Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar.
Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah.
Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
(Lukas 23 : 50-53)
Nama Arimatea membangkitkan ingatan akan nama suatu yayasan Kristen yang memberikan layanan pemakaman ketika mertuaku meninggal dunia beberapa tahun lalu. Arimatea menjadi berasosiasi dengan kematian.
Lukas menuliskan bahwa Arimatea adalah nama daerah asal Yusuf - sehingga sering disebut sebagai Yusuf dari Arimatea - yang menyediakan makam bagi Yesus. Yang menarik, ternyata Yusuf adalah anggota Majelis Besar, artinya dia adalah juga seorang pemimpin agama Yahudi dan - masih menurut Lukas - dia adalah seorang yang baik lagi benar. Dia tidak setuju dengan keputusan majelis (mungkin dia mengajukan dissenting opinion), tetapi akhirnya vonis majelis untuk menghukum Yesus dijatuhkan berdasarkan suara terbanyak (atau suara terkeras ?).
Akh, suara terbanyak...
Masih suasana Pemilu dan televisi masih - seperti kemarin - tak berhenti menyiarkan hasil dan ulasan perhitungan suara.
Seorang dari Arimatea 'gagal' menyampaikan kebenaran karena 'kalah suara'. Tetapi, dia melakukan apa yang masih dapat dilakukannya sebagai individu. Dia menguburkan Yesus dengan layak. Dan apa yang diperbuatnya itu dicatat dan akan selalu diingat ketika Injil diberitakan. Arimatea pun menjadi nama yang akrab di telinga orang Kristen.
11 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.