Melihat banyaknya agama dan aliran kepercayaan - juga banyaknya denominasi di kalangan Kristen - tak dapat tidak muncul pertanyaan pertanyaan di dalam hati, " Apakah semua akan masuk ke dalam Kerajaan TUHAN Pencipta Semesta ?"
Hampir semua agama dan aliran kepercayaan meng-klaim bahwa ajarannya saja yang dapat mengantar orang ke Negeri Baka yang penuh kebahagiaan. Denominasi Kristen pun tak beda : masing-masing mengaku sebagai yang paling 'hapal' jalan ke surga.
Tetapi, ada juga yang berpandangan bahwa tidak penting "agama formal", alias semua agama saja atau bahkan tidak penting; yang utama adalah giat melakukan kebaikan bagi umat manusia.
Manusia yang bingung....
Bagaimana tidak ?
'Hanya berbuat baik dan mengabaikan keberadaan Yang Baka' akan berujung pada kefanaan usaha manusia.
Berusaha mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, kepentok jalan bercabang yang semuanya berlabel 'Menuju Surga'.
Bahkan, kesetiaan kepada Tuhan sejarah, yang karyaNya tertera di kitab-kitab suci, pun tak menjamin manusia akan sampai kepadaNya.
Apakah yang diperlukan oleh manusia untuk lepas dari kebingungan ini ?
Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan.
Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.
Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebanaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
(Roma 10:1-4)
30 April 2009
29 April 2009
Yang bilang jelek, sendirinya....
" 'Pa, 'Pa....tadi...," anakku yang baru pulang kelas TK langsung menyerocos dan mengadukan temannya yang mengganggunya, "... tadi Celine bilang aku jelek. 'Nggak boleh 'kan, 'Pa?! Yang bilang-bilang jelek, 'kan sendirinya juga jelek 'kan?"
Maksudnya, barangsiapa mengatakan orang lain jelek, maka dirinya sendiri juga jelek.
Akh, anakku sayang, engkau sudah memahami dengan caramu sendiri, apa yang diajarkan oleh Yesus.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
(Matius 7:3,4)
Maksudnya, barangsiapa mengatakan orang lain jelek, maka dirinya sendiri juga jelek.
Akh, anakku sayang, engkau sudah memahami dengan caramu sendiri, apa yang diajarkan oleh Yesus.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
(Matius 7:3,4)
28 April 2009
Bertahan dalam pencobaan
Meski manusia telah ditebus oleh Yesus dari hidup mereka yang sia-sia, tidak berarti perjalanan mereka di bumi ini akan mulus-mulus saja. Pencobaan masih akan ada. Bahkan, pencobaan itu bisa menyesatkan mereka, dan membuat mereka menyimpang dari jalan keselamatan yang telah disediakan oleh Yesus.
Entah mengapa, ada sebagian orang Kristen begitu yakin bahwa mereka yang mengaku telah menerima tawaran keselamatan dari Tuhan tidak mungkin kehilangan keselamatannya (konon, kata mereka, ada ayat Alkitab yang mendukung pandangan ini). Ugh...
Aku percaya Allah berdaulat atas ciptaanNya, termasuk untuk menetapkan siapa yang boleh masuk ke dalam RumahNya yang Kekal. (Aku masih harus belajar, apakah keselamatan berdasarkan ketetapan Allah semata atau penerimaan atas tawaran keselamatan dari Allah). Tetapi, tidak pernah Allah mengatakan bahwa kavling di surga digaransi bagi mereka yang menolak kewarganegaraan surga tersebut dan memilih setia kepada penghulu dunia kegelapan.
Jika kita mengaku bahwa kita memiliki kewarganegaraan surga, maka kita pun mengarahkan cara hidup sebagaimana layaknya pemegang paspor surga. Kita harus 'mengerjakan keselamatan kita' (Filipi 2:12), artinya : kita harus hidup sebagai orang yang telah diselamatkan. Adalah benar sepenuhnya, kelakuan yang baik tidak dapat dijadikan dasar untuk mendapatkan paspor hidup yang kekal. Tetapi, orang yang berkata bahwa dia telah diselamatkan, tetapi tidak ada pembaruan akal budi, tidak menunjukkan kasih terhadap Allah dan sesama, tidak rindu akan Firman Allah adalah pembohong dan pembual.
Bagaimana dengan pencobaan ? Dapatkah kita mengatakan kita adalah warga surga, jika kita membiarkan keinginan daging menguasai hidup kita dan bergenit-genit dengan kelakuan duniawi?
Seorang pengikut Yesus bernama Yakobus mengingatkan :
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila doa itu sudah matang, ia melahirkan maut
(Yakobus 1:12-15)
Entah mengapa, ada sebagian orang Kristen begitu yakin bahwa mereka yang mengaku telah menerima tawaran keselamatan dari Tuhan tidak mungkin kehilangan keselamatannya (konon, kata mereka, ada ayat Alkitab yang mendukung pandangan ini). Ugh...
Aku percaya Allah berdaulat atas ciptaanNya, termasuk untuk menetapkan siapa yang boleh masuk ke dalam RumahNya yang Kekal. (Aku masih harus belajar, apakah keselamatan berdasarkan ketetapan Allah semata atau penerimaan atas tawaran keselamatan dari Allah). Tetapi, tidak pernah Allah mengatakan bahwa kavling di surga digaransi bagi mereka yang menolak kewarganegaraan surga tersebut dan memilih setia kepada penghulu dunia kegelapan.
Jika kita mengaku bahwa kita memiliki kewarganegaraan surga, maka kita pun mengarahkan cara hidup sebagaimana layaknya pemegang paspor surga. Kita harus 'mengerjakan keselamatan kita' (Filipi 2:12), artinya : kita harus hidup sebagai orang yang telah diselamatkan. Adalah benar sepenuhnya, kelakuan yang baik tidak dapat dijadikan dasar untuk mendapatkan paspor hidup yang kekal. Tetapi, orang yang berkata bahwa dia telah diselamatkan, tetapi tidak ada pembaruan akal budi, tidak menunjukkan kasih terhadap Allah dan sesama, tidak rindu akan Firman Allah adalah pembohong dan pembual.
Bagaimana dengan pencobaan ? Dapatkah kita mengatakan kita adalah warga surga, jika kita membiarkan keinginan daging menguasai hidup kita dan bergenit-genit dengan kelakuan duniawi?
Seorang pengikut Yesus bernama Yakobus mengingatkan :
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila doa itu sudah matang, ia melahirkan maut
(Yakobus 1:12-15)
27 April 2009
Musafir mengajak
Hari Minggu kemarin aku mengikuti kebaktian di gereja tempat kami biasa beribadah. Aku punya kelemahan (yang masih harus diatasi) ketika mengikuti khotbah yang, menurutku, tidak disampaikan dengan terfokus. Biasanya aku jadi melamun, mengantuk, mencoret-coret kertas warta jemaat, membaca Alkitab, atau merancang sesuatu di benakku. Pendek kata : tidak memperhatikan khotbah. Hal seperti itu terjadi kemarin. Ampunilah aku, Tuhan.
Kali ini aku menerawang mengenai perumpamaan Yesus, padahal khotbahnya tidak ada kaitan dengan perumpamaan (di awal khotbah sempat kutangkap bahwa topiknya masih seputar Paskah). Kemudian, aku membuka-buka Kidung Jemaat. Salah satu lagu yang dinyanyikan pada kebaktian pagi kemarin menyebut istilah musafir, maka pikiranku melompat ke sebuah lagu yang pernah kukenal, yaitu "Hai, musafir mau kemana?" Kucari di indeks. Ketemu.
Pagi ini aku cari lagi lagu tersebut. Sedikit banyak lagu ini menggambarkan kisah si Kristen dalam buku Pilgrim's Progress. Aku diingatkan, bahwa musafir tidak hanya sekedar berjalan menuju Rumah Kekal yang dirindukannya. Dia juga perlu menjawab pertanyaan orang-orang di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dia pun mengajak orang-orang untuk ikut dengannya.
Kidung Jemaat 269 Hai Musafir, Mau Kemana
1.
Hai musafir, mau kemana kau arahkan langkahmu?
Kami ikut titah Raja dan berjalan tak lesu:
Lewat gunung dan dataran arah kami ke istana,
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
2.
Apa kamu dapat tahan dalam badai yang seru?
Tangan Tuhan yang menuntun: hati kami pun teguh.
Apa pun yang dihadapi, Yesuslah membimbing kami,
Yesuslah membimbing kami, kekotaNya yang kudus.
Yesuslah membimbing kami kekotaNya yang kudus.
3.
Di neg’ri yang kamu tuju apakah harapanmu?
Jubah putih dan mahkota pemberian Penebus,
Minum air kehidupan dan kekal bersama Tuhan,
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.
4.
Apa kami boleh ikut ke neg’ri tujuanmu?
Tentu saja, ayo mari, mari ikutlah terus!
Mari ikut sungguh-sungguh: oleh Yesus kau ditunggu,
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.
Kali ini aku menerawang mengenai perumpamaan Yesus, padahal khotbahnya tidak ada kaitan dengan perumpamaan (di awal khotbah sempat kutangkap bahwa topiknya masih seputar Paskah). Kemudian, aku membuka-buka Kidung Jemaat. Salah satu lagu yang dinyanyikan pada kebaktian pagi kemarin menyebut istilah musafir, maka pikiranku melompat ke sebuah lagu yang pernah kukenal, yaitu "Hai, musafir mau kemana?" Kucari di indeks. Ketemu.
Pagi ini aku cari lagi lagu tersebut. Sedikit banyak lagu ini menggambarkan kisah si Kristen dalam buku Pilgrim's Progress. Aku diingatkan, bahwa musafir tidak hanya sekedar berjalan menuju Rumah Kekal yang dirindukannya. Dia juga perlu menjawab pertanyaan orang-orang di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dia pun mengajak orang-orang untuk ikut dengannya.
Kidung Jemaat 269 Hai Musafir, Mau Kemana
1.
Hai musafir, mau kemana kau arahkan langkahmu?
Kami ikut titah Raja dan berjalan tak lesu:
Lewat gunung dan dataran arah kami ke istana,
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
2.
Apa kamu dapat tahan dalam badai yang seru?
Tangan Tuhan yang menuntun: hati kami pun teguh.
Apa pun yang dihadapi, Yesuslah membimbing kami,
Yesuslah membimbing kami, kekotaNya yang kudus.
Yesuslah membimbing kami kekotaNya yang kudus.
