27 Februari 2009

Dana untuk gedung gereja

Ada kebiasaan beberapa gereja untuk menggalang dana pembangunan gereja bukan saja dari anggota jemaat gereja yang bersangkutan, tetapi juga dari 'simpatisan'. Simpatisan bisa berarti anggota gereja lain atau siapa saja - termasuk orang bukan Kristen - yang merupakan kerabat, kenalan, relasi bisnis dari panitia dan anggota gereja tersebut yang mengedarkan 'strok sumbangan.'

Kebiasaan lain dalam menggalang dana adalah melakukan acara bazar dan lelang. Atau, menyediakan spot iklan di warta jemaat.

Pada saat acara pengumpulan dana, biasanya tema khotbah (dan kadang-kadang juga pengkhotbahnya) dipilih yang bisa menggugah para pendengarnya untuk membuka dompet dan pundi-pundi.

Memanglah naif jika seseorang mengatakan dana tidak perlu bagi pembangunan gedung gereja. Akan tetapi, apakah cara pengumpulan dan cara persuasi kepada orang-orang di dalam dan di luar gereja tersebut sejalan dengan tujuan dasar pembangunan gedung gereja, yaitu pembangunan jemaat, dan tetap berdasarkan prinsip jemaat Kristen ?

Apakah hati kita dan hati Tuhan juga senang jika keramik lantai gereja adalah sumbangan seorang simpatisan yang mampir di gereja sekalian memperkenalkan nomor partai dan nomor urutnya dalam Pemilu ? Atau mimbar dibiayai oleh dana seorang kandidat bupati yang menitip pesan untuk memilihnya dalam Pilkada ? Atau kusen jendela berasal dari seorang pengusaha non-Kristen yang ingin mempertahankan hubungan baik dengan salah seorang anggota panitia ? Atau sound-system adalah dana hasil lelang dimana beberapa orang berlomba-lomba memperagakan kemurahan hati ?

Tentu banyak di antara jemaat yang mempunyai niat dan kerinduan tulus untuk berpartisipasi dalam membangun rumah Tuhan. Mereka biasa siapa saja, bahkan mulai dari anggota jemaat yang paling tidak berpunya baik dalam harta maupun relasi, hingga anggota jemaat yang serba punya. Baiklah niat tulus tersebut diarahkan pada aktivitas yang berkenan di mata Tuhan.

Mengumpulkan dana dan membangun gedung gereja (apalagi mendapatkan izinnya) bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi, yang jauh lebih penting dan harus menjadi fokus jemaat adalah upaya membangun tubuh Kristus, yaitu jemaatNya. Segala jerih payah pembangunan fisik gereja - apalagi dengan mengompromikan prinsip-prinsip jemaat Kristen - akan marisuang jika tidak ditujukan untuk membangun kehidupan rohani jemaat yang lebih kokoh, yaitu jemaat yang lebih saling memperhatikan, lebih saling peduli, dan lebih saling mendukung dalam doa dan dana (ya, dana!). Tidakkah berita tentang gereja-gereja di Eropa, Amerika dan Australia yang berubah fungsi menjadi shopping mal, tempat meditasi dan rumah ibadah agama lain mengingatkan kita bahwa gedung gereja yang megah bukanlah jaminan kehidupan rohani yang berbuah ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.