Dalam doa syafaat kebaktian Minggu pagi yang aku ikuti kemarin Pak Pendeta (yang non Batak) mendoakan cukup panjang mengenai kondisi keamanan di Sumatera Utara berkaitan dengan tragedi dan anarkisme di DPRDSU. Secara khusus beliau mendoakan agar orang-orang yang terlibat kejadian tersebut sadar dari kekejian mereka, yang tidak saja mencelakakan orang lain, tetapi telah pula menjerumuskan semua orang Kristen, yang tak tahu menahu mengenai agenda para perusuh tersebut, menjadi terdakwa.
Dalam partangiangan di STM yang aku ikuti malamnya, Guru Huria yang memimpin kebaktian juga mendoakan kekondusifan kondisi Sumatera Utara. Terbersit dalam doanya rasa takut, karena mendadak seluruh orang-orang Batak Kristen menjadi pihak yang dituding sebagai dalang kejadian itu, padahal di antara Batak Kristen banyak yang tak setuju dengan rencana pendirian provinsi yang dituntut oleh para perusuh.
Sebelum tidur aku pun berdoa agar di antara halak Batak Kristen muncul pemimpin-pemimpin yang sungguh-sungguh tunduk kepada Allah, cinta kepada NKRI dan ingot di Bona Pasogitna. Cukuplah sudah para tokoh dan dalang yang menumpang label Batak dan label Kristen untuk menggolkan tujuan dan ambisi pribadinya. Tanpa soal-soal pelik seperti yang terjadi baru-baru ini pun, menjadi Batak Kristen itu sudah susah; biarlah kita orang kecil ini bisa tenang menyambung hidup dan menjalani hidup kita yang biasa-biasa saja.
Kita tahu bahwa apa pun yang dirancang manusia di muka bumi ini tak akan bisa menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan yang menjadi jargon para politisi. Karena itu, kita tak menuntut banyak dari negeri Indonesia ini; partispasi kita - idealnya - adalah sejauh yang bisa dilakukan oleh seorang warga negara seperti Yusuf di zaman Firaun dan Daniel di zaman Nebukadnesar, yaitu berkontribusi sebesar-besarnya pada keselamatan dan kemaslahatan seluruh penduduk negeri dan pemimipin yang berkuasa, bukan untuk mengejar kekuasaan bagi diri sendiri. Tetapi, sebagai orang biasa, mungkin kita tak bisa terlibat dalam mengatur negeri seperti Yusuf dan Daniel; kita diminta untuk "...tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa" (Titus 3:1).
Kita tak berilusi dapat mewujudkan negeri yang sempurna di bumi ini. Secara tegas Raja kita telah mengatakan kerajaanNya bukan dari bumi yang fana ini. Negeri impian kita ada Negeri Baka, dan di sana Tuhan Yesus telah menyediakan tempat dan kedamaian yang sempurna bagi kita.
09 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.