28 Februari 2009

Tempat yang lebih indah

Akhir pekan!

Kemana kita liburan ?

Kota tempat kita mencari nafkah dan menjalani hidup sehari-hari terasa sangat menyesakkan dan menindih batin : kemacetan di sepanjang jalan, rutinitas yang tak berkesudahan,...

Lingkungan sekitar terasa terasa artifisial : gedung-gedung jangkung dari beton tampak seperti monster yang memerkosa bumi, pohon dan tanaman di tepi jalan atau jalur pemisah tampak seperti pajangan makhluk asing, orang-orang berseliweran seperti zombie yang tak jelas mau bergerak kemana,...

Kita merindukan tempat yang tenang dan alami. Kita membutuhkan retreat.

Kemana kita liburan ?

Jika liburan kita 'sukses' kita akan pulang 'recharged.' Dan...Senin kita kembali ke kehidupan semula.

Begitu, minggu demi minggu (itu pun kalau kita berkesempatan liburan akhir pekan).

Kita merindukan tempat yang lebih indah. Tempat dimana segala beban diangkat dan dimana kita akan menetap.

Buku Ende 353

Di surgo hasonangan i
Inganan na dumenggan i
Tusi naeng laho muli au
Asa rap dohot Jesus au

Ndang parmianan tano on
Sai surgo i do na tongtong
Ai rura partangisan on
Di ginjang sonang rohangkon

Denggan do tohapmi di disi
Di lambung ni Tuhanta i
Padoras ma tongtong langkam
Naeng sonang ho di banuam

27 Februari 2009

Dana untuk gedung gereja

Ada kebiasaan beberapa gereja untuk menggalang dana pembangunan gereja bukan saja dari anggota jemaat gereja yang bersangkutan, tetapi juga dari 'simpatisan'. Simpatisan bisa berarti anggota gereja lain atau siapa saja - termasuk orang bukan Kristen - yang merupakan kerabat, kenalan, relasi bisnis dari panitia dan anggota gereja tersebut yang mengedarkan 'strok sumbangan.'

Kebiasaan lain dalam menggalang dana adalah melakukan acara bazar dan lelang. Atau, menyediakan spot iklan di warta jemaat.

Pada saat acara pengumpulan dana, biasanya tema khotbah (dan kadang-kadang juga pengkhotbahnya) dipilih yang bisa menggugah para pendengarnya untuk membuka dompet dan pundi-pundi.

Memanglah naif jika seseorang mengatakan dana tidak perlu bagi pembangunan gedung gereja. Akan tetapi, apakah cara pengumpulan dan cara persuasi kepada orang-orang di dalam dan di luar gereja tersebut sejalan dengan tujuan dasar pembangunan gedung gereja, yaitu pembangunan jemaat, dan tetap berdasarkan prinsip jemaat Kristen ?

Apakah hati kita dan hati Tuhan juga senang jika keramik lantai gereja adalah sumbangan seorang simpatisan yang mampir di gereja sekalian memperkenalkan nomor partai dan nomor urutnya dalam Pemilu ? Atau mimbar dibiayai oleh dana seorang kandidat bupati yang menitip pesan untuk memilihnya dalam Pilkada ? Atau kusen jendela berasal dari seorang pengusaha non-Kristen yang ingin mempertahankan hubungan baik dengan salah seorang anggota panitia ? Atau sound-system adalah dana hasil lelang dimana beberapa orang berlomba-lomba memperagakan kemurahan hati ?

Tentu banyak di antara jemaat yang mempunyai niat dan kerinduan tulus untuk berpartisipasi dalam membangun rumah Tuhan. Mereka biasa siapa saja, bahkan mulai dari anggota jemaat yang paling tidak berpunya baik dalam harta maupun relasi, hingga anggota jemaat yang serba punya. Baiklah niat tulus tersebut diarahkan pada aktivitas yang berkenan di mata Tuhan.

Mengumpulkan dana dan membangun gedung gereja (apalagi mendapatkan izinnya) bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi, yang jauh lebih penting dan harus menjadi fokus jemaat adalah upaya membangun tubuh Kristus, yaitu jemaatNya. Segala jerih payah pembangunan fisik gereja - apalagi dengan mengompromikan prinsip-prinsip jemaat Kristen - akan marisuang jika tidak ditujukan untuk membangun kehidupan rohani jemaat yang lebih kokoh, yaitu jemaat yang lebih saling memperhatikan, lebih saling peduli, dan lebih saling mendukung dalam doa dan dana (ya, dana!). Tidakkah berita tentang gereja-gereja di Eropa, Amerika dan Australia yang berubah fungsi menjadi shopping mal, tempat meditasi dan rumah ibadah agama lain mengingatkan kita bahwa gedung gereja yang megah bukanlah jaminan kehidupan rohani yang berbuah ?

26 Februari 2009

God is love

Meskipun ada banyak agama dan kepercayaan yang mengajarkan 'kasih', namun kekristenanlah yang tampaknya paling terobsesi dengan sifat ilahi ini. Dalam pemahaman orang Kristen, 'kasih' bukan hanya merupakah sifat, tetapi adalah juga hakikat Allah. Karena itu, teramat aneh jika ada orang mengaku dirinya adalah 'orang benar' dan memahami firman Allah dengan sempurna, tetapi sifat ilahi kasih tak terpancar dalam tutur kata dan perbuatannya.

Ayat pengantar dari buku saat teduh yang kubaca pagi ini dikutip dari 1 Yoh 4:7-8

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Tak perlu ada penjelasan tambahan : ayat ini adalah ajaran utama dalam keyakinan kita. Maukah kita sungguh-sungguh menjadikannya pedoman dalam hidup ? Ataukah, kita mau bersoal-soal dulu tentang berbagai hal lain demi menghindar dari firman yang begitu jelas tegas ini ?

25 Februari 2009

Perbedaan itu...

Aku tak tahu ada berapa banyak - yang jelas sangat banyak - denominasi agama atau kepercayaan yang berafilisasi kepada Kristus. Sebagian memiliki kemiripan satu dengan lainnya sehingga tidak ada masalah dalam interaksi di antaranya (misal : pernikahan antar jemaat gereja yang beda denominasi atau saling mengakui pengajaran dan baptisan yang lain). Ada juga yang berseberangan diametrikal, sampai-sampai menuding yang lain adalah sesat dan anti Kristus.

Perpecahan ini, di mata sebagian orang, adalah tanda tidak murninya lagi ajaran Kristus yang dijalankan oleh orang-orang yang mengaku Kristen. Hmmm. May be. Berarti, termasuk juga ajaran gereja dimana aku menjadi anggota jemaatnya, ya ?

So, what ? Bagaimana cara agar aku tahu mana yang benar-benar murni ?

Aku rasa aku tak akan pernah tahu.

Yang kutahu, siapa saja yang merasa paling tahu (= paling benar), termasuk yang datang membawa mandat pamungkas untuk mengoreksi ajaran sebelumnya (dengan kitab suci di atas lempeng emas, roh yang berbicara lewat orang tertentu sebagai medium,...), akhirnya juga berujung dengan koreksi lebih lanjut.

Mendongak pagar, melihat ajaran di luar gereja juga menunjukkan - surprise ?! - fenomena yang tak jauh berbeda. Berbagai agama dan aliran di luar Kristen pun bergulat dengan 'pemurnian' ajaran. Akh, praktis semua organisasi keagamaan memanglah tak beda dengan organisasi sekuler...mengalami siklus membesar dan mengerut dengan riak-riak (kadang-kadang gelombang) ketika core business dan core valuenya direposisi untuk beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal serta basis pengetahuan yang berubah.

Ketidakakuran antara orang-orang sekepercayaan kadang-kadang dibungkus manis : perbedaan itu indah. Oops!

Untukku, perbedaan itu adalah keniscayaan : suka atau tidak suka, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah... perbedaan akan selalu ada : it is embeded in our nature. Bagaimanakah enam milyar kepala yang masing-masing terdiri dari milyaran sel dapat identik mengenai apa yang dipercayainya ?

Lantas, mengapakah kita harus mengharapkan dunia yang ideal dimana semua orang memiliki kepercayaan yang identik dengan yang kita percayai ? Kalau kerinduan kita adalah untuk mengajak orang lain menikmati kebahagiaan dalam kepercayaan yang kita anut, tentulah tidak masuk akal memaksa, mengungkung, memperdayai orang lain agar masuk ke atau tetap di dalam kepercayaan tertentu. Dan lebih tidak masuk akal lagi : menjelek-jelekkan, memfitnah, memaki orang yang berbeda kepercayaan!

Terbersit di pikiranku bahwa sebagian orang yang begitu giat untuk menonjolkan kepercayaan atau alirannya dengan cara-cara yang busuk, kasar atau keji adalah orang-orang yang sebenarnya tidak begitu yakin tentang apa yang diyakininya. Di hati kecilnya, mereka menjadi ragu tentang apa yang dipercayainya setiap kali melihat ada orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Well, barangkali juga memang ada yang membutuhkan 'jumlah' untuk dukungan kekuatan atau pengaruh politik.

