21 Februari 2009

Mengikut Yesus Kristus dan Pengetahuan tentang Allah

Ada seorang bapak pendeta yang rajin menulis di internet dan sering diwawancarai majalah rohani. Aku suka membaca tulisan beliau karena ulasan beliau mengenai berbagai pengajaran dan aliran gereja sangat mendetail dan didukung oleh ayat-ayat Alkitab. Di situs gerejanya dapat pula dibaca bagaimana Pak Pendeta berdialog langsung atau melalui tulisan dengan pemimpin / tokoh gereja dari berbagai aliran.

Namun, ada yang mengganjal hatiku. Pak Pendeta senang sekali menyebut orang lain "tolol", dan cara berkomunikasinya kasar (PS : dia bukan Batak, jadi tak ada kaitannya dengan 'karakter bawaan'). Dan lagi, banyak sekali gereja di luar denominasinya beliau bilang sesat (termasuk juga gereja dimana aku menjadi anggota jemaat).

Banyak orang yang mencoba mengingatkan beliau tentang sifat kasarnya terhadap sesama umat Tuhan, tetapi dengan lantang beliau mengatakan bahwa orang benar harus keras terhadap orang sesat (menurutnya pemimpin gereja/aliran lain tertentu dalah penyebar ajaran sesat). Katanya lagi, Yesus juga keras kepada ahli Taurat yang keras kepala; demikian juga Rasul Paulus terhadap para penyesat. Lalu dia mengutip ayat yang menunjukkan kata-kata digunakan Paulus mengenai orang-orang yang menyesatkan orang lain dan menolak ajarannya.

Sifat kasar dan tinggi hati bukanlah ciri kasih. Sikap seperti Pak Pendeta ini membuatku ragu mengenai para ahli agama (Pak Pendeta ini lulusan seminari di Amerika Serikat). Sering aku lihat orang-orang sangat tinggi pengetahuan agamanya, tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Menurutku, ilmu theologia (termasuk theologi Kristen) adalah sekedar pengetahuan manusia...tidak ada kait mengaitnya dengan iman dan perbuatan. Pernah aku melihat buku spiritualitas yang ditulis oleh seorang bergelar Doktor Theologi dan Doktor Divinity (yang diperolehnya dari universitas Kristen terkemuka di dunia)...ternyata penulisnya bukan Kristen.

Jadi, menurutku, tak semua orang Kristen harus menjalani pendidikan formal yang tinggi mengenai Allah dan kekristenan, karena itu tidak membuat orang menjadi memiliki iman yang benar mengenai Allah dan Kristus. Pengetahuan itu juga tidak membuat orang memiliki kelakuan yang mengikuti teladan Kristus.

Sebagai orang awam, aku bersyukur diperbolehkan Tuhan untuk berdoa langsung kepadaNya dan mempelajari sendiri FirmanNya. Pengetahuanku tentang Firman dan Teologi, tentu saja, tak sebanding dengan orang-orang berpendidikan tinggi itu. Akan tetapi, sesuai dengan tingkat pemahaman yang Tuhan karuniakan kepadaku, aku percaya Tuhan tidak akan membiarkanku disesatkan oleh rupa-rupa pengajaran dan menjauh dari Dia. (Lagi pula, bukankah berbagai debat teologi yang dilakukan para ahli yang bergelar profesor doktor yang masing-masing memiliki argumen berdasarkan interpretasi ayat Alkitab juga umumnya tidak membawa kepada satu titik temu?).

Untuk kita orang awam, menurutku, memang lebih baik menikmati saja persekutuan dan belajar langsung kepada Tuhan. Kita tetap perlu belajar Firman Tuhan bersama gembala jemaat di mana kita beribadah, dan baik sekali mendengarkan pandangan berbagai pemimpin rohani yang lain, tetapi akhirnya masing-masing kita harus membiasakan diri mempelajari Alkitab, berdoa dan meminta tuntunan Tuhan untuk memahami FirmanNya secara pribadi.


Kita tak perlu bersandar semata-mata pada orang-orang sekolahan yang pintar teori, tetapi belum tentu menghidupi dan menjalankan apa yang diketahuiNya dengan benar. Kalau untuk memahami Allah dengan benar harus memiliki pengetahuan teologi (termasuk belajar bahasa Yunani dan Ibrani) seperti yang dimiliki para ahli itu, berapa orangkah dari antara kita yang benar-benar dapat mengikuti ajaran Kristus yang 'benar' (menurut pandang masing-masing ahli tersebut) ? Seawam apapun kita, jika kita mau membaca Alkitab dan dengan jujur mencari Yang Maha Tinggi, aku percaya Dia tak akan membiarkan kita terkatung-katung.

Kembali ke Bapak Pendeta yang suka berkomunikasi dengan kasar tersebut : banyak yang bisa dipelajari dari pengetahuannya yang mendalam mengenai Kitab Suci dan sejarah gereja. Tetapi, sepengetahuanku, Yesus tak pernah mengajarkan muridNya untuk suka marah-marah, merasa pintar sendiri, apalagi gampang menuding orang lain sesat. Sebagai orang yang sama-sama merindukan Tuhan, mari kita saling belajar dan saling menasehati dengan lembut.

Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11 :29)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.