Menitikkan air mata, seperti aku tulis kemarin, ketika menyanyikan lagu penyesalan dosa mungkin bukanlah hal yang aneh. Tetapi, ada kalanya aku juga menitikkan air mata ketika menaikkan pujian syukur atas berkat Tuhan. Jika ini terjadi aku terpaksa menyeka keringat di wajah agar tidak terlihat menangis, karena di gereja tempatku beribadah tidak lazim mengekspresikan emosi di depan umum.
Aku juga heran terhadap diriku ketika dalam suatu kebaktian tanpa aku sadari syair "... berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu" dari Kidung Jemaat Nomor 393 membuat bulir-bulir air menetes dari pelupuk mataku. Belakangan aku mengerti, Tuhan telah memakai lagu itu sebagai suatu pengingat bagiku tentang banyaknya berkat yang Tuhan telah berikan kepadaku, sementara aku sering merasa bahwa Tuhan sering tidak memberikan apa yang aku minta. Padahal, bukankah hidup kekal yang dianugerahkan kepadaku lebih dari apapun yang mungkin kudapatkan di dunia ini ?
1. Tuhan, betapa banyaknya berkat yang Kau beri,
teristimewa rahmatMu dan hidup abadi
2. Sanak saudara dan teman Kau b'ri kepadaku;
berkat terindah ialah : 'ku jadi anakMu
3. Setiap hari rahmatMu tiada putusnya;
hendak kupuji namaMu tetap selamanya
Ref:
T'rima kasih, ya Tuhanku, atas keselamatanKu!
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi
Kidung Jemaat 393 : 1,2,3
18 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.