"Telah pulang ke Rumah Bapa di Sorga"
Iklan berbingkai hitam bertajuk tulisan di atas ditambah dengan beberapa ayat Alkitab dapat kita baca hampir setiap hari di Harian Kompas.
Iklan dukacita.
Tetapi, ada juga yang memilih ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan atau menyedihkan, karena Tuhan telah mengalahkan maut dan Dia telah menyiapkan tempat bagi kita di surga. Untuk halak Batak yang saur matua, segala acara adat juga menggiring kerabat untuk memandang mati uzur dengan meninggalkan keturunan yang banyak adalah suatu peristiwa sukacita.
Kelak masing-masing kita akan menyelesaikan perjalanan kita di bumi ini. Akankah kita meninggalkan kerabat yang menangis atau yang bersukacita ? Apakah yang menjadi dasar dukacita atau sukacita mereka ?
Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu : Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
( Yohannes 14 : 28 )
31 Agustus 2009
30 Agustus 2009
Lupa
Sepulang gereja kami sekeluarga mengunjungi keluarga seorang saudara dekat. Tidak ada acara khusus, hanya silaturahmi karena setelah mereka pindah rumah, kami belum pernah mampir. Makan siang dan ngobrol-ngobrol jadi menu utama hari itu. Dilanjutkan dengan jalan-jalan ke pemancingan ikan yang memang banyak di sekitar tempat tinggal mereka.
Tak terasa hari telah sore.
Lupa bahwa hari ini pukul 16.00 ada partangiangan triwulanan punguan marga kami.
Aduh.... Harusnya periksa jadual partangiangan di kalender setiap hari Minggu.
Tak terasa hari telah sore.
Lupa bahwa hari ini pukul 16.00 ada partangiangan triwulanan punguan marga kami.
Aduh.... Harusnya periksa jadual partangiangan di kalender setiap hari Minggu.
29 Agustus 2009
Menghitung hari
Ada kalanya, kesenyapan bersuara lebih keras dari teriakan.
Ada kalanya, sedikit kata berbicara lebih banyak dari untaian kalimat.
Ada kalanya, beberapa baris Firman lebih jelas dari paparan khotbah yang berpanjang-panjang.
Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggannya adalah kesukaran; sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana.
( Mazmur 90 : 10,12 )
Ada kalanya, sedikit kata berbicara lebih banyak dari untaian kalimat.
Ada kalanya, beberapa baris Firman lebih jelas dari paparan khotbah yang berpanjang-panjang.
Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggannya adalah kesukaran; sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana.
( Mazmur 90 : 10,12 )
28 Agustus 2009
Dukacita membawa pertobatan
Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namu aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa itu menyedihkan hatimu -- kendatipun untuk seketika saja lamanya --,
namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami.
( 2 Korintus 7 : 8-9 )
namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami.
( 2 Korintus 7 : 8-9 )
27 Agustus 2009
Sukacita yang melimpah-limpah dalam penderitaan
Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan mau. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.
Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Dimana-mana kami mengalami kesusahan : dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.
Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.
Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.
( 2 Korintus 7 : 4 -7 )
Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Dimana-mana kami mengalami kesusahan : dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.
Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.
Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.
( 2 Korintus 7 : 4 -7 )
26 Agustus 2009
..., sehingga kita sehidup semati
Aku berkata demikian bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan , bahwa kau telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.
( 2 Korintus 7 : 3 )
( 2 Korintus 7 : 3 )
25 Agustus 2009
Tempat di dalam hati
Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang kami rugikan, dan tidak dari seorang pun kami cari untung.
( 2 Korintus 7 : 2)
( 2 Korintus 7 : 2)
Marilah menyucikan diri secara jasmani dan rohani
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
( 2 Korintus 7 : 1)
( 2 Korintus 7 : 1)
24 Agustus 2009
Aku menjadi Bapamu, dan kamu menjadi anak-anakKu
Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan, demikianlah firman Tuhan Yang Maha Kuasa.
( 2 Korintus 6 : 18)
( 2 Korintus 6 : 18)
23 Agustus 2009
Keluarlah dan pisahkanlah dirimu dari mereka
Sebab itu : Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
( 2 Korintus 6 : 17)
( 2 Korintus 6 : 17)
22 Agustus 2009
Menghadiri (lagi) adat parsaurmatuaon
Tubuh ringkih dan tua yang terbujur kaku di dalam peti mati itu tak terusik oleh riuhnya musik dan suara orang-orang yang berbalas kata melalui pengeras suara untuk menjalankan adat parsaurmatuaon.
Lima ratus orang lebih kerabat almarhum berkumpul di dalam rumah dan di bawah tenda yang dipasang di halaman dan di jalan depan rumah. Aku satu di antaranya sebagai dongan sahuta yang juga menurut hubungan marga juga adalah hula-hula parsiat.
Aku tak pernah berinteraksi dengan almarhum semasa hidupnya, bahkan aku sama sekali tak mengenalnya. Aku pernah dua tiga kali saling menyapa dengan salah satu menantunya.
Menggunakan waktuku hari ini untuk menghadiri acara ini dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00 yang sebagian besar digunakan untuk duduk menunggu, ada pertanyaan yang mengusik di hati : produktifkah hari-hari orang Batak ?
Lima ratus orang lebih kerabat almarhum berkumpul di dalam rumah dan di bawah tenda yang dipasang di halaman dan di jalan depan rumah. Aku satu di antaranya sebagai dongan sahuta yang juga menurut hubungan marga juga adalah hula-hula parsiat.
Aku tak pernah berinteraksi dengan almarhum semasa hidupnya, bahkan aku sama sekali tak mengenalnya. Aku pernah dua tiga kali saling menyapa dengan salah satu menantunya.
Menggunakan waktuku hari ini untuk menghadiri acara ini dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00 yang sebagian besar digunakan untuk duduk menunggu, ada pertanyaan yang mengusik di hati : produktifkah hari-hari orang Batak ?
21 Agustus 2009
Kita adalah bait dari Allah yang hidup
Apakah hubungan bait Allah dengan berhala ? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman ini : "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hiudp di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu.
( 2 Korintus 6 : 16 )
( 2 Korintus 6 : 16 )
20 Agustus 2009
Bagian bersama orang-orang percaya dan orang-orang tak percaya
Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial ? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya ?
