Seringkali muncul pertanyaan : Mengapa aturan ibadah dalam Kekristenan tidak jelas ? Mengapa aturan apa yang boleh dan tidak boleh dalam Kekristenan tidak tegas ? Dapatkan Kekristenan dianggap sebagai agama jika aturan-aturannya begitu tidak jelas ?
Untuk pertanyaan demikian, marilah kita balik bertanya : apakah gunanya aturan ? Agar teratur, itu jawaban yang gamblang. Atau lebih tepatnya, agar telihat teratur.
Apakah kurang jelas aturan bagaimana mengasihi sesama ? Apakah kurang jelas aturan bagimana mengasihi Tuhan ?
Hati manusia yang licik sering menuntut kejelasan aturan, agar bisa mencari cara untuk menjalankan aturan (benar secara legalistik) sementara hatinya menyeleweng dan di balik yang terlihat, perbuatannya menyimpang dari aturan.
Orang Kristen adalah orang yang telah diperbarui hatinya. Sebelum hati diperbarui, maka segala aturan - betapapun baiknya menurut ukuran manusia - tak banyak manfaatnya. Kerakusan, kebebalan, keangkuhan dan segala nafsu dan keinginan daging akan mencari cara untuk bermain-main dengan aturan. Lihatlah apa yang terjadi dengan kejahatan korupsi dan penyuapan oleh orang-orang yang menjadi penegak hukum dan keadilan di negeri ini. Apakah mereka kurang mengerti aturan ?
Kita memerlukan aturan, tetapi aturan tidak pernah cukup.
Ketika aturan tidak ada, kita tidak merdeka berbuat sesuka hati kita karena hati kita telah diubahkan dan hanya mau melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Bahkan ketika tak ada seorang lain tahu, bahkan di tempat yang tersembunyi, kita tak mau melakukan apa yang memalukan.
Seandainya orang Kristen mau menyadari prinsip hidup Kristen ini, tentulah kita tidak akan bertemu polisi Kristen yang menerima suap, hakim Kristen yang bisa disogok, kepala sekolah Kristen yang mengutil gaji guru, pendeta Kristen yang mengorupsi uang jemaat, dokter Kristen yang memeriksa pasien secara sembarangan, majikan Kristen yang menyiksa pembantu,...
Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
( 2 Korintus 4 : 2)
29 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.