Lantas, bagaimanakah jika 'standardisasi kepercayaan' merupakan 'mandat dari surga' ?

Aku tak tahu tentang agama dan kepercayaan lain. Yang aku tahu, di dalam Alkitab dijelaskan bahwa murid-murid Yesus mendapat amanat : "Jadikanlah semua bangsa muridku". Tujuan memuridkan adalah : "...ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Dan perintah itu adalah : mengasihi Allah dan saling mengasihi!

Segala keunggulan ajaran yang didasari oleh ketinggian intelektualitas, kebesaran jumlah, keakuratan sejarah... apapun, kalau tidak didasari oleh kasih, cuma tong kosong yang nyaring bunnyinya.

Perbedaan itu... mungkin tidak indah, mungkin membuat mata sepet, mungkin membuat hati sebel, mungkin mengusik keyakinan, mungkin membuat takut, mungkin mengingatkan akan tugas yang belum selesai... Tetapi, itu tak membuat seseorang atau sekelompok orang mempunyai hak atas kebenaran dan memaksa yang lain untuk mengikuti pemahamannya demi menghilangkan perbedaan.

24 Februari 2009

Mempersoalkan terjemahan Alkitab

Dalam suatu pertemuan keluarga dan kerabat kami, ada acara makan, dan seperti biasanya dimulai dengan doa. Selesai berdoa, salah seorang kerabat berucap bahwa dia tidak ikut berdoa karena dia tidak lagi berdoa dalam nama Yesus. Kaget kami mendengarnya. Dia menjelaskan bahwa dia sekarang berdoa dalam nama Yeshua (aku tak tahu tahu persis cara pengucapannya dan cara penulisanya). Konon, nama yang disebutnya itu adalah penyebutan dalam bahasa Ibrani yang benar untuk sosok yang (secara salah) dipanggil oleh banyak orang Kristen Indonesia sebagai Yesus atau Kristen Batak sebagai Jesus.

Diskusi akhirnya berlanjut tentang penolakannya mengenai penggunaan nama Allah dalam bahasa Indonesia. Dia mengatakan bahwa Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) adalah sesat dan merupakan pekerjaan iblis. Ah, so...masalah terjemahan Alkitab! Aku sudah pernah dengar kisruh soal ini beberapa waktu sebelumnya. Jadi, itu toh, masalahnya.

Menurutnya, semua orang Kristen yang menyembah Allah dan Yesus adalah sesat, dan kalau tidak bertobat akan masuk neraka. Bahkan, angka 666 sudah terpahat di dahi orang-orang demikian. Juga, semua jenis baptisan (percik dan selam) yang dilakukan oleh orang yang menggunakan nama Allah dan Yesus adalah tidak sah, maka perlu dilakukan lagi. Wah...

Sebagai orang Kristen awam, aku tak punya kapasitas untuk berdebat-debat soal seperti ini; apalagi soal terjemahan Alkitab. Sedikit pun aku tak mengerti bahasa-bahasa asli Alkitab. Menurutku, bersoal-soal seperti ini urusan orang-orang pintar sajalah.

Menurut pemahamanku yang sederhana, dalam doa yang diajarkan oleh Anak Yang Maha Tinggi yang telah menebus dosa manusia, Yang Maha Tinggi boleh kita panggil dengan "Bapa kami yang di surga" dan Dia tahu bahwa yang kita maksud adalah Dia Pencipta dan Penguasa Semesta. Bapaku yang disurga tentu tahu aku sedang berbicara kepadaNya ketika memanggilNya Amanami atau Debata nami atau Allah kami atau Tuhan kami; juga AnakNya yang tunggal tentu tahu yang kumaksud ketika aku memanggilNya Yesus atau Jesus. Dia mengetahui keseluruhan pikiranku dan dia mengerti bahasaku.

Siapakah yang ada di surga selain Dia yang kusebut dengan namaNya yang kukenal itu ? Siapakah yang pernah turun dari surga dan menebus dosa manusia selain Dia yang kusebut dengan namaNya yang kukenal itu ?

Allahku menyebut namaNya JHWH, Dia pernah mengatakan itu. Tetapi, Dia tak pernah menolak umatNya memanggilNya dengan cara lain.

Kerabat kami yang sudah pasang harga mati untuk pengucapan nama Yang Maha Tinggi dan nama AnakNya itu memang tidak bisa menerima pandangan kami yang 'konservatif'. Dia bahkan 'bernubuat' semua orang yang tak mau mengganti panggilan Allah dan Yesus dengan nama asliNya akan mengalami kecelakaan dan akan binasa. Duh!

Beberapa waktu kemudian di gereja aku mendapatkan leaflet yang diterbitkan LAI berjudul "Mengapa kata 'Allah' dan 'Tuhan' dipakai dalam Alkitab kita?". Sejauh yang aku pahami, penjelasan lembaga yang menerjemahkan Alkitab itu logis dan tidak ada niat untuk menyesatkan. Tetapi, di internet aku juga menemukan informasi mengenai gereja-gereja tertentu yang tidak lagi mau memakai Alkitab terbitan LAI; konon dalam Alkitab terjemahan mereka, berbagai kata yang menyangkut Allah (Tuhan) dipertahankan dalam bahasa aslinya. Mereka menolak penjelasan LAI; dan seperti biasanya, ya...mereka benar sendiri, LAI dan gereja lain sesat. Duh!

Aku berdoa : Ampunilah aku, ya Bapaku yang di surga. Pengertianku cuma sejauh ini : Aku tak merasa berdosa ketika menyebutMu Allah dan ketika menyebut AnakMu Yesus. Jika aku salah, berikanlah pemahaman yang benar kepadaku. Amin.

Karena aku merasa damai setelah berdoa, maka aku akan tetap menyapaNya dengan nama dalam bahasa yang aku kenal. Aku percaya, jika Bapaku yang di surga tidak setuju cara aku menyebut namaNya, Dia akan mengingatkanku.


Kutipan LEAFLET LAI

Mengapa Kata “ALLAH” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab Kita?
oleh Lembaga Alkitab Indonesia


Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini.


Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?

Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL dalam Alkitab Ibrani:

Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (’ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.

Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (’ELOAH).

Mzm 22:2 “Allahku (EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL berkaitan dengan akar kata ’L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.

Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ’EL, ’ELOAH dan ’ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.

Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ’ELOHIM, ’ELOAH dan ’EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan politeis.


Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin’ja nama Emanuel artin’ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1)
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara.

Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.



Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (’ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ (’EHYEH ’ASHER ’EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (’EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.’” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.

Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ’ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ”KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.

Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ’ADONAY (‘TUHAN’) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.

Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ’ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ’ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (’ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes 49:14). Pembedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.

Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheitsübersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecuménique de la Bible).


Penutup

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab se-Dunia (United Bible Societies).
  • Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!


LEMBAGA ALKITAB INDONESIA
www.alkitab.or.id

23 Februari 2009

Siapakah kita di bumi ini ?

Membaca berita di koran dan melihat gambar-gambar di televisi mengenai perang di negeri-negeri yang jauh, sadarlah kita betapa ribuan orang mati untuk memperjuangkan hak atas tanah dan pemerintahan atas satu teritori. Di dalam negeri pun, kisah Aceh, Papua, dan Timor Leste adalah kisah yang sejenis. Perundingan lebih sering menemukan jalan buntu karena masing-masing pihak merasa bahwa hak mereka sudah dimateraikan dalam sejarah.

Akh, siapakah kita ? Di masa hidup kita yang hanya sekitar 70 tahun, siapakah kita sehingga beroleh hak atas bumi yang telah berusia ribuan tahun (atau jutaan tahun, kata beberapa orang) ? Siapakah kita yang merasa pemilik tetap dari suatu wilayah, sementara dalam ribuan tahun berbagai suku bangsa telah menapak di tanah yang kita klaim milik kita ? Siapakah kita yang merasa tanah yang kita jejak adalah hak dari suatu golongan yang unik, sementara dalam ribuan tahun pertemuan antar berbagai suku bangsa telah menjadikan kita ini campuran dari banyak garis keturunan ? Bagaimankah kita dapat mengklaim suatu wilayah adalah khusus bagi suatu kepercayaan saja, sementara selama ribuan tahun telah berganti-ganti kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang kita ?

Perang dan pemberontakan untuk merebut wilayah tampaknya tidak akan pernah berhenti dalam sejarah umat manusia. Tetapi, sebagai orang percaya, kita tak perlu ngotot untuk mendapatkan lahan di bumi ini. Kita hanyalah pendatang di sini, singgah beberapa waktu dan akan berangkat ke negeri kita yang jauh lebih baik.


Ibrani 11:13-16

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air

Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ

Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan kota bagi mereka.

22 Februari 2009

Menjangkau anak muda

Kemarin pagi aku menonton acara rohani Kristen "Mujizat" di TVRI.