3.
Di neg’ri yang kamu tuju apakah harapanmu?
Jubah putih dan mahkota pemberian Penebus,
Minum air kehidupan dan kekal bersama Tuhan,
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.
Dan kekal bersama Tuhan di neg’riNya yang kudus.
4.
Apa kami boleh ikut ke neg’ri tujuanmu?
Tentu saja, ayo mari, mari ikutlah terus!
Mari ikut sungguh-sungguh: oleh Yesus kau ditunggu,
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.
Oleh Yesus kau ditunggu di kotaNya yang kudus.
26 April 2009
Mengikuti Perintah Tuhan dengan sempurna
Apakah yang perlu dilakukan oleh seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan bahagia yang kekal yang wujudnya dibayangkan sebagai suatu kehidupan yang sempurna di suatu tempat bernama surga, nirwana atau paradiso ?
Banyak orang berpikir, untuk mendapatkan hal yang baik seperti itu tentunya perlu bayaran berupa perbuatan baik. Kehidupan bahagia abadi di alam sana adalah ganjaran bagi perbuatan baik yang kita lakukan di masa hidup kita.
Ketika Seorang yang meng-klaim diriNya berasal dari Surga mampir di bumi sekitar 2000 tahun yang lalu, seorang manusia yang sangat merindukan surga datang kepadaNya dan bertanya," Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Sang Guru balik bertanya, "Apakah sebabnya engkau bertanya ke padaKu tentang apa yang baik ?" Kemudian Sang Guru menegaskan,"Hanya Satu yang baik." Implisit di dalam pernyataan Sang Guru, tidak ada manusia yang dapat dapat melakukan apapun sehingga dapat mencapai level "baik." Artinya pula, sia-sialah upaya manusia yang mencoba memperoleh hidup yang kekal, jika persyaratannya adalah melakukan perbuatan baik.
Tetapi, untunglah Sang Guru berbaik hati memberikan jawaban bagi pertanyaan manusia pencari hidup yang kekal tersebut. "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
Orang itu - dia seorang muda - memberanikan diri bertanya," Perintah yang mana?"
Dan Sang Guru menjawab," Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri."
Orang itu berkata, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"
Kata Sang Guru - namanya Yesus - kepada orang itu, "Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Matius 19 : 16-22)
Orang Kristen zaman sekarang - benar atau salah, entahlah! - lebih pintar dari orang muda itu. Dengan bersandar pada doktrin "keselamatan dan hidup yang kekal diberikan dengan cuma-cuma melalui penebusan oleh darah Kristus di kayu salib", orang Kristen merasa tak perlu menjual hartanya - tidak juga membagikan sebagian bagi orang miskin, janda dan yatim piatu - sebelum mengikut Yesus. Artinya, orang Kristen masa kini bisa 'sah-sah saja' mengumpulkan dan membelai-belai kekayaan di dunia dan pada saat yang sama juga berhak atas kavling di Surga. Konon, ada dasar teologisnya.
Ugh... Apakah bedanya orang Kristen dengan orang dunia ini ?
Layakkah kita disebut sebagai pengikut Kristus ? Kenalkah Kristus kepada kita ketika kita menghadap pengadilanNya nanti ?
Banyak orang berpikir, untuk mendapatkan hal yang baik seperti itu tentunya perlu bayaran berupa perbuatan baik. Kehidupan bahagia abadi di alam sana adalah ganjaran bagi perbuatan baik yang kita lakukan di masa hidup kita.
Ketika Seorang yang meng-klaim diriNya berasal dari Surga mampir di bumi sekitar 2000 tahun yang lalu, seorang manusia yang sangat merindukan surga datang kepadaNya dan bertanya," Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Sang Guru balik bertanya, "Apakah sebabnya engkau bertanya ke padaKu tentang apa yang baik ?" Kemudian Sang Guru menegaskan,"Hanya Satu yang baik." Implisit di dalam pernyataan Sang Guru, tidak ada manusia yang dapat dapat melakukan apapun sehingga dapat mencapai level "baik." Artinya pula, sia-sialah upaya manusia yang mencoba memperoleh hidup yang kekal, jika persyaratannya adalah melakukan perbuatan baik.
Tetapi, untunglah Sang Guru berbaik hati memberikan jawaban bagi pertanyaan manusia pencari hidup yang kekal tersebut. "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
Orang itu - dia seorang muda - memberanikan diri bertanya," Perintah yang mana?"
Dan Sang Guru menjawab," Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri."
Orang itu berkata, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"
Kata Sang Guru - namanya Yesus - kepada orang itu, "Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Matius 19 : 16-22)
Orang Kristen zaman sekarang - benar atau salah, entahlah! - lebih pintar dari orang muda itu. Dengan bersandar pada doktrin "keselamatan dan hidup yang kekal diberikan dengan cuma-cuma melalui penebusan oleh darah Kristus di kayu salib", orang Kristen merasa tak perlu menjual hartanya - tidak juga membagikan sebagian bagi orang miskin, janda dan yatim piatu - sebelum mengikut Yesus. Artinya, orang Kristen masa kini bisa 'sah-sah saja' mengumpulkan dan membelai-belai kekayaan di dunia dan pada saat yang sama juga berhak atas kavling di Surga. Konon, ada dasar teologisnya.
Ugh... Apakah bedanya orang Kristen dengan orang dunia ini ?
Layakkah kita disebut sebagai pengikut Kristus ? Kenalkah Kristus kepada kita ketika kita menghadap pengadilanNya nanti ?
25 April 2009
Menikmati kekayaan
Hidupkanlah radio dan dengarlah para motivator. Atau, jalan-jalanlah ke toko buku; lihat di bagian buku psikologi populer atau self-help. Puluhan - mungkin ratusan - pembicara atau penulis menyampaikan pesan yang senada : setiap manusia berhak atau keberhasilan di dalam karir dan hidup sehari-hari. Sebagian dengan gamblang mengatakan, hak itu termasuk hak untuk mendapatkan kekayaan.
Di antara penganjur dan pengajar 'hak atas kekayaan', terdapat juga orang-orang yang berprofesi sebagai pendeta, evangelis atau gembala jemaat. Konon, kata mereka, ada ayat Alkitab yang mendukung ajaran mereka.
Harta adalah sesuatu yang sangat menggiurkan manusia. Dengan kekayaan, orang dapat membeli hal-hal yang menarik hati, melakukan hal-hal yang menyukakan hati dan masuk ke dalam pergaulan kelas atas yang buat orang lain iri hati.
Tetapi, apakah semua itu akan membawa kebahagiaan ?
Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia :
Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.
Pengkhotbah 6:1,2
Di antara penganjur dan pengajar 'hak atas kekayaan', terdapat juga orang-orang yang berprofesi sebagai pendeta, evangelis atau gembala jemaat. Konon, kata mereka, ada ayat Alkitab yang mendukung ajaran mereka.
Harta adalah sesuatu yang sangat menggiurkan manusia. Dengan kekayaan, orang dapat membeli hal-hal yang menarik hati, melakukan hal-hal yang menyukakan hati dan masuk ke dalam pergaulan kelas atas yang buat orang lain iri hati.
Tetapi, apakah semua itu akan membawa kebahagiaan ?
Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia :
Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.
Pengkhotbah 6:1,2
24 April 2009
Anak kecil dan Tuhannya
Malam kemarin, ketika di kamar aku bekerja di depan komputer, anakku yang beberapa hari lagi akan memasuki ulang tahunnya yang kelima, memanggilku," Pa, lihat Pa...!" Di tangannya ia memegang Alkitab besar milik ibunya dan membuka sembarang halaman dan kebetulan terpapar Kitab Keluaran, lalu mulai melafalkan ayat di halaman tersebut dengan hati-hati, seperti mengeja suku-suku kata. Namun begitu, ia bisa menyelesaikan bacaan itu dengan lengkap dan terdengar jelas.
"Aku sudah bisa baca 'kan Pa ?!" serunya dengan riang. Kemudian dia melanjutkan membaca dan dari bibirnya yang mungil keluar suara yang bening melantunkan ayat yang tertera di dalam kitab suci .
Aku menatapnya dengan bangga. Ini untuk pertama kali dia membuka Alkitab dan bisa membacanya. "Bagus sekali," aku memuji. "Sekarang tunjukkan pada Mama dan kakak-kakakmu, kamu sudah bisa baca Alkitab."
Dia melompat dari tempat tidur, lalu keluar kamar menemui ibunya dan kedua anak gadis yang bekerja bersama kami dan dipanggil anakku sebagai kakak. Suaranya yang kencang terdengar dari ruang makan. Terdengar dia membaca Amsal 15:3 yang merupakan ayat hapalannya pada Natal yang lalu.
Mungkin, saat ini dia membaca Alkitab hanya sekedar pamer. Tetapi, aku berharap dan berdoa bahwa pengetahuannya yang baru akan membawanya mengenal Tuhan lebih baik. Tersembunyi di dalam hatiku, aku berharap anakku kelak akan menjadi pelayan Firman Tuhan yang melayani di ladangNya.
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu
Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalangi-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
Matius 19 : 13,14
"Aku sudah bisa baca 'kan Pa ?!" serunya dengan riang. Kemudian dia melanjutkan membaca dan dari bibirnya yang mungil keluar suara yang bening melantunkan ayat yang tertera di dalam kitab suci .
Aku menatapnya dengan bangga. Ini untuk pertama kali dia membuka Alkitab dan bisa membacanya. "Bagus sekali," aku memuji. "Sekarang tunjukkan pada Mama dan kakak-kakakmu, kamu sudah bisa baca Alkitab."
Dia melompat dari tempat tidur, lalu keluar kamar menemui ibunya dan kedua anak gadis yang bekerja bersama kami dan dipanggil anakku sebagai kakak. Suaranya yang kencang terdengar dari ruang makan. Terdengar dia membaca Amsal 15:3 yang merupakan ayat hapalannya pada Natal yang lalu.
Mungkin, saat ini dia membaca Alkitab hanya sekedar pamer. Tetapi, aku berharap dan berdoa bahwa pengetahuannya yang baru akan membawanya mengenal Tuhan lebih baik. Tersembunyi di dalam hatiku, aku berharap anakku kelak akan menjadi pelayan Firman Tuhan yang melayani di ladangNya.
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu
Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalangi-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."
Matius 19 : 13,14
23 April 2009
Meski laut bergelora dan badai mengamuk
Hidup adalah perjalanan pulang ke rumah yang kekal.
