20 Februari 2009

Berdoa untuk saudara yang dalam kesusahan

Berjalan-jalan di dunia maya dan mengunjungi situs-situs yang ramai dikunjungi orang Batak, dapatlah kita tahu bagaimana pandangan sebagian orang Batak Kristen terhadap tragedi DPRDSU. Praktis seluruhnya sepakat bahwa anarkisme itu adalah tindakan yang salah, melanggar hukum, dan pelakunya harus dihukum. Tidak ada yang mencoba membenar-benarkan bahwa hal tersebut boleh terjadi atas alasan apa pun. Hal ini senada dengan apa yang terpapar di media masa cetak dan elektronik.

Tetapi, sebagian orang tampaknya kebablasan. Tudingan keras ditujukan bukan saja kepada orang yang terlibat demonstrasi, tetapi kepada seluruh orang yang terlibat dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Bola panas bergulir : ratusan orang mencorong menjadi pengamat dan pemerhati Tapanuli yang serba tahu.

Di antara komentar, debat dan celoteh yang panjang lebar, tak satupun (di situs-situs yang aku kunjungi) yang mengingatkan untuk mendoakan enampuluhan halak Batak (terlihat dari marganya) yang dijadikan tersangka dalam kasus tersebut. Begitu juga, di partangiangan yang aku hadiri dan di gereja tempat aku mengikuti kebaktian hari Minggu tanggal 15 Februari pun, sudah tidak disinggung lagi tentang mereka. Seorang kawan mengatakan di gerejanya yang berlabel Batak Kristen juga tidak ada doa bagi para tersangka itu. Seakan-akan mereka yang dijadikan tersangka tersebut bukan siapa-siapa kita.

Apakah hal itu terjadi karena sebagian warga Batak Kristen yang marah terhadap kejadian itu, ingin ikut menghakimi saudara-saudaranya dan mengatakan 'taonhon!' kepada mereka ? Ataukah, karena kita malu mengakui mereka sebagai bagian dari komunitas kita ? Ataukah, kita takut dituding sebagai simpatisan dan pendukung gerakan anarkis apabila kita mendoakan kesehatan dan keadilan bagi saudara-saudara kita ?

Kita bukan mau mengistimewakan mereka, apalagi menjadikan mereka pahlawan. Kita tak ingin menghimpun kekuatan untuk mempengaruhi proses hukum yang sedang berlangsung. Kita pun tak hendak meniru segelintir kelompok yang suka memberi label mulia pada anggotanya yang membunuh manusia dan menyebar ketakutan. Dan lagi, di antara halak Batak Kristen pun ada yang tidak sepaham dengan 'perjuangan' mereka yang sedang terjerat kasus ini; maka, memang boleh jadi tidak bersimpati dengan mereka. Tapi, mereka memang saudara kita.

Kalau pun sebagian dari mereka kelak terbukti bersalah, mereka tetaplah saudara kita; seperti si bungsu yang berdosa terhadap sorga dan bapanya, bukankah mereka yang bersalah pun kita harapkan akan kembali nanti ke tengah-tengah kita dengan suatu kesadaran baru seusai menjalani hukumannya ? Saat ini mereka sedang dirundung masalah dan kesusahan yang dalam, meskipun - menurut sebagian orang - itu masalah yang mereka undang sendiri dan risiko perbuatan mereka sendiri.

Terkait dengan kasus tersebut, doa untuk keamanan negeri dan keharmonisan antar elemen bangsa memang berulang-ulang dipanjatkan di banyak tempat. Tak bisakah gereja-gereja dan punguan-punguan Kristen Batak menyelipkan satu atau dua baris doa bagi pemeliharaan dan tuntunan Tuhan untuk mereka dan keluarga mereka ?

Sedangkan bagi musuh dan orang yang menganiaya kita, kita disuruh untuk berdoa, tak dapatkah kita mengirimkan sepotong doa bagi saudara-saudara kita ?

Hanya doa. Tak lebih. Maukah ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.