30 September 2009

Engkau berhak ?

Apakah yang kau miliki yang memang merupakan hakmu ?

Apakah karena tiap hari makanan tersedia di mejamu, maka engkau berhak untuk mendapatkan hal yang sama besok ?
Apakah karena tiap hari air melimpah di dalam bakmu, maka engkau berhak untuk mendapatkan hal yang sama besok ?

Apakah karena tersedia rumah yang menaungi engkau hingga hari ini, maka engkau berhak untuk tetap memiliki tempat tinggal besok ?
Apakah karena hingga hari ini engkau memiliki pekerjaan tetap, maka engkau berhak untuk bekerja di tempat yang sama besok ?

Apakah karena engkau berayah dan beribu, beranak dan bercucu, maka engkau berhak untuk memiliki mereka besok ?

Apakah karena bisa berjalan dengan kakimu, maka engkau berhak tetap bisa menggunakan kakimu besok ?
Apakah karena hari ini matamu bisa melihat, bibirmu bisa berbicara, telingamu bisa mendengar, kulitmu bisa meraba, lidahmu bisa mengecap, maka engkau berhak bisa tetap merasakan dunia besok ?
Apakah karena hari ini jantungmu bisa memompa, ginjalmu bisa membersihkan darah, ususmu bisa mencerna, hatimu bisa menawarkan racun, paru-parumu bisa menarik dan menyaring udara,..., maka engkau berhak bisa hidup dengan kesehatan yang sempurna besok ?

Mengapakah engkau merasa berhak atas apa yang ada pada dirimu saat ini ?
Siapa yang memberimu hak itu ?
Dari manakah engkau berasal ?
Engkaukah yang menciptakan dirimu ?

29 September 2009

Perbuatan tersembunyi yang memalukan

Seringkali muncul pertanyaan : Mengapa aturan ibadah dalam Kekristenan tidak jelas ? Mengapa aturan apa yang boleh dan tidak boleh dalam Kekristenan tidak tegas ? Dapatkan Kekristenan dianggap sebagai agama jika aturan-aturannya begitu tidak jelas ?

Untuk pertanyaan demikian, marilah kita balik bertanya : apakah gunanya aturan ? Agar teratur, itu jawaban yang gamblang. Atau lebih tepatnya, agar telihat teratur.

Apakah kurang jelas aturan bagaimana mengasihi sesama ? Apakah kurang jelas aturan bagimana mengasihi Tuhan ?

Hati manusia yang licik sering menuntut kejelasan aturan, agar bisa mencari cara untuk menjalankan aturan (benar secara legalistik) sementara hatinya menyeleweng dan di balik yang terlihat, perbuatannya menyimpang dari aturan.

Orang Kristen adalah orang yang telah diperbarui hatinya. Sebelum hati diperbarui, maka segala aturan - betapapun baiknya menurut ukuran manusia - tak banyak manfaatnya. Kerakusan, kebebalan, keangkuhan dan segala nafsu dan keinginan daging akan mencari cara untuk bermain-main dengan aturan. Lihatlah apa yang terjadi dengan kejahatan korupsi dan penyuapan oleh orang-orang yang menjadi penegak hukum dan keadilan di negeri ini. Apakah mereka kurang mengerti aturan ?

Kita memerlukan aturan, tetapi aturan tidak pernah cukup.

Ketika aturan tidak ada, kita tidak merdeka berbuat sesuka hati kita karena hati kita telah diubahkan dan hanya mau melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Bahkan ketika tak ada seorang lain tahu, bahkan di tempat yang tersembunyi, kita tak mau melakukan apa yang memalukan.

Seandainya orang Kristen mau menyadari prinsip hidup Kristen ini, tentulah kita tidak akan bertemu polisi Kristen yang menerima suap, hakim Kristen yang bisa disogok, kepala sekolah Kristen yang mengutil gaji guru, pendeta Kristen yang mengorupsi uang jemaat, dokter Kristen yang memeriksa pasien secara sembarangan, majikan Kristen yang menyiksa pembantu,...


Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

( 2 Korintus 4 : 2)

28 September 2009

Orang bebal binasa oleh kelalaiannya

Berulang-ulang kita mendengar kebakaran yang disebabkan oleh 'arus pendek'. Meskipun penyebab kebakaran sudah jelas, orang-orang tetap saja sembarangan memasang instalasi listrik.

Peralatan listrik dibuat tak mengikuti standar keamanan.Steker sambung tumpuk-menumpuk dibebani berlebihan. Sambungan kawat dan kabel diberi isolasi sembarangan. Instalasi yang sudah uzur tak diganti.

Dan, kita masih akan mendengar terus kebakaran yang disebabkan oleh hubungan singkat arus listrik.

Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya,
dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya

( Amsal 1 : 32 )

27 September 2009

Menjadi Kristen

Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar mencantumkan kata Kristen pada kolom agama di dalam KTP atau dokumen lain.
Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar hadir di gereja pada setiap Minggu
Menjadi Kristen tentulah bukan sekedar ikut partangiangan rutin mingguan atau bulanan

Menjadi Kristen tentulah tak harus memiliki jabatan pelayanan di gereja
Menjadi Kristen tentulah tak harus bekerja di lembaga berlabel Kristen

Menjadi Kristen tentulah tak harus menempeli atau menggantungi atribut Kristen di leher, di mobil, di rumah, di tempat kerja

Menjadi Kristen adalah menjadi pengikut Kristus

Bagi sebagian orang, ini berarti : "Juallah barangmu, bagikan kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku"
Bagi sebagian orang, ini berarti : "Tinggalkanlah pekerjaanmu, Aku akan menjadikanmu penjala manusia"
Bagi sebagian orang, ini berarti : "Tinggalkanlah ayah ibumu, ikutlah Aku"

Menjadi Kristen berarti mengakui dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati

Menjadi Kristen berarti percaya bahwa Kristus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup dan di kolong bumi ini tak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan

Menjadi Kristen berarti memiliki iman, pengharapan dan kasih, dan percaya bahwa yang terbesar di antaranya adalah kasih

Menjadi Kristen berarti mencontoh hidup Kristus yang mengasihi manusia hingga rela memberi nyawaNya sendiri

Menjadi Kristen berarti kembali ke Sifat Allah

Allah adalah Kasih

Menjadi Kristen berarti : menempatkan kasih kepada Allah dan kepada sesama melampaui segala apa pun di bumi ini

Sudahkah kita menjadi Kristen ?

