruk.
Tetapi, kita sebenarnya juga diberi Tuhan kuasa untuk memilih hari-hari dalam hidup kita. Jika kita menginginkan melihat hari-hari yang baik, baiklah kita memberi telinga pada apa yang dinasihatkan oleh seorang rasul Tuhan :
"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hati baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."
(1 Petrus 3:10-12)
31 Maret 2009
30 Maret 2009
Menikmati hasil jerih payah
Ini hari ketiga aku berada di kota lain. Bekerja non-stop dari pukul 08.00 sampai 24.00 atau lebih. Badan rasa lelah, dan pada penghujung hari biasanya aku sudah setengah tertidur. Tapi, syukur kepada Allah : aku masih diberi pekerjaan, sumber nafkah untukku dan keluargaku. Dia juga menjanjikan sukacita dalam jerih payah.
Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan dan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bagiannya.
Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payah -- juga itupun karunia Allah.
Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.
Pengkhotbah 5: 18-20
Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan dan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bagiannya.
Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payah -- juga itupun karunia Allah.
Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.
Pengkhotbah 5: 18-20
29 Maret 2009
Kelakuan orang Kristen
Sebagai Kristen, kita percaya bahwa kita tidak diselamatkan dari kematian kekal bukan karena perbuatan baik kita, tetapi semata-mata karena anugerah dan iman. Prinsip ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak akan berkelakuan baik. Para rasul berulang-ulang mengingatkan bagaimana orang yang telah diselamatkan seharusnya berkelakuan.
Rasul Paulus menulis kepada Titus untuk menasihatkan orang Kristen :
Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang
Titus 3 : 2
Rasul Paulus menulis kepada Titus untuk menasihatkan orang Kristen :
Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang
Titus 3 : 2
28 Maret 2009
Kalung
Ada banyak orang, terutama wanita, yang senang memakai kalung di leher. Hiasan kalung bisanya adalah bentuk atau simbol yang disukai pemakainya. Beberapa orang Kristen menyukai hiasan berbentuk salib. Hiasan seperti ini biasanya mempunyai makna tertentu. Ada yang untuk mengingatkan seseorang akan keberadaan Tuhan. Ada yang untuk menunjukkan identitas. Ada orang yang bahkan menganggap bahwa hiasan salib itu sebagai jimat.
Alkitab tidak pernah mengajarkan pengikut Kristus untuk memakai kalung salib. Akan tetapi, tidak ada juga larangan untuk menggunakan salib sebagai hiasan pada kalung. Menggunakan salib sebagai jimat jelas salah, karena salib (dari kayu atau logam atau bahan apapun) tidak memiliki kekuatan apa pun.
Tentang menggunakan kalung, Alkitab mencatat nasihat dari penulis Amsal. Memang kalung yang dimaksud bukanlah yang bersifat fisik, tapi kalung ini mendapat penghargaan dari Allah.
Dengarkanlah :
Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.
Amsal 3 : 3-4
Alkitab tidak pernah mengajarkan pengikut Kristus untuk memakai kalung salib. Akan tetapi, tidak ada juga larangan untuk menggunakan salib sebagai hiasan pada kalung. Menggunakan salib sebagai jimat jelas salah, karena salib (dari kayu atau logam atau bahan apapun) tidak memiliki kekuatan apa pun.
Tentang menggunakan kalung, Alkitab mencatat nasihat dari penulis Amsal. Memang kalung yang dimaksud bukanlah yang bersifat fisik, tapi kalung ini mendapat penghargaan dari Allah.
Dengarkanlah :
Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,
maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.
Amsal 3 : 3-4
27 Maret 2009
Teliti memperhatikan
Koran, majalah, radio, televisi. Internet. Gosip di mana-mana. Misinformasi dirancang dan dikemas, kemudian disebarkan sebagai fakta. Berbagai media menjadi sumber informasi yang memborbadir kita setiap saat.
Life style. Modern society. Atau postmodern. Media massa digunakan untuk mendefinisikan apa yang layak kita lakukan dalam hidup.
Bandwagon effect. Karena kita melihat dan mendengar, maka kita ingin ikut. Ikut-ikutan.
Salah ikut, malah terhanyut.
Berhati-hatilah. Rasul Paulus mengingatkan :
Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut terbawa arus.
Ibrani 2:1
Life style. Modern society. Atau postmodern. Media massa digunakan untuk mendefinisikan apa yang layak kita lakukan dalam hidup.
Bandwagon effect. Karena kita melihat dan mendengar, maka kita ingin ikut. Ikut-ikutan.
Salah ikut, malah terhanyut.
Berhati-hatilah. Rasul Paulus mengingatkan :
Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut terbawa arus.
Ibrani 2:1
26 Maret 2009
Kesetiaan Tuhan
Merenungkan Firman Tuhan adalah satu hal; menjalankanNya dalam hidup sehari-hari seringkali adalah hal lain. Merasa bersyukur akan perlindungan Tuhan adalah satu hal; menaati perintahNya adalah hal lain. Berjanji kepada Tuhan adalah satu hal; setia kepada Tuhan adalah hal lain. Begitulah manusia : banyak ketidakkonsistenan.
Tetapi, Tuhan konsisten. Tuhan setia. Apa yang dijanjikanNya, dipeliharaNya. Karena Dia tidak berubah, maka kita tahu bahwa di dalam tanganNya kita aman dan selamat. Karena Dia setia, kita tahu bahwa kita akan selalu dicukupi. Senantiasa.
NKB 34 : 1-3 Setiamu Tuhanku
SetiaMu Tuhanku tiada bertara,
di kala suka disaat gelap;
KasihMu Allahku tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi tetap;
Reff:
SetiaMu Tuhanku mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas;
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas;
Musim yang panas, penghujan, tuaian,
surya, rembulan di langit cerah;
Bersama alam memuji, bersaksi,
akan setiaMu yang tak bercela;
(Ref)
DamaiMu Kauberi dan pengampunan,
dan rasa kuatirpun hilang lenyap;
Kar'na 'ku tahu pada masa mendatang,
Tuhan temanku di t'rang dan gelap;
(Ref)
***
Great is Thy faithfulness
Great is Thy faithfulness, O God my Father;
There is no shadow of turning with Thee;
Thou changest not, Thy compassions, they fail not;
As Thou hast been, Thou forever will be.
Great is Thy faithfulness!
Great is Thy faithfulness!
Morning by morning new mercies I see.
All I have needed Thy hand hath provided;
Great is Thy faithfulness, Lord, unto me!
Tetapi, Tuhan konsisten. Tuhan setia. Apa yang dijanjikanNya, dipeliharaNya. Karena Dia tidak berubah, maka kita tahu bahwa di dalam tanganNya kita aman dan selamat. Karena Dia setia, kita tahu bahwa kita akan selalu dicukupi. Senantiasa.
NKB 34 : 1-3 Setiamu Tuhanku
SetiaMu Tuhanku tiada bertara,
di kala suka disaat gelap;
KasihMu Allahku tidak berubah,
Kaulah Pelindung abadi tetap;
Reff:
SetiaMu Tuhanku mengharu hatiku,
setiap pagi bertambah jelas;
Yang kuperlukan tetap Kau berikan,
sehingga akupun puas lelas;
Musim yang panas, penghujan, tuaian,
surya, rembulan di langit cerah;
Bersama alam memuji, bersaksi,
akan setiaMu yang tak bercela;
(Ref)
DamaiMu Kauberi dan pengampunan,
dan rasa kuatirpun hilang lenyap;
Kar'na 'ku tahu pada masa mendatang,
Tuhan temanku di t'rang dan gelap;
(Ref)
***
Great is Thy faithfulness
Great is Thy faithfulness, O God my Father;
There is no shadow of turning with Thee;
Thou changest not, Thy compassions, they fail not;
As Thou hast been, Thou forever will be.
Great is Thy faithfulness!
Great is Thy faithfulness!
Morning by morning new mercies I see.
All I have needed Thy hand hath provided;
Great is Thy faithfulness, Lord, unto me!
25 Maret 2009
Mengasihi dengan pengertian
Ketika memperbincangkan tentang apa yang paling penting dalam kehidupan seorang Kristen, maka sering terbersit pernyataan 'yang terpenting adalah mengasihi'. Perkataan ini benar. Sayangnya, ada banyak orang yang mereduksi pengertian ini dari 'asal mengasihi' menjadi 'mengasihi dengan asal-asalan'.
Seorang anak berusia tiga tahun mungkin mengasihi adik bayinya yang berumur 10 bulan, lalu ia mencoba menidurkan adiknya dengan menggendong seperti yang ia lihat dilakukan oleh ibunya. Seorang ibu sangat mengasihi putranya yang telah menikah, lalu ia tinggal di rumah putranya dan membantu mengaturkan kegiatan keluarga anak dan menantunya, termasuk memilihkan menu makanan dan menetapkan jam pulang ke rumah. Dapatkah kita membenarkan tindakan kasih demikian ?
Mengasihi bukanlah sedekar menunjukkan kepedulian. Mengasihi harus melihat kebutuhan orang yang kita kasihi. Tindakan mengasihi perlu disesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas. Mengasihi secara asal-asalan dapat menyebabkan kecelakaan, kekecewaan, kegagalan dan kesesatan. Mengasihi perlu diiringi dengan pengertian.
Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,
penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.
Filipi 1 : 9-11
Seorang anak berusia tiga tahun mungkin mengasihi adik bayinya yang berumur 10 bulan, lalu ia mencoba menidurkan adiknya dengan menggendong seperti yang ia lihat dilakukan oleh ibunya. Seorang ibu sangat mengasihi putranya yang telah menikah, lalu ia tinggal di rumah putranya dan membantu mengaturkan kegiatan keluarga anak dan menantunya, termasuk memilihkan menu makanan dan menetapkan jam pulang ke rumah. Dapatkah kita membenarkan tindakan kasih demikian ?
Mengasihi bukanlah sedekar menunjukkan kepedulian. Mengasihi harus melihat kebutuhan orang yang kita kasihi. Tindakan mengasihi perlu disesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas. Mengasihi secara asal-asalan dapat menyebabkan kecelakaan, kekecewaan, kegagalan dan kesesatan. Mengasihi perlu diiringi dengan pengertian.
Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,
penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.
Filipi 1 : 9-11
24 Maret 2009
Mengunjungi situs Kristen di dunia maya (2)
Kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan sekarang ini juga berimbas pada orang-orang yang sedang mencari Tuhan. Dengan beberapa 'klik' kita bisa mendapatkan berbagai informasi, opini, pandangan, ajaran, diskusi dan sebagainya tentang Tuhan, tentang Yesus, tentang agama Kristen, tentang agama lain dan tentang faham yang menentang keberadaan Tuhan.
Forum-forum yang membahas berbagai hal tersebut dapat memberikan pencerahan kepada kita. Kadang-kadang juga mengusik pemahaman dan iman kita. Menggunakan akal dan pengetahuan untuk mempelajari apa yang kita imani dan dipahami oleh orang lain, menurut saya, bukanlah hal yang salah. Tuhan sendiri mengatakan bahwa kita harus mengasihiNya dengan akal budi kita, artinya : akal budi kita tidak kita buang manakala kita mengatakan kita beriman kepadaNya. Tuhan yang Mahakuasa tak mungkin gagal diuji oleh akal budi kita; yang dapat terjadi adalah akal budi kita yang terbatas tidak mampu memahamiNya dengan sempurna.
Mempercayai Tuhan tanpa menggunakan akal budi sama saja dengan membiarkan diri kita dikendalikan oleh nurani kita yang sudah berdosa atau oleh orang-orang yang - sengaja atau tidak sengaja - hendak menyesatkan kita.
Rasul Paulus menasihatkan :
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
1 Tesalonika 5 : 21
Namun, di sisi lain, kita juga perlu mengingat bahwa hal percaya kepada Tuhan adalah soal iman.
Melimpahnya informasi di internet dapat membuat kita terseret kepada pencarian yang tak berkesudahan. Pada titik tertentu, kita perlu behenti dan berlutut dan berserah kepada Tuhan untuk menyingkapkan kebenaranNya. Pada titik tertentu, kita mungkin harus menghindar dari topik-topik yang untuknya kita tidak memiliki hikmat untuk memahaminya. Terasa bodoh ? Mungkin. Namun, tersedianya pengetahuan secara melimpah dan dapat diakses dengan mudah dan murah, tidak serta merta menjadikan kita akan mampu menguasainya.
[.....] Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing
(Roma 12:3)
Pengetahuan akan lenyap. Pengetahuan tidak akan sempurna. Pada hari penghakiman, Tuhan tidak bertanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang apa yang telah kita lakukan bagiNya ketika Dia telanjang, sakit, lapar, haus, dan dalam penjara. (Matius 24:34-46). Janganlah kita membiarkan 'keasyikan' dunia maya mengalihkan perhatian kita dari apa yang nyata-nyata dimintaNya untuk kita lakukan.
Forum-forum yang membahas berbagai hal tersebut dapat memberikan pencerahan kepada kita. Kadang-kadang juga mengusik pemahaman dan iman kita. Menggunakan akal dan pengetahuan untuk mempelajari apa yang kita imani dan dipahami oleh orang lain, menurut saya, bukanlah hal yang salah. Tuhan sendiri mengatakan bahwa kita harus mengasihiNya dengan akal budi kita, artinya : akal budi kita tidak kita buang manakala kita mengatakan kita beriman kepadaNya. Tuhan yang Mahakuasa tak mungkin gagal diuji oleh akal budi kita; yang dapat terjadi adalah akal budi kita yang terbatas tidak mampu memahamiNya dengan sempurna.
Mempercayai Tuhan tanpa menggunakan akal budi sama saja dengan membiarkan diri kita dikendalikan oleh nurani kita yang sudah berdosa atau oleh orang-orang yang - sengaja atau tidak sengaja - hendak menyesatkan kita.
Rasul Paulus menasihatkan :
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
1 Tesalonika 5 : 21
Namun, di sisi lain, kita juga perlu mengingat bahwa hal percaya kepada Tuhan adalah soal iman.
Melimpahnya informasi di internet dapat membuat kita terseret kepada pencarian yang tak berkesudahan. Pada titik tertentu, kita perlu behenti dan berlutut dan berserah kepada Tuhan untuk menyingkapkan kebenaranNya. Pada titik tertentu, kita mungkin harus menghindar dari topik-topik yang untuknya kita tidak memiliki hikmat untuk memahaminya. Terasa bodoh ? Mungkin. Namun, tersedianya pengetahuan secara melimpah dan dapat diakses dengan mudah dan murah, tidak serta merta menjadikan kita akan mampu menguasainya.
[.....] Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing
(Roma 12:3)
Pengetahuan akan lenyap. Pengetahuan tidak akan sempurna. Pada hari penghakiman, Tuhan tidak bertanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang apa yang telah kita lakukan bagiNya ketika Dia telanjang, sakit, lapar, haus, dan dalam penjara. (Matius 24:34-46). Janganlah kita membiarkan 'keasyikan' dunia maya mengalihkan perhatian kita dari apa yang nyata-nyata dimintaNya untuk kita lakukan.
23 Maret 2009
Ketika kehilangan semangat
Kala perjalanan ini terasa begitu panjang...kaki sudah terseok-seok...kita mencari perhentian...atau tangan yang dapat menopang tubuh yang hampir rubuh. Apakah kita akan me"recharge" dengan mendengarkan para motivator di radio dan televisi ? Atau menghadiri pelatihan dan seminar mereka ? Dapatkah mereka memberikan kelegaan ?
Ada yang pernah berkata :
Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
(Matius 11:28)
Maukah kita datang kepadaNya ?
Ada yang pernah berkata :
Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
(Matius 11:28)
Maukah kita datang kepadaNya ?
22 Maret 2009
Dasar untuk berharap
Beban hidup seringkali membuat kita kelelahan, bahkan ada kalanya menindih dan menghimpit hingga kita putus asa. Masalah ekonomi, konflik rumah tangga, kegundahan spiritual,...memaksa kita bertanya ulang tentang apa yang sebenarnya kita jalani dan kemana hidup kita sedang menuju. Terbersit pula pikiran liar, apakah masih ada harapan ? Kepada siapakah kita harus berharap ?
Bagaikan orang yang terkurung di dalam ruang gelap tanpa setitik pun cahaya, kita merasa tak ada lagi yang dapat diharapkan. Sudahkah saatnya untuk menyerah dan mengangkat bendera putih ?
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Imannya tidak menjadi lemah walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Roma 4: 18-21
Dapatkah kita mengikuti teladan Abraham ? Tanpa dasar berharap, marilah tetap percaya bahwa Allah tidak akan melupakan janjiNya dan Ia berkuasa menggenapinya.
Bagaikan orang yang terkurung di dalam ruang gelap tanpa setitik pun cahaya, kita merasa tak ada lagi yang dapat diharapkan. Sudahkah saatnya untuk menyerah dan mengangkat bendera putih ?
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Imannya tidak menjadi lemah walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Roma 4: 18-21
Dapatkah kita mengikuti teladan Abraham ? Tanpa dasar berharap, marilah tetap percaya bahwa Allah tidak akan melupakan janjiNya dan Ia berkuasa menggenapinya.
21 Maret 2009
Yang wajar dan tidak wajar
Dalam dialog atau diskusi mengenai homoseksualitas, semakin sering terdengar bahwa homoseksualitas sama wajarnya dengan heteroseksualitas (antara lelaki dengan perempuan). Homoseksualitas bukanlah penyakit, bukan pula penyimpangan. Karena itu, beberapa negara telah mengakui hak-hak kaum homoseksual, antara lain dengan mengakui pernikahan antara lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan dan membolehkan mereka mengadopsi anak.
Di kalangan gereja di Amerika Serikat dan Eropa pun semakin banyak yang membolehkan dan mengakui pernikahan sejenis. Berbagai argumen ilmu psikologi diajukan dan ayat Alkitab ditafsir seenaknya untuk mendukung pendapat mereka bahwa Allah memang berkenan dengan perilaku homoseksual itu. Benarkah ? Wajarkah homoseksualitas menurut Kristen ? Baiklah kita memeriksa Alkitab masing-masing dan berdoa agar Tuhan membukakan pengertian kita.
Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah mahluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya. amin.
Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain sehingga mereka melakukan kemesuman laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
20 Maret 2009
Doa syafaat
Ajang Pemilu Legislatif yang sudah memasuki masa kampanye telah membuat suasana "meriah" di sana sini, dan kadang-kadang panas. Di dunia perpolitikan orang sibuk dengan segala rencana koalisi, membagi-bagi kekuasaan yang masih belum ada di tangan.
Akh, kita rakyat ini memang cumalah obyek : disanjung-sanjung, seakan-akan menjadi tujuan perjuangan,..., dan pada akhirnya kita akan dilupakan oelah mereka yang duduk di dewan legislatif itu. Bukankah gaji dan tunjangan mereka yang luar biasa, keabsenan mereka yang tinggi dalam sidang-sidang, korupsi mereka yang membuat mulut kita tercengang, kolusi dengan eksekutif yang membuat kita merasa dikhianati, kunjungan luar negeri untuk berfoya-foya,... tanda yang nyata bahwa rakyat cumalah hitungan kertas suara untuk mendudukkan mereka di gedung dewan?
Tapi, kita tak boleh mengutuki mereka. Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan Tuhan untuk tetap berdoa bagi semua orang, termasuk bagi para pemimpin kita. So, apakah yang dapat kita perbuat, selain taat ?
Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
untuk raja-raja dan semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita
(I Timotius 2:1-3)
Akh, kita rakyat ini memang cumalah obyek : disanjung-sanjung, seakan-akan menjadi tujuan perjuangan,..., dan pada akhirnya kita akan dilupakan oelah mereka yang duduk di dewan legislatif itu. Bukankah gaji dan tunjangan mereka yang luar biasa, keabsenan mereka yang tinggi dalam sidang-sidang, korupsi mereka yang membuat mulut kita tercengang, kolusi dengan eksekutif yang membuat kita merasa dikhianati, kunjungan luar negeri untuk berfoya-foya,... tanda yang nyata bahwa rakyat cumalah hitungan kertas suara untuk mendudukkan mereka di gedung dewan?
Tapi, kita tak boleh mengutuki mereka. Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan Tuhan untuk tetap berdoa bagi semua orang, termasuk bagi para pemimpin kita. So, apakah yang dapat kita perbuat, selain taat ?
Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
untuk raja-raja dan semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita
(I Timotius 2:1-3)
19 Maret 2009
Rahmat bagi semua umat
Dua hari lalu (Selasa malam) aku sempat nonton sepenggal acara "Uji Kandidat" (atau "Uji Caleg"?) di tv-one. Bukan karena niat, tapi karena mencet tombol remote control tak sengaja menemukan stasiun televisi itu. Rupanya yang sedang ditampilkan hari itu adalah caleg dari Sumut. Di antara topik yang didiskusikan ada seorang caleg dari sebuah Partai mengajukan bahwa keadilan dan kesejahteraan negeri kita ini dapat dicapai dengan menjalankan aturan agamanya bagi seluruh masyarakat Indonesia (sebagai rujukan bagi dasar negara).
Hal ini dipersoalkan oleh seorang caleg (yang simbol partainya beraroma Kristen), karena menurutnya dasar negara Indonesia sudah final, tidak menggunakan satu agama tertentu sebagai acuan. Tetapi, caleg yang partainya mengusung niat menjadikan aturan agamanya sebagai dasar bernegara tersebut tetap mengatakan bahwa aturan agamanya adalah rahmat bagi semua orang. Oleh karena itu, menurutnya, penganut agama lain tidak perlu khawatir kalaupun nanti aturan agamanya yang mendasari kehidupan bernegara di Indonesia.
Oh...oh...! Rasanya setiap agama dapat mengatakan hal yang sama. Termasuk orang Kristen. Tapi, apa yang baik menurut versi satu kelompok, belum tentu baik bagi kelompok lain. Dengan menjadikan satu agama tertentu sebagai pedoman, maka sesungguhnya tertutuplah kesempatan untuk dapat hidup dalam kesetaraan sebagai sesama warga negara.
Pengucilan dan diskriminasi bagi orang Kristen di Mesir, Pakistan, Irak, Malaysia,...adalah contoh nyata bagaimana suatu negara yang berdasarkan agama tertentu tak dapat adil bagi pemeluk agama lain.
Akankah Indonesia akan menjadi negara yang berlandaskan aturan agama tertentu ?
Mari berdoa : Tuhan, jauhkanlah itu dari negeri kami.
Hal ini dipersoalkan oleh seorang caleg (yang simbol partainya beraroma Kristen), karena menurutnya dasar negara Indonesia sudah final, tidak menggunakan satu agama tertentu sebagai acuan. Tetapi, caleg yang partainya mengusung niat menjadikan aturan agamanya sebagai dasar bernegara tersebut tetap mengatakan bahwa aturan agamanya adalah rahmat bagi semua orang. Oleh karena itu, menurutnya, penganut agama lain tidak perlu khawatir kalaupun nanti aturan agamanya yang mendasari kehidupan bernegara di Indonesia.
Oh...oh...! Rasanya setiap agama dapat mengatakan hal yang sama. Termasuk orang Kristen. Tapi, apa yang baik menurut versi satu kelompok, belum tentu baik bagi kelompok lain. Dengan menjadikan satu agama tertentu sebagai pedoman, maka sesungguhnya tertutuplah kesempatan untuk dapat hidup dalam kesetaraan sebagai sesama warga negara.
Pengucilan dan diskriminasi bagi orang Kristen di Mesir, Pakistan, Irak, Malaysia,...adalah contoh nyata bagaimana suatu negara yang berdasarkan agama tertentu tak dapat adil bagi pemeluk agama lain.
Akankah Indonesia akan menjadi negara yang berlandaskan aturan agama tertentu ?
Mari berdoa : Tuhan, jauhkanlah itu dari negeri kami.
18 Maret 2009
Borongan
Hari Sabtu yang lalu ada acara keluarga, maka ramailah pembicaraan tentang macam-macam. Akhirnya sampai pada cerita tentang Pemilu dan caleg Batak. Konon caleg di setiap partai ditentukan oleh kedekatan dengan petinggi partai. Maka, tidak heran jika di Partai A akan didominasi oleh marga X, Partai B didominasi oleh marga Y...tergantung siapa 'orang kuat' di partai tersebut. Kalau dilihat-lihat sih, masih pada berkerabat atau berkoneksi.
Ada lagi : seorang caleg mendaftar lewat jalur DPD, anaknya lewat Partai A, borunya lewat Partai B, helanya lewat Partai C,... Mungkin memang keluarga politisi.
"Borong,nih,ye...?!"
Akh, nggak usah siriklah...Selama masih sesuai konstitusi, mengapa dipersoalkan ? Kalau mau pilih mereka, silahkan; mau pilih yang lain, juga silahkan; mau golput...monggo,Mas.
Yang penting, tunaikan tangggung jawab dan hak sebagai warga negara dengan baik.
Ada lagi : seorang caleg mendaftar lewat jalur DPD, anaknya lewat Partai A, borunya lewat Partai B, helanya lewat Partai C,... Mungkin memang keluarga politisi.
"Borong,nih,ye...?!"
Akh, nggak usah siriklah...Selama masih sesuai konstitusi, mengapa dipersoalkan ? Kalau mau pilih mereka, silahkan; mau pilih yang lain, juga silahkan; mau golput...monggo,Mas.
Yang penting, tunaikan tangggung jawab dan hak sebagai warga negara dengan baik.
17 Maret 2009
Masa yang sukar
Akan datang waktunya ....
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama,
tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti perintah Allah.
Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
(2 Timotius 3:2-5)
Lihatlah sekitar kita.
Dengarkanlah perbincangan sekitar kita.
Dengarkanlah berita.
Apakah waktunya sudah datang ?
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama,
tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti perintah Allah.
Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
(2 Timotius 3:2-5)
Lihatlah sekitar kita.
Dengarkanlah perbincangan sekitar kita.
Dengarkanlah berita.
Apakah waktunya sudah datang ?
16 Maret 2009
Tersembunyi ujung jalan
Di masa sekolah SD ku dulu, kami murid-murid menyanyikan lagu dari buku "Nyanyian Rohani" sebelum mengawali pelajaran. Ada satu lagu yang sangat berkesan di hatiku, dan belakangan setelah buku "Nyanyian Rohani" tidak lagi banyak dipakai, lagu tersebut ternyata dimuat di dalam "Kidung Jemaat".
Tersembunyi ujung jalan
Hampir atau masih jauh
'Ku dibimbing tangan Tuhan
ke negeri yang tak 'ku tahu
Bapa, ajar aku ikut
Apa juga maksudmu
Tak bersangsi atau takut
Beriman tetap teguh
(KJ 416)
Akh, hidup memanglah perjalanan. Aku pun memang tak tahu apakah ujungnya masih jauh atau sudah dekat.
Hanya saja, baris "ke negeri yang tak 'ku tahu" sekarang ini kurang terasa pas di hatiku. Aku tahu bahwa negeri yang kutuju adalah Negeri Baka Surga Yang Kekal. Karena itu, setiap kali menyanyikan lagu ini aku mengartikan "negeri yang tak kutahu" sebagai "negeri yang belum pernah kukunjungi dan belum kutahu persis seperti apa wujudnya".
Tersembunyi ujung jalan
Hampir atau masih jauh
'Ku dibimbing tangan Tuhan
ke negeri yang tak 'ku tahu
Bapa, ajar aku ikut
Apa juga maksudmu
Tak bersangsi atau takut
Beriman tetap teguh
(KJ 416)
Akh, hidup memanglah perjalanan. Aku pun memang tak tahu apakah ujungnya masih jauh atau sudah dekat.
Hanya saja, baris "ke negeri yang tak 'ku tahu" sekarang ini kurang terasa pas di hatiku. Aku tahu bahwa negeri yang kutuju adalah Negeri Baka Surga Yang Kekal. Karena itu, setiap kali menyanyikan lagu ini aku mengartikan "negeri yang tak kutahu" sebagai "negeri yang belum pernah kukunjungi dan belum kutahu persis seperti apa wujudnya".
15 Maret 2009
Yang terutama
Kala hiruk pikuk dunia dan kelebatan cahaya membuat kita bingung dan kehilangan arah, kita perlu berhenti sejenak dan kembali kepada hal yang paling mendasar dalam perjalanan hidup ini. Kembali kepada hal yang paling utama.
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
(1 Petrus 4:8)
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
(1 Petrus 4:8)
14 Maret 2009
Iman dan perbuatan
Ada saja, dan tampaknya akan terus ada, orang yang mempersoalkan makna keselamatan hanya karena iman. Ini biasanya dikontraskan dengan keselamatan karena perbuatan.
Setelah membaca berbagai tafsiran dan diskusi, aku tetap saja tak mampu melihat apa yang dipersoalkan. Aku tak bisa sungguh-sungguh mengerti apa itu "iman". Aku percaya perbuatan tidak dapat menyelamatkan, karena Tuhan dan para rasul mengajarkan demikian. Tapi juga tidak mengerti bagaimana seseorang beriman (dan karenanya diselamatkan) apabila hidupnya tidak mencerminkan apa yang diimaninya. Dalam pikiranku, perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diimani sama saja dengan mengatakan tidak mengimani ucapan dan pikirannya sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya pengakuan imannya bohong belaka.
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong ?
(Yak 2:20)
Setelah membaca berbagai tafsiran dan diskusi, aku tetap saja tak mampu melihat apa yang dipersoalkan. Aku tak bisa sungguh-sungguh mengerti apa itu "iman". Aku percaya perbuatan tidak dapat menyelamatkan, karena Tuhan dan para rasul mengajarkan demikian. Tapi juga tidak mengerti bagaimana seseorang beriman (dan karenanya diselamatkan) apabila hidupnya tidak mencerminkan apa yang diimaninya. Dalam pikiranku, perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diimani sama saja dengan mengatakan tidak mengimani ucapan dan pikirannya sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya pengakuan imannya bohong belaka.
Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong ?
(Yak 2:20)
13 Maret 2009
Pengejek-pengejek
Dicap naif, bebal, bigot, ortodoks, fundamentalis,... adalah konsekuensi mengikuti Tuhan yang kekal. Tampak aneh di lingkungan dunia yang "modern" juga adalah konsekuensi mengikuti Tuhan yang bersifat adikodrati. Tentu, mendapatkan berbagai label negatif tersebut bukanlah tujuan akhir menjadi pengikut Kristus, tetapi kita tak perlu kecil hati.
Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus
Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu : "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka"
(Yudas 1:17,18)
Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus
Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu : "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka"
(Yudas 1:17,18)
12 Maret 2009
Rasa cukup
Berapa banyakkah yang kita butuhkan dalam hidup ini ?
Jika kita mau memakai piramida kebutuhan Abraham Maslow mengenai kebutuhan manusia, berapa banyakkah makanan di atas meja makan, berapa luaskah rumah yang kita tempati dan berapa tinggikah pagarnya, dan berapa banyakkah teman yang kita miliki untuk dapat mengatakan bahwa kebutuhan dasar kita telah tercukupi ?
Hal-hal lain apakah yang kita miliki dan kita lakukan agar kita merasa "arrive" di puncak ?
Apakah kita mencari Tuhan dan menjalankan ibadah kita adalah cara untuk memuaskan kebutuhan kita juga ?
Kapankah kita akan terpuaskan ?
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar
Asal ada makan dan pakaian, cukuplah
(I Timotius 6:6-8)
Jika kita mau memakai piramida kebutuhan Abraham Maslow mengenai kebutuhan manusia, berapa banyakkah makanan di atas meja makan, berapa luaskah rumah yang kita tempati dan berapa tinggikah pagarnya, dan berapa banyakkah teman yang kita miliki untuk dapat mengatakan bahwa kebutuhan dasar kita telah tercukupi ?
Hal-hal lain apakah yang kita miliki dan kita lakukan agar kita merasa "arrive" di puncak ?
Apakah kita mencari Tuhan dan menjalankan ibadah kita adalah cara untuk memuaskan kebutuhan kita juga ?
Kapankah kita akan terpuaskan ?
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar
Asal ada makan dan pakaian, cukuplah
(I Timotius 6:6-8)
11 Maret 2009
Mengasihi adalah puncak ketaatan kepada Allah
Pernahkan engkau bertemu dengan seseorang yang begitu cerdas mengenai Firman Allah dan begitu piawai menjelaskan berbagai perkara dalam terang Firman Allah ? Matanya jeli mengenali ajaran-ajaran yang sesat dan kata-katanya keras terhadap mereka. Dia pun tabah menderita aniaya karena dikenal sebagai pengikut Kristus. Tanpa lelah dia melayani Tuhan di gereja dan persekutuan. Sungguh beginilah model murid Tuhan yang sejati, kata kita yang tak bisa mengikuti bahkan sepersepuluh dari kepintaran, ketekunan dan ketabahan orang itu.
Sayangnya, Tuhan berpendapat lain.
Aku tahu segala pekerjaanmu : Baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta
Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena namaKu dan engkau tidak mengenal lelah.
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
(Wahyu 2:3-5)
Sayangnya, Tuhan berpendapat lain.
Aku tahu segala pekerjaanmu : Baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta
Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena namaKu dan engkau tidak mengenal lelah.
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
(Wahyu 2:3-5)
10 Maret 2009
Inilah perintahNya
Tuhan mengajarkan banyak hal kepada murid-muridNya. Beberapa diberikan sebagai perintah langsung atau amanat. Banyak yang diberikan dalam bentuk perumpamaan.
