Beban hidup seringkali membuat kita kelelahan, bahkan ada kalanya menindih dan menghimpit hingga kita putus asa. Masalah ekonomi, konflik rumah tangga, kegundahan spiritual,...memaksa kita bertanya ulang tentang apa yang sebenarnya kita jalani dan kemana hidup kita sedang menuju. Terbersit pula pikiran liar, apakah masih ada harapan ? Kepada siapakah kita harus berharap ?
Bagaikan orang yang terkurung di dalam ruang gelap tanpa setitik pun cahaya, kita merasa tak ada lagi yang dapat diharapkan. Sudahkah saatnya untuk menyerah dan mengangkat bendera putih ?
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
Imannya tidak menjadi lemah walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Roma 4: 18-21
Dapatkah kita mengikuti teladan Abraham ? Tanpa dasar berharap, marilah tetap percaya bahwa Allah tidak akan melupakan janjiNya dan Ia berkuasa menggenapinya.
22 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.