Pada satu bagian ditampilkan rekaman kegiatan kelompok pemuda dari gereja yang membawakan acara tersebut. Ada lagu pujian yang diiringi musik dan koregrafi yang dinamik. Ribuan orang muda memuji Tuhan, menari dan bersukacita dengan gaya mereka yang khas. Anak-anak muda yang diwawancari pun berkomentar bahwa acara tersebut sangat menarik hati mereka.

Meskipun aku bukan anggota gereja tersebut, senang rasanya melihat pelayanan Kristen yang bisa menjangkau begitu banyak generasi muda. Memang, kegairahan beribadah bukan jaminan bahwa kehidupan beriman dan sehari-hari akan selalu selaras dengan ajaran Kristus. Tetapi, bagaimanapun itu adalah suatu langkah awal yang baik untuk memanggil anak-anak muda Kristen ke dalam persekutuan orang-orang percaya.

Hari ini aku akan mengikuti kebaktian di gereja yang tergolong gereja 'aliran lama'. Untukku yang sudah termasuk generasi 'jadul', tata ibadah yang adem ayem tak masalah (malahan aku akan canggung kalau mengikuti kebaktian yang penuh dengan gerak dan tepuk tangan), asalkan Pak Pendeta atau Ibu Pendeta yang melayani menyiapkan khotbah dengan sungguh-sungguh. Tapi, bagi anak-anak muda gereja, dapatlah kubayangkan betapa bosannya mereka dengan 'kewajiban mengikuti kebaktian' yang monoton tersebut. Mungkin, sebaiknya aku mengajukan usul kepada Majelis Jemaat untuk memperhatikan lebih seksama kebutuhan orang muda itu.

21 Februari 2009

Mengikut Yesus Kristus dan Pengetahuan tentang Allah

Ada seorang bapak pendeta yang rajin menulis di internet dan sering diwawancarai majalah rohani. Aku suka membaca tulisan beliau karena ulasan beliau mengenai berbagai pengajaran dan aliran gereja sangat mendetail dan didukung oleh ayat-ayat Alkitab. Di situs gerejanya dapat pula dibaca bagaimana Pak Pendeta berdialog langsung atau melalui tulisan dengan pemimpin / tokoh gereja dari berbagai aliran.

Namun, ada yang mengganjal hatiku. Pak Pendeta senang sekali menyebut orang lain "tolol", dan cara berkomunikasinya kasar (PS : dia bukan Batak, jadi tak ada kaitannya dengan 'karakter bawaan'). Dan lagi, banyak sekali gereja di luar denominasinya beliau bilang sesat (termasuk juga gereja dimana aku menjadi anggota jemaat).

Banyak orang yang mencoba mengingatkan beliau tentang sifat kasarnya terhadap sesama umat Tuhan, tetapi dengan lantang beliau mengatakan bahwa orang benar harus keras terhadap orang sesat (menurutnya pemimpin gereja/aliran lain tertentu dalah penyebar ajaran sesat). Katanya lagi, Yesus juga keras kepada ahli Taurat yang keras kepala; demikian juga Rasul Paulus terhadap para penyesat. Lalu dia mengutip ayat yang menunjukkan kata-kata digunakan Paulus mengenai orang-orang yang menyesatkan orang lain dan menolak ajarannya.

Sifat kasar dan tinggi hati bukanlah ciri kasih. Sikap seperti Pak Pendeta ini membuatku ragu mengenai para ahli agama (Pak Pendeta ini lulusan seminari di Amerika Serikat). Sering aku lihat orang-orang sangat tinggi pengetahuan agamanya, tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Menurutku, ilmu theologia (termasuk theologi Kristen) adalah sekedar pengetahuan manusia...tidak ada kait mengaitnya dengan iman dan perbuatan. Pernah aku melihat buku spiritualitas yang ditulis oleh seorang bergelar Doktor Theologi dan Doktor Divinity (yang diperolehnya dari universitas Kristen terkemuka di dunia)...ternyata penulisnya bukan Kristen.

Jadi, menurutku, tak semua orang Kristen harus menjalani pendidikan formal yang tinggi mengenai Allah dan kekristenan, karena itu tidak membuat orang menjadi memiliki iman yang benar mengenai Allah dan Kristus. Pengetahuan itu juga tidak membuat orang memiliki kelakuan yang mengikuti teladan Kristus.

Sebagai orang awam, aku bersyukur diperbolehkan Tuhan untuk berdoa langsung kepadaNya dan mempelajari sendiri FirmanNya. Pengetahuanku tentang Firman dan Teologi, tentu saja, tak sebanding dengan orang-orang berpendidikan tinggi itu. Akan tetapi, sesuai dengan tingkat pemahaman yang Tuhan karuniakan kepadaku, aku percaya Tuhan tidak akan membiarkanku disesatkan oleh rupa-rupa pengajaran dan menjauh dari Dia. (Lagi pula, bukankah berbagai debat teologi yang dilakukan para ahli yang bergelar profesor doktor yang masing-masing memiliki argumen berdasarkan interpretasi ayat Alkitab juga umumnya tidak membawa kepada satu titik temu?).

Untuk kita orang awam, menurutku, memang lebih baik menikmati saja persekutuan dan belajar langsung kepada Tuhan. Kita tetap perlu belajar Firman Tuhan bersama gembala jemaat di mana kita beribadah, dan baik sekali mendengarkan pandangan berbagai pemimpin rohani yang lain, tetapi akhirnya masing-masing kita harus membiasakan diri mempelajari Alkitab, berdoa dan meminta tuntunan Tuhan untuk memahami FirmanNya secara pribadi.


Kita tak perlu bersandar semata-mata pada orang-orang sekolahan yang pintar teori, tetapi belum tentu menghidupi dan menjalankan apa yang diketahuiNya dengan benar. Kalau untuk memahami Allah dengan benar harus memiliki pengetahuan teologi (termasuk belajar bahasa Yunani dan Ibrani) seperti yang dimiliki para ahli itu, berapa orangkah dari antara kita yang benar-benar dapat mengikuti ajaran Kristus yang 'benar' (menurut pandang masing-masing ahli tersebut) ? Seawam apapun kita, jika kita mau membaca Alkitab dan dengan jujur mencari Yang Maha Tinggi, aku percaya Dia tak akan membiarkan kita terkatung-katung.

Kembali ke Bapak Pendeta yang suka berkomunikasi dengan kasar tersebut : banyak yang bisa dipelajari dari pengetahuannya yang mendalam mengenai Kitab Suci dan sejarah gereja. Tetapi, sepengetahuanku, Yesus tak pernah mengajarkan muridNya untuk suka marah-marah, merasa pintar sendiri, apalagi gampang menuding orang lain sesat. Sebagai orang yang sama-sama merindukan Tuhan, mari kita saling belajar dan saling menasehati dengan lembut.

Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11 :29)

20 Februari 2009

Berdoa untuk saudara yang dalam kesusahan

Berjalan-jalan di dunia maya dan mengunjungi situs-situs yang ramai dikunjungi orang Batak, dapatlah kita tahu bagaimana pandangan sebagian orang Batak Kristen terhadap tragedi DPRDSU. Praktis seluruhnya sepakat bahwa anarkisme itu adalah tindakan yang salah, melanggar hukum, dan pelakunya harus dihukum. Tidak ada yang mencoba membenar-benarkan bahwa hal tersebut boleh terjadi atas alasan apa pun. Hal ini senada dengan apa yang terpapar di media masa cetak dan elektronik.

Tetapi, sebagian orang tampaknya kebablasan. Tudingan keras ditujukan bukan saja kepada orang yang terlibat demonstrasi, tetapi kepada seluruh orang yang terlibat dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Bola panas bergulir : ratusan orang mencorong menjadi pengamat dan pemerhati Tapanuli yang serba tahu.

Di antara komentar, debat dan celoteh yang panjang lebar, tak satupun (di situs-situs yang aku kunjungi) yang mengingatkan untuk mendoakan enampuluhan halak Batak (terlihat dari marganya) yang dijadikan tersangka dalam kasus tersebut. Begitu juga, di partangiangan yang aku hadiri dan di gereja tempat aku mengikuti kebaktian hari Minggu tanggal 15 Februari pun, sudah tidak disinggung lagi tentang mereka. Seorang kawan mengatakan di gerejanya yang berlabel Batak Kristen juga tidak ada doa bagi para tersangka itu. Seakan-akan mereka yang dijadikan tersangka tersebut bukan siapa-siapa kita.

Apakah hal itu terjadi karena sebagian warga Batak Kristen yang marah terhadap kejadian itu, ingin ikut menghakimi saudara-saudaranya dan mengatakan 'taonhon!' kepada mereka ? Ataukah, karena kita malu mengakui mereka sebagai bagian dari komunitas kita ? Ataukah, kita takut dituding sebagai simpatisan dan pendukung gerakan anarkis apabila kita mendoakan kesehatan dan keadilan bagi saudara-saudara kita ?

