19 April 2009

Pada sebuah pesta

Hampir seribu undangan menjejali lokasi pesta. Kendaraan tamu yang demikian banyak membuat jalan di lokasi pesta harus dialihkan.

Tampaknya pesta ini mengambil thema 'traditional costume'. Sebagian besar orang berpakaian gelap polos, tetapi ada juga yang memakai batik. Sebagian wanita mengenakan selempang tradisional dan sarung warna warni yang sangat indah; sebagian lelaki mengenakan jas menggantungkan sarung yang dilipat di leher sebagai aksesori.

Iringan musiknya luar biasa. Alat musik modern dan tradisional digabung, memberikan suasana yang meriah.

Karena ini acara di open space, suara dari loud speaker yang disetel kencang, terdengar beberapa ratus meter dari lokasi pesta.

Orang-orang menari tidak henti. Berjoget mengelilingi si empunya hajatan. Cuma - ya...khas Indonesia lah - sebelum berjoget, biasanya ada ucapan puja dan puji mengenai tuan rumah, serta petatah-petitih bagi keluarganya.

Kerabat terdekat mendapat hadiah. Penyematan hadiah diiringi dengan berbagai lagu dan iringan musik, sesuai request si pemberi hadiah. Genre musik yang dimainkan pun sangat berragam. Mulai musik pop, latin, gospel, melayu, dang-dut, tradisional. Suka-suka. Keyboard memimpin dengan riang dan semarak; drum dan gendang menyambut dengan bersemangan; terompet, klarinet dan trombon sahut menyahut; suling mengiringi dengan genit. Wah...ramai deh.

Dengar,dengar...! Grup musik sedang memainkan permintaan lagu favorit.

Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Modal pergaulan boi do mangolu au
Tarlobi di penampilan, main cantik do au kawan
Sonang manang susah, happy do di au

Nang pe lima satu solot di gonting ki
Siap bela kawan berpartisipasi
Tiga tujuh lapan sattabi ma jo disi
Ada harga diri mengantisipasi

Horas… pohon pinang tumbuh sendiri
Horas… tumbuhlah menantang awan
Horas… biar kambing di kampung sendiri
Horas… tapi banteng di perantauan

Anak Medan, anak Medan, anak Medan do au kawan
Susah di donganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au kawan
Hansur demi kawan ido anggo au

(btw, kabarnya lagu ini dipopulerkan Trio Lamtama)

Lihat,lihat! Rentak dan kecipak drum dan genderang menuntun kaki-kaki berdansa seiring lagu. Setiap kata 'horas' dinyanyikan audiens ikut meneriakkan 'horas.'

Asyiknya lagi, sebagian tamu undangan dapat hadiah langsung tunai dari penyelenggara pesta. Cash, man! Lembar uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, lima ribuan dan ... ada juga seribuan diselipkan di sela-sela jemari barisan tamu khusus membentuk pohon uang yang semarak. Seperti bagi-bagi salam tempel di hari Natal.

Kopi, teh manis dan makanan ringan tradisional dihidangkan.

Lelah menari, selepas tengah hari, tamu dijamu dengan makan besar.

Habis makan...lanjut menari lagi (oh ya...juga kata sambutan, puja-puji dan petatah-petitih).

Kegembiraan terpancar di wajah banyak orang. Pada wajah para tamu. Pada wajah kerabat tuan rumah yang menjadi co-host. Pada wajah sang bintang pesta.

But, wait!

Menjelang sore hari...sebagian undangan sudah pulang. Tinggalkah kerabat dan sahabat dekat. Suasana menjadi terasa lengang.

Seorang pendeta didaulat untuk menutup acara. Pendeta membaca beberapa ayat Alkitab. Berkhotbah sedikit. Hiruk pikuk tadi digantikan oleh suasana sendu. Ada yang mulai menitikkan air mata. Bahkan beberapa orang mulai terisak-isak menyadari apa yang sebenarnya sedang berlangsung.

Setelah memberi kesempatan kepada semua yang hadir untuk menatap sang tokoh yang yang punya hajatan untuk terakhir kali, Pak Pendeta berkata," Tutup! Unang adong be na tangis"

Peti jenazah pun ditutup; mur dikencangkan.

Berakhirlah ulaon parsaurmatuaon sang empunya pesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.