16 Februari 2009

Iman yang teguh

Sekarang ini semakin banyak orang lemah hati dan lemah iman.

Sedikit guncangan dalam hidup sudah cukup untuk mempertanyakan kekuasaan Allah; orang-orang menjadi musyrik : minta bantuan kepada 'orang pintar' dan menduakan Allah.

Terpesona pada pria atau wanita yang berbeda keyakinan, seorang pemuda Kristen - entah dengan tersipu-sipu atau dengan gaya militan - mengatakan "Semua agama sama, jadi saya ikut keyakinan pasangan saya saja agar cinta kami dapat dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."

Begitu juga ketika karir, lingkungan sosial dan 'tuntutan skenario' meminta seseorang untuk tidak 'terlalu kaku' dengan keyakinannya atau bahkan menganut keyakinan baru. Adalah hak setiap orang - dan ini memang seharusnya dijamin oleh negara - untuk menggunakan akal sehat dan hidayah yang berasal dari Yang Maha Tinggi untuk mempertimbangkan kembali apa yang dipercayainya. Tetapi, sungguh menyedihkan, banyak orang yang tidak pernah sungguh-sungguh mengetahui apa yang dipercayainya, dan dengan alasan yang dibuat manis berpindah kepada suatu kepercayaan yang juga tidak sungguh-sungguh dipahaminya.

Akan datang waktunya (sebenarnya juga sudah terjadi sejak lama di beberapa tempat di belahan dunia yang lain - periksalah nama-nama kota di dalam sejarah gereja, kemanakah perginya keturunan orang-orang percaya itu ?) orang-orang yang beribadah kepada Tuhan dalam nama Yesus akan diperhadapkan pada rupa-rupa kesulitan. Hambatan, tekanan, pengasingan, fitnah dan pelecehan akan menerpa kita. Akankah kita melawan ? Akankah kita menyerah dan 'cari selamat' ?

Ketika iman kita sedang ditantang, baiklah kita mengingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ketika mereka diancam dimasukkan ke dalam api yang bernyala-nyala, mereka tidak melawan secara fisik. Bahkan mereka tidak mau berdebat panjang lebar ketika raja Nebukadnezar yang agung mempertanyakan kepada siapa mereka bertiga menyembah. Jawab mereka, "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini."

Mereka tidak sedikit pun mempertanyakan apakah pragmatis, strategis, taktis dstnya mempertahankan iman percaya kepada Allah di hadapan ancaman yang begitu mengerikan.

Mereka mengucapkan kesaksian iman percaya mereka dengan teguh. "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja tuanku dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

Sekedar retorika kah ini ? Sekedar cerita kepahlawanan yang dibumbui ?

Kisah ini ada di dalam Kitab Daniel; baiklah kita membaca dan merenungkannya. Jika kelak pencobaan itu datang kepada diri kita, akankah kita seteguh tiga orang percaya itu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.