Kita bukan mau mengistimewakan mereka, apalagi menjadikan mereka pahlawan. Kita tak ingin menghimpun kekuatan untuk mempengaruhi proses hukum yang sedang berlangsung. Kita pun tak hendak meniru segelintir kelompok yang suka memberi label mulia pada anggotanya yang membunuh manusia dan menyebar ketakutan. Dan lagi, di antara halak Batak Kristen pun ada yang tidak sepaham dengan 'perjuangan' mereka yang sedang terjerat kasus ini; maka, memang boleh jadi tidak bersimpati dengan mereka. Tapi, mereka memang saudara kita.

Kalau pun sebagian dari mereka kelak terbukti bersalah, mereka tetaplah saudara kita; seperti si bungsu yang berdosa terhadap sorga dan bapanya, bukankah mereka yang bersalah pun kita harapkan akan kembali nanti ke tengah-tengah kita dengan suatu kesadaran baru seusai menjalani hukumannya ? Saat ini mereka sedang dirundung masalah dan kesusahan yang dalam, meskipun - menurut sebagian orang - itu masalah yang mereka undang sendiri dan risiko perbuatan mereka sendiri.

Terkait dengan kasus tersebut, doa untuk keamanan negeri dan keharmonisan antar elemen bangsa memang berulang-ulang dipanjatkan di banyak tempat. Tak bisakah gereja-gereja dan punguan-punguan Kristen Batak menyelipkan satu atau dua baris doa bagi pemeliharaan dan tuntunan Tuhan untuk mereka dan keluarga mereka ?

Sedangkan bagi musuh dan orang yang menganiaya kita, kita disuruh untuk berdoa, tak dapatkah kita mengirimkan sepotong doa bagi saudara-saudara kita ?

Hanya doa. Tak lebih. Maukah ?

19 Februari 2009

Jika kau sungguh-sungguh mencintaiku...

Dari Yohannes 21:15-18

Babak I
YK : "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?"
SP : "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau"
YK : "Gembalakanlah domba-dombaKu"

Babak II
YK : "Simon, anak Yohannes, apakah engkau mengasihi Aku"
SP : " Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau"
YK : "Gembalakanlah domba-dombaKu"

Babak III
YK : "Simon, anak Yohannes, apakah engkau mengasihi Aku"
SP : "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau"
YK : "Gembalakanlah domba-dombaKu"

Sebagai murid Yesus, dapatkah kita mengaku mengasihi Yesus sementara kita membiarkan domba-dombaNya tak terurus?

Membaca dialog ini, aku jadi ingat dan ingin menyanyikan lagu yang sebagian liriknya mengutip percakapan Yesus dengan Petrus di atas.



"Go"

Go ye therefore and teach all the nations, go, go, go
Go ye therefore and teach all the nations, go, go, go
Baptizing them in the name of the Father and Son and Holy Ghost. Go, go, go.

If you love Me, really love Me, feed My sheep.
If you love Me, really love Me, feed My sheep.
Lo, I'll be with you forever and ever,
until the end of the world. Go, go, go.

18 Februari 2009

Jangan cengeng

(Untuk kawan-kawan yang tak bisa mendapatkan izin membangun gereja atau gerejanya sudah dibongkar paksa, untuk kawan-kawan yang dihambat membuat partangiangan di rumah, untuk kawan-kawan yang kehilangan kesempatan studi, bekerja atau tersendat karirnya karena 'K',...)

Janganlah cengeng.
Janganlah tiap ada masalah, kita bilang bahwa langkah kita dihalang-halangi oleh orang lain.
Entahnya kita sendiri yang memang kurang mampu,
atau tidak memenuhi syarat,
atau melanggar aturan.

Tapi,
Kalau kita memang sudah mengikuti aturan
Atau kita memang sudah baik-baik meminta aturan yang lebih 'fair'
Atau kita memang sudah nyata-nyata memiliki kualifikasi yang lebih baik daripada orang lain,
... dan tetap ditolak juga
Janganlah cengeng!
Ini bukanlah hal baru

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu..... Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu... Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah."

Mengapa ?

"Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku."

Tak perlu cengeng!

"Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita... Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraan itu dari padamu."

Orang percaya tidak cengeng
Tak seorangpun dapat merampas dari kita kegembiraan yang berasal dari Allah

(Ayat-ayat Alkitab dari Buku Yohannes Pasal 15 dan 16)

17 Februari 2009

Hasadaan ni halak Kristen

Tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih mendengarkan iklan radio dari calon legislator dari kalangan Kristen.

Mulai dari caleg yang berasal dari partai berafiliasi Kristen, hingga partai yang religius nasionalis, semua menyapa pendengar dengan 'Syalom, saudaraku, yang kekasih'. Terasa sekali kerinduan para caleg agar seluruh komunitas Kristiani bersatu tidak terpisah oleh tembok gereja dan dogma denominasi gereja (bukankah ini juga harapan yang indah?) untuk memilihnya menjadi anggota legislatif (nah, yang ini aku tak tahu dasar teologisnya).

Gerakan ini seperti 'oikumene' yang dilokomotifi oleh politisi (...atau mendadak politisi?). Aku percaya, bahwa setiap orang Kristen wajib berpartisipasi dalam proses pembangunan bangsa, tetapi cukup alergi dengan politisasi agama. Jika seseorang memang selama ini sudah melayani komunitas Kristen, tentu tak perlu menebar pesona di radio, koran, billboard dan poster di pohon-pohon untuk membujuk umat Kristen memilihnya; jaringan pelayanannya tentu sudah cukup luas untuk menyampaikan 'hal-hal yang baik' tentang dirinya. Kesan yang muncul sekarang ini adalah para caleg tersebut sedang rebut-rebutan simpati orang Kristen.

Mempersatukan umat Kristen sudah seharusnya menjadi agenda setiap orang yang percaya kepada Yesus, tetapi tujuannya bukanlah untuk memperoleh dukungan politik.

Tuhan Yesus pernah berdoa untuk kesatuan murid-muridnya :

Aku telah memberikan firmanMu kepada mereka dan dunia membenci mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engka melindungi mereka dari pada yang jahat.
Mereka buka dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran.
Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.
Dan bukan untuk mereka ini saja Aku beroda, tetapi juga untuk orang-orang, yang perecaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu :
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yoh 17 : 15-23)

Jadi, persatuan kita orang Kristen adalah kesatuan hati, kata dan perbuatan untuk menyampaikan kepada dunia bahwa Yesus adalah utusan Tuhan yang mengasihi umat manusia.

Terkait dengan Pemilu 2009 yang segera kita jelang, baiklah kita mendoakan semua kawan-kawan seiman dan seluruh kawan-kawan kita sebangsa setanah air agar semua menempatkan hormat dan takut akan Tuhan di bawah ambisi akan kekuasaan. Memberikan suara kepada caleg yang telah menunjukkan perilaku yang teruji dan terpuji di hadapan Allah dan manusia merupakan kewajiban kita. Biarlah nama Tuhan dimuliakan melalui anggota legislatif terpilih yang sungguh-sungguh ikut pada ajaran Kristus.

16 Februari 2009

Iman yang teguh

Sekarang ini semakin banyak orang lemah hati dan lemah iman.

Sedikit guncangan dalam hidup sudah cukup untuk mempertanyakan kekuasaan Allah; orang-orang menjadi musyrik : minta bantuan kepada 'orang pintar' dan menduakan Allah.

Terpesona pada pria atau wanita yang berbeda keyakinan, seorang pemuda Kristen - entah dengan tersipu-sipu atau dengan gaya militan - mengatakan "Semua agama sama, jadi saya ikut keyakinan pasangan saya saja agar cinta kami dapat dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."

Begitu juga ketika karir, lingkungan sosial dan 'tuntutan skenario' meminta seseorang untuk tidak 'terlalu kaku' dengan keyakinannya atau bahkan menganut keyakinan baru. Adalah hak setiap orang - dan ini memang seharusnya dijamin oleh negara - untuk menggunakan akal sehat dan hidayah yang berasal dari Yang Maha Tinggi untuk mempertimbangkan kembali apa yang dipercayainya. Tetapi, sungguh menyedihkan, banyak orang yang tidak pernah sungguh-sungguh mengetahui apa yang dipercayainya, dan dengan alasan yang dibuat manis berpindah kepada suatu kepercayaan yang juga tidak sungguh-sungguh dipahaminya.

Akan datang waktunya (sebenarnya juga sudah terjadi sejak lama di beberapa tempat di belahan dunia yang lain - periksalah nama-nama kota di dalam sejarah gereja, kemanakah perginya keturunan orang-orang percaya itu ?) orang-orang yang beribadah kepada Tuhan dalam nama Yesus akan diperhadapkan pada rupa-rupa kesulitan. Hambatan, tekanan, pengasingan, fitnah dan pelecehan akan menerpa kita. Akankah kita melawan ? Akankah kita menyerah dan 'cari selamat' ?