26 September 2009

Menghadiri sebuah pesta pernikahan

Aku mengenakan batik. Istriku mengenakan pakaian layak pesta Batak dan memberi hair-spray sedikit pada bagian depan rambutnya.

Hadir di gedung sebelum pengantin tiba.

Bersalaman ke sana ke mari dan menyapa para undangan yang aku kenal.

Ikut menikmati hidangan sangsang horbo, bagot, ikan mas, gado-gado.

Mengantri menyampaikan tumpak pada keluarga pengantin.

Diam-diam pulang. Meninggalkan para kerabat yang lebih tua yang akan duduk di gedung sampai sore menjelang malam pasahathon adat.

Selesailah sudah kewajiban adat yang menyita waktu dari pukul 11.30 hingga 14.30.

Siapa yang kawin ?
Aku tak kenal !

Yang jelas : ada undangan beralamatkan namaku dari dongan samarga yang asalnya dari luar pulau. Kemudian, ada telepon dari namboruku yang mengingatkan agar aku hadir untuk meramaikan undangan paranak.

Bagaimana persisnya partuturon kami dengan pengundang tak terlalu perlu. Pokoknya : satu ompung lah (kira-kira 8 - 10 generasi ke atas). Sebagai orang Batak, sebagai dongan tubu, wajib saling membantu.

Maka...aku menghadiri sebuah pesta pernikahan dimana baik pengantin maupun orang-tua pengantin tak aku kenal. Yang pasti hanyalah, mereka adalah dongan tubuku. Begitulah Batak. Entah baik, entah merepotkan...begitulah adat-istiadat keluarga besar dimana aku lahir, dibesarkan dan terikat secara sosial.

21 September 2009

Engkaukah itu ?

Engkaukah itu, yang kukasihi ?
Yang pertama kulihat ketika mataku terbuka di awal hari
Yang mengisi keheningan dengan sapaan yang merdu

Engkaukah itu, yang kukasihi ?
Yang menyemarakkan hati meneruskan hidup di bumi
Yang menopang tangan yang nyaris terkulai

Engkaulah kekasihku
Yang kupilih dan memilihku
Menjadi milikku dan pemilikku
Denganmu saja jiwaku mau berpadu

20 September 2009

Cinta mula-mula

Mula-mula aku tak tahu mengapa aku tertarik kepadamu
Mula-mula aku tak tahu mengapa aku merasa cinta kepadamu
Mula-mula aku tak mengerti mengapa aku beranikan diri mengatakan cinta kepadamu

Berlembar-lembar hari, bulan dan tahun kita lewati
Aku tak pernah sungguh-sungguh mengerti mengapa aku mencintaimu
Aku pun tak pernah mengerti bagaimana seharusnya mencintaimu

Tapi, aku telah memutuskan untuk menjalani hidup bersamamu
Entah dengan cinta atau tanpa cinta yang kumengerti

Yang kutahu, aku pernah merasakan cinta yang dalam kepadamu
Pada suatu mula-mula

Maka :
Aku akan menjalani hidup terus bersamamu
Sambil terus mengingat cintaku yang mula-mula kepadamu,
Kekasihku selama-lamanya

07 September 2009

Lagu yang mengingatkan

Lagi.

Siang tadi menghadiri pemakaman seorang dongan sahuta. Usianya baru saja melampaui kepala 4, anaknya dua : masih SD. Di rumah duka yang sederhana dengan sound system seadanya acara berlangsung.

Tak berlama-lama. Ini bukan acara adat na gok seperti parsarimatuaon atau parasaurmatuaon. Holan mangido tangiang, begitu yang berulang-ulang diucapkan. Sebelum jam 3 ambulans dan rombongan pengantar berarak menuju pemakaman.

Seorang lagi anak manusia menuju Tuhannya.

Masing-masing kita menunggu giliran. Tak melihat usia, tak melihat status. Na sa jolma ingkon mate. Lagu itu kudengar lagi hari ini. Dan mengingatkanku akan hari-hariku sendiri.

01 September 2009

Mengasihi sesama

Karena kita cukup rajin memasukkan selembar atau beberapa lembar uang kertas ke kantong kolekte untuk pekerjaan diakonia
Karena kita ikut menyumbang untuk korban bencana alam atau tetangga yang tertimpa musibah
Karena kita sesekali menyodorkan receh atau uang seribuan kepada gembel dan anak jalanan

Karena kita selalu mengusahakan hadir di tempat orang yang sedang berduka
Karena kita tak lupa membawa buah ketika mengunjungi orang-orang yang sakit

Karena kita tak pernah melayangkan tinju dan menampar pipi orang lain
Karena kita tak pernah merasa sengaja menyakiti hati orang lain

Karena kita tangkas mengutip firman 'kasihilah sesamamu manusia'

Kita pikir kita sudah hidup mengasihi sesama manusia

Padahal :
Kita sedang asyik masyuk mengasihi diri sendiri