16 Agustus 2009

Mengabarkan Injil secara berterus-terang

Ketika seseorang mengabarkan Injil, maka yang menjadi obyektifnya adalah membuat orang yang diinjili menjadi pemenang. Penginjilan berhasil bukan karena seseorang menjadi Kristen atau kembali kepada iman Kristen yang pernah diyakininya, tetapi ketika orang membuka hatinya kepada kebenaran Firman Tuhan. Artinya, berita sukacita itu didengarkan dengan benar. Entah dia mengambil keputusan untuk mengikut Yesus (atau kembali kepada Yesus), itu adalah urusan masing-masing dengan Tuhan. Justru, kalau orang mengikut Yesus (atau menjadi Kristen) karena kepiawaian sang penginjil untuk mempersuasi orang lain, perlu diragukan apakah Injil itu yang sungguh memenangkan hati pendengarnya atau skill/keterampilan/pesona/kharisma/kekuasaan/kekuatan pemberitanya.

Pemberitaan Injil bukan bertujuan untuk mengoleksi dan menambah jumlah orang yang menjadi Kristen. Itu hanya efek lanjut dari penginjilan yang berhasil. Tapi, jangan dibalik : membuat orang menjadi Kristen, bukanlah bukti bahwa penginjilan berhasil. Orang bisa saja menjadi Kristen (atau tetap Kristen) karena alasan-alasan seperti pernikahan, ekonomi, sosial, pekerjaan,...dll yang tak ada kaitannya dengan pengertian yang benar mengenai Kristus dan karyaNya dalam hubungan Allah dengan manusia. Betapa menyedihkan kalau hal itu terjadi. Lebih menyedihkan lagi kalau sampai ada orang yang mengaku Kristen mengatakan melakukan penginjilan, padahal motif sebenarnya adalah ekonomi dan politik.

Penginjilan yang benar adalah semata-mata menyampaikan kabar baik dari Allah, maka tak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada orang yang takut mendengar kabar itu, apalagi menghalangi-halangi, maka tahulah kita siapa yang menjadi bapanya. Tapi, kalau ada orang Kristen membalut niat jahat dengan bungkus pekabaran injil (seperti zaman penjajahan dulu : gold, gospel and glory), kita pun tahu siapa bapa sebenarnya dari orang yang mengaku Kristen itu.

Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.

( 2 Korintus 6 : 10 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.