Dua hari lalu aku menghadiri parsarimatuaon seorang bapatuaku di Simalungun. Dalam acara kematian halak Batak Kristen sebelum peti jenazah ditutup ada kebaktian singkat dan diakhiri dengan doa. Sekrup peti kemudian dikencangkan lalu peti diangkat ke dalam ambulans yang membawa ke lokasi pekuburan. Ketika peti diangkat para kerabat menyanyikan lagu "Adong do Ama na di surgo i".
Pada refrainnya ada kata-kata : Lao ma au, lao mau tu na di surgo i. Ketika aku dulu di SMP ada seorang kawan sekelas yang menerjemahkan sebagian lirik tersebut ke dalam bahasa Inggeris menjadi "Let me go, let me go to na di surgo i."Kami - para siswa - biasanya menyanyikan lagu tersebut sebagai lagu canda sebelum guru bahasa Inggeris datang. (Btw, seingatku penerjemahan tersebut dilakukan oleh seorang kawan yang pintar tapi agak badung; kudengar dia sudah "ditangkap" Tuhan dan menjadi pendeta di Pulau Jawa).
Karena lagu tersebut seperti menjadi lagu wajib di acara kematian, maka setiap kali aku mendengar dan menyanyikan lagu tersebut di dalam hati aku sering ingat dengan lirik "let me go, let me go..." itu. Dalam versi campur-campur ini, lagu tersebut menjadi berarti permohonan agar orang-orang yang dicintai bersedia untuk melepaskan dia yang mati untuk pergi kepada Dia yang ada di surga.
Ketika kemarin dulu aku coba menyimak lagi kata-kata asli lagu tersebut, aku terenyuh, betapa indah pandangan halak Batak Kristen mengenai kematian. Tidak ada rasa takut, malah ada undangan untuk membesuk dan ajakan segera pulang ke Rumah Bapa. Ketika Pendeta menyudahi sakramen dan peti ditutup sempurna, Pendeta dengan tegas berkata," Unang adong be na tangis!"
Ini mengingatkan bahwa kematian tersebut harus dilihat dalam perspektif Kristen sebagai akhir perjalanan sang musafir di dunia yang fana, tetapi suatu awal perjalanan di dunia yang baka. Dan, jika kita percaya kepada Kristus dan janjiNya, dunia baka itu jauh melampaui keindahan dan sukacita yang bisa kita dapatkan di bumi ini. Jadi, mengapa harus menangis ? Siapa yang ditangisi ? Dia yang meninggal dunia atau kita yang ditinggalkan ?
Buku Ende 383 Ayat 4
Molo masihol ho muse di au
Ingot ma, na di surgo i do au
Dapothon au tu surgo i
Ai ho pe sonang do di si
Lao mau, lao ma au tu na di surgo i
Lao mau, lao ma au tu na di surgo i
Dapothon au tu surgo i
Ai ho pe sonang do disi!
13 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.