25 Februari 2009

Perbedaan itu...

Aku tak tahu ada berapa banyak - yang jelas sangat banyak - denominasi agama atau kepercayaan yang berafilisasi kepada Kristus. Sebagian memiliki kemiripan satu dengan lainnya sehingga tidak ada masalah dalam interaksi di antaranya (misal : pernikahan antar jemaat gereja yang beda denominasi atau saling mengakui pengajaran dan baptisan yang lain). Ada juga yang berseberangan diametrikal, sampai-sampai menuding yang lain adalah sesat dan anti Kristus.

Perpecahan ini, di mata sebagian orang, adalah tanda tidak murninya lagi ajaran Kristus yang dijalankan oleh orang-orang yang mengaku Kristen. Hmmm. May be. Berarti, termasuk juga ajaran gereja dimana aku menjadi anggota jemaatnya, ya ?

So, what ? Bagaimana cara agar aku tahu mana yang benar-benar murni ?

Aku rasa aku tak akan pernah tahu.

Yang kutahu, siapa saja yang merasa paling tahu (= paling benar), termasuk yang datang membawa mandat pamungkas untuk mengoreksi ajaran sebelumnya (dengan kitab suci di atas lempeng emas, roh yang berbicara lewat orang tertentu sebagai medium,...), akhirnya juga berujung dengan koreksi lebih lanjut.

Mendongak pagar, melihat ajaran di luar gereja juga menunjukkan - surprise ?! - fenomena yang tak jauh berbeda. Berbagai agama dan aliran di luar Kristen pun bergulat dengan 'pemurnian' ajaran. Akh, praktis semua organisasi keagamaan memanglah tak beda dengan organisasi sekuler...mengalami siklus membesar dan mengerut dengan riak-riak (kadang-kadang gelombang) ketika core business dan core valuenya direposisi untuk beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal serta basis pengetahuan yang berubah.

Ketidakakuran antara orang-orang sekepercayaan kadang-kadang dibungkus manis : perbedaan itu indah. Oops!

Untukku, perbedaan itu adalah keniscayaan : suka atau tidak suka, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah... perbedaan akan selalu ada : it is embeded in our nature. Bagaimanakah enam milyar kepala yang masing-masing terdiri dari milyaran sel dapat identik mengenai apa yang dipercayainya ?

Lantas, mengapakah kita harus mengharapkan dunia yang ideal dimana semua orang memiliki kepercayaan yang identik dengan yang kita percayai ? Kalau kerinduan kita adalah untuk mengajak orang lain menikmati kebahagiaan dalam kepercayaan yang kita anut, tentulah tidak masuk akal memaksa, mengungkung, memperdayai orang lain agar masuk ke atau tetap di dalam kepercayaan tertentu. Dan lebih tidak masuk akal lagi : menjelek-jelekkan, memfitnah, memaki orang yang berbeda kepercayaan!

Terbersit di pikiranku bahwa sebagian orang yang begitu giat untuk menonjolkan kepercayaan atau alirannya dengan cara-cara yang busuk, kasar atau keji adalah orang-orang yang sebenarnya tidak begitu yakin tentang apa yang diyakininya. Di hati kecilnya, mereka menjadi ragu tentang apa yang dipercayainya setiap kali melihat ada orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Well, barangkali juga memang ada yang membutuhkan 'jumlah' untuk dukungan kekuatan atau pengaruh politik.

Lantas, bagaimanakah jika 'standardisasi kepercayaan' merupakan 'mandat dari surga' ?

Aku tak tahu tentang agama dan kepercayaan lain. Yang aku tahu, di dalam Alkitab dijelaskan bahwa murid-murid Yesus mendapat amanat : "Jadikanlah semua bangsa muridku". Tujuan memuridkan adalah : "...ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." Dan perintah itu adalah : mengasihi Allah dan saling mengasihi!

Segala keunggulan ajaran yang didasari oleh ketinggian intelektualitas, kebesaran jumlah, keakuratan sejarah... apapun, kalau tidak didasari oleh kasih, cuma tong kosong yang nyaring bunnyinya.

Perbedaan itu... mungkin tidak indah, mungkin membuat mata sepet, mungkin membuat hati sebel, mungkin mengusik keyakinan, mungkin membuat takut, mungkin mengingatkan akan tugas yang belum selesai... Tetapi, itu tak membuat seseorang atau sekelompok orang mempunyai hak atas kebenaran dan memaksa yang lain untuk mengikuti pemahamannya demi menghilangkan perbedaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.