( 2 Korintus 6 : 15 )
( 2 Korintus 6 : 15 )
19 Agustus 2009
Jangan menjadi pasanagan yang tidak seimbang
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan ? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap ?
( 2 Korintus 6 : 14 )
( 2 Korintus 6 : 14 )
18 Agustus 2009
Bukalah hati kamu selebar-lebarnya
Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu.
Maka sekarang, supaya timbal balik - aku berkata seperti kepada anak-anaku - Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!
( 2 Korintus 6 : 12,13 )
Maka sekarang, supaya timbal balik - aku berkata seperti kepada anak-anaku - Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!
( 2 Korintus 6 : 12,13 )
17 Agustus 2009
Merdeka !
Tanggal tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka !
Sekali merdeka, tetap merdeka!
......
Setiap menyanyikan lagu perjuangan, terasa di dalam diri ada semangat yang mengalir keluar. Rasa bangga menyatu dengan harapan yang tinggi.
Sebagai bagian dari Negara Indonesia sejak berdirinya republik ini, halak Batak Kristen yang tersebar di seantero tanah air ikut merasakan pahit getirnya perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu.
Inilah tanah air kita di bumi ini. Inilah negeri yang untuknya kita rela berjuang. Mari kita terlibat sepenuh hati untuk menyejahterakan seluruh rakyat di negara kita - tak pandang suku, agama, ras dan golongannya. Itulah yang dikehendaki Tuhan dilakukan anak-anakNya di kota mana dan negeri manapun di bumi ini Dia menempatkan mereka.
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka
Nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka !
Sekali merdeka, tetap merdeka!
......
Setiap menyanyikan lagu perjuangan, terasa di dalam diri ada semangat yang mengalir keluar. Rasa bangga menyatu dengan harapan yang tinggi.
Sebagai bagian dari Negara Indonesia sejak berdirinya republik ini, halak Batak Kristen yang tersebar di seantero tanah air ikut merasakan pahit getirnya perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu.
Inilah tanah air kita di bumi ini. Inilah negeri yang untuknya kita rela berjuang. Mari kita terlibat sepenuh hati untuk menyejahterakan seluruh rakyat di negara kita - tak pandang suku, agama, ras dan golongannya. Itulah yang dikehendaki Tuhan dilakukan anak-anakNya di kota mana dan negeri manapun di bumi ini Dia menempatkan mereka.
16 Agustus 2009
Mengabarkan Injil secara berterus-terang
Ketika seseorang mengabarkan Injil, maka yang menjadi obyektifnya adalah membuat orang yang diinjili menjadi pemenang. Penginjilan berhasil bukan karena seseorang menjadi Kristen atau kembali kepada iman Kristen yang pernah diyakininya, tetapi ketika orang membuka hatinya kepada kebenaran Firman Tuhan. Artinya, berita sukacita itu didengarkan dengan benar. Entah dia mengambil keputusan untuk mengikut Yesus (atau kembali kepada Yesus), itu adalah urusan masing-masing dengan Tuhan. Justru, kalau orang mengikut Yesus (atau menjadi Kristen) karena kepiawaian sang penginjil untuk mempersuasi orang lain, perlu diragukan apakah Injil itu yang sungguh memenangkan hati pendengarnya atau skill/keterampilan/pesona/kharisma/kekuasaan/kekuatan pemberitanya.
Pemberitaan Injil bukan bertujuan untuk mengoleksi dan menambah jumlah orang yang menjadi Kristen. Itu hanya efek lanjut dari penginjilan yang berhasil. Tapi, jangan dibalik : membuat orang menjadi Kristen, bukanlah bukti bahwa penginjilan berhasil. Orang bisa saja menjadi Kristen (atau tetap Kristen) karena alasan-alasan seperti pernikahan, ekonomi, sosial, pekerjaan,...dll yang tak ada kaitannya dengan pengertian yang benar mengenai Kristus dan karyaNya dalam hubungan Allah dengan manusia. Betapa menyedihkan kalau hal itu terjadi. Lebih menyedihkan lagi kalau sampai ada orang yang mengaku Kristen mengatakan melakukan penginjilan, padahal motif sebenarnya adalah ekonomi dan politik.
Penginjilan yang benar adalah semata-mata menyampaikan kabar baik dari Allah, maka tak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada orang yang takut mendengar kabar itu, apalagi menghalangi-halangi, maka tahulah kita siapa yang menjadi bapanya. Tapi, kalau ada orang Kristen membalut niat jahat dengan bungkus pekabaran injil (seperti zaman penjajahan dulu : gold, gospel and glory), kita pun tahu siapa bapa sebenarnya dari orang yang mengaku Kristen itu.
Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.
( 2 Korintus 6 : 10 )
Pemberitaan Injil bukan bertujuan untuk mengoleksi dan menambah jumlah orang yang menjadi Kristen. Itu hanya efek lanjut dari penginjilan yang berhasil. Tapi, jangan dibalik : membuat orang menjadi Kristen, bukanlah bukti bahwa penginjilan berhasil. Orang bisa saja menjadi Kristen (atau tetap Kristen) karena alasan-alasan seperti pernikahan, ekonomi, sosial, pekerjaan,...dll yang tak ada kaitannya dengan pengertian yang benar mengenai Kristus dan karyaNya dalam hubungan Allah dengan manusia. Betapa menyedihkan kalau hal itu terjadi. Lebih menyedihkan lagi kalau sampai ada orang yang mengaku Kristen mengatakan melakukan penginjilan, padahal motif sebenarnya adalah ekonomi dan politik.
Penginjilan yang benar adalah semata-mata menyampaikan kabar baik dari Allah, maka tak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada orang yang takut mendengar kabar itu, apalagi menghalangi-halangi, maka tahulah kita siapa yang menjadi bapanya. Tapi, kalau ada orang Kristen membalut niat jahat dengan bungkus pekabaran injil (seperti zaman penjajahan dulu : gold, gospel and glory), kita pun tahu siapa bapa sebenarnya dari orang yang mengaku Kristen itu.
Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.
( 2 Korintus 6 : 10 )
15 Agustus 2009
Bagaimana mengenali seseorang adalah pelayan Allah ?
Banyak orang mengaku dirinya pelayan Allah atau dikenal sebagai pelayan Allah dari jabatan formalnya di dalam suatu lembaga gereja atau pelayanan.
