16 April 2009

Parkir sembarangan

Kemarin pagi, ketika melintas di jalan depan sebuah sekolah elit, aku melihat seorang polisi berjongkok di dekat sebuah mobil. Ternyata Pak Polisi sedang mengempisi ban mobil tersebut. Dari posisinya, mobil tersebut adalah mobil pengantar murid sekolah. Jalan yang sebenarnya begitu lebar ( bisa sekitar 6 - 8 jalur) , dikuasai 3 hingga 4 jalur oleh para pengantar dan penjemput siswa. Tampaknya mobil tersebut parkir di jalur ketiga.

Parkir sembarangan adalah pemandangan yang jamak di kotaku. Menguasai jalan umum merupakan kelaziman. Aku tidak tahu izin seperti apa yang dimiliki oleh sekolah-sekolah elit sehingga mereka boleh "mengganggu ketertiban umum" dengan membuat macet jalan-jalan utama di kotaku. Atau mungkin mereka memiliki kekuasaan tertentu ? Atau berlindung di balik kekuasaan tertentu ? Atau mereka bisa membeli kekuasaan tertentu ?

Sekolah-sekolah elit mempunyai dana dan koneksi dengan pejabat negeri. Para orangtua siswa, pemilik dan pengelola yayasan di sekolah tersebut tampaknya bukanlah orang yang harus ikut aturan, apalagi harus peduli dengan konsekuensi mendirikan sekolah di tengah kota. (Aku sudah menuliskan ini berulang-ulang, dan mungkin akan terus menuliskan tiap kali merasakan sendiri dampak kesewenang-wenangan para elit dalam menguasai barang publik. Istriku sering sebal mendengarkan omelanku tentang hal ini). Mereka seakan-akan "beyond rules and regulations".

Tetapi, bukankah ada etika yang mengajarkan nurani manusia untuk peduli dengan hak sesamanya ? Bukankah mereka adalah para elit dan sedang menyiapkan calon elit Indonesia ?

Aha...pantas saja negeri kita ini tak maju-maju. Parkir sembarangan di jalan umum yang dikapling oleh sekolah swasta elit adalah potret telanjang dari para elit negeri ini. Untuk kepentingan dan kenyamanan sendiri, mereka tidak malu merampok hak-hak orang lain.

Bukankah aku pernah mengatakan bahwa di antara para elit yang tidak peduli itu juga terdapat banyak orang Kristen ? Dan yayasan Kristen ? Dan pejabat struktural organisasi Kristen ?

Pikiran basi ini, yang telah kudaur ulang ratusan kali di kepalaku, mencuat lagi ketika aku melihat seorang polisi mengempisi ban mobil yang diparkir sembarangan. Terimakasih, Pak Polisi. Tetaplah berani menegakkan aturan tanpa memandang bulu. GBU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.