Ketika iman kita sedang ditantang, baiklah kita mengingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ketika mereka diancam dimasukkan ke dalam api yang bernyala-nyala, mereka tidak melawan secara fisik. Bahkan mereka tidak mau berdebat panjang lebar ketika raja Nebukadnezar yang agung mempertanyakan kepada siapa mereka bertiga menyembah. Jawab mereka, "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini."

Mereka tidak sedikit pun mempertanyakan apakah pragmatis, strategis, taktis dstnya mempertahankan iman percaya kepada Allah di hadapan ancaman yang begitu mengerikan.

Mereka mengucapkan kesaksian iman percaya mereka dengan teguh. "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja tuanku dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

Sekedar retorika kah ini ? Sekedar cerita kepahlawanan yang dibumbui ?

Kisah ini ada di dalam Kitab Daniel; baiklah kita membaca dan merenungkannya. Jika kelak pencobaan itu datang kepada diri kita, akankah kita seteguh tiga orang percaya itu ?

15 Februari 2009

Melangkah bersama Tuhan

Kemarin kami (aku, dan istri) menghadiri pesta pernikahan teman kami. Seperti biasanya, aku terharu dengan keberanian orang-orang muda yang berani melangkah ke dalam suatu komitmen seumur hidup yang disebut pernikahan.

Ketika prosesi pengantin memasuki ruangan resepsi, alih-alih lagu "Ave Maria" atau "Hawaaian Wedding Song" yang biasa dikumandangkan mengiringi langkah mempelai ke pelaminan, pemusik menyanyikan lagu "This Wonderful Day".

Today I will walk with my hands in God
Today I will trust in Him and not be afraid

For He will be there, for He will be there
Every moment to share
On this wonderful day He has made


Tuhan memberkati rumah tangga kalian, kawan-kawan. Tetaplah menaruh harap dan percaya kalian kepada Dia sepanjang hidup. Setiap hari akan menjadi indah dalam tuntunan tanganNya. Dan kalian bukan saja mendapat berkat dariNya, tetapi akan menjadi berkat bagi banyak orang.

14 Februari 2009

Kasih sayang setiap saat

Merayakan suatu hari tertentu sebagai hari kasih sayang hanyalah memperkuat pemahaman bahwa kasih sayang bersifat eksklusif. Seseorang kita pilih untuk kita istimewakan pada hari tersebut. Hari ini, yang dirayakan banyak orang dengan berbagai pernik berwarna pink, bukanlah hari istimewa bagiku. Kalau pun ada yang khusus hari ini adalah : sepasang teman menikah hari ini (selamat ya, kami akan datang ke pestamu); keluarga adikku merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 6 (atau yang ke 7, ya? Nanti aku selamatin lewat telepon).

Sebagai orang Kristen, kita telah dibekali dengan arti yang tegas mengenai kasih. Hukum kasih yang menjadi hukum yang utama dan terutama mengatakan bahwa kita harus mengasihi Allah dan sesama manusia. Kita pun mengasihi Yesus Juruselamat kita yang adalah Allah dan juga manusia.

Bagaimanakah cara kita mengasihi Yesus ?

"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu," ucapNya, sebagaimana dicatat oleh Yohannes dalam Yoh 14:15.

Lalu, Dia mengatakan," Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah BapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintahKu kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu."

Bagiku inilah hukum dan aturan terindah. Intinya : Kita diperintahkan untuk mengasihi Allah dan manusia; tanda bahwa kita mengasihi Allah dan manusia (yaitu Yesus) adalah dengan mengikuti perintah Yesus; jika, kita telah melakukan perintahNya itu, maka kita akan mendapatkan sukacita yang sempurna; dan perintahNya adalah : kita harus saling mengasihi.

Di dalam Alkitab tidak ada perintah yang lebih tegas daripada perintah kasih ini. Yesus memang meminta kita untuk memperingati kematianNya melalui perjamuan kudus dan juga memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan membaptis orang dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Yesus bahkan tidak pernah memerintahkan kita merayakan Natal. Tapi, mengasihi ? Dia mendahului instruksiNya dengan kata-kata "Inilah perintahKu kepadamu."

Kita mungkin saja punya segudang dalih untuk berdebat soal apa yang halal apa yang haram, apa yang sah atau tidak sah mengenai baptisan, apa yang terjadi pada orang-orang kudus pada hari penghakiman,...dan seterusnya, tetapi tentang "saling mengasihi" tak ada peluang sedikit pun untuk mempersoalkannya.

Janganlah ada di antara kita mencari alasan apa pun untuk menghindar dari perintah itu. Mari kita saling mengasihi setiap saat, itulah tanda bahwa kita mengikut perintah Yesus. Maka, sukacita besar akan menjadi milik kita.

13 Februari 2009

Let me go to na di surgo i

Dua hari lalu aku menghadiri parsarimatuaon seorang bapatuaku di Simalungun. Dalam acara kematian halak Batak Kristen sebelum peti jenazah ditutup ada kebaktian singkat dan diakhiri dengan doa. Sekrup peti kemudian dikencangkan lalu peti diangkat ke dalam ambulans yang membawa ke lokasi pekuburan. Ketika peti diangkat para kerabat menyanyikan lagu "Adong do Ama na di surgo i".

Pada refrainnya ada kata-kata : Lao ma au, lao mau tu na di surgo i. Ketika aku dulu di SMP ada seorang kawan sekelas yang menerjemahkan sebagian lirik tersebut ke dalam bahasa Inggeris menjadi "Let me go, let me go to na di surgo i."Kami - para siswa - biasanya menyanyikan lagu tersebut sebagai lagu canda sebelum guru bahasa Inggeris datang. (Btw, seingatku penerjemahan tersebut dilakukan oleh seorang kawan yang pintar tapi agak badung; kudengar dia sudah "ditangkap" Tuhan dan menjadi pendeta di Pulau Jawa).

Karena lagu tersebut seperti menjadi lagu wajib di acara kematian, maka setiap kali aku mendengar dan menyanyikan lagu tersebut di dalam hati aku sering ingat dengan lirik "let me go, let me go..." itu. Dalam versi campur-campur ini, lagu tersebut menjadi berarti permohonan agar orang-orang yang dicintai bersedia untuk melepaskan dia yang mati untuk pergi kepada Dia yang ada di surga.

Ketika kemarin dulu aku coba menyimak lagi kata-kata asli lagu tersebut, aku terenyuh, betapa indah pandangan halak Batak Kristen mengenai kematian. Tidak ada rasa takut, malah ada undangan untuk membesuk dan ajakan segera pulang ke Rumah Bapa. Ketika Pendeta menyudahi sakramen dan peti ditutup sempurna, Pendeta dengan tegas berkata," Unang adong be na tangis!"

Ini mengingatkan bahwa kematian tersebut harus dilihat dalam perspektif Kristen sebagai akhir perjalanan sang musafir di dunia yang fana, tetapi suatu awal perjalanan di dunia yang baka. Dan, jika kita percaya kepada Kristus dan janjiNya, dunia baka itu jauh melampaui keindahan dan sukacita yang bisa kita dapatkan di bumi ini. Jadi, mengapa harus menangis ? Siapa yang ditangisi ? Dia yang meninggal dunia atau kita yang ditinggalkan ?

Buku Ende 383 Ayat 4

Molo masihol ho muse di au
Ingot ma, na di surgo i do au
Dapothon au tu surgo i
Ai ho pe sonang do di si
Lao mau, lao ma au tu na di surgo i
Lao mau, lao ma au tu na di surgo i
Dapothon au tu surgo i
Ai ho pe sonang do disi!

12 Februari 2009

Membesarkan Anak

Aku sering takjub melihat anak-anak sekarang ini. Ibebereku yang baru kelas satu SD sudah lancar membaca buku bahasa Indonesia dan bisa menulis dengan sempurna. Di sekolah dia belajar bahasa Inggeris, bahasa Mandarin dan bahasa Sunda (mereka tinggal di Jawa Barat). Buku teks yang dia pelajari sudah mempersyaratkan kemampuan yang baik untuk memahami wacana. Ck..ck..ck...

Kubandingkan dengan diriku (yang memang masuk golongan 'jadul'). Kelas satu SD dulu aku baru pertama kali pegang pensil (aku tak ikut TK, apalagi playgroup). Kuingat buku pelajaranku dulu yang terbatas pada : "i-ni bu-di' atau "i-ni i-bu bu-di"; aku belajar bahasa Inggeris baru setelah SMP. Pantaslah anak-anak sekarang memang pintar-pintar, bijak... Cara berbicara dan kosa kata anak-anak sekarang sudah seperti orang dewasa, sering terdengar seperti dialog acara televisi.

Orang-orang tua sekarang pun tampaknya canggih-canggih. Anak-anak mereka dibekali dengan berbagai kegiatan luar sekolah, mulai dari les pelajaran, les Inggeris, les sempoa, les piano, les tari, les sempoa... (ini memang cerita di perkotaan). Di luar jam sekolah dan berbagai kegiatan edukatif itu, anak-anak nonton televisi (mulai dari karton hingga sinetron dewasa) atau main Play Station dan computer game, yang isinya bagaimana cara mendapatkan kekuatan dan kesaktian untuk membunuhi ratusan musuh. Semakin hebatlah anak-anak usia di bawah 10 tahun itu.

