Seorang kawan - Kristen bukan Batak - di kompleks kami tinggal di Pulau Jawa dulu berkomentar," Saya tidak percaya bahwa orang Batak yang mengaku sudah Kristen, tetapi masih berperilaku kasar. Kawan-kawan gereja saya yang Batak, yang sungguh-sungguh menurut Kristus, tidak memiliki sifat kasar."
Komentar itu terdengar tidak enak di telinga, sehingga aku memrotes. "Maaf, kasar itu 'kan cuma di permukaan. Kami orang Batak sudah terbiasa berbicara dengan suara keras dan gaya bahasa yang mungkin terdengar kasar bagi suku lain, tapi tidak ada maksud untuk mengasari orang lain. Kelihatannya saja orang Batak itu kasar, tapi hatinya sebenarnya tidak begitu."
Seorang kawan lain - yang Batak - menimpali. "Batak itu luarnya saja keras, dalamnya lembut." Lalu, kawan Batak tersebut menjelaskan tentang lagu-lagu Batak yang mendayu-dayu dan bahwa lagu Rinto Harahap yang melankolis adalah lagu favorit preman Batak. Itu, menurut kami yang Batak, merupakan indikator, betapa 'lembutnya' perasaan orang Batak.
Sedikit berteori, aku bilang bahwa asal muasal kami orang Batak adalah dari gunung, jadi kalau berbicara biasa dengan suara keras. Kebanyakan orang Batak yang menjadi stereotip adalah yang pekerjaannya memang keras, seperti kondektur, supir, par pasar pagi...maka, wajar saja, ya, suaranya keras, dan...ok...agak kasar.
Tetapi, kawan non Batak tersebut bergeming. Menurutnya, sifat yang kasar adalah sifat buruk yang seharusnya dibuang oleh orang Batak. Nah, karena tidak ingin berdebat panjang-panjang (nanti akan membuat kawan non Batak tersebut tambah yakin bahwa kami orang Batak juga bersifat 'tongkar'), kami pun menyudahi diskusi itu. Implisit di dalam komentarnya, dia berharap kami Batak yang jadi tetangganya ini akan jadi Batak yang lembut pula.
Sebagai semi BTL (besar di Medan), aku memang terbiasa dengan lingkungan dengan suara teriak-teriak, canda yang bersifat 'fisik', olok-olok yang nyerempet ancaman ('jangan main-main sama aku, kumakan kau nanti'). Jadi, cukup lama aku tak menyadari bahwa ada perilaku lain yang bisa diadopsi oleh halak hita. Setelah lama di Jawa, apalagi bertemu dengan halak hita yang telah beradaptasi dengan lingkungan luas, barulah aku sadari bahwa bisa juga orang Batak menjadi 'halus'.
Mungkin betul kata kawan non Batak itu, kasar itu bukan sifat bawaan lahir orang Batak. Kalau mau bisa diubah. Seperti kata kawan itu,"Hati yang penuh kasih akan tercermin dalam tutur kata yang lemah lembut." Ini mengingatkanku akan kata-kata penulis surat kepada jemaat di Korintus,"Kasih itu lemah lembut dan sabar."
Kita perlu menarik garis pemisah antara sifat tegas dan percaya diri yang merupakan karakteristik positif orang Batak dengan sifat kasar dan mau menang sendiri yang menjadi stereotip negatif orang kita sekarang ini. Kita memang Batak : tegas, tidak mencla-mencle, Pe De, itu sifat kita; kita juga Kristen : lembut, peduli, rendah hati, itu perintah Guru kita.
03 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.