08 Februari 2009

Peduli ?

Jalan macet yang aku lalui kemarin disebabkan oleh padatnya mobil parkir dan berhenti untuk menaik-turunkan anak-anak sekolah.

Pemandangan yang lazim. Terjadi di hampir semua jalan-jalan dekat sekolah di kotaku. Layak ditoleransi, begitu konsensus orang-orang rupanya.

Tapi, tidak bagiku.

Ini adalah cermin ketidakpedulian terhadap apa yang berlangsung di sekitar kita. Sekolah dibangun di jalan utama tanpa lahan parkir yang memadai. Gedung sekolah dibuat bertingkat tinggi, murid menjadi sangat banyak, sehingga kepadatan lalu lintas menjadi luar biasa. Jalan umum dimonopoli oleh mobil pengantar/penjemput siswa. Sebagian ruas jalan dipakai sebagai lahan parkir. Maka, orang-orang yang tidak ada kait mengaitnya dengan sekolah itu, mau tidak mau, harus ikut merayap dan berdesak-desak di jalanan dekat sekolah itu.

Yang menyedihkan...beberapa sekolah yang membuat macet itu memiliki lambang salib di badge siswanya. Tidak ada rasa sungkan menyabot hak orang lain, karena, "Sekolah lain juga begitu..." "Hotel bintang lima juga begitu.." "Rumah sakit elit juga begitu..."

Sejak kapankah kita belajar membenarkan diri, karena orang lain juga melakukan apa yang kita lakukan ?

Janganlah kita bicara tentang peduli...atau tentang kebersamaan...atau tentang berkorban bagi orang lain. Semua itu omong kosong belaka, kalau untuk hal-hal yang ada dalam kendali kita saja kita tak mau tahu. Persoalannya bukanlah sekedar jalanan yang menjadi macet, tatapi hak-hak orang lain (umum) yang kita ambil demi kepentingan kita. Mengapakah kita menutup mata terhadap kesulitan yang kita buat bagi sesama kita ?

Kita berteriak-teriak lantang, meradang dan menuding-nuding setiap kali ada ada hak kita yang diambil. Dimanakah suara kita ketika kita mengambil hak orang lain ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.