Kita rindu pada surga di mana Bapa kita telah menyediakan tempat dan perhentian dari beban dunia
Tetapi, sebelum tiba di sana ada banyak gunung yang harus didaki, lembah harus diseberangi, hutan harus ditembus, padang gurun harus dilewati, lautan harus diarungi.
Seringkali rasa takut membayangi. Rasa lelah meggelantung di kaki dan sekujur tubuh. Kadang pula rasa putus asa membujuk untuk berhenti saja.
Alam pun tak selalu bersahabat. Hujan dan badai ada di gunung, di gurun dan di laut.
Kita sadar, perjalanan ini tak akan dapat kita tempuh sendiri.
Kita perlu penolong.
Tangan yang perkasa.
Siapakah yang dapat menolong kita selain Penguasa Alam Raya ?
Di laut yang bergelora dan ketika kapal kita hampir karam, kita tak lagi takut dan gentar. Ada tangan yang menatang dan menuntun ke pelabuhan yang tenang.
Nang Gumalusang Angka Laut
(dipopulerkan Victor Hutabarat)
Nang gumalusang angka laut
Nang ro pe halisuksung i
Laho mangharomhon soluhi
Molo Tuhan parhata saut
Mandok hata Na ingkon saut
Sai saut do i, sai saut doi, sai saut doi
Ndang be mabiar ahu disi
Mangalugahon soluhi
Ai Tuhanku donganhi
Ai tung godang pe musuhi
Na mangaroro soluhi
Sai dao doi, sai dao doi, sian lambunghi
Hatop marlojong do soluhu tu labuan nasonang
Na so adong be dapot hasusaan i
Tudos tu si nang pardalananhi
Laho mandapothon surgo i
Sipata naeng lonong do ahu
So halugaan galumbang i
Tudia na ma haporusanhi
Ingkon hutiop tontong Jesus i
Ditogu-togu tanganhi didalan na sai maol i
Diparungkilon hasusaan tu Jesus haporusanhi
Nang pe di dalan laho tu surgo, diiring Jesus ahu di si
Kita rindu pada surga di mana Bapa kita telah menyediakan tempat dan perhentian dari beban dunia
Tetapi, sebelum tiba di sana ada banyak gunung yang harus didaki, lembah harus diseberangi, hutan harus ditembus, padang gurun harus dilewati, lautan harus diarungi.
Seringkali rasa takut membayangi. Rasa lelah meggelantung di kaki dan sekujur tubuh. Kadang pula rasa putus asa membujuk untuk berhenti saja.
Alam pun tak selalu bersahabat. Hujan dan badai ada di gunung, di gurun dan di laut.
Kita sadar, perjalanan ini tak akan dapat kita tempuh sendiri.
Kita perlu penolong.
Tangan yang perkasa.
Siapakah yang dapat menolong kita selain Penguasa Alam Raya ?
Di laut yang bergelora dan ketika kapal kita hampir karam, kita tak lagi takut dan gentar. Ada tangan yang menatang dan menuntun ke pelabuhan yang tenang.
Nang Gumalusang Angka Laut
(dipopulerkan Victor Hutabarat)
Nang gumalusang angka laut
Nang ro pe halisuksung i
Laho mangharomhon soluhi
Molo Tuhan parhata saut
Mandok hata Na ingkon saut
Sai saut do i, sai saut doi, sai saut doi
Ndang be mabiar ahu disi
Mangalugahon soluhi
Ai Tuhanku donganhi
Ai tung godang pe musuhi
Na mangaroro soluhi
Sai dao doi, sai dao doi, sian lambunghi
Hatop marlojong do soluhu tu labuan nasonang
Na so adong be dapot hasusaan i
Tudos tu si nang pardalananhi
Laho mandapothon surgo i
Sipata naeng lonong do ahu
So halugaan galumbang i
Tudia na ma haporusanhi
Ingkon hutiop tontong Jesus i
Ditogu-togu tanganhi didalan na sai maol i
Diparungkilon hasusaan tu Jesus haporusanhi
Nang pe di dalan laho tu surgo, diiring Jesus ahu di si
22 April 2009
Antara terang dan gelap
Kemarin Hari Kartini.
Kala Ibu Kartini dikenang, bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang" pastilah disebut-sebut pula. Biasanya orang fasih menyebutkan judul buku, tetapi soal membacanya...? Berapa banyakkah di antara mereka yang menyebut-nyebutnya telah membaca buku itu ?
Manusia memang pandai mengutip kata. Banyak pula yang lancar berkata-kata.
Dahulu sekali ada lagu pop yang di dalam syairnya menyebutkan "jadilah anak-anak terang...."
Apakah bedanya gelap dan terang ?
Banyak orang Kristen menyebut dirinya "anak Tuhan" atau "anak terang". Seorang yang telah lahir baru dapat merasa dirinya telah berpindah dari "maut" ke dalam "hidup" atau telah berpindah dari "kegelapan" kepada "terang Tuhan yang ajaib."
Tetapi, mengapakah kita melihat begitu banyak - sekali lagi : begitu banyak! - orang-orang Kristen yang telah lahir baru, menerima Kristus secara pribadi, bahkan menjadi pengajar / pendeta / gembala jemaat, hidup tidak seperti "anak-anak terang?" Perselisihan di dalam rumah tangga Kristen, gontok-gontokan di Yayasan Kristen, dan rebutan aset dan umat di Gereja Kristen adalah berita biasa yang tersebar di media massa.
Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
(I Yohannes 2:9-11)
Akh, ternyata...kebanyakan hita halak Kristen hanya mengaku-aku saja sebagai orang yang sudah kenal Tuhan, sudah ikut Yesus, sudah didiami Roh Kudus. Sadar atau tidak sadar kita membohongi diri sendiri dan orang lain; kita pikir dan kita berkata bahwa kita sudah ada di dalam terang, padahal kita masih ada di dalam kegelapan. Pantaslah orang-orang yang mengaku Kristen tak beda jauh dengan orang-orang dunia ini. Sama-sama dalam kegelapan; maka sama-sama terantuk dan terjerembab dalam kubangan dosa.
Kala Ibu Kartini dikenang, bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang" pastilah disebut-sebut pula. Biasanya orang fasih menyebutkan judul buku, tetapi soal membacanya...? Berapa banyakkah di antara mereka yang menyebut-nyebutnya telah membaca buku itu ?
Manusia memang pandai mengutip kata. Banyak pula yang lancar berkata-kata.
Dahulu sekali ada lagu pop yang di dalam syairnya menyebutkan "jadilah anak-anak terang...."
Apakah bedanya gelap dan terang ?
Banyak orang Kristen menyebut dirinya "anak Tuhan" atau "anak terang". Seorang yang telah lahir baru dapat merasa dirinya telah berpindah dari "maut" ke dalam "hidup" atau telah berpindah dari "kegelapan" kepada "terang Tuhan yang ajaib."
Tetapi, mengapakah kita melihat begitu banyak - sekali lagi : begitu banyak! - orang-orang Kristen yang telah lahir baru, menerima Kristus secara pribadi, bahkan menjadi pengajar / pendeta / gembala jemaat, hidup tidak seperti "anak-anak terang?" Perselisihan di dalam rumah tangga Kristen, gontok-gontokan di Yayasan Kristen, dan rebutan aset dan umat di Gereja Kristen adalah berita biasa yang tersebar di media massa.
Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
(I Yohannes 2:9-11)
Akh, ternyata...kebanyakan hita halak Kristen hanya mengaku-aku saja sebagai orang yang sudah kenal Tuhan, sudah ikut Yesus, sudah didiami Roh Kudus. Sadar atau tidak sadar kita membohongi diri sendiri dan orang lain; kita pikir dan kita berkata bahwa kita sudah ada di dalam terang, padahal kita masih ada di dalam kegelapan. Pantaslah orang-orang yang mengaku Kristen tak beda jauh dengan orang-orang dunia ini. Sama-sama dalam kegelapan; maka sama-sama terantuk dan terjerembab dalam kubangan dosa.
21 April 2009
Isteri idaman
Karena hari ini adalah hari Kartini, pikiranku menerawang : seperti apakah wanita Indonesia ideal saat ini ?
Jika mengganggap majalah wanita yang dibaca isteriku memberikan gambaran yang tepat, maka wanita itu akan memenuhi persyaratan sebagai berikut : cantik (ya rupanya, ya tubuhnya, ya tata riasnya, ya pakaian and aksesori yang dikenakannya), berpendidikan sarjana atau lebih tinggi, berkarir, aktif dalam kegiatan sosial, terlibat dalam isu-isu popular seperti kesetaraan gender dan pemanasan global, modern (melek teknologi, punya banyak teman di Facebook,...),...
Sementara itu, di kolom Kontak Jodoh di koran Kompas Minggu, persyaratan tipikal wanita yang dicari pria adalah : .... putih, cantik, kerja tetap/wiraswata, baik, sederhana, sabar, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, terbuka, humoris, sehat jasmani rohani, tidak materialistis, menerima apa adanya,...
Perempuan.
Makhluk yang diciptakan oleh Yang Mahakuasa sebagai penolong bagi manusia laki-laki ini dibebani dengan bermacam-macam tanggung-jawab dan persyaratan. Emansipasi yang mengehandaki perlakuan yang adil bagi makhluk Tuhan yang berjenis kelamin wanita, bergeser menjadi pembebasan dan kebebasan perempuan yang tak lagi tunduk kepada kodrat dan rancangan Sang Pencipta.
Perintah agar isteri 'tunduk kepada suami' dianggap sebagai saran manis dari Rasul Paulus yang tidak perlu terlalu didengarkan, karena Paulus tidak begitu paham psikologi pernikahan.
Perempuan setara dengan pria. Bahkan boleh lebih dari pria. Dia tidak lagi sekedar penolong, dia bisa mengambil alih kendali rumah tangganya, bahkan boleh menjadi pemimpin atas jemaat pria. Argumen sosiologi, psikologi, antropologi dan teologis untuk pembenaran perubahan peran perempuan ini diamini oleh banyak orang Kristen dan gereja. Duh, dunia yang semakin pintar....
Aku sendiri tidak begitu paham tentang banyak hal mengenai peran wanita modern yang benar di mata Tuhan. Yang selalu kurindukan dimiliki isteriku - dan yang aku yakin dikehendaki Tuhan - adalah sifat cinta dan hormat kepada Tuhan.
Isteri yang cakap
siapakah akan mendapatkannya ?
Ia lebih berharga daripada permata.
Hati suaminya percaya kepadanya,
suaminya tidak akan kekurangan keuntungan
Ia berbuat baik kepada suaminya
dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya
......
Ia bangun kalau masih malam,
lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya,
dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan
......
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas,
mengulurkan tangannya kepada yang miskin
......
Ia membuka mulutnya dengan hikmat,
pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya
.....
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia,
pula suaminya memuji dia:
Banyak wanita telah berbuat baik,
tetapi kau melebihi mereka semua.
Kemolekan adalah bohong dan
kecantikan adalah sia-sia,
tetapi istri yang takut akan TUHAN dipuji-puji
(Amsal 3:10-12,15,20,26,28-30)
Jika mengganggap majalah wanita yang dibaca isteriku memberikan gambaran yang tepat, maka wanita itu akan memenuhi persyaratan sebagai berikut : cantik (ya rupanya, ya tubuhnya, ya tata riasnya, ya pakaian and aksesori yang dikenakannya), berpendidikan sarjana atau lebih tinggi, berkarir, aktif dalam kegiatan sosial, terlibat dalam isu-isu popular seperti kesetaraan gender dan pemanasan global, modern (melek teknologi, punya banyak teman di Facebook,...),...
Sementara itu, di kolom Kontak Jodoh di koran Kompas Minggu, persyaratan tipikal wanita yang dicari pria adalah : .... putih, cantik, kerja tetap/wiraswata, baik, sederhana, sabar, jujur, setia, tanggung jawab, penyayang, perhatian, terbuka, humoris, sehat jasmani rohani, tidak materialistis, menerima apa adanya,...
Perempuan.
Makhluk yang diciptakan oleh Yang Mahakuasa sebagai penolong bagi manusia laki-laki ini dibebani dengan bermacam-macam tanggung-jawab dan persyaratan. Emansipasi yang mengehandaki perlakuan yang adil bagi makhluk Tuhan yang berjenis kelamin wanita, bergeser menjadi pembebasan dan kebebasan perempuan yang tak lagi tunduk kepada kodrat dan rancangan Sang Pencipta.
Perintah agar isteri 'tunduk kepada suami' dianggap sebagai saran manis dari Rasul Paulus yang tidak perlu terlalu didengarkan, karena Paulus tidak begitu paham psikologi pernikahan.
Perempuan setara dengan pria. Bahkan boleh lebih dari pria. Dia tidak lagi sekedar penolong, dia bisa mengambil alih kendali rumah tangganya, bahkan boleh menjadi pemimpin atas jemaat pria. Argumen sosiologi, psikologi, antropologi dan teologis untuk pembenaran perubahan peran perempuan ini diamini oleh banyak orang Kristen dan gereja. Duh, dunia yang semakin pintar....
Aku sendiri tidak begitu paham tentang banyak hal mengenai peran wanita modern yang benar di mata Tuhan. Yang selalu kurindukan dimiliki isteriku - dan yang aku yakin dikehendaki Tuhan - adalah sifat cinta dan hormat kepada Tuhan.
Isteri yang cakap
siapakah akan mendapatkannya ?
Ia lebih berharga daripada permata.
Hati suaminya percaya kepadanya,
suaminya tidak akan kekurangan keuntungan
Ia berbuat baik kepada suaminya
dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya
......
Ia bangun kalau masih malam,
lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya,
dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan
......
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas,
mengulurkan tangannya kepada yang miskin
......
Ia membuka mulutnya dengan hikmat,
pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya
.....
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia,
pula suaminya memuji dia:
Banyak wanita telah berbuat baik,
tetapi kau melebihi mereka semua.
Kemolekan adalah bohong dan
kecantikan adalah sia-sia,
tetapi istri yang takut akan TUHAN dipuji-puji
(Amsal 3:10-12,15,20,26,28-30)
20 April 2009
Knock...! Knock...!
[1]
Knock...! Knock...!
Yes, who is it ?
I'm Jesus
Jesus? Jesus who ?
Jesus Christ
Please wait...I'm still busy
[2]
Tok...! Tok...!
Ya...?! Siapa ?
Aku Yesus. Maukah kau membukakan pintu ?
Sebentar...Lagi dandan,nih
Aku mau masuk
Sabar,dong! Rese' banget.
[3]
Oi....parjabuuu....!
Ise na di luar i ?
Jesus do Ahu
Aha i ?
Ida ma, na jongjong do Ahu di jolo pintu i manuktuhi; ia adong na tumangihon soarangku dohot mangungkap pintu i, bongot ma Ahu tu ibana, mangan ma Ahu rap dohot ibana, jala ibana rap dohot Ahu. (Pangukapon 3:20)
Sabar ma jo Ho paimahon da. Bahat dope siulaononku.
........
[4]
Jesus...! Jesus...Di manakah Engkau ?
Jesus, mengapa pergi ? Mengapa Kau tinggalkan aku ?
Jesus...Jesus...!
Halo...,halo... Jesus...?!
Jesus..., tolong jawablah....
Tolonglah aku, Jesus...Aku dalam masalah
Jesus...,Tuhan....,janganlah diam
Jesus... Jesus...Jesus....
[Attention : Battery low! Beep....beep....beep....!]
Knock...! Knock...!
Yes, who is it ?
I'm Jesus
Jesus? Jesus who ?
Jesus Christ
Please wait...I'm still busy
[2]
Tok...! Tok...!
Ya...?! Siapa ?
Aku Yesus. Maukah kau membukakan pintu ?
Sebentar...Lagi dandan,nih
Aku mau masuk
Sabar,dong! Rese' banget.
[3]
Oi....parjabuuu....!
Ise na di luar i ?
Jesus do Ahu
Aha i ?
Ida ma, na jongjong do Ahu di jolo pintu i manuktuhi; ia adong na tumangihon soarangku dohot mangungkap pintu i, bongot ma Ahu tu ibana, mangan ma Ahu rap dohot ibana, jala ibana rap dohot Ahu. (Pangukapon 3:20)
Sabar ma jo Ho paimahon da. Bahat dope siulaononku.
........
[4]
Jesus...! Jesus...Di manakah Engkau ?
Jesus, mengapa pergi ? Mengapa Kau tinggalkan aku ?
Jesus...Jesus...!
Halo...,halo... Jesus...?!
Jesus..., tolong jawablah....
Tolonglah aku, Jesus...Aku dalam masalah
Jesus...,Tuhan....,janganlah diam
Jesus... Jesus...Jesus....
[Attention : Battery low! Beep....beep....beep....!]
19 April 2009
Pada sebuah pesta
Hampir seribu undangan menjejali lokasi pesta. Kendaraan tamu yang demikian banyak membuat jalan di lokasi pesta harus dialihkan.
Tampaknya pesta ini mengambil thema 'traditional costume'. Sebagian besar orang berpakaian gelap polos, tetapi ada juga yang memakai batik. Sebagian wanita mengenakan selempang tradisional dan sarung warna warni yang sangat indah; sebagian lelaki mengenakan jas menggantungkan sarung yang dilipat di leher sebagai aksesori.
Iringan musiknya luar biasa. Alat musik modern dan tradisional digabung, memberikan suasana yang meriah.
Karena ini acara di open space, suara dari loud speaker yang disetel kencang, terdengar beberapa ratus meter dari lokasi pesta.
Orang-orang menari tidak henti. Berjoget mengelilingi si empunya hajatan. Cuma - ya...khas Indonesia lah - sebelum berjoget, biasanya ada ucapan puja dan puji mengenai tuan rumah, serta petatah-petitih bagi keluarganya.
Kerabat terdekat mendapat hadiah. Penyematan hadiah diiringi dengan berbagai lagu dan iringan musik, sesuai request si pemberi hadiah. Genre musik yang dimainkan pun sangat berragam. Mulai musik pop, latin, gospel, melayu, dang-dut, tradisional. Suka-suka. Keyboard memimpin dengan riang dan semarak; drum dan gendang menyambut dengan bersemangan; terompet, klarinet dan trombon sahut menyahut; suling mengiringi dengan genit. Wah...ramai deh.
Dengar,dengar...! Grup musik sedang memainkan permintaan lagu favorit.
Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Modal pergaulan boi do mangolu au
Tarlobi di penampilan, main cantik do au kawan
Sonang manang susah, happy do di au
Nang pe lima satu solot di gonting ki
Siap bela kawan berpartisipasi
Tiga tujuh lapan sattabi ma jo disi
Ada harga diri mengantisipasi
Horas… pohon pinang tumbuh sendiri
Horas… tumbuhlah menantang awan
Horas… biar kambing di kampung sendiri
Horas… tapi banteng di perantauan
Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Susah di donganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au kawan
Hansur demi kawan ido anggo au
(btw, kabarnya lagu ini dipopulerkan Trio Lamtama)
Lihat,lihat! Rentak dan kecipak drum dan genderang menuntun kaki-kaki berdansa seiring lagu. Setiap kata 'horas' dinyanyikan audiens ikut meneriakkan 'horas.'
Asyiknya lagi, sebagian tamu undangan dapat hadiah langsung tunai dari penyelenggara pesta. Cash, man! Lembar uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, lima ribuan dan ... ada juga seribuan diselipkan di sela-sela jemari barisan tamu khusus membentuk pohon uang yang semarak. Seperti bagi-bagi salam tempel di hari Natal.
Kopi, teh manis dan makanan ringan tradisional dihidangkan.
Lelah menari, selepas tengah hari, tamu dijamu dengan makan besar.
Habis makan...lanjut menari lagi (oh ya...juga kata sambutan, puja-puji dan petatah-petitih).
Kegembiraan terpancar di wajah banyak orang. Pada wajah para tamu. Pada wajah kerabat tuan rumah yang menjadi co-host. Pada wajah sang bintang pesta.
But, wait!
Menjelang sore hari...sebagian undangan sudah pulang. Tinggalkah kerabat dan sahabat dekat. Suasana menjadi terasa lengang.
Seorang pendeta didaulat untuk menutup acara. Pendeta membaca beberapa ayat Alkitab. Berkhotbah sedikit. Hiruk pikuk tadi digantikan oleh suasana sendu. Ada yang mulai menitikkan air mata. Bahkan beberapa orang mulai terisak-isak menyadari apa yang sebenarnya sedang berlangsung.
Setelah memberi kesempatan kepada semua yang hadir untuk menatap sang tokoh yang yang punya hajatan untuk terakhir kali, Pak Pendeta berkata," Tutup! Unang adong be na tangis"
Peti jenazah pun ditutup; mur dikencangkan.
Berakhirlah ulaon parsaurmatuaon sang empunya pesta.
Tampaknya pesta ini mengambil thema 'traditional costume'. Sebagian besar orang berpakaian gelap polos, tetapi ada juga yang memakai batik. Sebagian wanita mengenakan selempang tradisional dan sarung warna warni yang sangat indah; sebagian lelaki mengenakan jas menggantungkan sarung yang dilipat di leher sebagai aksesori.
Iringan musiknya luar biasa. Alat musik modern dan tradisional digabung, memberikan suasana yang meriah.
Karena ini acara di open space, suara dari loud speaker yang disetel kencang, terdengar beberapa ratus meter dari lokasi pesta.
Orang-orang menari tidak henti. Berjoget mengelilingi si empunya hajatan. Cuma - ya...khas Indonesia lah - sebelum berjoget, biasanya ada ucapan puja dan puji mengenai tuan rumah, serta petatah-petitih bagi keluarganya.
Kerabat terdekat mendapat hadiah. Penyematan hadiah diiringi dengan berbagai lagu dan iringan musik, sesuai request si pemberi hadiah. Genre musik yang dimainkan pun sangat berragam. Mulai musik pop, latin, gospel, melayu, dang-dut, tradisional. Suka-suka. Keyboard memimpin dengan riang dan semarak; drum dan gendang menyambut dengan bersemangan; terompet, klarinet dan trombon sahut menyahut; suling mengiringi dengan genit. Wah...ramai deh.
Dengar,dengar...! Grup musik sedang memainkan permintaan lagu favorit.
Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Modal pergaulan boi do mangolu au
Tarlobi di penampilan, main cantik do au kawan
Sonang manang susah, happy do di au
Nang pe lima satu solot di gonting ki
Siap bela kawan berpartisipasi
Tiga tujuh lapan sattabi ma jo disi
Ada harga diri mengantisipasi
Horas… pohon pinang tumbuh sendiri
Horas… tumbuhlah menantang awan
Horas… biar kambing di kampung sendiri
Horas… tapi banteng di perantauan
Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Susah di donganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au kawan
Hansur demi kawan ido anggo au
(btw, kabarnya lagu ini dipopulerkan Trio Lamtama)
Lihat,lihat! Rentak dan kecipak drum dan genderang menuntun kaki-kaki berdansa seiring lagu. Setiap kata 'horas' dinyanyikan audiens ikut meneriakkan 'horas.'
Asyiknya lagi, sebagian tamu undangan dapat hadiah langsung tunai dari penyelenggara pesta. Cash, man! Lembar uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, lima ribuan dan ... ada juga seribuan diselipkan di sela-sela jemari barisan tamu khusus membentuk pohon uang yang semarak. Seperti bagi-bagi salam tempel di hari Natal.
Kopi, teh manis dan makanan ringan tradisional dihidangkan.
Lelah menari, selepas tengah hari, tamu dijamu dengan makan besar.
Habis makan...lanjut menari lagi (oh ya...juga kata sambutan, puja-puji dan petatah-petitih).
Kegembiraan terpancar di wajah banyak orang. Pada wajah para tamu. Pada wajah kerabat tuan rumah yang menjadi co-host. Pada wajah sang bintang pesta.
But, wait!
Menjelang sore hari...sebagian undangan sudah pulang. Tinggalkah kerabat dan sahabat dekat. Suasana menjadi terasa lengang.
Seorang pendeta didaulat untuk menutup acara. Pendeta membaca beberapa ayat Alkitab. Berkhotbah sedikit. Hiruk pikuk tadi digantikan oleh suasana sendu. Ada yang mulai menitikkan air mata. Bahkan beberapa orang mulai terisak-isak menyadari apa yang sebenarnya sedang berlangsung.
Setelah memberi kesempatan kepada semua yang hadir untuk menatap sang tokoh yang yang punya hajatan untuk terakhir kali, Pak Pendeta berkata," Tutup! Unang adong be na tangis"
Peti jenazah pun ditutup; mur dikencangkan.
Berakhirlah ulaon parsaurmatuaon sang empunya pesta.
18 April 2009
Berkat terindah
Menitikkan air mata, seperti aku tulis kemarin, ketika menyanyikan lagu penyesalan dosa mungkin bukanlah hal yang aneh. Tetapi, ada kalanya aku juga menitikkan air mata ketika menaikkan pujian syukur atas berkat Tuhan. Jika ini terjadi aku terpaksa menyeka keringat di wajah agar tidak terlihat menangis, karena di gereja tempatku beribadah tidak lazim mengekspresikan emosi di depan umum.
Aku juga heran terhadap diriku ketika dalam suatu kebaktian tanpa aku sadari syair "... berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu" dari Kidung Jemaat Nomor 393 membuat bulir-bulir air menetes dari pelupuk mataku. Belakangan aku mengerti, Tuhan telah memakai lagu itu sebagai suatu pengingat bagiku tentang banyaknya berkat yang Tuhan telah berikan kepadaku, sementara aku sering merasa bahwa Tuhan sering tidak memberikan apa yang aku minta. Padahal, bukankah hidup kekal yang dianugerahkan kepadaku lebih dari apapun yang mungkin kudapatkan di dunia ini ?
1. Tuhan, betapa banyaknya berkat yang Kau beri,
teristimewa rahmatMu dan hidup abadi
2. Sanak saudara dan teman Kau b'ri kepadaku;
berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu
3. Setiap hari rahmatMu tiada putusnya;
hendak kupuji namaMu tetap selamanya
Ref:
T'rima kasih, ya Tuhanku, atas keselamatanKu!
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi
Kidung Jemaat 393 : 1,2,3
Aku juga heran terhadap diriku ketika dalam suatu kebaktian tanpa aku sadari syair "... berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu" dari Kidung Jemaat Nomor 393 membuat bulir-bulir air menetes dari pelupuk mataku. Belakangan aku mengerti, Tuhan telah memakai lagu itu sebagai suatu pengingat bagiku tentang banyaknya berkat yang Tuhan telah berikan kepadaku, sementara aku sering merasa bahwa Tuhan sering tidak memberikan apa yang aku minta. Padahal, bukankah hidup kekal yang dianugerahkan kepadaku lebih dari apapun yang mungkin kudapatkan di dunia ini ?
1. Tuhan, betapa banyaknya berkat yang Kau beri,
teristimewa rahmatMu dan hidup abadi
2. Sanak saudara dan teman Kau b'ri kepadaku;
berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu
3. Setiap hari rahmatMu tiada putusnya;
hendak kupuji namaMu tetap selamanya
Ref:
T'rima kasih, ya Tuhanku, atas keselamatanKu!
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi
Kidung Jemaat 393 : 1,2,3
17 April 2009
Melukai hati kawan
Ada beberapa lagu gereja yang sering membuatku menitikkan air mata ketika menyanyikannya.
Tuhanku, bila hati kawanku
terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku,
ampunilah
Jikalau tuturku tak semena
dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela,
ampunilah
Kidung Jemaat 467 : 1,2
Tingkah, ujar, tutur dan pikiran kita kadang-kadang, tanpa kita sadari - atau mungkin juga kita sadari tapi kita sudah tidak peduli - membuat orang-orang dekat kita terluka. Makna dan manfaat persahabatan dipertanyakan. Hubungan menjadi putus atau merenggang.
Keinginan hati dan roh adalah berbuat kasih, kebaikan dan keadilan kepada sesama. Yang keluar dari pikiran dan mulut adalah yang memuaskan diri sendiri dan mengabaikan orang lain.
Sungguh, kita ini manusia berdosa. Ampunilah kami, ya Tuhan.
Tuhanku, bila hati kawanku
terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku,
ampunilah
Jikalau tuturku tak semena
dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela,
ampunilah
Kidung Jemaat 467 : 1,2
Tingkah, ujar, tutur dan pikiran kita kadang-kadang, tanpa kita sadari - atau mungkin juga kita sadari tapi kita sudah tidak peduli - membuat orang-orang dekat kita terluka. Makna dan manfaat persahabatan dipertanyakan. Hubungan menjadi putus atau merenggang.
Keinginan hati dan roh adalah berbuat kasih, kebaikan dan keadilan kepada sesama. Yang keluar dari pikiran dan mulut adalah yang memuaskan diri sendiri dan mengabaikan orang lain.
Sungguh, kita ini manusia berdosa. Ampunilah kami, ya Tuhan.
16 April 2009
Parkir sembarangan
Kemarin pagi, ketika melintas di jalan depan sebuah sekolah elit, aku melihat seorang polisi berjongkok di dekat sebuah mobil. Ternyata Pak Polisi sedang mengempisi ban mobil tersebut. Dari posisinya, mobil tersebut adalah mobil pengantar murid sekolah. Jalan yang sebenarnya begitu lebar ( bisa sekitar 6 - 8 jalur) , dikuasai 3 hingga 4 jalur oleh para pengantar dan penjemput siswa. Tampaknya mobil tersebut parkir di jalur ketiga.
Parkir sembarangan adalah pemandangan yang jamak di kotaku. Menguasai jalan umum merupakan kelaziman. Aku tidak tahu izin seperti apa yang dimiliki oleh sekolah-sekolah elit sehingga mereka boleh "mengganggu ketertiban umum" dengan membuat macet jalan-jalan utama di kotaku. Atau mungkin mereka memiliki kekuasaan tertentu ? Atau berlindung di balik kekuasaan tertentu ? Atau mereka bisa membeli kekuasaan tertentu ?
Sekolah-sekolah elit mempunyai dana dan koneksi dengan pejabat negeri. Para orangtua siswa, pemilik dan pengelola yayasan di sekolah tersebut tampaknya bukanlah orang yang harus ikut aturan, apalagi harus peduli dengan konsekuensi mendirikan sekolah di tengah kota. (Aku sudah menuliskan ini berulang-ulang, dan mungkin akan terus menuliskan tiap kali merasakan sendiri dampak kesewenang-wenangan para elit dalam menguasai barang publik. Istriku sering sebal mendengarkan omelanku tentang hal ini). Mereka seakan-akan "beyond rules and regulations".
Tetapi, bukankah ada etika yang mengajarkan nurani manusia untuk peduli dengan hak sesamanya ? Bukankah mereka adalah para elit dan sedang menyiapkan calon elit Indonesia ?
Aha...pantas saja negeri kita ini tak maju-maju. Parkir sembarangan di jalan umum yang dikapling oleh sekolah swasta elit adalah potret telanjang dari para elit negeri ini. Untuk kepentingan dan kenyamanan sendiri, mereka tidak malu merampok hak-hak orang lain.
Bukankah aku pernah mengatakan bahwa di antara para elit yang tidak peduli itu juga terdapat banyak orang Kristen ? Dan yayasan Kristen ? Dan pejabat struktural organisasi Kristen ?
Pikiran basi ini, yang telah kudaur ulang ratusan kali di kepalaku, mencuat lagi ketika aku melihat seorang polisi mengempisi ban mobil yang diparkir sembarangan. Terimakasih, Pak Polisi. Tetaplah berani menegakkan aturan tanpa memandang bulu. GBU.
Parkir sembarangan adalah pemandangan yang jamak di kotaku. Menguasai jalan umum merupakan kelaziman. Aku tidak tahu izin seperti apa yang dimiliki oleh sekolah-sekolah elit sehingga mereka boleh "mengganggu ketertiban umum" dengan membuat macet jalan-jalan utama di kotaku. Atau mungkin mereka memiliki kekuasaan tertentu ? Atau berlindung di balik kekuasaan tertentu ? Atau mereka bisa membeli kekuasaan tertentu ?
Sekolah-sekolah elit mempunyai dana dan koneksi dengan pejabat negeri. Para orangtua siswa, pemilik dan pengelola yayasan di sekolah tersebut tampaknya bukanlah orang yang harus ikut aturan, apalagi harus peduli dengan konsekuensi mendirikan sekolah di tengah kota. (Aku sudah menuliskan ini berulang-ulang, dan mungkin akan terus menuliskan tiap kali merasakan sendiri dampak kesewenang-wenangan para elit dalam menguasai barang publik. Istriku sering sebal mendengarkan omelanku tentang hal ini). Mereka seakan-akan "beyond rules and regulations".
Tetapi, bukankah ada etika yang mengajarkan nurani manusia untuk peduli dengan hak sesamanya ? Bukankah mereka adalah para elit dan sedang menyiapkan calon elit Indonesia ?
Aha...pantas saja negeri kita ini tak maju-maju. Parkir sembarangan di jalan umum yang dikapling oleh sekolah swasta elit adalah potret telanjang dari para elit negeri ini. Untuk kepentingan dan kenyamanan sendiri, mereka tidak malu merampok hak-hak orang lain.
Bukankah aku pernah mengatakan bahwa di antara para elit yang tidak peduli itu juga terdapat banyak orang Kristen ? Dan yayasan Kristen ? Dan pejabat struktural organisasi Kristen ?
Pikiran basi ini, yang telah kudaur ulang ratusan kali di kepalaku, mencuat lagi ketika aku melihat seorang polisi mengempisi ban mobil yang diparkir sembarangan. Terimakasih, Pak Polisi. Tetaplah berani menegakkan aturan tanpa memandang bulu. GBU.
15 April 2009
Mencari keuntungan dari firman Allah
Melihat kata "gratis" ditampilkan di sebuah spanduk yang mengundang orang-orang untuk menghadiri suatu seminar dan KKR, aku bertanya-tanya : Apanya yang gratis ? Firman Allah, setahuku, memang diberikan dengan gratis kepada manusia. Bahkan keselamatan pun diberikan secara cuma-cuma : itu adalah pemberian atawa anugerah semata. Nah, apanya yang perlu ditegaskan 'gratis' ?
Apakah itu berarti pada dasarnya ada tiket masuk berbayar untuk ikut suatu kebaktian ? Lalu, yang ini, diberi dispensasi ?
Bagaimana dengan persembahan yang dikumpulkan dalam KKR ? Apakah ini sebagai 'bayaran' atau apa ?
Apakah pemberitaan Injil memang terkait dengan motivasi ekonomi ?
Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah di hadapanNya.
(2 Korintus 2:17)
Apakah itu berarti pada dasarnya ada tiket masuk berbayar untuk ikut suatu kebaktian ? Lalu, yang ini, diberi dispensasi ?
Bagaimana dengan persembahan yang dikumpulkan dalam KKR ? Apakah ini sebagai 'bayaran' atau apa ?
Apakah pemberitaan Injil memang terkait dengan motivasi ekonomi ?
Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah di hadapanNya.
(2 Korintus 2:17)
14 April 2009
Mendiskusikan hasil Pemilu
Sebelum masuk ke topik yang direncanakan, kelompok PA kami kemarin berbincang-bincang tentang hasil Pemilu. Sebagian menyedihkan hilangnya kesempatan "partai Kristen" masuk ke Senayan, terkena parliamentary treshold. Diskusi mengarah pada kesimpulan bahwa orang Kristen tidak kompak, maka tidak akan dapat memperjuangkan aspirasi bersama.
Aku tidak terlalu mempersoalkan kegagalan "partai Kristen", karena sejak semula tidak bersimpati dengan partai yang membawa-bawa simbol Kristen. Aku sendiri berpendapat, adalah lebih penting berperilaku Kristen daripada menggunakan label Kristen untuk meraup suara orang Kristen. Tapi, ada yang berpendapat, partai nasionalis tidak mungkin bisa menyalurkan aspirasi orang Kristen.
Nah, sekarang sudah terlihat...partai Kristen tidak lolos ke DPR (Pusat), apakah hal itu berarti suara Kristen tidak lagi mewarnai keputusan lembaga legislatif tertinggi itu ?
Menurutku, adalah lebih baik orang-orang Kristen belajar dan bekerja jauh lebih keras dari orang bukan Kristen, sembari tak putus-putusnya meminta hikmat dan perlindungan dari Tuhan, daripada berupaya masuk ke dunia politik dengan cara-cara duniawi. Seperti Yusuf di negeri Firaun dan Daniel dkk di zaman Nebukadnezar, orang Kristen pun bisa berperan di negeri ini sebagai minoritas melalui keterampilan, kerajinan, dan kebijakan yang dikarunaikan Tuhan. Berpolitik formal bukanlah jalan satu-satunya untuk ikut menentukan arah pembangunan negeri di mana kita berada.
Andainya kita bisa bertanya kepada pada caleg yang ramai-ramai ikutan Pemilu yang baru lalu...apakah engkau mencintai Tuhan dan umatNya lebih dari engkau mencintai prestise, hak, dan benefit yang didapat dari kedudukan sebagai anggota dewan yang terhormat ?
Aku berdoa dan berharap : Dalam 5 tahun ini akan muncul orang-orang Kristen yang mencintai Tuhan dengan segenap hati,dan segenap pikiran dan perbuatan mereka yang baik dan cemerlang bagi bangsa dan negara begitu mengesankan banyak orang, sehingga mereka-mereka didaulat untuk mewakili suara orang Kristen dan orang non-Kristen. Semoga tahun 2014 tidak banyak lagi orang yang muncul dari antah berantah tanpa jejak rekam yang kita kenali, dengan modal baliho besar dan poster wajahnya menggelantung di mana-mana, coba-coba mengklaim sebagai layak menjadi wakil orang Kristen di parlemen.
Aku tidak terlalu mempersoalkan kegagalan "partai Kristen", karena sejak semula tidak bersimpati dengan partai yang membawa-bawa simbol Kristen. Aku sendiri berpendapat, adalah lebih penting berperilaku Kristen daripada menggunakan label Kristen untuk meraup suara orang Kristen. Tapi, ada yang berpendapat, partai nasionalis tidak mungkin bisa menyalurkan aspirasi orang Kristen.
Nah, sekarang sudah terlihat...partai Kristen tidak lolos ke DPR (Pusat), apakah hal itu berarti suara Kristen tidak lagi mewarnai keputusan lembaga legislatif tertinggi itu ?
Menurutku, adalah lebih baik orang-orang Kristen belajar dan bekerja jauh lebih keras dari orang bukan Kristen, sembari tak putus-putusnya meminta hikmat dan perlindungan dari Tuhan, daripada berupaya masuk ke dunia politik dengan cara-cara duniawi. Seperti Yusuf di negeri Firaun dan Daniel dkk di zaman Nebukadnezar, orang Kristen pun bisa berperan di negeri ini sebagai minoritas melalui keterampilan, kerajinan, dan kebijakan yang dikarunaikan Tuhan. Berpolitik formal bukanlah jalan satu-satunya untuk ikut menentukan arah pembangunan negeri di mana kita berada.
Andainya kita bisa bertanya kepada pada caleg yang ramai-ramai ikutan Pemilu yang baru lalu...apakah engkau mencintai Tuhan dan umatNya lebih dari engkau mencintai prestise, hak, dan benefit yang didapat dari kedudukan sebagai anggota dewan yang terhormat ?
Aku berdoa dan berharap : Dalam 5 tahun ini akan muncul orang-orang Kristen yang mencintai Tuhan dengan segenap hati,dan segenap pikiran dan perbuatan mereka yang baik dan cemerlang bagi bangsa dan negara begitu mengesankan banyak orang, sehingga mereka-mereka didaulat untuk mewakili suara orang Kristen dan orang non-Kristen. Semoga tahun 2014 tidak banyak lagi orang yang muncul dari antah berantah tanpa jejak rekam yang kita kenali, dengan modal baliho besar dan poster wajahnya menggelantung di mana-mana, coba-coba mengklaim sebagai layak menjadi wakil orang Kristen di parlemen.
13 April 2009
Bertandang ke rumah Tuhan
Kemarin Minggu di gereja kami diadakah kebaktian fajar Paskah pukul 05.30. Di halaman samping gereja dijejer kursi lipat. Tanpa tenda.
Kebaktian berjalan hikmat. Namun, menurutku, pendeta tamu yang menyampaikan Firman Tuhan tidak begitu baik menyiapkan khotbahnya. Terasa monoton, tanpa greget.
Menjelang akhir khotbah, turun hujan rintik-rintik. Jemaat berhamburan ke dalam gedung gereja dan ke bawah tenda yang terpasang di depan gereja. Ternyata hujan rintik hanya berlangsung beberapa detik, tetapi jemaat sudah terlanjur beranjak dari tempat kebaktian yang direncanakan. Akhirnya, ibadah dilanjutkan di dalam gendung dan tenda di depan gereja.
Namun, ada sebagian jemaat (sepuluh hingga duapuluhan) yang bertahan di tempat semula. Mereka tidak melanjutkan ikut kebaktian, tetapi hanya berkumpul dan terlihat berbincang-bincang. Aku duduk di bawah tenda di depan gereja di baris paling belakang. Di baling punggungku ada beberapa orang yang tidak ikut duduk, tetapi berdiri berkelompok dan ngobrol ngalor ngidul tentang pemilu.
Orang Kristen tidak memiliki suatu aturan yang ketat mengenai tata cara ibadah. Ke gereja pada hari Minggu atau hari besar Kristen adalah seperti mengunjungi rumah Tuhan. Hati perlu disiapkan; penampilan perlu disesuaikan.
Tetapi, yang sering terlihat sekarang, banyak orang Kristen menjadikan ibadah di gereja hanya sebagai rutinitas dan kegiatan sosial belaka. Maka, tak heran, alih-alih mengikuti seluruh tata-ibadah, beberapa orang merasa cukup 'setor muka' di gereja. Lagu pujian, penyembahan, pengakuan dosa dan khotbah cuma sekedar pernak-pernik yang 'nggak penting-penting amat.'
Akan herankah kita, ketika suatu saat Dia yang menjadi tuan rumah kita pada hari Minggu dan hari besar Kristen itu, akan memalingkan muka ketika kita memanggil namaNya? Betapa ngerinya, setelah kita merasa kenal dan akrab denganNya dalam kunjungan rutin ke rumahNya, di luar dugaan Dia berkata," Aku tidak mengenal engkau."
Kebaktian berjalan hikmat. Namun, menurutku, pendeta tamu yang menyampaikan Firman Tuhan tidak begitu baik menyiapkan khotbahnya. Terasa monoton, tanpa greget.
Menjelang akhir khotbah, turun hujan rintik-rintik. Jemaat berhamburan ke dalam gedung gereja dan ke bawah tenda yang terpasang di depan gereja. Ternyata hujan rintik hanya berlangsung beberapa detik, tetapi jemaat sudah terlanjur beranjak dari tempat kebaktian yang direncanakan. Akhirnya, ibadah dilanjutkan di dalam gendung dan tenda di depan gereja.
Namun, ada sebagian jemaat (sepuluh hingga duapuluhan) yang bertahan di tempat semula. Mereka tidak melanjutkan ikut kebaktian, tetapi hanya berkumpul dan terlihat berbincang-bincang. Aku duduk di bawah tenda di depan gereja di baris paling belakang. Di baling punggungku ada beberapa orang yang tidak ikut duduk, tetapi berdiri berkelompok dan ngobrol ngalor ngidul tentang pemilu.
Orang Kristen tidak memiliki suatu aturan yang ketat mengenai tata cara ibadah. Ke gereja pada hari Minggu atau hari besar Kristen adalah seperti mengunjungi rumah Tuhan. Hati perlu disiapkan; penampilan perlu disesuaikan.
Tetapi, yang sering terlihat sekarang, banyak orang Kristen menjadikan ibadah di gereja hanya sebagai rutinitas dan kegiatan sosial belaka. Maka, tak heran, alih-alih mengikuti seluruh tata-ibadah, beberapa orang merasa cukup 'setor muka' di gereja. Lagu pujian, penyembahan, pengakuan dosa dan khotbah cuma sekedar pernak-pernik yang 'nggak penting-penting amat.'
Akan herankah kita, ketika suatu saat Dia yang menjadi tuan rumah kita pada hari Minggu dan hari besar Kristen itu, akan memalingkan muka ketika kita memanggil namaNya? Betapa ngerinya, setelah kita merasa kenal dan akrab denganNya dalam kunjungan rutin ke rumahNya, di luar dugaan Dia berkata," Aku tidak mengenal engkau."
12 April 2009
Paskah
Fajar hampir merekah.
Gereja-gereja menggelar kebaktian Paskah.
Yesus telah bangkit!
Maut telah dikalahkan.
Dosa manusia telah ditebus.
Manusia mendapatkan hidupnya kembali.
Paskah adalah misteri. Pencipta alam semesta mati (bagaimana bisa ?) dan bangkit kembali (bagaimana Yang Mati membangkitkan diriNya sendiri ?). Terlalu dalam misteri ini untuk kupahami.
Paskah adalah perlambang. Hutang dosa telah dibayar lunas. Sebuah perjanjian baru dijalin antara Sang Pencipta dan manusia ciptaanNya.
Paskah adalah kemenangan.
Gereja-gereja menggelar kebaktian Paskah.
Yesus telah bangkit!
Maut telah dikalahkan.
Dosa manusia telah ditebus.
Manusia mendapatkan hidupnya kembali.
Paskah adalah misteri. Pencipta alam semesta mati (bagaimana bisa ?) dan bangkit kembali (bagaimana Yang Mati membangkitkan diriNya sendiri ?). Terlalu dalam misteri ini untuk kupahami.
Paskah adalah perlambang. Hutang dosa telah dibayar lunas. Sebuah perjanjian baru dijalin antara Sang Pencipta dan manusia ciptaanNya.
Paskah adalah kemenangan.
11 April 2009
Arimatea
Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.
Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.
Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
(Lukas 23 : 50-53)
Nama Arimatea membangkitkan ingatan akan nama suatu yayasan Kristen yang memberikan layanan pemakaman ketika mertuaku meninggal dunia beberapa tahun lalu. Arimatea menjadi berasosiasi dengan kematian.
Lukas menuliskan bahwa Arimatea adalah nama daerah asal Yusuf - sehingga sering disebut sebagai Yusuf dari Arimatea - yang menyediakan makam bagi Yesus. Yang menarik, ternyata Yusuf adalah anggota Majelis Besar, artinya dia adalah juga seorang pemimpin agama Yahudi dan - masih menurut Lukas - dia adalah seorang yang baik lagi benar. Dia tidak setuju dengan keputusan majelis (mungkin dia mengajukan dissenting opinion), tetapi akhirnya vonis majelis untuk menghukum Yesus dijatuhkan berdasarkan suara terbanyak (atau suara terkeras ?).
Akh, suara terbanyak...
Masih suasana Pemilu dan televisi masih - seperti kemarin - tak berhenti menyiarkan hasil dan ulasan perhitungan suara.
Seorang dari Arimatea 'gagal' menyampaikan kebenaran karena 'kalah suara'. Tetapi, dia melakukan apa yang masih dapat dilakukannya sebagai individu. Dia menguburkan Yesus dengan layak. Dan apa yang diperbuatnya itu dicatat dan akan selalu diingat ketika Injil diberitakan. Arimatea pun menjadi nama yang akrab di telinga orang Kristen.
Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.
Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
(Lukas 23 : 50-53)
Nama Arimatea membangkitkan ingatan akan nama suatu yayasan Kristen yang memberikan layanan pemakaman ketika mertuaku meninggal dunia beberapa tahun lalu. Arimatea menjadi berasosiasi dengan kematian.
Lukas menuliskan bahwa Arimatea adalah nama daerah asal Yusuf - sehingga sering disebut sebagai Yusuf dari Arimatea - yang menyediakan makam bagi Yesus. Yang menarik, ternyata Yusuf adalah anggota Majelis Besar, artinya dia adalah juga seorang pemimpin agama Yahudi dan - masih menurut Lukas - dia adalah seorang yang baik lagi benar. Dia tidak setuju dengan keputusan majelis (mungkin dia mengajukan dissenting opinion), tetapi akhirnya vonis majelis untuk menghukum Yesus dijatuhkan berdasarkan suara terbanyak (atau suara terkeras ?).
Akh, suara terbanyak...
Masih suasana Pemilu dan televisi masih - seperti kemarin - tak berhenti menyiarkan hasil dan ulasan perhitungan suara.
Seorang dari Arimatea 'gagal' menyampaikan kebenaran karena 'kalah suara'. Tetapi, dia melakukan apa yang masih dapat dilakukannya sebagai individu. Dia menguburkan Yesus dengan layak. Dan apa yang diperbuatnya itu dicatat dan akan selalu diingat ketika Injil diberitakan. Arimatea pun menjadi nama yang akrab di telinga orang Kristen.
10 April 2009
Jumat Agung dan Pemilu
Acara televisi hari ini dijejali dengan berita perhitungan suara pemilu.
Sebagian orang lupa bahwa hari ini adalah Hari Jumat Agung.
Kemarin adalah hari pemungutan suara.
Sehari sebelum Yesus disalibkan, orang banyak yang menghadiri pengadilan Yesus juga diberi kesempatan memilih : Yesus atau Barabas.
Mereka memilih Barabas.
Suara rakyat = suara Tuhan ?
Terlepas siapapun yang memenangi Pemilu kali ini, entah itu partai yang aku dukung atau bukan, suara rakyat bukanlah suara Tuhan. Manusia yang berdosa, ketika bersepakat pun tidak akan mewakili kehendak Tuhan. Ingat kisah menara Babel ? Bukankah manusia bersepaham justru untuk menentang Tuhan ?
Marilah memandang Pemilu sebagai mekanisme bernegara yang memang perlu kita jalankan.
Sementara itu, Tuhan adalah Raja yang tidak mungkin kita pilih. Ia adalah Raja karena jabatan itu melekat pada diriNya. Ia tidak memerlukan contrengan kita di surat suara untuk menjadikan dia sebagai raja terpilih. Dia yang menetapkan sendiri untuk mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga adalah Penguasa Alam Semesta yang abadi, jauh sebelum kita ada di bumi dan jauh setelah kita meninggalkan bumi ini.
Sebagian orang lupa bahwa hari ini adalah Hari Jumat Agung.
Kemarin adalah hari pemungutan suara.
Sehari sebelum Yesus disalibkan, orang banyak yang menghadiri pengadilan Yesus juga diberi kesempatan memilih : Yesus atau Barabas.
Mereka memilih Barabas.
Suara rakyat = suara Tuhan ?
Terlepas siapapun yang memenangi Pemilu kali ini, entah itu partai yang aku dukung atau bukan, suara rakyat bukanlah suara Tuhan. Manusia yang berdosa, ketika bersepakat pun tidak akan mewakili kehendak Tuhan. Ingat kisah menara Babel ? Bukankah manusia bersepaham justru untuk menentang Tuhan ?
Marilah memandang Pemilu sebagai mekanisme bernegara yang memang perlu kita jalankan.
Sementara itu, Tuhan adalah Raja yang tidak mungkin kita pilih. Ia adalah Raja karena jabatan itu melekat pada diriNya. Ia tidak memerlukan contrengan kita di surat suara untuk menjadikan dia sebagai raja terpilih. Dia yang menetapkan sendiri untuk mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga adalah Penguasa Alam Semesta yang abadi, jauh sebelum kita ada di bumi dan jauh setelah kita meninggalkan bumi ini.
09 April 2009
Akhirnya datang juga
Hari ini tanggal 9 April 2009. Kulminasi dari segala hingar bingar perhelatan politik di tanah air kita.
Siapa yang kita pilih ?
Pagi-pagi ada seorang adik mengirimkan SMS; isinya menganjurkan memilih Parpol tertentu, padahal dia tidak jadi caleg, tidak juga aktif berpolitik. Akh, ada-ada saja...
Siang nanti akan terlihat sinyal kemenangan atau kegagalan bagi parpol dan caleg. Jauh akan lebih banyak yang gagal dari yang berhasil. Akan lebih banyak yang kecewa daripada yang tersenyum. Dan bersiap-siaplah mendengar berita-berita tragedi pemilu...seperti sebuah rumah sakit jiwa di Solo yang sudah menyiapkan kamar bagi para caleg yang stres tak terpilih.
Akhirnya, sebagai warga negara kita diberi kesempatan untuk berperan - meski secuil kecil - dalam menentukan arah perjalanan bangsa kita. Mau ikut milih, ayo...mau golput, ayo... Mau milih Parpol A, ayo...mau Parpol B, ayo.... Mau nyontreng si X, ayo...mau nyontreng si Y, ayo... Yang penting keputusan apa pun didasarkan pada pemahaman konsekuensi setiap tindakan (termasuk memilih untuk tidak berpartisipasi). Bagi orang Kristen, tidak ada haram dan halal mengenai Pemilu.
Yang perlu kita ingat adalah : Di dalam hidup ini, untuk apa pun yang kita buat dan putuskan (atau yang tidak kita buat atau tidak kita putuskan), kita akan diminta mempertanggung-jawabkannya di hadapan Tuhan.
Happy election day ! or Happy holiday !
Siapa yang kita pilih ?
Pagi-pagi ada seorang adik mengirimkan SMS; isinya menganjurkan memilih Parpol tertentu, padahal dia tidak jadi caleg, tidak juga aktif berpolitik. Akh, ada-ada saja...
Siang nanti akan terlihat sinyal kemenangan atau kegagalan bagi parpol dan caleg. Jauh akan lebih banyak yang gagal dari yang berhasil. Akan lebih banyak yang kecewa daripada yang tersenyum. Dan bersiap-siaplah mendengar berita-berita tragedi pemilu...seperti sebuah rumah sakit jiwa di Solo yang sudah menyiapkan kamar bagi para caleg yang stres tak terpilih.
Akhirnya, sebagai warga negara kita diberi kesempatan untuk berperan - meski secuil kecil - dalam menentukan arah perjalanan bangsa kita. Mau ikut milih, ayo...mau golput, ayo... Mau milih Parpol A, ayo...mau Parpol B, ayo.... Mau nyontreng si X, ayo...mau nyontreng si Y, ayo... Yang penting keputusan apa pun didasarkan pada pemahaman konsekuensi setiap tindakan (termasuk memilih untuk tidak berpartisipasi). Bagi orang Kristen, tidak ada haram dan halal mengenai Pemilu.
Yang perlu kita ingat adalah : Di dalam hidup ini, untuk apa pun yang kita buat dan putuskan (atau yang tidak kita buat atau tidak kita putuskan), kita akan diminta mempertanggung-jawabkannya di hadapan Tuhan.
Happy election day ! or Happy holiday !
08 April 2009
Terima kasih, Tuhan
Kadang-kadang aku mendapat undangan 'kebaktian pengucapan syukur' dari kerabat Kristen yang mendapat berkat khusus dari Tuhan, entah itu promosi jabatan, memasuki rumah baru, anak lulus ujian,...
Mungkin tidak ada yang keliru dalam kebaktian demikian.
Yang keliru adalah kita lupa mengucapkan syukur ketika kita mendapat berkat yang tak berkesudahan dari Tuhan : matahari yang setia bersinar, tubuh dan semua panca indranya, orang-orang yang peduli kepada kita,...
Bukankah pagi ini selayaknya aku mengatakan "Terima kasih, Tuhan." Ada banyak alasan untuk mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh. Aku hanya perlu melihat lebih dalam terhadap berkat yang tak kusadari di timbunan berkat yang diberikan Tuhan.
Mungkin tidak ada yang keliru dalam kebaktian demikian.
Yang keliru adalah kita lupa mengucapkan syukur ketika kita mendapat berkat yang tak berkesudahan dari Tuhan : matahari yang setia bersinar, tubuh dan semua panca indranya, orang-orang yang peduli kepada kita,...
Bukankah pagi ini selayaknya aku mengatakan "Terima kasih, Tuhan." Ada banyak alasan untuk mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh. Aku hanya perlu melihat lebih dalam terhadap berkat yang tak kusadari di timbunan berkat yang diberikan Tuhan.
07 April 2009
Berpura-pura
Sekarang ini ada ajaran yang mengatakan demikian : Jika kamu tidak gembira, berpura-puralah gembira, maka pada akhirnya kamu akan gembira. Jika kamu tidak kaya, berpikirlah dan berpura-puralah seperti orang kaya, maka pada akhirnya kamu akan kaya.
Dapatkah hal tersebut diterapkan pada "kasih" ? Bolehkah kita berpura-pura mengasihi, dengan harapan pada akhirnya kita akan sungguh-sungguh mengasihi ?
Rasul Paulus menulis :
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Roma 12 : 9
Dapatkah hal tersebut diterapkan pada "kasih" ? Bolehkah kita berpura-pura mengasihi, dengan harapan pada akhirnya kita akan sungguh-sungguh mengasihi ?
Rasul Paulus menulis :
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Roma 12 : 9
06 April 2009
Gembala yang baik
Persoalan tentang gembala jemaat yang kelakuannya menjadi batu sandungan sering terdengar di berbagai gereja. Sekarang tampaknya mudah sekali seseorang menjadi gembala jemaat. Semudah itu pula ia melakukan hal-hal yang mencoreng citra orang Kristen. Alih-alih menjadi pelindung bagi umatNya, ada gembala jemaat yang mengambil keuntungan dari jemaat yang dipimpinnya.
Padahal, Gembala Agung mengajarkan :
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
(Yohannes 10:11)
Padahal, Gembala Agung mengajarkan :
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
(Yohannes 10:11)
05 April 2009
Kasih dan pengampunan
Manusia dibebaskan dari hukuman yang kekal karena anugrah Allah semata. Pernyataan ini dipahami oleh sebagian besar orang Kristen sebagai suatu kebenaran.
Tetapi, Tuhan juga mengatakan bahwa dosa kita diampuni karena kita berbuat kasih.
Sebab itu Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.
(Lukas 7 : 46)
Tetapi, Tuhan juga mengatakan bahwa dosa kita diampuni karena kita berbuat kasih.
Sebab itu Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.
(Lukas 7 : 46)
04 April 2009
Tak sekedar kata
Jika seseorang engkau panggil "kekasih", bagaimanakah engkau menatapnya ? Apakah dengan mata yang penuh amarah atau tak peduli ? Ataukah dengan pandangan mesra ?
Bagaimanakah engkau memandang seorang yang engkau panggil "ibu" ? Atau "ayah" ?
Bagaimanakah engkau memperlakukan seorang yang engkau panggil "anakku" ?
Bagaimanakah engkau mematuhi seorang yang engkau panggil "tuan" ?
Bagaimanakah engkau menghormati dan meninggikan Dia yang engkau panggil "Tuhan" ?
"Mengapa kamu berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"
Lukas 6:46
Bagaimanakah engkau memandang seorang yang engkau panggil "ibu" ? Atau "ayah" ?
Bagaimanakah engkau memperlakukan seorang yang engkau panggil "anakku" ?
Bagaimanakah engkau mematuhi seorang yang engkau panggil "tuan" ?
Bagaimanakah engkau menghormati dan meninggikan Dia yang engkau panggil "Tuhan" ?
"Mengapa kamu berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?"
Lukas 6:46
03 April 2009
Potret sebuah kota dari ketinggian
Memandang ke luar jendela pesawat yang membawaku menjelang Kota Medan, aku menyaksikan bangunan di bawah yang semakin lama semakin terlihat lebih besar. Di antara bentuk-bentuk yang tertangkap mata, menyeruak menara-menara dengan salib di puncaknya.
Aku terkesima. Sungguh Tuhan mengasihi kota tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.
Aku tertegun. Apakah kami umatNya sudah saling mengasihi ?
Aku terkesima. Sungguh Tuhan mengasihi kota tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.
Aku tertegun. Apakah kami umatNya sudah saling mengasihi ?
02 April 2009
Golden Rules
Apakah yang harus kita perbuat bagi orang lain ? Seberapa besarkah kepedulian yang harus kita tunjukkan kepada mereka ?
Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu ? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu ? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu ? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
(Lukas 6 : 31-34)
Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu ? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu ? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu ? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
(Lukas 6 : 31-34)
01 April 2009
Kekuatiran
Bagaimanakah kita tidak kuatir ? Berita di koran dan televisi berulang-ulang menyebutkan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan di tengah resesi keuangan dunia. Banyak orang bunuh diri karena tekanan ekonomi.
Pembunuhan semakin marak dan keji. Penganiayaan terjadi di mana-mana.
Dekadensi moral membuat kita merasa asing dengan lingkungan di mana kita berada.
Kita kuatir tentang apa yang akan terjadi dengan kita esok. Dengan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita kasihi.
Kita bisa berupaya menghindar dari hal-hal yang kita kuatirkan, tapi tidak ada cara yang menjamin bahwa esok akan aman dan lebih baik dari hari ini.
Kita menguatirkan hidup kita.
Tetapi Tuhan mengatakan : tidak perlu kuatir.
Serahkanlah segala kekuatiaranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.
(1 Petrus 5:7)
Pembunuhan semakin marak dan keji. Penganiayaan terjadi di mana-mana.
Dekadensi moral membuat kita merasa asing dengan lingkungan di mana kita berada.
Kita kuatir tentang apa yang akan terjadi dengan kita esok. Dengan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita kasihi.
Kita bisa berupaya menghindar dari hal-hal yang kita kuatirkan, tapi tidak ada cara yang menjamin bahwa esok akan aman dan lebih baik dari hari ini.
Kita menguatirkan hidup kita.
Tetapi Tuhan mengatakan : tidak perlu kuatir.
Serahkanlah segala kekuatiaranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.
(1 Petrus 5:7)
Langganan:
Postingan (Atom)