12 Februari 2009

Membesarkan Anak

Aku sering takjub melihat anak-anak sekarang ini. Ibebereku yang baru kelas satu SD sudah lancar membaca buku bahasa Indonesia dan bisa menulis dengan sempurna. Di sekolah dia belajar bahasa Inggeris, bahasa Mandarin dan bahasa Sunda (mereka tinggal di Jawa Barat). Buku teks yang dia pelajari sudah mempersyaratkan kemampuan yang baik untuk memahami wacana. Ck..ck..ck...

Kubandingkan dengan diriku (yang memang masuk golongan 'jadul'). Kelas satu SD dulu aku baru pertama kali pegang pensil (aku tak ikut TK, apalagi playgroup). Kuingat buku pelajaranku dulu yang terbatas pada : "i-ni bu-di' atau "i-ni i-bu bu-di"; aku belajar bahasa Inggeris baru setelah SMP. Pantaslah anak-anak sekarang memang pintar-pintar, bijak... Cara berbicara dan kosa kata anak-anak sekarang sudah seperti orang dewasa, sering terdengar seperti dialog acara televisi.

Orang-orang tua sekarang pun tampaknya canggih-canggih. Anak-anak mereka dibekali dengan berbagai kegiatan luar sekolah, mulai dari les pelajaran, les Inggeris, les sempoa, les piano, les tari, les sempoa... (ini memang cerita di perkotaan). Di luar jam sekolah dan berbagai kegiatan edukatif itu, anak-anak nonton televisi (mulai dari karton hingga sinetron dewasa) atau main Play Station dan computer game, yang isinya bagaimana cara mendapatkan kekuatan dan kesaktian untuk membunuhi ratusan musuh. Semakin hebatlah anak-anak usia di bawah 10 tahun itu.

Tapi, yang menyedihkan, segala kehebatan itu ternyata juga disertai dengan kebebebasan yang berlebihan untuk bersikap dan membuat pilihan sendiri, termasuk melawan orang tua atau orang yang lebih dewasa. Orang tua umumnya bersifat permisif, karena - konon - mereka ingin memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk 'menemukan jati diri' dan juga kesempatan bagi anak-anak untuk menikmati fasilitas dan kenikmatan yang dulu tak pernah dicicipi oleh orangtuanya.

Anak-anak sekarang cenderung manja. Menjelang dewasa mereka cenderung memberontak terhadap orang tua dan segala establishment. Kata-kata yang keluar dari mulut orang muda itu sering kasar, kotor, tidak sopan ('lantam') seperti yang diajarkan oleh sinetron televisi setiap malam. Mereka pintar, tapi prinsip hidup tak jelas : gamang menjalani hidup, gampang putus asa, suka mengatakan 'membiarkan hidup mengalir apa adanya' sebagai kamuflase untuk mengatakan 'tidak punya pendirian'. Aku juga mengamati, mereka cenderung hedonis.

Jika dicermati, anak-anak ini hanyalah produk dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang memang sudah semakin memburuk. Sayangnya, kebanyakan para orang tua tak punya sense mengenai apa yang sedang terjadi pada anak-anak mereka dan juga tak punya kapabilitas untuk mengarahkan anak-anak mereka.

Mencari cara mendidik dan membesarkan anak akan membawa kita kepada setumpuk buku praktis mendidik anak (100 effective ways to raise your children etc), sederetan teori dan segerobak pakar yang tidak selalu sejalan. Banyak orang tua yang bingung sendiri melihat perkembangan anak-anaknya setelah mencoba mengikuti apa yang disarankan oleh berbagai buku dan konsultan. Mempersoalkan 'bagaimana cara' mendidik anak tak akan membawa kita untuk menemukan 'ultimate way' yang menjamin anak-anak kita akan berhasil seperti apa yang dicita-citakan.

Menurutku, yang terpenting adalah ultimate principle dalam mendidik anak, yaitu membekali anak-anak dengan pemahaman yang benar tentang hidup. Keterampilan, keahlian, kecerdasan, dan sebagainya hanya berarti, jika anak-anak memiliki hikmat dan pengetahuan yang berasal dari Tuhan.

Amsal 2 : 1-12


Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,
ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menunjukkan suaramu kepada kepandaian,
jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.
Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.
Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,
sambil menjaga orang-orangNya yang setia.
Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau
supaya engkau terlepas dari jalan orang yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.