Membaca berita di koran dan melihat gambar-gambar di televisi mengenai perang di negeri-negeri yang jauh, sadarlah kita betapa ribuan orang mati untuk memperjuangkan hak atas tanah dan pemerintahan atas satu teritori. Di dalam negeri pun, kisah Aceh, Papua, dan Timor Leste adalah kisah yang sejenis. Perundingan lebih sering menemukan jalan buntu karena masing-masing pihak merasa bahwa hak mereka sudah dimateraikan dalam sejarah.
Akh, siapakah kita ? Di masa hidup kita yang hanya sekitar 70 tahun, siapakah kita sehingga beroleh hak atas bumi yang telah berusia ribuan tahun (atau jutaan tahun, kata beberapa orang) ? Siapakah kita yang merasa pemilik tetap dari suatu wilayah, sementara dalam ribuan tahun berbagai suku bangsa telah menapak di tanah yang kita klaim milik kita ? Siapakah kita yang merasa tanah yang kita jejak adalah hak dari suatu golongan yang unik, sementara dalam ribuan tahun pertemuan antar berbagai suku bangsa telah menjadikan kita ini campuran dari banyak garis keturunan ? Bagaimankah kita dapat mengklaim suatu wilayah adalah khusus bagi suatu kepercayaan saja, sementara selama ribuan tahun telah berganti-ganti kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang kita ?
Perang dan pemberontakan untuk merebut wilayah tampaknya tidak akan pernah berhenti dalam sejarah umat manusia. Tetapi, sebagai orang percaya, kita tak perlu ngotot untuk mendapatkan lahan di bumi ini. Kita hanyalah pendatang di sini, singgah beberapa waktu dan akan berangkat ke negeri kita yang jauh lebih baik.
Ibrani 11:13-16
Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.
Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air
Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ
Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan kota bagi mereka.
23 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.