Tapi, yang menyedihkan, segala kehebatan itu ternyata juga disertai dengan kebebebasan yang berlebihan untuk bersikap dan membuat pilihan sendiri, termasuk melawan orang tua atau orang yang lebih dewasa. Orang tua umumnya bersifat permisif, karena - konon - mereka ingin memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk 'menemukan jati diri' dan juga kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati fasilitas dan kenikmatan yang dulu tak pernah dicicipi oleh orangtuanya.

Anak-anak sekarang cenderung manja. Menjelang dewasa mereka cenderung memberontak terhadap orang tua dan segala establishment. Kata-kata yang keluar dari mulut orang muda itu sering kasar, kotor, tidak sopan ('lantam') seperti yang diajarkan oleh sinetron televisi setiap malam. Mereka pintar, tapi prinsip hidup tak jelas : gamang menjalani hidup, gampang putus asa, suka mengatakan 'membiarkan hidup mengalir apa adanya' sebagai kamuflase untuk mengatakan 'tidak punya pendirian'. Aku juga mengamati, mereka cenderung hedonis.

Jika dicermati, anak-anak ini hanyalah produk dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang memang sudah semakin memburuk. Sayangnya, kebanyakan para orang tua tak punya sense mengenai apa yang sedang terjadi pada anak-anak mereka dan juga tak punya kapabilitas untuk mengarahkan anak-anak mereka.

Mencari cara mendidik dan membesarkan anak akan membawa kita kepada setumpuk buku praktis mendidik anak (100 effective ways to raise your children etc), sederetan teori dan segerobak pakar yang tidak selalu sejalan. Banyak orang tua yang bingung sendiri melihat perkembangan anak-anaknya setelah mencoba mengikuti apa yang disarankan oleh berbagai buku dan konsultan. Mempersoalkan 'bagaimana cara' mendidik anak tak akan membawa kita untuk menemukan 'ultimate way' yang menjamin anak-anak kita akan berhasil seperti apa yang dicita-citakan.

Menurutku, yang terpenting adalah ultimate principle dalam mendidik anak, yaitu membekali anak-anak dengan pemahaman yang benar tentang hidup. Keterampilan, keahlian, kecerdasan, dan sebagainya hanya berarti, jika anak-anak memiliki hikmat dan pengetahuan yang berasal dari Tuhan.

Amsal 2 : 1-12


Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,
ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menunjukkan suaramu kepada kepandaian,
jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.
Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.
Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,
sambil menjaga orang-orangNya yang setia.
Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau
supaya engkau terlepas dari jalan orang yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,....

11 Februari 2009

Bayar pajak

Banyak orang enggan bayar pajak, karena banyak dana yang terkumpul tersebut ternyata dikorupsi, dihambur-hamburkan dan tidak digunakan untuk pembangunan. Pemungut cukai dan pajak - sejak zaman dahulu - tampaknya sudah digariskan menjadi penjahat. Di zaman baheula, mereka menjadi antek penguasa yang menindas kalangannya sendiri dan biasanya mendapat kedudukan dan penghasilan yang baik. Yesus juga memaralelkan pemungkut cukkai dengan orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan dengan perempuan sundal (Matius 21: 31). Lukas memaralelkan mereka dengan orang berdosa (Lukas 15:1).

Sekarang pun, meski dengan cara yang lebih beradab dengan payung hukum dan peraturan (institusional), para pemungut pajak (institusi dan pelaksananya) merupakan makhluk yang sangat dibenci.

Tetapi, itu bukanlah alasan untuk tidak membayar pajak. Pemungut pajak bukanlah orang-orang yang harus dijauhi : beberapa murid Yesus adalah pemungut pajak, dan banyak di antara mereka yang bertobat sehingga memperoleh kesempatan untuk memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang yang merasa dirinya lebih bersih dari mereka. Pajak pun tidak boleh dianggap semata-mata sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari tata pengaturan negeri di mana kita berada.

Yesus sendiri mengatakan, " ... berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!"

Rasul Paulus menulis "...Itulah sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar : pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai..."

Karena itu, rasa kesal, marah dan muak pada oknum pemimpin yang menyalahgunakan uang pajak, dan juga keangkuhan, kelambanan, dan sifat korup para pemungutnya, baiklah kita kesampingkan demi mengikuti apa yang dianjurkan oleh Pemimpin kita dan para muridnya. Mumpung Sunset Policy masih tersisa beberapa hari lagi, mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk membenahi kewajiban kita sebagai WNI agar perilaku kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

10 Februari 2009

Sukacita terbesar

Surat dari Rasul Yohannes kepada seorang saudara seimannya yang juga anak rohaninya sebagaimana terdokumentasi di dalam 3 Yoh 1 : 2 -4

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.
Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

Apakah yang menjadi sukacita terbesar kita ?

09 Februari 2009

Doa Pagi dan Doa Malam pada hari Minggu kemarin

Dalam doa syafaat kebaktian Minggu pagi yang aku ikuti kemarin Pak Pendeta (yang non Batak) mendoakan cukup panjang mengenai kondisi keamanan di Sumatera Utara berkaitan dengan tragedi dan anarkisme di DPRDSU. Secara khusus beliau mendoakan agar orang-orang yang terlibat kejadian tersebut sadar dari kekejian mereka, yang tidak saja mencelakakan orang lain, tetapi telah pula menjerumuskan semua orang Kristen, yang tak tahu menahu mengenai agenda para perusuh tersebut, menjadi terdakwa.

Dalam partangiangan di STM yang aku ikuti malamnya, Guru Huria yang memimpin kebaktian juga mendoakan kekondusifan kondisi Sumatera Utara. Terbersit dalam doanya rasa takut, karena mendadak seluruh orang-orang Batak Kristen menjadi pihak yang dituding sebagai dalang kejadian itu, padahal di antara Batak Kristen banyak yang tak setuju dengan rencana pendirian provinsi yang dituntut oleh para perusuh.

Sebelum tidur aku pun berdoa agar di antara halak Batak Kristen muncul pemimpin-pemimpin yang sungguh-sungguh tunduk kepada Allah, cinta kepada NKRI dan ingot di Bona Pasogitna. Cukuplah sudah para tokoh dan dalang yang menumpang label Batak dan label Kristen untuk menggolkan tujuan dan ambisi pribadinya. Tanpa soal-soal pelik seperti yang terjadi baru-baru ini pun, menjadi Batak Kristen itu sudah susah; biarlah kita orang kecil ini bisa tenang menyambung hidup dan menjalani hidup kita yang biasa-biasa saja.

Kita tahu bahwa apa pun yang dirancang manusia di muka bumi ini tak akan bisa menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan yang menjadi jargon para politisi. Karena itu, kita tak menuntut banyak dari negeri Indonesia ini; partispasi kita - idealnya - adalah sejauh yang bisa dilakukan oleh seorang warga negara seperti Yusuf di zaman Firaun dan Daniel di zaman Nebukadnesar, yaitu berkontribusi sebesar-besarnya pada keselamatan dan kemaslahatan seluruh penduduk negeri dan pemimipin yang berkuasa, bukan untuk mengejar kekuasaan bagi diri sendiri. Tetapi, sebagai orang biasa, mungkin kita tak bisa terlibat dalam mengatur negeri seperti Yusuf dan Daniel; kita diminta untuk "...tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa" (Titus 3:1).

Kita tak berilusi dapat mewujudkan negeri yang sempurna di bumi ini. Secara tegas Raja kita telah mengatakan kerajaanNya bukan dari bumi yang fana ini. Negeri impian kita ada Negeri Baka, dan di sana Tuhan Yesus telah menyediakan tempat dan kedamaian yang sempurna bagi kita.

08 Februari 2009

Peduli ?

Jalan macet yang aku lalui kemarin disebabkan oleh padatnya mobil parkir dan berhenti untuk menaik-turunkan anak-anak sekolah.

Pemandangan yang lazim. Terjadi di hampir semua jalan-jalan dekat sekolah di kotaku. Layak ditoleransi, begitu konsensus orang-orang rupanya.

Tapi, tidak bagiku.

Ini adalah cermin ketidakpedulian terhadap apa yang berlangsung di sekitar kita. Sekolah dibangun di jalan utama tanpa lahan parkir yang memadai. Gedung sekolah dibuat bertingkat tinggi, murid menjadi sangat banyak, sehingga kepadatan lalu lintas menjadi luar biasa. Jalan umum dimonopoli oleh mobil pengantar/penjemput siswa. Sebagian ruas jalan dipakai sebagai lahan parkir. Maka, orang-orang yang tidak ada kait mengaitnya dengan sekolah itu, mau tidak mau, harus ikut merayap dan berdesak-desak di jalanan dekat sekolah itu.

