Aku mengenakan batik. Istriku mengenakan pakaian layak pesta Batak dan memberi hair-spray sedikit pada bagian depan rambutnya.
Hadir di gedung sebelum pengantin tiba.
Bersalaman ke sana ke mari dan menyapa para undangan yang aku kenal.
Ikut menikmati hidangan sangsang horbo, bagot, ikan mas, gado-gado.
Mengantri menyampaikan tumpak pada keluarga pengantin.
Diam-diam pulang. Meninggalkan para kerabat yang lebih tua yang akan duduk di gedung sampai sore menjelang malam pasahathon adat.
Selesailah sudah kewajiban adat yang menyita waktu dari pukul 11.30 hingga 14.30.
Siapa yang kawin ?
Aku tak kenal !
Yang jelas : ada undangan beralamatkan namaku dari dongan samarga yang asalnya dari luar pulau. Kemudian, ada telepon dari namboruku yang mengingatkan agar aku hadir untuk meramaikan undangan paranak.
Bagaimana persisnya partuturon kami dengan pengundang tak terlalu perlu. Pokoknya : satu ompung lah (kira-kira 8 - 10 generasi ke atas). Sebagai orang Batak, sebagai dongan tubu, wajib saling membantu.
Maka...aku menghadiri sebuah pesta pernikahan dimana baik pengantin maupun orang-tua pengantin tak aku kenal. Yang pasti hanyalah, mereka adalah dongan tubuku. Begitulah Batak. Entah baik, entah merepotkan...begitulah adat-istiadat keluarga besar dimana aku lahir, dibesarkan dan terikat secara sosial.
26 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.