Apakah yang perlu dilakukan oleh seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan bahagia yang kekal yang wujudnya dibayangkan sebagai suatu kehidupan yang sempurna di suatu tempat bernama surga, nirwana atau paradiso ?
Banyak orang berpikir, untuk mendapatkan hal yang baik seperti itu tentunya perlu bayaran berupa perbuatan baik. Kehidupan bahagia abadi di alam sana adalah ganjaran bagi perbuatan baik yang kita lakukan di masa hidup kita.
Ketika Seorang yang meng-klaim diriNya berasal dari Surga mampir di bumi sekitar 2000 tahun yang lalu, seorang manusia yang sangat merindukan surga datang kepadaNya dan bertanya," Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Sang Guru balik bertanya, "Apakah sebabnya engkau bertanya ke padaKu tentang apa yang baik ?" Kemudian Sang Guru menegaskan,"Hanya Satu yang baik." Implisit di dalam pernyataan Sang Guru, tidak ada manusia yang dapat dapat melakukan apapun sehingga dapat mencapai level "baik." Artinya pula, sia-sialah upaya manusia yang mencoba memperoleh hidup yang kekal, jika persyaratannya adalah melakukan perbuatan baik.
Tetapi, untunglah Sang Guru berbaik hati memberikan jawaban bagi pertanyaan manusia pencari hidup yang kekal tersebut. "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
Orang itu - dia seorang muda - memberanikan diri bertanya," Perintah yang mana?"
Dan Sang Guru menjawab," Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri."
Orang itu berkata, "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"
Kata Sang Guru - namanya Yesus - kepada orang itu, "Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Matius 19 : 16-22)
Orang Kristen zaman sekarang - benar atau salah, entahlah! - lebih pintar dari orang muda itu. Dengan bersandar pada doktrin "keselamatan dan hidup yang kekal diberikan dengan cuma-cuma melalui penebusan oleh darah Kristus di kayu salib", orang Kristen merasa tak perlu menjual hartanya - tidak juga membagikan sebagian bagi orang miskin, janda dan yatim piatu - sebelum mengikut Yesus. Artinya, orang Kristen masa kini bisa 'sah-sah saja' mengumpulkan dan membelai-belai kekayaan di dunia dan pada saat yang sama juga berhak atas kavling di Surga. Konon, ada dasar teologisnya.
Ugh... Apakah bedanya orang Kristen dengan orang dunia ini ?
Layakkah kita disebut sebagai pengikut Kristus ? Kenalkah Kristus kepada kita ketika kita menghadap pengadilanNya nanti ?
26 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.