Yang menyedihkan...beberapa sekolah yang membuat macet itu memiliki lambang salib di badge siswanya. Tidak ada rasa sungkan menyabot hak orang lain, karena, "Sekolah lain juga begitu..." "Hotel bintang lima juga begitu.." "Rumah sakit elit juga begitu..."

Sejak kapankah kita belajar membenarkan diri, karena orang lain juga melakukan apa yang kita lakukan ?

Janganlah kita bicara tentang peduli...atau tentang kebersamaan...atau tentang berkorban bagi orang lain. Semua itu omong kosong belaka, kalau untuk hal-hal yang ada dalam kendali kita saja kita tak mau tahu. Persoalannya bukanlah sekedar jalanan yang menjadi macet, tatapi hak-hak orang lain (umum) yang kita ambil demi kepentingan kita. Mengapakah kita menutup mata terhadap kesulitan yang kita buat bagi sesama kita ?

Kita berteriak-teriak lantang, meradang dan menuding-nuding setiap kali ada ada hak kita yang diambil. Dimanakah suara kita ketika kita mengambil hak orang lain ?

07 Februari 2009

Dizalimi dan dikadali

Menjadi orang kecil tidaklah mudah.

Ketika kita mencoba mempertahankan hak-hak kita, maka orang-orang bertenaga besar dan bersenjata pentungan atau tongkat api akan datang dan mengerubuti, mengancam dan merampas paksa.

Ketika kita mencoba memberikan argumen yang jujur dan apa adanya, maka orang-orang bersekolah tinggi dan beratribut cendekiawan atau ahli antah berantah akan menunjukkan kenaifan, keidiotan dan kepicikan kita, lalu membatalkan semua yang menjadi hak kita.

Ketika kita mencoba mengikuti semua aturan resmi yang dibuat oleh para penguasa dan petingginya, maka mereka mengarahkan kita kepada prosedur yang akan membawa kita berputar-putar di tempat dan yang ujung-ujungnya membuat kita putus asa dan menyerah, atau terpaksa ikut aturan mereka yang tidak tertulis dan mengompromikan prinsip hidup kita.

Dizalimi dan dikadali tampaknya menjadi menu sehari-hari bagi orang kecil dan minoritas.

Tidak ada yang salah menjadi orang kecil; tidak semua orang harus menjadi orang besar. Tidak ada yang salah menjadi minoritas; tak semua orang harus menjadi mayoritas. Setiap manusia memiliki hak tertentu yang diberi oleh Tuhan atau negara, tetapi memang yang paling dapat menikmati hak tersebut adalah orang-orang besar dan orang mayoritas, seringkali dengan mengesampingkan hak orang kecil dan minoritas dengan menggunakan segala kelebihan yang mereka miliki.

Tetapi, apakah kita orang kecil harus melawan dengan cara yang sama ? Adu otot dan menggunakan kekerasan ? Adu suara dan berteriak-teriak histeris ? Adu jumlah dan mengerahkan massa? Adu otak dan memutar-balikkan fakta dan logika ? Bukankah itu cara-cara dunia dan si jahat ?

Orang Kristen memiliki model yang sempurna dalam menghadapi kezaliman dan ketidakadilan. Yesus dan para rasul memberi jawaban yang tegas tentang apa yang mereka yakini. Tetapi, tidak sedikit pun mereka melakukan perlawanan fisik. Mereka memilih diam jika perlu. "...sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang," begitu ajaran Sang Guru. Non-violance yang diajarkan oleh Sang Guru dan para rasulNya memang seringkali berujung pada pengorbanan nyawa tanpa perlawanan ('seperti domba yang dibawa ke tempat penyembelihan').

Jika kita mengaku pengikut Kristus, kita layak mengikuti ajaranNya, termasuk ketika kita dizalimi dan dikadali.

06 Februari 2009

Klaim dan janji

Iklan-iklan politik di televisi dan koran penuh dengan hal-hal baik yang akan kita dapatkan jika memilih partai yang beriklan. Sederetan klaim mengenai kehebatan partai dan pemimpinnya, segerobak janji mengenai harapan-harapan kita yang akan diwujudkan oleh partai tersebut. Sepertinya keberadaan partai dan semua program mereka adalah semata-mata untuk kebaikan kita pemilih. Partai pun menunjukkan kepedulian dan kemurahan hati kepada kita : bagi-bagi sembako, perbaiki jalan, mengunjungi panti asuhan,... Setelah itu, bottom line-nya : ayo, pilihlah kami.

Ayo ???!!!

Ayolah...siapakah mereka yang membuat klaim dan janji itu ? Siapakah mereka dan di manakah mereka selama ini ? Apakah yang telah mereka lakukan dalam posisi mereka saat ini ? Bagaimana mereka bisa meng-klaim akan "bisa ini, bisa itu, jadi begini, jadi begitu" jika diberi kesempatan memimpin atau jadi legislator, sementara catatan masa lalu mereka tak menunjukkan prestasi apa pun ? Bagaimana mereka bisa meng-klaim peduli dengan kita rakyat, jika selama ini kita tak tahu menahu kiprah mereka di antara kita ?

Apakah spanduk dan baliho raksasa, iklan yang gencar, kegiatan insidentil bagi-bagi sembako dapat dijadikan pegangan mengenai kapabilitas dan kesetiaan partai tersebut?

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita halak Batak Kristen juga harus aktif di dalam proses demokrasi di negeri ini. Tetapi, marilah kita tidak ikut mengumbar klaim dan janji, juga tidak mau termakan oleh klaim dan janji. Untuk kita yang orang biasa, mari sungguh-sungguh memilih pemimpin dan wakil komunitas kita yang memang memiliki aspirasi sama dengan kita, bukan yang berpura-pura. Salah pilih, pemimpin dan wakil palsu itu akan menjerumuskan kita ke dalam keterpurukan. Bagaimana dengan klaim dan janji mereka ? Akh, itu 'kan cuma umpan untuk mengail ikan yang tak waspada.

05 Februari 2009

Selingkuh

Salah satu sifat Tuhan yang jarang disebut dibandingkan dengan sifatNya yang lain adalah setia. Kita acap mendengar sifat Tuhan yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Kasih, Maha Tahu, Maha Pemurah, Maha Ada,... Namun, kita mungkin asing dengan istilah Maha Setia.

Di dalam kitab Perjanjian Lama banyak kita temukan peristiwa Tuhan marah kepada umatNya karena mereka berlaku tidak setia dengan menyembah ilah lain. Penyelewengan demikian sering Dia sebut sebagai perzinahan. Sementara itu, Tuhan tetap memelihara janjiNya kepada Adam, Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub.

Sekarang ini kita sering mendengar lagu yang menganggap remeh soal selingkuh, seperti "Kalau kamu tidak setia, aku bisa lebih tidak setia lagi. Kamu punya satu pacar gelap, aku bisa punya seribu. Karena kamu tidak setia, aku selingkuh saja..." Ada rasa bangga bisa selingkuh : rasanya lebih laku dan lebih hebat.

Manusia mengembara dan berpetualang dalam dosa. Seperti si bungsu yang akhirnya lelah dan merasa menderita di perantauan, kita dinantikanNya pulang ke rumah. Dia memanggil kita pulang dengan lembut. Dia setia menyediakan pengampunan dan keselamatan yang telah dijanjikanNya bagi kita.


Softly and Tenderly Jesus Is Calling
Text: Will L. Thompson
Music: Will L. Thompson

1. Softly and tenderly Jesus is calling,
calling for you and for me;
see, on the portals he's waiting and watching,
watching for you and for me.
Refrain:
Come home, come home;
ye who are weary come home;
earnestly, tenderly, Jesus is calling,
calling, O sinner, come home!

2. Why should we tary when Jesus is pleading,
pleading for you and for me?
Why should we linger and heed not his mercies,
mercies for you and for me?
(Refrain)

3. Time is now fleeting, the moments are passing,
passing from you and from me;
shadows are gathering, deathbeds are coming,
coming for you and for me.
(Refrain)

4. O for the wonderful love he has promised,
promised for you and for me!
Though we have sinned, he has mercy and pardon,
pardon for you and for me.
(Refrain)

04 Februari 2009

Ziarah

Ketika Israel dan Hamas bertempur hebat di Jalur Gaza sejak akhir tahun lalu hingga pertengahan bulan Januari yang lalu, diskusi mengenai konflik Timur Tengah sesekali menjadi topik di antara kawan. Salah satu pertanyaan," Apakah Yerusalem juga adalah kota suci umat Kristen?"

Banyak orang Kristen melakukan ziarah (atau wisata rohani, karena diselenggarakan agen perjalanan) ke Israel dan Timur Tengah, termasuk Yerusalem. Ada yang ingin dibaptis di Sungai Jordan.

Sejauh yang kupelajari dan kupahami, tidak ada perintah untuk beribadah di Yerusalem, Betlehem, Kapernaum atau melakukan napak tilas sebagai sarana meningkatkan keimanan. Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus tidak beribukota di Yerusalem yang ada di Timur Tengah itu. Kerajaan Allah ada di antara kita.