Sebagai murid tidak langsung yang hidup 20 abad setelah Sang Guru, tentu kita ingin mengetahui apakah yang sebenarnya merupakan ajaran guru kita. Voila! Ternyata, berbagai ajaran yang menjadi sumber perpecahan gereja masa kini bukanlah hal yang menjadi fokus ajaranNya.
Dan inilah perintahNya itu : supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita
Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam Dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita
(1 Yoh 3:23,24)
Kalau ingin setia kepada ajaran Sang Guru, bukankah kita harus lebih memperhatikan perintah utama Sang Guru daripada ajaran, doktrin dan dogma gereja kita tentang hal-hal yang kurang substansial ?
Sebagai murid tidak langsung yang hidup 20 abad setelah Sang Guru, tentu kita ingin mengetahui apakah yang sebenarnya merupakan ajaran guru kita. Voila! Ternyata, berbagai ajaran yang menjadi sumber perpecahan gereja masa kini bukanlah hal yang menjadi fokus ajaranNya.
Dan inilah perintahNya itu : supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita
Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam Dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita
(1 Yoh 3:23,24)
Kalau ingin setia kepada ajaran Sang Guru, bukankah kita harus lebih memperhatikan perintah utama Sang Guru daripada ajaran, doktrin dan dogma gereja kita tentang hal-hal yang kurang substansial ?
09 Maret 2009
Faktanya
Faktanya adalah : Di dalam komunitas setiap agama (termasuk agama Kristen tentunya), selain banyak orang baik-baik, ada juga pembunuh, pemerkosa, koruptor, pelacur, perselingkuh, pelaku sodomi, pelaku aborsi, penyiksa anak, penipu, perampok, pemeras, pencuri, pengutil, pemfitnah, penghasut, pembohong, hipokrit, teroris, diktator, ...
Mengapakah manusia cenderung membela mati-matian orang yang seagama dengan dirinya, tetapi menganggap selalu salah orang yang beragama lain ? Mengapakah kita tak bisa melihat bahwa orang yang seagama, sealiran, segereja dengan kita memang bisa juga melakukan kesalahan ?
Mengapakah kita tak bisa menerima kenyataan bahwa berbuat salah dan jatuh ke dalam dosa bisa saja terjadi bahkan pada orang yang sudah mengenal Tuhan sekalipun ? Mengapakah kita harus mencari-cari pembenaran pada suatu tindakan dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang sefaham dengan kita ?
Faktanya : seorang pembunuh mengambil nyawa orang lain, terlepas dia melakukannya karena sakit hati atau membalaskan dendam; seorang teroris menghabisi belasan atau puluhan jiwa orang lain, terlepas dia merasa dirinya selama ini ditindas dan dibungkam; seorang pemimpin yang lalim merampas hak-hak orang lain, terlepas dia merasa mendapat urapan Tuhan dan menyebut nama Tuhan setiap berbicara; ....
Mengapakah manusia suka membela mati-matian orang yang 'satu label' dengannya ?
Kita bisa belajar kepada Yesus yang mengritik kaum Farisi yang merupakan pemimpin label Yahudi (yang notabene adalah label Yesus juga). Faktanya pada zaman Yesus, orang Farisi sudah menyimpang dari ketetapan Allah. Yang salah...ya tetap salah.
Mengakui fakta bahwa orang yang dekat dengan kita berbuat salah dan berdosa, kemudian meminta ampun adalah jalan untuk mendapatkan pembenaran oleh Allah. Menyangkali dengan berbagai alasan apapun akan membuat Allah murka dan mengekalkan hukuman yang akan kita terima.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan
Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.
(I Yoh 1:9,10)
Mengapakah manusia cenderung membela mati-matian orang yang seagama dengan dirinya, tetapi menganggap selalu salah orang yang beragama lain ? Mengapakah kita tak bisa melihat bahwa orang yang seagama, sealiran, segereja dengan kita memang bisa juga melakukan kesalahan ?
Mengapakah kita tak bisa menerima kenyataan bahwa berbuat salah dan jatuh ke dalam dosa bisa saja terjadi bahkan pada orang yang sudah mengenal Tuhan sekalipun ? Mengapakah kita harus mencari-cari pembenaran pada suatu tindakan dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang sefaham dengan kita ?
Faktanya : seorang pembunuh mengambil nyawa orang lain, terlepas dia melakukannya karena sakit hati atau membalaskan dendam; seorang teroris menghabisi belasan atau puluhan jiwa orang lain, terlepas dia merasa dirinya selama ini ditindas dan dibungkam; seorang pemimpin yang lalim merampas hak-hak orang lain, terlepas dia merasa mendapat urapan Tuhan dan menyebut nama Tuhan setiap berbicara; ....
Mengapakah manusia suka membela mati-matian orang yang 'satu label' dengannya ?
Kita bisa belajar kepada Yesus yang mengritik kaum Farisi yang merupakan pemimpin label Yahudi (yang notabene adalah label Yesus juga). Faktanya pada zaman Yesus, orang Farisi sudah menyimpang dari ketetapan Allah. Yang salah...ya tetap salah.
Mengakui fakta bahwa orang yang dekat dengan kita berbuat salah dan berdosa, kemudian meminta ampun adalah jalan untuk mendapatkan pembenaran oleh Allah. Menyangkali dengan berbagai alasan apapun akan membuat Allah murka dan mengekalkan hukuman yang akan kita terima.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan
Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.
(I Yoh 1:9,10)
08 Maret 2009
Siapakah penyesat itu ?
Hatiku sangat sedih setiap kali mendengar, melihat atau membaca suatu kelompok Kristen mencerca kelompok lain dan mendakwa mereka sesat, karena adanya perbedaan pandangan mengenai ajaran tertentu. Syukur kepada Sang Gembala Agung, Dia telah menawan hatiku terlebih dahulu sebelum aku menyadari betapa tidak menariknya bergabung dengan domba-dombanya yang lain. Jika ladang penggembalaan Yesus diibaratkan terdiri dari beberapa kandang, maka komunikasi yang paling intens terdengar antar kandang adalah ejekan, dakwaan dan pelecehan. Apa saja mereka jadikan sebagai perdebatkan : baptisan celup/percik, kriteria makanan halal/haram, predestination/free will, nama YHWH/Allah, Trinitarian/Unitarian, perpuluhan, bahasa Roh, kesembuhan ilahi, pengusiran setan dan kuasa kegelapan, otoritas Alkitab, ...
Setiap kandang merasa gerombolannya saja yang berkenan di mata Sang Gembala.
Seekor domba kecil lugu seperti kita dibuat bingung mendengarkan teriakan setiap kelompok. Sementara sebagai anggota jemaat biasa, kita merasa 'fine-fine saja' berhubungan dengan anggota gereja lain, para pemimpin kita berteriak, "Awas sessaaat.....!!!!" Gereja di luar denominasi kita dicitrakan sebagai monster yang hanya berusaha menjebak atau menerkam kita. (Sebaliknya pula, kawan kita di demoninasi lain pun sudah diwanti-wanti oleh pemimpinnya agar jangan dekat-dekat dengan kita, ugh!)
Lalu, apakah kata Yesus sendiri mengenai orang-orang yang mengikutNya dan orang-orang lain yang bukan pengikutNya ?
Kata Yohanes kepada Yesus : "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
Tetapi kata Yesus : "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi namaKu, dapat seketika itu juga juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya"
Markus 9:38-41
Seandainya ada para ahli yang membaca kutipan di atas, pastilah pendapat itu langsung ditengking dengan argumen tentang bahaya penyesatan di zaman akhir dan bahwa tidak setiap orang yang memanggil Tuhan kepada Yesus akan selamat.
Kepada para ahli yang gemar menyebut 'sesat' kepada kaum Kristen :
Masalahnya begini, wahai para orang hebat yang berilmu tinggi : bagaimana kami yakin bahwa ajaran, pikiran atau kesimpulan kalianlah yang benar ? Lantas, seorang menjawab : periksalah dengan menggunakan Firman Tuhan.
Benar kata kalian itu, wahai para pemimpin umat. Masalahnya begini : bukankah masing-masing kalian bersilat lidah dengan menggunakan Firman Tuhan ? Kalau ilmu semakin tinggi, kalian bersoal-jawab dengan Firman Tuhan dalam bahasa asli. Lebih tinggi lagi, kalian bertarung dengan Firman Tuhan berdasarkan dokumen paling paling otentik dan dengan pengetahuan yang luar biasa mengenai sejarah sejak zaman Tuhan mencipta langit dan bumi.
Kami mumet...! Ndang sahat hali-hali nami dohot parbinotoan nami tusi. Semakin kalian jelas-jelaskan, semakin membingungkan apa yang kalian sedang perbincangkan. Dalam pikiran kami yang sederhana, Yesus Kristus Sang Guru Yang Agung tak pernah menuntut intelegensi dan pendidikan yang tinggi untuk memahami ajaranNya.
Kalau mendengar pemimpin di gereja kami, maka kami adalah orang yang benar, yang lain sesat. Kalau dengar-dengaran pada pemimpin gereja yang lain, maka kami adalah yang sesat...O, portibi!
Izinkanlah kami bertanya kepada kalian yang mengklaim sebagai pemimpin umat, ahli Kitab Suci, ahli sejarah gereja, cendikiawan Kristen, atau apapun : apakah kalian murid Yesus ? Tolonglah jawab : Apakah kalian memang murid Yesus ?
Terus terang saja : kami meragukan kalian! Tampaknya, kalian tidak memiliki ciri-ciri murid Yesus, karena menurut Sang Guru :
... semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi
(Yoh 13:35)
Kalau kalian bukan murid Yesus, bagaimanakah kalian mengajarkan pada kami mengenai siapa yang sesat menurut Yesus ? Kalau kalian bukan murid Yesus, tolonglah jangan obok-obok murid Yesus (Guru kami bisa marah, lho).
Please, biarkan kami paling tidak benar dalam satu hal, yaitu menjalankan hukum yang utama - mengasihi sesama kami manusia. Biarkan kami berteman dengan orang-orang yang menyembuhkan dan mengusir setan dalam nama Yesus. Biarkanlah kami bersahabat dengan orang-orang yang memiliki doktrin yang 'fundamentalis'. Biarlah kami bersekutu dengan setiap orang yang mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Roma 10 :9). Jika di antara mereka itu ada yang ternyata penyesat, kami percaya Allah sendiri akan mencelikkan mata kami untuk mengenalinya. Kami sadar, kami tak mampu memahami dengan pasti apa yang dipahami Tuhan. Pengetahuan kami sangat terbatas. Dalam kebodohan kami, kami hanya memohon dan berharap pada kemurahanNya saja, agar kami tak tersesat atau disesatkan.
O, alangkah dalamnya kekyaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan ? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya ?
(Roma 11 : 33,34)
Setiap kandang merasa gerombolannya saja yang berkenan di mata Sang Gembala.
Seekor domba kecil lugu seperti kita dibuat bingung mendengarkan teriakan setiap kelompok. Sementara sebagai anggota jemaat biasa, kita merasa 'fine-fine saja' berhubungan dengan anggota gereja lain, para pemimpin kita berteriak, "Awas sessaaat.....!!!!" Gereja di luar denominasi kita dicitrakan sebagai monster yang hanya berusaha menjebak atau menerkam kita. (Sebaliknya pula, kawan kita di demoninasi lain pun sudah diwanti-wanti oleh pemimpinnya agar jangan dekat-dekat dengan kita, ugh!)
Lalu, apakah kata Yesus sendiri mengenai orang-orang yang mengikutNya dan orang-orang lain yang bukan pengikutNya ?
Kata Yohanes kepada Yesus : "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
Tetapi kata Yesus : "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi namaKu, dapat seketika itu juga juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya"
Markus 9:38-41
Seandainya ada para ahli yang membaca kutipan di atas, pastilah pendapat itu langsung ditengking dengan argumen tentang bahaya penyesatan di zaman akhir dan bahwa tidak setiap orang yang memanggil Tuhan kepada Yesus akan selamat.
Kepada para ahli yang gemar menyebut 'sesat' kepada kaum Kristen :
Masalahnya begini, wahai para orang hebat yang berilmu tinggi : bagaimana kami yakin bahwa ajaran, pikiran atau kesimpulan kalianlah yang benar ? Lantas, seorang menjawab : periksalah dengan menggunakan Firman Tuhan.
Benar kata kalian itu, wahai para pemimpin umat. Masalahnya begini : bukankah masing-masing kalian bersilat lidah dengan menggunakan Firman Tuhan ? Kalau ilmu semakin tinggi, kalian bersoal-jawab dengan Firman Tuhan dalam bahasa asli. Lebih tinggi lagi, kalian bertarung dengan Firman Tuhan berdasarkan dokumen paling paling otentik dan dengan pengetahuan yang luar biasa mengenai sejarah sejak zaman Tuhan mencipta langit dan bumi.
Kami mumet...! Ndang sahat hali-hali nami dohot parbinotoan nami tusi. Semakin kalian jelas-jelaskan, semakin membingungkan apa yang kalian sedang perbincangkan. Dalam pikiran kami yang sederhana, Yesus Kristus Sang Guru Yang Agung tak pernah menuntut intelegensi dan pendidikan yang tinggi untuk memahami ajaranNya.
Kalau mendengar pemimpin di gereja kami, maka kami adalah orang yang benar, yang lain sesat. Kalau dengar-dengaran pada pemimpin gereja yang lain, maka kami adalah yang sesat...O, portibi!
Izinkanlah kami bertanya kepada kalian yang mengklaim sebagai pemimpin umat, ahli Kitab Suci, ahli sejarah gereja, cendikiawan Kristen, atau apapun : apakah kalian murid Yesus ? Tolonglah jawab : Apakah kalian memang murid Yesus ?
Terus terang saja : kami meragukan kalian! Tampaknya, kalian tidak memiliki ciri-ciri murid Yesus, karena menurut Sang Guru :
... semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi
(Yoh 13:35)
Kalau kalian bukan murid Yesus, bagaimanakah kalian mengajarkan pada kami mengenai siapa yang sesat menurut Yesus ? Kalau kalian bukan murid Yesus, tolonglah jangan obok-obok murid Yesus (Guru kami bisa marah, lho).
Please, biarkan kami paling tidak benar dalam satu hal, yaitu menjalankan hukum yang utama - mengasihi sesama kami manusia. Biarkan kami berteman dengan orang-orang yang menyembuhkan dan mengusir setan dalam nama Yesus. Biarkanlah kami bersahabat dengan orang-orang yang memiliki doktrin yang 'fundamentalis'. Biarlah kami bersekutu dengan setiap orang yang mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Roma 10 :9). Jika di antara mereka itu ada yang ternyata penyesat, kami percaya Allah sendiri akan mencelikkan mata kami untuk mengenalinya. Kami sadar, kami tak mampu memahami dengan pasti apa yang dipahami Tuhan. Pengetahuan kami sangat terbatas. Dalam kebodohan kami, kami hanya memohon dan berharap pada kemurahanNya saja, agar kami tak tersesat atau disesatkan.
O, alangkah dalamnya kekyaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan ? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya ?
(Roma 11 : 33,34)
07 Maret 2009
Percayakah engkau akan hal ini ?
Jika kita mengaku sebagai pengikut Kristus, tentulah kita mengikuti apa yang diperintahkanNya dan apa yang diajarkanNya. Tetapi, seringkali label sebagai murid Kristus melekat begitu saja pada diri kita tanpa kita mengetahui apa yang menjadi ajaran Sang Guru. Mengikut Kristus berarti mengikuti juga apa yang diyakiniNya tentang diriNya.
Jawab Yesus : "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
dan setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini ?
(Yoh 11:25,26)
Jawab Yesus : "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
dan setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini ?
(Yoh 11:25,26)
06 Maret 2009
Yang berbahagia
Di koran sering kita baca iklan ucapan selama berbahagia kepada pasangan yang akan atau baru melakukan upacara pernikahan. Ucapan bahagia juga ditujukan kepada orang-orang yang merayakan ulang tahun kelahiran atau ulang tahun pernikahan. Juga kepada pasangan yang baru mendapatkan anak.
Dengan menggunakan kata "selamat dan sukses", ucapan selamat berbahagia juga ditujukan kepada mahasiswa yang baru diterima di atau baru lulus dari perguruan tinggi favorit, pejabat yang baru dipromosikan, pengusaha yang baru mendapat order besar, olahragawan yang menjuarai perlombaan,... dan banyak lagi. Hmmm, bukankah banyak alasan untuk berbahagia ?
Para ibu pun biasanya sangat bahagia jika putra putri mereka yang masih kecil memenangi lomba mewarnai, pertandingan makan kerupuk,... atau menjadi juara kelas, masuk tim olimpiade ... Apalagi setelah putra-putri mereka beranjak dewasa, dan berhasil dalam studi, kemudian mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, lantas menjadi tokoh terkenal. Untuk sebagian ibu, keberhasilan anak adalah kebahagiaan tertinggi.
Ketika seorang perempuan menyaksikan pekerjaan yang ajaib yang dilakukan Yesus, berserulah ia di antara orang banyak dan berkata kepadaNya, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."
Tetapi Ia berkata : "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."
(Lukas 11 : 28b,29)
Dengan menggunakan kata "selamat dan sukses", ucapan selamat berbahagia juga ditujukan kepada mahasiswa yang baru diterima di atau baru lulus dari perguruan tinggi favorit, pejabat yang baru dipromosikan, pengusaha yang baru mendapat order besar, olahragawan yang menjuarai perlombaan,... dan banyak lagi. Hmmm, bukankah banyak alasan untuk berbahagia ?
Para ibu pun biasanya sangat bahagia jika putra putri mereka yang masih kecil memenangi lomba mewarnai, pertandingan makan kerupuk,... atau menjadi juara kelas, masuk tim olimpiade ... Apalagi setelah putra-putri mereka beranjak dewasa, dan berhasil dalam studi, kemudian mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, lantas menjadi tokoh terkenal. Untuk sebagian ibu, keberhasilan anak adalah kebahagiaan tertinggi.
Ketika seorang perempuan menyaksikan pekerjaan yang ajaib yang dilakukan Yesus, berserulah ia di antara orang banyak dan berkata kepadaNya, "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau."
Tetapi Ia berkata : "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."
(Lukas 11 : 28b,29)
05 Maret 2009
Hal-hal yang tersembunyi bagi orang bijak dan orang pandai
Setiap diskusi pastilah berisi pertukaran pendapat, pengetahuan dan logika. Sementara itu, kita tahu bahwa setiap orang berbeda-beda IQ yang dibawa lahir, pendidikan yang pernah didapatkan, dan referensi yang dimiliki. Artinya : dalam diskusi, tentulah orang bijak dan orang pandai akan lebih 'benar' daripada orang-orang biasa.
Tetapi, tidak demikian dalam memahami Allah dan Yesus Kristus.
Logika dan pengetahuan manusia bukanlah syarat untuk mengenal Allah dan Yesus Kristus dengan benar. Kedengarannya naif, dan bisa membuat para profesor, doktor, master dan sarjana teologia mencibir : orang tak sekolahan sok pintar! Akh, sudahlah : wong kita sudah mengaku bukan cendikiawan, mana bisa kita menang berdiskusi dengan mereka ?
Lukas 10:21
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata : "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu.
Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
Marilah kita menjadi hidup kerohanian kita sesuai dengan karunia pemahaman yang saat ini diberikan Tuhan bagi kita. Tak perlu kita ikut-ikutan berputar-putar menemukan 'kebenaran yang sejati' dan pada ujungnya tidak melakukan apa yang sudah jelas diperintahkan Tuhan kepada kita (yaitu mengasihi Allah dan sesama). Lam tapagomos ma martangiang dohot manjaha Hata ni Debata na tarsurat di Bibel i. Biarlah Allah sendiri mengungkapkan langsung kepada kita apa yang tersembunyi bagi orang bijak dan orang pandai.
Tetapi, tidak demikian dalam memahami Allah dan Yesus Kristus.
Logika dan pengetahuan manusia bukanlah syarat untuk mengenal Allah dan Yesus Kristus dengan benar. Kedengarannya naif, dan bisa membuat para profesor, doktor, master dan sarjana teologia mencibir : orang tak sekolahan sok pintar! Akh, sudahlah : wong kita sudah mengaku bukan cendikiawan, mana bisa kita menang berdiskusi dengan mereka ?
Lukas 10:21
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata : "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu.
Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
Marilah kita menjadi hidup kerohanian kita sesuai dengan karunia pemahaman yang saat ini diberikan Tuhan bagi kita. Tak perlu kita ikut-ikutan berputar-putar menemukan 'kebenaran yang sejati' dan pada ujungnya tidak melakukan apa yang sudah jelas diperintahkan Tuhan kepada kita (yaitu mengasihi Allah dan sesama). Lam tapagomos ma martangiang dohot manjaha Hata ni Debata na tarsurat di Bibel i. Biarlah Allah sendiri mengungkapkan langsung kepada kita apa yang tersembunyi bagi orang bijak dan orang pandai.
04 Maret 2009
Mengunjungi situs Kristen di dunia maya (1)
Jenuh. Jemu.
Itulah perasaan yang muncul ketika memyambangi sebagian besar situs-situs yang mengulas dan mendiskusikan topik-topik terkait dengan kekristenan.
Gairah yang menggebu untuk tampil sebagai penyampai kebenaran mencuat nyata di berbagai posting. Terang-terangan atau secara tersirat, setiap orang atau kelompok memosisikan diri sebagai yang paling memahami perasaan dan pikiran Tuhan. Seringkali diskusi tidak menyentuh topik dan tidak berusaha mencari kesepahaman, tetapi masing-masing ngotot mempertahankan pendapat dan menyerang yang lain, termasuk menyerang pribadi orang lain. Kata-kata kasar sesekali muncul.
Jenuh dan jemu.
Alih-alih mendapat pencerahan, aku dibingungkan dengan guyuran kata-kata dan lontaran argumentasi yang lepas konteks dan tidak cerdas.
Untung ada yang segilintir yang berbeda. Situs yang menurutku sangat menarik dan bermanfaat bagi kita halak Batak Kristen adalah www.rumametmet.com. Sebagai mana layaknya komunitas Batak, di beberapa pojok situs ini pun ada ramai-ramai ala 'lapo' dan diperbolehkan nglor ngidul. Puji Tuhan, sejauh ini Bapak Pendeta yang menjadi tuan rumah situs itu berhasil mengarahkan para pengunjung situsnya bertutur sopan dan saling menghormati sebagaimana layaknya orang Kristen.
Lelah berjalan-jalan di berbagai situs yang hiruk pikuk, akhirnya aku mampir di sebuah situs 'konservatif' yang terasa adem untukku (www.yabina.org). Meskipun isinya tidak sering diup-date, berbagai topiknya banyak yang tetap relevan dan disajikan dengan santun.
Melanglang ke tempat berkumpulnya para pemikir beneran dan dadakan di dunia maya mungkin membuat kita lebih paham tentang cara pandang, perasaan dan pemikiran kawan-kawan sesama Kristen. Mungkin juga membuat iman kita dikuatkan dan hati kita dihiburkan. Tapi, kalau kita salah mampir (ini mudah terjadi), yang timbul setelah lelah memelototi layar komputer hanyalah rasa jenuh dan jemu.
Mari kembali ke dunia nyata. Apakah kita sudah melakukan perbuatan kasih hari ini?
Itulah perasaan yang muncul ketika memyambangi sebagian besar situs-situs yang mengulas dan mendiskusikan topik-topik terkait dengan kekristenan.
Gairah yang menggebu untuk tampil sebagai penyampai kebenaran mencuat nyata di berbagai posting. Terang-terangan atau secara tersirat, setiap orang atau kelompok memosisikan diri sebagai yang paling memahami perasaan dan pikiran Tuhan. Seringkali diskusi tidak menyentuh topik dan tidak berusaha mencari kesepahaman, tetapi masing-masing ngotot mempertahankan pendapat dan menyerang yang lain, termasuk menyerang pribadi orang lain. Kata-kata kasar sesekali muncul.
Jenuh dan jemu.
Alih-alih mendapat pencerahan, aku dibingungkan dengan guyuran kata-kata dan lontaran argumentasi yang lepas konteks dan tidak cerdas.
Untung ada yang segilintir yang berbeda. Situs yang menurutku sangat menarik dan bermanfaat bagi kita halak Batak Kristen adalah www.rumametmet.com. Sebagai mana layaknya komunitas Batak, di beberapa pojok situs ini pun ada ramai-ramai ala 'lapo' dan diperbolehkan nglor ngidul. Puji Tuhan, sejauh ini Bapak Pendeta yang menjadi tuan rumah situs itu berhasil mengarahkan para pengunjung situsnya bertutur sopan dan saling menghormati sebagaimana layaknya orang Kristen.
Lelah berjalan-jalan di berbagai situs yang hiruk pikuk, akhirnya aku mampir di sebuah situs 'konservatif' yang terasa adem untukku (www.yabina.org). Meskipun isinya tidak sering diup-date, berbagai topiknya banyak yang tetap relevan dan disajikan dengan santun.
Melanglang ke tempat berkumpulnya para pemikir beneran dan dadakan di dunia maya mungkin membuat kita lebih paham tentang cara pandang, perasaan dan pemikiran kawan-kawan sesama Kristen. Mungkin juga membuat iman kita dikuatkan dan hati kita dihiburkan. Tapi, kalau kita salah mampir (ini mudah terjadi), yang timbul setelah lelah memelototi layar komputer hanyalah rasa jenuh dan jemu.
Mari kembali ke dunia nyata. Apakah kita sudah melakukan perbuatan kasih hari ini?
03 Maret 2009
Nasa jolma ingkon mate
Game over!
Betapa menyebalkan melihat tulisan tersebut di monitor. Jika kita sedang bermain di arena permainan elektronik, kita dapat melanjutkan atau mengulang permainan dengan memasukkan koin lagi atau menggesek kartu pembayaran. Jika kita sedang bermain di depan komputer, kita dapat menjawab "Yes" ketika muncul pertanyaan "Play again?"
Kita tahu, cepat atau lambat, kata "game over" akan muncul. Permainan usai.
Dalam hidup kita masing-masing, kata-kata tersebut pun sudah tersedia, tinggal menunggu diaktifkan. Kebanyakan kita menyangkali takdir "semua orang akan mati" yang sudah dibuktikan oleh milyaran umat manusia sebelum kita. Kebanyakan kita berkelakuan seperti orang yang akan "hidup seribu tahun" seperti keinginan Chairil Anwar atau menjadi makhluk abadi seperti para "highlanders". Kita enggan mempertanyakan : apakah hidup yang kita jalani ini adalah sebagaimana seharusnya kita hidup ? Ataukah kita sekedar menjalaninya seperti seekor keledai yang digelayuti wortel di depan matanya dan sekedar melangkah tak peduli hendak kemana ?
Game over!
Bisa muncul kapan saja, mendadak, tak tergantung waktu. Kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, serangan jantung, kanker, DBD, flu burung, aniaya oleh pelaku kriminal,...
Bisa muncul kapan saja, tak mendadak, tapi tetap saja kita tak tahu kapan. Penyakit kronis, usia tua,... Itu pun tak membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam menyongsong kematian. Hati kita telah tertambat di bumi ini : pada benda-benda yang kita kumpulkan, pada orang-orang yang akan kita tinggalkan, pada status yang sudah kita capai,...
Game over!
Tak ada koin atau kartu untuk meneruskan permainan lagi
Tak ada pertanyaan "Play Again"
Dimanakah kita berada setelah permainan berakhir di bumi ini ?
Buku Ende 334 ayat 1 dan 7
Nasa jolma ingkon mate
Ingkon mago sibuk i
Na mangolu ingkon mate
Asa tung denggan muse
Daging on gabe bangke
Jala ingkon do malangke
Asa sogot bangkit i
Tu hasangaponna i
Ai idaon ni matangku
Hasangapon i sude
Hatigoran do uloshu
Na pasangap au muse
Pinarsanggul hamonangan
Jongjong au di hasonangan
Maradophon Debata
Sai tongtong, Haleluya!
Betapa menyebalkan melihat tulisan tersebut di monitor. Jika kita sedang bermain di arena permainan elektronik, kita dapat melanjutkan atau mengulang permainan dengan memasukkan koin lagi atau menggesek kartu pembayaran. Jika kita sedang bermain di depan komputer, kita dapat menjawab "Yes" ketika muncul pertanyaan "Play again?"
Kita tahu, cepat atau lambat, kata "game over" akan muncul. Permainan usai.
Dalam hidup kita masing-masing, kata-kata tersebut pun sudah tersedia, tinggal menunggu diaktifkan. Kebanyakan kita menyangkali takdir "semua orang akan mati" yang sudah dibuktikan oleh milyaran umat manusia sebelum kita. Kebanyakan kita berkelakuan seperti orang yang akan "hidup seribu tahun" seperti keinginan Chairil Anwar atau menjadi makhluk abadi seperti para "highlanders". Kita enggan mempertanyakan : apakah hidup yang kita jalani ini adalah sebagaimana seharusnya kita hidup ? Ataukah kita sekedar menjalaninya seperti seekor keledai yang digelayuti wortel di depan matanya dan sekedar melangkah tak peduli hendak kemana ?
Game over!
Bisa muncul kapan saja, mendadak, tak tergantung waktu. Kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, serangan jantung, kanker, DBD, flu burung, aniaya oleh pelaku kriminal,...
Bisa muncul kapan saja, tak mendadak, tapi tetap saja kita tak tahu kapan. Penyakit kronis, usia tua,... Itu pun tak membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam menyongsong kematian. Hati kita telah tertambat di bumi ini : pada benda-benda yang kita kumpulkan, pada orang-orang yang akan kita tinggalkan, pada status yang sudah kita capai,...
Game over!
Tak ada koin atau kartu untuk meneruskan permainan lagi
Tak ada pertanyaan "Play Again"
Dimanakah kita berada setelah permainan berakhir di bumi ini ?
Buku Ende 334 ayat 1 dan 7
Nasa jolma ingkon mate
Ingkon mago sibuk i
Na mangolu ingkon mate
Asa tung denggan muse
Daging on gabe bangke
Jala ingkon do malangke
Asa sogot bangkit i
Tu hasangaponna i
Ai idaon ni matangku
Hasangapon i sude
Hatigoran do uloshu
Na pasangap au muse
Pinarsanggul hamonangan
Jongjong au di hasonangan
Maradophon Debata
Sai tongtong, Haleluya!
02 Maret 2009
Tertib rumah tangga Kristen
Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan
Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan
Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
(Kolose 3:18-21)
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan
(Efesus 5 : 22,25 ; Efesus 6:1,4)
Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
(1 Petrus 3:1,7)
Singkatnya : tunduk pada suami, kasih kepada isteri, taat kepada orang tua, cermat menjaga perasaan anak dan mendidik mereka dalam ajaran Tuhan. Maukah kita mengikuti tata-tertib ini ? Ataukah kita mau berdalih-dalih lagi ? Tak dapatkah kita melihat kaitan antara pengabaian terhadap firman di atas dengan meningkatnya jumlah rumah tangga Batak Kristen yang berantakan sekarang ini ?
Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan
Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
(Kolose 3:18-21)
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan
(Efesus 5 : 22,25 ; Efesus 6:1,4)
Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
(1 Petrus 3:1,7)
Singkatnya : tunduk pada suami, kasih kepada isteri, taat kepada orang tua, cermat menjaga perasaan anak dan mendidik mereka dalam ajaran Tuhan. Maukah kita mengikuti tata-tertib ini ? Ataukah kita mau berdalih-dalih lagi ? Tak dapatkah kita melihat kaitan antara pengabaian terhadap firman di atas dengan meningkatnya jumlah rumah tangga Batak Kristen yang berantakan sekarang ini ?
01 Maret 2009
Teladan Rasul Paulus
Orang Kristen sebenarnya tidak kekurangan contoh dan nasihat tentang bagaimana berperilaku. Tanpa mendapat penjelasan panjang lebar pun kita tahu apa yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ini :
Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
kalau kami difintah, kami menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini
( I Kor. 4 : 12 b - 13)
Sebab itu aku menasihatkan kamu : turutilah teladanku!
(I Kor. 4 : 16)
Meminta orang lain menghargai hak-hak kita sebagai warganegara dan menggunakan proses hukum untuk memperkarakan hak kita yang terrampas adalah baik. Akan tetapi, kita berbeda dalam hal yang prinsip dengan dunia ini : kita bukanlah si jogal rungkung yang suka bersilat lidah dan adu volume suara. Kita juga bukan si anggar jago yang membalas makian, aniaya dan fitnah dengan cara yang sama dengan yang dilakukan dunia.
Kita ini pengikut Kristus.
Lihatlah apa yang dilakukan Rasul Paulus sebagai pengikut Kristus. Ia menasihatkan kita untuk mengikuti teladannya itu.
Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
kalau kami difintah, kami menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai saat ini
( I Kor. 4 : 12 b - 13)
Sebab itu aku menasihatkan kamu : turutilah teladanku!
(I Kor. 4 : 16)
Meminta orang lain menghargai hak-hak kita sebagai warganegara dan menggunakan proses hukum untuk memperkarakan hak kita yang terrampas adalah baik. Akan tetapi, kita berbeda dalam hal yang prinsip dengan dunia ini : kita bukanlah si jogal rungkung yang suka bersilat lidah dan adu volume suara. Kita juga bukan si anggar jago yang membalas makian, aniaya dan fitnah dengan cara yang sama dengan yang dilakukan dunia.
Kita ini pengikut Kristus.
Lihatlah apa yang dilakukan Rasul Paulus sebagai pengikut Kristus. Ia menasihatkan kita untuk mengikuti teladannya itu.
Langganan:
Postingan (Atom)