Ada juga yang disebut sebagai pelayan Allah dari aktivitas kerohanian dan sosial yang aktif dijalankannya.
Tetapi, ketika Rasul Paulus hendak menunjukkan dia adalah pelayan Allah, maka yang dijabarkannya bukanlah jabatan Pendeta, Sintua, Penatua, Diaken, Evangelis, Guru Huria, Guru Injil,...apalagi gelar-gelar akademis teologis (STh, MTh, MDiv, Doktor Theologia., ...) yang sama sekali tak berkaitan dengan apa yang diimani.
Seorang pelayan Allah dikenal dari karakternya dan perilakunya baik ketika mengabarkan Injil Kerajaan Allah, maupun dalam kehidupannya secara umum. Beginilah menurut Paulus :
Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat, atau ketika dipuji; ketika dianggap penipu, namun dipercayai,
sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
( 2 Korintus : 4 -10)
Ada juga yang disebut sebagai pelayan Allah dari aktivitas kerohanian dan sosial yang aktif dijalankannya.
Tetapi, ketika Rasul Paulus hendak menunjukkan dia adalah pelayan Allah, maka yang dijabarkannya bukanlah jabatan Pendeta, Sintua, Penatua, Diaken, Evangelis, Guru Huria, Guru Injil,...apalagi gelar-gelar akademis teologis (STh, MTh, MDiv, Doktor Theologia., ...) yang sama sekali tak berkaitan dengan apa yang diimani.
Seorang pelayan Allah dikenal dari karakternya dan perilakunya baik ketika mengabarkan Injil Kerajaan Allah, maupun dalam kehidupannya secara umum. Beginilah menurut Paulus :
Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,
dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;
dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela
ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat, atau ketika dipuji; ketika dianggap penipu, namun dipercayai,
sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;
sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
( 2 Korintus : 4 -10)
14 Agustus 2009
Oleh-oleh dari sebuah pesta
Ada undangan pesta adat pernikahan dongan Batak Kristen hari ini.
Aku tak hadir. Istriku mewakili.
Katanya pestanya meriah. Makanannya berlimpah.
Pulangnya isteriku membawa 'oleh-oleh' sepotong rendang dan dua tangkup susu ni horbo. Katanya, di mejanya hanya ada beberapa orang, jadi banyak sisa. Biasanya dia tidak mau membawa, tapi karena yang lain sudah mendapatkan cukup banyak dan mereka memaksa agar dia mengambil juga sebagian, maka akhirnya dia mau menyimpan sepotong rendang dan dua tepek susu horbo itu untuk dibawa pulang.
Akh, gaya Batak. Pulang pesta ada bawaannya.
Aku jadi teringat, ketika masih kecil suka memeriksa tandok bawaan ibuku sehabis pesta. Biasanya ada daging jambar atau sesuap sang-sang, kadang-kadang dapat lampet.
Tahun boleh berganti, kebiasaan tak berubah : mari kita nikmati saja apa yang baik.
Aku tak hadir. Istriku mewakili.
Katanya pestanya meriah. Makanannya berlimpah.
Pulangnya isteriku membawa 'oleh-oleh' sepotong rendang dan dua tangkup susu ni horbo. Katanya, di mejanya hanya ada beberapa orang, jadi banyak sisa. Biasanya dia tidak mau membawa, tapi karena yang lain sudah mendapatkan cukup banyak dan mereka memaksa agar dia mengambil juga sebagian, maka akhirnya dia mau menyimpan sepotong rendang dan dua tepek susu horbo itu untuk dibawa pulang.
Akh, gaya Batak. Pulang pesta ada bawaannya.
Aku jadi teringat, ketika masih kecil suka memeriksa tandok bawaan ibuku sehabis pesta. Biasanya ada daging jambar atau sesuap sang-sang, kadang-kadang dapat lampet.
Tahun boleh berganti, kebiasaan tak berubah : mari kita nikmati saja apa yang baik.
13 Agustus 2009
Beruntung dan bersyukur
Sore tadi aku menghadiri acara penghiburan di rumah seorang sahabat yang ayahnya baru meninggal dunia. Ayahnya itu seorang Kristen yang taat dan aktif di gereja.
Meninggal sebagai pengikut Kristus dan dengan keyakinan akan bertemu dengan Bapa di surga sungguh adalah akhir pertandingan yang gemilang.
Bagi anak-anaknya, lahir dan dibesarkan oleh orang-tua yang mengenal Kristus dengan baik dan memperkenalkan Kristus kepada mereka sejak mereka kanak-kanak sungguh adalah kesempatan yang luar biasa.
Tak banyak anak-anak yang lahir dan besar di dalam keluarga Kristen merasa bahwa kesempatan itu adalah anugerah yang tak diberikan oleh Allah kepada semua orang. Mereka menyia-nyiakan apa yang telah diberikan Tuhan secara istimewa bagi mereka.
Hari ini aku belajar bahwa aku pun termasuk orang yang beruntung. Puji syukur kepadaMu, ya Tuhan dan Allahku.
Meninggal sebagai pengikut Kristus dan dengan keyakinan akan bertemu dengan Bapa di surga sungguh adalah akhir pertandingan yang gemilang.
Bagi anak-anaknya, lahir dan dibesarkan oleh orang-tua yang mengenal Kristus dengan baik dan memperkenalkan Kristus kepada mereka sejak mereka kanak-kanak sungguh adalah kesempatan yang luar biasa.
Tak banyak anak-anak yang lahir dan besar di dalam keluarga Kristen merasa bahwa kesempatan itu adalah anugerah yang tak diberikan oleh Allah kepada semua orang. Mereka menyia-nyiakan apa yang telah diberikan Tuhan secara istimewa bagi mereka.
Hari ini aku belajar bahwa aku pun termasuk orang yang beruntung. Puji syukur kepadaMu, ya Tuhan dan Allahku.
12 Agustus 2009
Tidak membuat orang tersandung
Membaca surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tentang perilaku orang-orang yang memberitakan Injil dan menjadi pelayan Tuhan, aku jadi ingat lagi akan berbagai lembaga Kristen masa kini yang jauh dari apa yang diteladankan oleh Paulus dkk. Sekolah Kristen yang merampas hak pengguna jalan umum; rumah sakit Kristen yang mendiskriminasi orang miskin; situs blogger Kristen yang bertabur hujatan dan kata-kata kotor; gereja dan yayasan Kristen yang berebut jabatan dan uang.
Ketika mereka mencantumkan label Kristen dalam kegiatannya, maka mereka merasa sah untuk mengatakan aktivitas itu adalah bagian dari pelayanan.
Tapi, dalam praktik, yang terlihat adalah perilaku manusia yang mementingkan diri sendiri atau tak bisa mengendalikan diri. Bagaimana tidak orang akan tersandung melihat pelayanan ala Kristen masa kini ?
Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
( 2 Korintus 6 : 3 )
Ketika mereka mencantumkan label Kristen dalam kegiatannya, maka mereka merasa sah untuk mengatakan aktivitas itu adalah bagian dari pelayanan.
Tapi, dalam praktik, yang terlihat adalah perilaku manusia yang mementingkan diri sendiri atau tak bisa mengendalikan diri. Bagaimana tidak orang akan tersandung melihat pelayanan ala Kristen masa kini ?
Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.
( 2 Korintus 6 : 3 )
11 Agustus 2009
Hari ini adalah hari penyelamatan itu
Tuhan maha kasih. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan meyakini hal itu.
Tuhan mendengar orang-orang yang berseru kepadaNya. Tuhan berkenan ditemui oleh orang-orang yang mendekat kepadaNya. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang meminta tolong kepadaNya.
Tuhan berinisiatif untuk menyelamatkan manusia.
Tuhan mendatangi manusia.
Manusia diberi opsi untuk memilih : menyambut uluran tangan Tuhan atau menampikNya.
Keselamatan adalah kasih karunia Allah yang ditawarkan kepada manusia dengan cuma-cuma. Manusia bisa menyambut, menerima dan hidup dalam kasih karunia itu atau bisa juga menolak dan membiarkan kasih karunia itu sia-sia.
Apakah jawaban kita terhadap tawaran Allah itu ?
Rasul Paulus mengingatkan :
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
Sebab Allah berfirman : "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
( 2 Korintus 6 : 1,2 )
Tuhan mendengar orang-orang yang berseru kepadaNya. Tuhan berkenan ditemui oleh orang-orang yang mendekat kepadaNya. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang meminta tolong kepadaNya.
Tuhan berinisiatif untuk menyelamatkan manusia.
Tuhan mendatangi manusia.
Manusia diberi opsi untuk memilih : menyambut uluran tangan Tuhan atau menampikNya.
Keselamatan adalah kasih karunia Allah yang ditawarkan kepada manusia dengan cuma-cuma. Manusia bisa menyambut, menerima dan hidup dalam kasih karunia itu atau bisa juga menolak dan membiarkan kasih karunia itu sia-sia.
Apakah jawaban kita terhadap tawaran Allah itu ?
Rasul Paulus mengingatkan :
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
Sebab Allah berfirman : "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
( 2 Korintus 6 : 1,2 )
10 Agustus 2009
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa
Kalau mau mengikuti logika manusia, kehadiran Yesus Kristus di bumi untuk menebus dosa manusia adalah hal yang aneh. Orang Kristen percaya bahwa dengan kematian dan kebangkitanNya, Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Lho, bukankah Yesus adalah Tuhan, untuk apa harus ada pertunjukan kematian dan kebangkitan itu ?
Jika dikatakan Yesus menebus manusia dari iblis, bukankah Tuhan yang berkuasa dan dengan mudah Dia dapat mengambil manusia dari tangan iblis ?
Banyak penjelasan mengenai kedatangan Yesus dan pekerjaanNya di bumi. Tetapi, tidak ada satu penjelasan pun yang bisa memuaskan logika kita.
Memang, itulah soalnya. Kedatangan Yesus di bumi bukanlah mengikuti logika manusia, melainkan logika Allah.
Dalam logika Allah, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa harus dihukum dan - masih dalam logika Allah - hukum itu tak akan dibatalkan. Tetapi, Allah mau manusia bebas dari hukuman itu. Untuk itu, Seseorang mengambil alih hukuman itu dan menjalani kematian yang merupakan upah dosa. Dengan lunasnya hukuman itu dijalani, maka manusia kembali dapat hidup benar di hadapan Allah.
Allah telah membuat Seseorang yang tidak berdosa menjadi dosa dan membawaNya ke Bukit Golgota dan membiarkannya mati tergantung di kayu salib.
Seseorang telah mati menjalani hukuman kita manusia.
Dia kemudian bangkit.
Jika kita ada di dalam Dia, maka kita beroleh hak atas pembenaran oleh Allah.
Itulah logika Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
( 2 Korintus 5 : 21 )
Jika dikatakan Yesus menebus manusia dari iblis, bukankah Tuhan yang berkuasa dan dengan mudah Dia dapat mengambil manusia dari tangan iblis ?
Banyak penjelasan mengenai kedatangan Yesus dan pekerjaanNya di bumi. Tetapi, tidak ada satu penjelasan pun yang bisa memuaskan logika kita.
Memang, itulah soalnya. Kedatangan Yesus di bumi bukanlah mengikuti logika manusia, melainkan logika Allah.
Dalam logika Allah, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa harus dihukum dan - masih dalam logika Allah - hukum itu tak akan dibatalkan. Tetapi, Allah mau manusia bebas dari hukuman itu. Untuk itu, Seseorang mengambil alih hukuman itu dan menjalani kematian yang merupakan upah dosa. Dengan lunasnya hukuman itu dijalani, maka manusia kembali dapat hidup benar di hadapan Allah.
Allah telah membuat Seseorang yang tidak berdosa menjadi dosa dan membawaNya ke Bukit Golgota dan membiarkannya mati tergantung di kayu salib.
Seseorang telah mati menjalani hukuman kita manusia.
Dia kemudian bangkit.
Jika kita ada di dalam Dia, maka kita beroleh hak atas pembenaran oleh Allah.
Itulah logika Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
( 2 Korintus 5 : 21 )
09 Agustus 2009
Berilah dirimu didamaikan dengan Allah
Ketika Allah mengulurkan tanganNya untuk menolong manusia, tidak serta-merta manusia menjulurkan tangan masing-masing untuk menyambutNya.
Ada banyak alasan.
Ada yang tak percaya kepada Allah. Ada yang tak percaya kepada Kristus. Ada yang tak percaya Allah memang menawarkan pertolongan dan pendamaian melalui Kristus.
Ada yang tak mau tahu dengan Tuhan.
Ada yang tak mengerti soal hukuman kekal, penebusan, perdamaian dan hidup kekal.
Ada yang bersikukuh dengan caranya sendiri untuk mengambil hati Tuhan melalui amal dan doa-doanya.
Apapun alasannya, mereka yang tak menyambut Injil Kerajaan Allah telah menolak kesempatan berdamai itu.
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu : berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
( 2 Korintus 5 : 20 )
Ada banyak alasan.
Ada yang tak percaya kepada Allah. Ada yang tak percaya kepada Kristus. Ada yang tak percaya Allah memang menawarkan pertolongan dan pendamaian melalui Kristus.
Ada yang tak mau tahu dengan Tuhan.
Ada yang tak mengerti soal hukuman kekal, penebusan, perdamaian dan hidup kekal.
Ada yang bersikukuh dengan caranya sendiri untuk mengambil hati Tuhan melalui amal dan doa-doanya.
Apapun alasannya, mereka yang tak menyambut Injil Kerajaan Allah telah menolak kesempatan berdamai itu.
Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu : berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
( 2 Korintus 5 : 20 )
08 Agustus 2009
Berita pendamaian
Siapakah Yesus ?
Orang Kristen yang sempat mempelajari dasar-dasar iman Kristen tahu bahwa Yesus adalah juruselamat : Dia mati untuk menebus dosa manusia, sehingga manusia yang percaya kepadaNya tidak lagi binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.
Itu jelas.
Tetapi, banyak orang - khususnya yang bukan Kristen - memandang Yesus dengan cara yang berbeda. Ada yang menyebutnya sebagai guru moral. Ada yang menyebutnya nabi, setara dengan nabi-nabi lain yang datang sebelum Dia. Ada yang mendaulatnya sebagai model seorang pemimpin, manajer atau CEO yang baik. Ada yang menganggapnya tabib atau dukun. Ada yang menggunakan namaNya untuk ramuan doa dan mantera untuk penyembuhan atau mengusir hantu. Berbagai cara pandang ini menutupi hakikat keberadaan Yesus dan kedatanganNya di bumi sebagai juru damai Allah dengan manusia.
Kristus adalah Tuhan. Sesungguhnya melalui karya Kristus, Tuhan sendiri telah mengulurkan tanganNya untuk mengangkat manusia dari lembah hukuman dan menempatkannya kembali di dalam kerajaanNya. Itulah berita pendamaian. Itulah berita sukacita. Itulah Inji Kerajaan Allah.
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
( 2 Korintus 5 : 19)
Orang Kristen yang sempat mempelajari dasar-dasar iman Kristen tahu bahwa Yesus adalah juruselamat : Dia mati untuk menebus dosa manusia, sehingga manusia yang percaya kepadaNya tidak lagi binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.
Itu jelas.
Tetapi, banyak orang - khususnya yang bukan Kristen - memandang Yesus dengan cara yang berbeda. Ada yang menyebutnya sebagai guru moral. Ada yang menyebutnya nabi, setara dengan nabi-nabi lain yang datang sebelum Dia. Ada yang mendaulatnya sebagai model seorang pemimpin, manajer atau CEO yang baik. Ada yang menganggapnya tabib atau dukun. Ada yang menggunakan namaNya untuk ramuan doa dan mantera untuk penyembuhan atau mengusir hantu. Berbagai cara pandang ini menutupi hakikat keberadaan Yesus dan kedatanganNya di bumi sebagai juru damai Allah dengan manusia.
Kristus adalah Tuhan. Sesungguhnya melalui karya Kristus, Tuhan sendiri telah mengulurkan tanganNya untuk mengangkat manusia dari lembah hukuman dan menempatkannya kembali di dalam kerajaanNya. Itulah berita pendamaian. Itulah berita sukacita. Itulah Inji Kerajaan Allah.
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
( 2 Korintus 5 : 19)
07 Agustus 2009
Janji pernikahan
Hari ini aku menghadiri acara peneguhan pernikahan dan acara adatnya.
Dari lembar tata ibadah kukutip tulisan ini :
Pendeta :
Saudara berdua telah mendengarkan Firman Tuhan tentang dasar pernikahan orang Kristen. Maka sekarang saya bertanya kepada pengantin pria (wanita) : Bersediakah saudara(i) di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu dan di hadapan jemaat yang berkumpul di sini menyaksikan bahwa saudara menghendaki saudara(i) ..... ini menjadi istrimu (suamimu) ?
Bersediakah saudara (i) dengan segenap hati mengasihi dia dan berbuat dengan segala kekuatanmu, dan bersediakan saudara(i) bersama-sama dengan dia melakukan kehidupan yang kudus ?
Bersediakan saudara(i) untuk mengerti dan menanggung kelemahannya, dan maukah saudara(i) berjanji bahwa saudara(i) tidak akan menceraikan dia sampai kematian yang menceraikan kamu kelak ?
Pengantin pria (wanita) :
Ya! Saya berjanji dan bersedia! Saya percaya Tuhan menguatkan saya
Pendeta :
Jemaat yang dikasihi Tuhan Allah yang hadir di sini, marilah kita menyaksikan ikrar kedua mempelai ini.
Pengantin pria (wanita) :
Di hadapan Tuhan Yesus Kristus dan gerejaNya saya menyatakan memilihmu menjadi isteriku (suamiku), kekasih dan pendamping hidupku. Sebagai suami (isteri) yang beriman, dengan kekuatan dari Tuhan Yesus saya berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.
O....betapa indahnya. Jika saja janji ini dipegang teguh, bukankah kita akan menyaksikan rumah tangga Kristen yang harmonis hingga akhir hayat pasangan itu ?
But, wait!
Mana aturan rumah tangga Kristen seperti yang diajarkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose ? Tak perlukah lagi seorang isteri berjanji untuk tunduk kepada suami dan seorang suami berjanji untuk mengasihi isteri seperti Kristus yang rela mati untuk jemaatNya ?
Aha...! Janji yang indah, tapi tak mau taat aturan Kristen. Kesetaraan suami isteri yang ditunjukkan dengan janji yang identik sebenarnya menyimpan masalah tentang misteri keterkaitan antara kasih dan ketaatan. Bukankah hubungan Kristus dengan jemaat adalah seperti hubungan mempelai pria dengan pengantin wanitanya ? Bukankah ketundukan isteri terhadap suami dan ketundukan anak-anak terhadap orang-tua adalah aturan yang jelas tegas ? Bukankah kasih suami terhadap isteri dan ayah terhadap anak-anaknya adalah juga aturan yang jelas tegas yang membuat posisi suami dan ayah tersebut tidak mungkin disalahartikan untuk menindas ? Mengapa aturan tersebut tak lagi disebut dalam janji pernikahan ?
Akh...perlukah kita heran bahwa pernikahan di gereja sekarang ini - yang katanya menurut cara Kristen - tak lebih sakral dari janji Valentine ? Perlukah kita heran bahwa rumah tangga yang diteguhkan dalam suatu upacara pernikahan di gereja sekarang ini gampang gonjang-ganjing dan mudah dibubarkan ? Jika kita tak berniat taat kepada ajaran Tuhan, mengapakah kita menuntut kepadaNya bahwa rumah tangga kita akan langgeng dan membawa kebahagiaan ?
Dari lembar tata ibadah kukutip tulisan ini :
Pendeta :
Saudara berdua telah mendengarkan Firman Tuhan tentang dasar pernikahan orang Kristen. Maka sekarang saya bertanya kepada pengantin pria (wanita) : Bersediakah saudara(i) di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu dan di hadapan jemaat yang berkumpul di sini menyaksikan bahwa saudara menghendaki saudara(i) ..... ini menjadi istrimu (suamimu) ?
Bersediakah saudara (i) dengan segenap hati mengasihi dia dan berbuat dengan segala kekuatanmu, dan bersediakan saudara(i) bersama-sama dengan dia melakukan kehidupan yang kudus ?
Bersediakan saudara(i) untuk mengerti dan menanggung kelemahannya, dan maukah saudara(i) berjanji bahwa saudara(i) tidak akan menceraikan dia sampai kematian yang menceraikan kamu kelak ?
Pengantin pria (wanita) :
Ya! Saya berjanji dan bersedia! Saya percaya Tuhan menguatkan saya
Pendeta :
Jemaat yang dikasihi Tuhan Allah yang hadir di sini, marilah kita menyaksikan ikrar kedua mempelai ini.
Pengantin pria (wanita) :
Di hadapan Tuhan Yesus Kristus dan gerejaNya saya menyatakan memilihmu menjadi isteriku (suamiku), kekasih dan pendamping hidupku. Sebagai suami (isteri) yang beriman, dengan kekuatan dari Tuhan Yesus saya berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.
O....betapa indahnya. Jika saja janji ini dipegang teguh, bukankah kita akan menyaksikan rumah tangga Kristen yang harmonis hingga akhir hayat pasangan itu ?
But, wait!
Mana aturan rumah tangga Kristen seperti yang diajarkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose ? Tak perlukah lagi seorang isteri berjanji untuk tunduk kepada suami dan seorang suami berjanji untuk mengasihi isteri seperti Kristus yang rela mati untuk jemaatNya ?
Aha...! Janji yang indah, tapi tak mau taat aturan Kristen. Kesetaraan suami isteri yang ditunjukkan dengan janji yang identik sebenarnya menyimpan masalah tentang misteri keterkaitan antara kasih dan ketaatan. Bukankah hubungan Kristus dengan jemaat adalah seperti hubungan mempelai pria dengan pengantin wanitanya ? Bukankah ketundukan isteri terhadap suami dan ketundukan anak-anak terhadap orang-tua adalah aturan yang jelas tegas ? Bukankah kasih suami terhadap isteri dan ayah terhadap anak-anaknya adalah juga aturan yang jelas tegas yang membuat posisi suami dan ayah tersebut tidak mungkin disalahartikan untuk menindas ? Mengapa aturan tersebut tak lagi disebut dalam janji pernikahan ?
Akh...perlukah kita heran bahwa pernikahan di gereja sekarang ini - yang katanya menurut cara Kristen - tak lebih sakral dari janji Valentine ? Perlukah kita heran bahwa rumah tangga yang diteguhkan dalam suatu upacara pernikahan di gereja sekarang ini gampang gonjang-ganjing dan mudah dibubarkan ? Jika kita tak berniat taat kepada ajaran Tuhan, mengapakah kita menuntut kepadaNya bahwa rumah tangga kita akan langgeng dan membawa kebahagiaan ?
06 Agustus 2009
Pelayanan pendamaian
Pekabaran Injil adalah penyampaian berita bahwa manusia telah berdamai dengan Tuhan melalui perantaraan Yesus Kristus.
Gereja sebagai persekutuan orang percaya mengemban amanat untuk mengabarkan Injil. Para pemimpin umat di gereja menjadi ujung tombak dalam pelayanan pekabaran Injil.
Pekabaran Injil bukanlah untuk meng-Kristen-kan orang, sama seperti pendidikan bukanlah untuk mendapatkan ijazah. Inti pesan Injil adalah pendamaian antara Allah dan manusia.
Bukankah aneh sekali jika di dalam lingkungan gereja di antara umat tidak ada perdamaian, padahal kepala gereja adalah Kristus sang juru damai ? Lupakah para pemimpin umat bahwa kepada mereka dipercayakan pelayanan pendamaian ?
Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(2 Korintus 5 : 18)
Gereja sebagai persekutuan orang percaya mengemban amanat untuk mengabarkan Injil. Para pemimpin umat di gereja menjadi ujung tombak dalam pelayanan pekabaran Injil.
Pekabaran Injil bukanlah untuk meng-Kristen-kan orang, sama seperti pendidikan bukanlah untuk mendapatkan ijazah. Inti pesan Injil adalah pendamaian antara Allah dan manusia.
Bukankah aneh sekali jika di dalam lingkungan gereja di antara umat tidak ada perdamaian, padahal kepala gereja adalah Kristus sang juru damai ? Lupakah para pemimpin umat bahwa kepada mereka dipercayakan pelayanan pendamaian ?
Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(2 Korintus 5 : 18)
05 Agustus 2009
Ciptaan baru
Melihat banyaknya orang Kristen yang berkelakuan sama atau bahkan lebih buruk dari orang bukan Kristen, mau tidak mau muncul pertanyaan : apa yang membedakan Kristen dengan yang bukan Kristen ?
Kalau kita melihat tanda-tanda yang terlihat mata, kita akan kecewa. Banyak orang bukan Kristen yang hidupnya jauh lebih susila, lebih saleh, lebih beribadah, dan hal-hal baik lainnya dibandingkan orang Kristen.
Sangat menyedihkan, banyak orang yang mengaku Kristen bermegah diri bahwa hal-hal lahiriah seperti itu tidak utama dalam keselamatan, yang penting Kristen. Bah!
Kunci untuk memahami keadaan ini adalah : siapakah yang sebenarnya layak disebut pengikut Kristus ? Tentu tidak setiap orang yang menyebut diri sendiri sebagai Kristen. Juga tidak setiap orang yang memanggil Tuhan kepada Yesus.
Siapa mengikut Kristus ada di dalam Kristus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Seluruh kehidupannya sudah diubahkan. Termasuk perilakunya. Dia memang belum sempurna, bukan makhluk suci. Tetapi, perbuatan jahat mencuri, membunuh, berzinah, berbohong, merampas hak orang lain, menipu, sombong, berlaku kasar, tidak peduli,... adalah masa lalu yang sudah dilepaskannya. Bagaimana mungkin seorang mengaku sebagai pengikut Kristus can ciptaan baru jika ia masih mempertahankan dan menghidupi kelakukan jahatnya itu ?
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2 Korintus 5 : 17)
Kalau kita melihat tanda-tanda yang terlihat mata, kita akan kecewa. Banyak orang bukan Kristen yang hidupnya jauh lebih susila, lebih saleh, lebih beribadah, dan hal-hal baik lainnya dibandingkan orang Kristen.
Sangat menyedihkan, banyak orang yang mengaku Kristen bermegah diri bahwa hal-hal lahiriah seperti itu tidak utama dalam keselamatan, yang penting Kristen. Bah!
Kunci untuk memahami keadaan ini adalah : siapakah yang sebenarnya layak disebut pengikut Kristus ? Tentu tidak setiap orang yang menyebut diri sendiri sebagai Kristen. Juga tidak setiap orang yang memanggil Tuhan kepada Yesus.
Siapa mengikut Kristus ada di dalam Kristus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Seluruh kehidupannya sudah diubahkan. Termasuk perilakunya. Dia memang belum sempurna, bukan makhluk suci. Tetapi, perbuatan jahat mencuri, membunuh, berzinah, berbohong, merampas hak orang lain, menipu, sombong, berlaku kasar, tidak peduli,... adalah masa lalu yang sudah dilepaskannya. Bagaimana mungkin seorang mengaku sebagai pengikut Kristus can ciptaan baru jika ia masih mempertahankan dan menghidupi kelakukan jahatnya itu ?
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
(2 Korintus 5 : 17)
04 Agustus 2009
Ukuran untuk menilai orang
"Dia orang yang berhasil."
"Aku orang gagal."
"Anaknya orang-orang hebat."
"Hidupnya betul-betul sukses."
"Mereka bukan siapa-siapa."
Ketika kita menilai seseorang - termasuk diri sendiri - tentulah kita secara sadar atau tidak menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Yang paling mudah adalah menggunakan ukuran yang lazim digunakan oleh kebanyakan manusia lain. Karena itu, banyak orang berduyun-duyun mengidolakan seseorang yang disanjung oleh banyak orang lain. Banyak orang ingin seperti orang yang diidolakan oleh banyak orang.
Kita mengukur dengan apa yang kita pandang baik.
Padahal, sebagai orang berdosa, alat ukur kita banyak yang sudah rusak.
Lihatlah! Kita mengelu-elukan orang yang berhasil menjadi pemimpin - meskipun dia adalah seorang yang curang dan korup. Kita mengelu-elukan orang yang berhasil secara finansial - meskipun dia sering memanipulasi orang lain. Kita mengelu-elukan seorang pesohor - meskipun pola hidupnya jauh dari kesusilaan.
Lebih menyimpang lagi : kita juga mengukur Kristus menurut ukuran manusia. Kita membandingkannya dengan nabi-nabi dan pengajar-pengajar dunia ini.
Bukankah seharusnya kita kembali kepada ukuran yang baku, yaitu ukuran Sang Pencipta Alam Semesta ? Siapakah orang itu di mata Tuhan ? Siapakah aku di mata Tuhan ? Siapa Kristus menurut Tuhan ?
Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.
( 2 Korintus 5 : 16)
"Aku orang gagal."
"Anaknya orang-orang hebat."
"Hidupnya betul-betul sukses."
"Mereka bukan siapa-siapa."
Ketika kita menilai seseorang - termasuk diri sendiri - tentulah kita secara sadar atau tidak menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Yang paling mudah adalah menggunakan ukuran yang lazim digunakan oleh kebanyakan manusia lain. Karena itu, banyak orang berduyun-duyun mengidolakan seseorang yang disanjung oleh banyak orang lain. Banyak orang ingin seperti orang yang diidolakan oleh banyak orang.
Kita mengukur dengan apa yang kita pandang baik.
Padahal, sebagai orang berdosa, alat ukur kita banyak yang sudah rusak.
Lihatlah! Kita mengelu-elukan orang yang berhasil menjadi pemimpin - meskipun dia adalah seorang yang curang dan korup. Kita mengelu-elukan orang yang berhasil secara finansial - meskipun dia sering memanipulasi orang lain. Kita mengelu-elukan seorang pesohor - meskipun pola hidupnya jauh dari kesusilaan.
Lebih menyimpang lagi : kita juga mengukur Kristus menurut ukuran manusia. Kita membandingkannya dengan nabi-nabi dan pengajar-pengajar dunia ini.
Bukankah seharusnya kita kembali kepada ukuran yang baku, yaitu ukuran Sang Pencipta Alam Semesta ? Siapakah orang itu di mata Tuhan ? Siapakah aku di mata Tuhan ? Siapa Kristus menurut Tuhan ?
Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.
( 2 Korintus 5 : 16)
03 Agustus 2009
Mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri
Untuk apakah manusia hidup ? tanyaku kepada isteriku sehabis mengantar anakku ke sekolah.
Bayangkan, ujarku, jika pola ini kita jalani bertahun-tahun yang akan datang. Aku akan mengantar ke sekolah ribuan kali. Persis seperti yang dahulu dilakukan oleh ayahku untuk kami anak-anaknya. Sekarang bapak sudah tidak ada; aku mengulangi siklus yang dilakukannya.
Soal rutinitas mengantar sekolah hanyalah contoh kecil dari hidup cuma sekedar pengulangan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.
Skenario yang lazim : Orang dilahirkan, mengejar pendidikan tinggi, menggapai karir yang sukses, mencapai tingkat penghasilan yang super...untuk apa ? Untuk hidup. Lalu, hidup untuk apa ?
Bagaimana jika : sekolah kandas, karir mentok bahkan terkapar oleh PHK, hidup dari mengais rejeki... bagaimana mau bicara tentang menikmati hidup ? Lalu, hidup untuk apa ?
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
( 2 Korintus 5 : 15)
Bayangkan, ujarku, jika pola ini kita jalani bertahun-tahun yang akan datang. Aku akan mengantar ke sekolah ribuan kali. Persis seperti yang dahulu dilakukan oleh ayahku untuk kami anak-anaknya. Sekarang bapak sudah tidak ada; aku mengulangi siklus yang dilakukannya.
Soal rutinitas mengantar sekolah hanyalah contoh kecil dari hidup cuma sekedar pengulangan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita.
Skenario yang lazim : Orang dilahirkan, mengejar pendidikan tinggi, menggapai karir yang sukses, mencapai tingkat penghasilan yang super...untuk apa ? Untuk hidup. Lalu, hidup untuk apa ?
Bagaimana jika : sekolah kandas, karir mentok bahkan terkapar oleh PHK, hidup dari mengais rejeki... bagaimana mau bicara tentang menikmati hidup ? Lalu, hidup untuk apa ?
Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
( 2 Korintus 5 : 15)
02 Agustus 2009
Butuh uluran tangan
Di warta jemaat di gereja tempat aku mengikuti kebaktian hari ini tertulis :
Penderita HIV/AIDS bernama SM (3 thn), JM (2 thn) dan Ibu br. S sedang dirawat di RS Dr. Pringadi Medan membutuhkan uluran tangan / bantuan biaya pengobatan. Bagi anggota jemaat yang ingin membantu .....
Bagaimanakah hati kita tidak terguncang mendengar bocah-bocah yang harus menanggung penyakit yang mematikan ini ? Sebagai manusia biasa, tak dapat tidak, terbersit pertanyaan : salah siapa ? Lalu kita mengingat perkataan Yesus tentang orang buta yang disembuhkanNya, bahwa orang yang menderita sakit penyakit tidak selalu disebabkan oleh dosanya atau dosa orang-tuanya, tetapi melalui keadaannya itu pekerjaan Allah akan dinyatakan. Dalam ketidakmengertian dan kegundahan kita tersungkur di hadapan Allah dan berucap : Jadilah kehendakMu.
Jika kehendakNya adalah agar dalam setiap peristiwa nama Tuhan dimuliakan, adakah dalam kejadiaan ini kita turut melakukan sesuatu yang membuat nama Tuhan dimuliakan ?
Penderita HIV/AIDS bernama SM (3 thn), JM (2 thn) dan Ibu br. S sedang dirawat di RS Dr. Pringadi Medan membutuhkan uluran tangan / bantuan biaya pengobatan. Bagi anggota jemaat yang ingin membantu .....
Bagaimanakah hati kita tidak terguncang mendengar bocah-bocah yang harus menanggung penyakit yang mematikan ini ? Sebagai manusia biasa, tak dapat tidak, terbersit pertanyaan : salah siapa ? Lalu kita mengingat perkataan Yesus tentang orang buta yang disembuhkanNya, bahwa orang yang menderita sakit penyakit tidak selalu disebabkan oleh dosanya atau dosa orang-tuanya, tetapi melalui keadaannya itu pekerjaan Allah akan dinyatakan. Dalam ketidakmengertian dan kegundahan kita tersungkur di hadapan Allah dan berucap : Jadilah kehendakMu.
Jika kehendakNya adalah agar dalam setiap peristiwa nama Tuhan dimuliakan, adakah dalam kejadiaan ini kita turut melakukan sesuatu yang membuat nama Tuhan dimuliakan ?
01 Agustus 2009
Janji pra-nikah
Siang tadi aku mengikuti acara partumpolon seorang boru Batak dengan pemuda non-Batak yang telah di'naturalisasi' ke lingkungan Batak. Acaranya di gereja Batak, dengan bahasa pengantar yang bercampur-campur antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak.
Ikrar pra-nikah disampaikan kedua calon mempelai dalam bahasa Indonesia.
Dengan ini kami berjanji : Dengan hati yang tulus, kami telah sepakat untuk membangun rumah tangga yang baru dalam aturan Gereja HKBP. Dalam hal ini juga, kami berjanji : kami akan saling mengasihi, saling melengkapi di dalam kekurangan masing-masing. Kami akan setia dan taat akan aturan gereja. Dan kami juga nyatakan, bahwa keanggotaan kami di gereja adalah jelas. Oleh karena itu, bila ada sesuatu yang menjadi kendala akan pernikahan kami, kami akan bersedia lebih dahulu untuk menyelesaikannya.
Ikrar yang indah. Semoga sungguh-sungguh dipahami dan dipatuhi.
Ikrar pra-nikah disampaikan kedua calon mempelai dalam bahasa Indonesia.
Dengan ini kami berjanji : Dengan hati yang tulus, kami telah sepakat untuk membangun rumah tangga yang baru dalam aturan Gereja HKBP. Dalam hal ini juga, kami berjanji : kami akan saling mengasihi, saling melengkapi di dalam kekurangan masing-masing. Kami akan setia dan taat akan aturan gereja. Dan kami juga nyatakan, bahwa keanggotaan kami di gereja adalah jelas. Oleh karena itu, bila ada sesuatu yang menjadi kendala akan pernikahan kami, kami akan bersedia lebih dahulu untuk menyelesaikannya.
Ikrar yang indah. Semoga sungguh-sungguh dipahami dan dipatuhi.
Langganan:
Komentar (Atom)