Menjadi orang kecil tidaklah mudah.
Ketika kita mencoba mempertahankan hak-hak kita, maka orang-orang bertenaga besar dan bersenjata pentungan atau tongkat api akan datang dan mengerubuti, mengancam dan merampas paksa.
Ketika kita mencoba memberikan argumen yang jujur dan apa adanya, maka orang-orang bersekolah tinggi dan beratribut cendekiawan atau ahli antah berantah akan menunjukkan kenaifan, keidiotan dan kepicikan kita, lalu membatalkan semua yang menjadi hak kita.
Ketika kita mencoba mengikuti semua aturan resmi yang dibuat oleh para penguasa dan petingginya, maka mereka mengarahkan kita kepada prosedur yang akan membawa kita berputar-putar di tempat dan yang ujung-ujungnya membuat kita putus asa dan menyerah, atau terpaksa ikut aturan mereka yang tidak tertulis dan mengompromikan prinsip hidup kita.
Dizalimi dan dikadali tampaknya menjadi menu sehari-hari bagi orang kecil dan minoritas.
Tidak ada yang salah menjadi orang kecil; tidak semua orang harus menjadi orang besar. Tidak ada yang salah menjadi minoritas; tak semua orang harus menjadi mayoritas. Setiap manusia memiliki hak tertentu yang diberi oleh Tuhan atau negara, tetapi memang yang paling dapat menikmati hak tersebut adalah orang-orang besar dan orang mayoritas, seringkali dengan mengesampingkan hak orang kecil dan minoritas dengan menggunakan segala kelebihan yang mereka miliki.
Tetapi, apakah kita orang kecil harus melawan dengan cara yang sama ? Adu otot dan menggunakan kekerasan ? Adu suara dan berteriak-teriak histeris ? Adu jumlah dan mengerahkan massa? Adu otak dan memutar-balikkan fakta dan logika ? Bukankah itu cara-cara dunia dan si jahat ?
Orang Kristen memiliki model yang sempurna dalam menghadapi kezaliman dan ketidakadilan. Yesus dan para rasul memberi jawaban yang tegas tentang apa yang mereka yakini. Tetapi, tidak sedikit pun mereka melakukan perlawanan fisik. Mereka memilih diam jika perlu. "...sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang," begitu ajaran Sang Guru. Non-violance yang diajarkan oleh Sang Guru dan para rasulNya memang seringkali berujung pada pengorbanan nyawa tanpa perlawanan ('seperti domba yang dibawa ke tempat penyembelihan').
Jika kita mengaku pengikut Kristus, kita layak mengikuti ajaranNya, termasuk ketika kita dizalimi dan dikadali.
07 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.