Ketika aku di sekolah dasar, aku mendapatkan buku komik berjudul "Perjalanan Seorang Musafir." Belakangan, setelah aku dewasa, aku tahu buku itu adalah terjemahan dari buku Pilgrim's Progress karangan John Bunyan. Ceritanya tentang seseorang bernama Si Kristen yang melakukan perjalanan ziarah. Intinya, ziarah bukanlah soal mengunjungi suatu tempat tertentu, tetapi pergulatan menghadapi hambatan, godaan, keletihan ketika menuju rumah yang kekal.

Aku tak pernah berangan-angan untuk melakukan ziarah ke Yerusalem, Golgota, atau tempat-tempat lain yang disebut di Alkitab. Jauh lebih penting untuk membesukNya di rumah sakit, di penjara, di rumah jompo dan panti asuhan. Dia sendiri yang mengatakan, Dia ada di sana. Jauh lebih penting untuk mengunjungi dan berdamai dengan orang serumah, segereja dan tetangga. Itulah ziarah kita.

03 Februari 2009

Kasar dan kasih

Seorang kawan - Kristen bukan Batak - di kompleks kami tinggal di Pulau Jawa dulu berkomentar," Saya tidak percaya bahwa orang Batak yang mengaku sudah Kristen, tetapi masih berperilaku kasar. Kawan-kawan gereja saya yang Batak, yang sungguh-sungguh menurut Kristus, tidak memiliki sifat kasar."

Komentar itu terdengar tidak enak di telinga, sehingga aku memrotes. "Maaf, kasar itu 'kan cuma di permukaan. Kami orang Batak sudah terbiasa berbicara dengan suara keras dan gaya bahasa yang mungkin terdengar kasar bagi suku lain, tapi tidak ada maksud untuk mengasari orang lain. Kelihatannya saja orang Batak itu kasar, tapi hatinya sebenarnya tidak begitu."

Seorang kawan lain - yang Batak - menimpali. "Batak itu luarnya saja keras, dalamnya lembut." Lalu, kawan Batak tersebut menjelaskan tentang lagu-lagu Batak yang mendayu-dayu dan bahwa lagu Rinto Harahap yang melankolis adalah lagu favorit preman Batak. Itu, menurut kami yang Batak, merupakan indikator, betapa 'lembutnya' perasaan orang Batak.

Sedikit berteori, aku bilang bahwa asal muasal kami orang Batak adalah dari gunung, jadi kalau berbicara biasa dengan suara keras. Kebanyakan orang Batak yang menjadi stereotip adalah yang pekerjaannya memang keras, seperti kondektur, supir, par pasar pagi...maka, wajar saja, ya, suaranya keras, dan...ok...agak kasar.

Tetapi, kawan non Batak tersebut bergeming. Menurutnya, sifat yang kasar adalah sifat buruk yang seharusnya dibuang oleh orang Batak. Nah, karena tidak ingin berdebat panjang-panjang (nanti akan membuat kawan non Batak tersebut tambah yakin bahwa kami orang Batak juga bersifat 'tongkar'), kami pun menyudahi diskusi itu. Implisit di dalam komentarnya, dia berharap kami Batak yang jadi tetangganya ini akan jadi Batak yang lembut pula.

Sebagai semi BTL (besar di Medan), aku memang terbiasa dengan lingkungan dengan suara teriak-teriak, canda yang bersifat 'fisik', olok-olok yang nyerempet ancaman ('jangan main-main sama aku, kumakan kau nanti'). Jadi, cukup lama aku tak menyadari bahwa ada perilaku lain yang bisa diadopsi oleh halak hita. Setelah lama di Jawa, apalagi bertemu dengan halak hita yang telah beradaptasi dengan lingkungan luas, barulah aku sadari bahwa bisa juga orang Batak menjadi 'halus'.

Mungkin betul kata kawan non Batak itu, kasar itu bukan sifat bawaan lahir orang Batak. Kalau mau bisa diubah. Seperti kata kawan itu,"Hati yang penuh kasih akan tercermin dalam tutur kata yang lemah lembut." Ini mengingatkanku akan kata-kata penulis surat kepada jemaat di Korintus,"Kasih itu lemah lembut dan sabar."

Kita perlu menarik garis pemisah antara sifat tegas dan percaya diri yang merupakan karakteristik positif orang Batak dengan sifat kasar dan mau menang sendiri yang menjadi stereotip negatif orang kita sekarang ini. Kita memang Batak : tegas, tidak mencla-mencle, Pe De, itu sifat kita; kita juga Kristen : lembut, peduli, rendah hati, itu perintah Guru kita.

02 Februari 2009

Busana ke gereja

Di gereja berbahasa Batak sepertinya ada aturan tak tertulis bahwa pakaian ke gereja harus rapi. Aplikasinya di lapangan : ibu-ibu memakai kebaya dan kadang-kadang bersanggul, bapak-bapak berjasa atau berbatik atau berbaju lengan panjang, naposo namarbaju mengenakan rok - tidak bercelana panjang, naposo doli-doli tidak berbaju kaus.

Pergi ke gereja seperti ini membuat suasana rumah ibadah seperti menghadiri perjamuan penting. Tapi, kemudian, muncul 'inovasi' : gaya berpakaian semakin kasual. Memang, tidak sekasual gereja tertentu, dimana jemaat sepertinya bisa datang ke gereja dalam pakaian tidur atau pakaian olahraga.

Pakaian yang formal sering dikritik membuat gereja seperti eksklusif, dan suasana menjadi kaku. Tetapi, pakaian sebagian umat di gereja tertentu yang 'seadanya' membuat mata sepet juga. Terutama adalah pakaian anak gadis : ada yang menunjukkan punggung yang (mudah-mudahan) mulus, baju tanpa lengan, kaos yang membalut ketat, celana panjang yang menutupi dengan sempurna tapi memeragakan kontur tubuh dengan jelas, rok yang jauh di atas lutut. "So what?" seorang kawan merasa tak ada yang salah dengan itu semua. "Yang penting niatnya, jangan menghakimi orang dari pakaian. Belum tentu orang-orang yang berpakaian rapi itu lebih menghormati Tuhan daripada orang yang berpakaian kurang sopan itu."

Entahlah, kataku. Dalam keadaan emergensi, pakaian apapun yang ada tentulah boleh dipakai menghadap Tuhan. Tetapi, betulkah pilihan pakaian tersebut karena keadaan yang terpaksa?

Menolak orang masuk ke gereja karena pakaian tentulah dosa.

Dalam pemahamanku, ini bukan soal orang lain yang melihat 'ngeres' atau apalah. Meskipun aku tidak begitu sreg dengan 'konsensus' kebaya dan jas di gereja Batak, tetapi aku merasa pakaian wanita yang sayup-sayup terbuka yang 'dibolehkan' di gereja lain, menurutku, cukup mengganggu. Baiklah kita tiap anggota jemaat juga memikirkan apakah perilaku kita dapat menjadi batu sandungan bagi saudara yang lain.

01 Februari 2009

Pertemuan ibadah

Seorang artis cantik diwawancarai oleh wartawan tentang kegiatannya di hari Minggu. Melalui bibirnya yang indah meluncurlah sederetan kesibukan yang dijalankan sang artis, mulai dari yang sifatnya untuk bersenang-senang hingga yang berkaitan dengan pekerjaan.

"Tidak ke gereja?" tanya sang wartawan yang rupanya tahu bahwa artis tersebut itu Kristen.

Sang artis menjawab,"Tidak." Konon, menurutnya, di keluarga sang artis, pergi ke gereja pada hari Minggu bukanlah suatu keharusan. "Yang penting iman," begitu katanya.

Semakin banyak orang berpendapat bahwa ke gereja tidak perlu; yang penting, menurut mereka, kita berbuat baik, tidak mengganggu orang-lain, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak selingkuh... pendek kata "tidak munafik, seperti orang yang rajin-rajin ke gereja."

Menurutku, ada kekeliruan pemahaman di sini : sejak awal, gereja bukanlah tempat orang-orang suci atau orang mendapatkan stempel suci. Justru, gereja adalah tempat bertemunya para pendosa, dan menyadari bahwa mereka berdosa dan butuh pengampunan, dan juga mereka membutuhkan pengajaran dari pemimpin rohaninya dan persekutuan/dukungan dari teman-teman seiman.

Aku tak tahu apa yang dimaksud oleh sang artis "yang penting iman, tak perlu ke gereja."

Hari ini aku dan keluarga akan ke gereja. Ada kebutuhan untuk bertemu dengan Allah secara rutin pada hari yang khusus; ada kebutuhan untuk mengikrarkan lagi iman kepercayaan di hadapan jemaat; ada kebutuhan untuk mendapat penyegaran dan penghiburan dari kepenatan dunia; ada kebutuhan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai firman Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus," Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah."