Hari ini aku menghadiri acara peneguhan pernikahan dan acara adatnya.
Dari lembar tata ibadah kukutip tulisan ini :
Pendeta :
Saudara berdua telah mendengarkan Firman Tuhan tentang dasar pernikahan orang Kristen. Maka sekarang saya bertanya kepada pengantin pria (wanita) : Bersediakah saudara(i) di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu dan di hadapan jemaat yang berkumpul di sini menyaksikan bahwa saudara menghendaki saudara(i) ..... ini menjadi istrimu (suamimu) ?
Bersediakah saudara (i) dengan segenap hati mengasihi dia dan berbuat dengan segala kekuatanmu, dan bersediakan saudara(i) bersama-sama dengan dia melakukan kehidupan yang kudus ?
Bersediakan saudara(i) untuk mengerti dan menanggung kelemahannya, dan maukah saudara(i) berjanji bahwa saudara(i) tidak akan menceraikan dia sampai kematian yang menceraikan kamu kelak ?
Pengantin pria (wanita) :
Ya! Saya berjanji dan bersedia! Saya percaya Tuhan menguatkan saya
Pendeta :
Jemaat yang dikasihi Tuhan Allah yang hadir di sini, marilah kita menyaksikan ikrar kedua mempelai ini.
Pengantin pria (wanita) :
Di hadapan Tuhan Yesus Kristus dan gerejaNya saya menyatakan memilihmu menjadi isteriku (suamiku), kekasih dan pendamping hidupku. Sebagai suami (isteri) yang beriman, dengan kekuatan dari Tuhan Yesus saya berjanji akan memelihara hidup kudus denganmu, akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia sampai kematian memisahkan kita.
O....betapa indahnya. Jika saja janji ini dipegang teguh, bukankah kita akan menyaksikan rumah tangga Kristen yang harmonis hingga akhir hayat pasangan itu ?
But, wait!
Mana aturan rumah tangga Kristen seperti yang diajarkan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose ? Tak perlukah lagi seorang isteri berjanji untuk tunduk kepada suami dan seorang suami berjanji untuk mengasihi isteri seperti Kristus yang rela mati untuk jemaatNya ?
Aha...! Janji yang indah, tapi tak mau taat aturan Kristen. Kesetaraan suami isteri yang ditunjukkan dengan janji yang identik sebenarnya menyimpan masalah tentang misteri keterkaitan antara kasih dan ketaatan. Bukankah hubungan Kristus dengan jemaat adalah seperti hubungan mempelai pria dengan pengantin wanitanya ? Bukankah ketundukan isteri terhadap suami dan ketundukan anak-anak terhadap orang-tua adalah aturan yang jelas tegas ? Bukankah kasih suami terhadap isteri dan ayah terhadap anak-anaknya adalah juga aturan yang jelas tegas yang membuat posisi suami dan ayah tersebut tidak mungkin disalahartikan untuk menindas ? Mengapa aturan tersebut tak lagi disebut dalam janji pernikahan ?
Akh...perlukah kita heran bahwa pernikahan di gereja sekarang ini - yang katanya menurut cara Kristen - tak lebih sakral dari janji Valentine ? Perlukah kita heran bahwa rumah tangga yang diteguhkan dalam suatu upacara pernikahan di gereja sekarang ini gampang gonjang-ganjing dan mudah dibubarkan ? Jika kita tak berniat taat kepada ajaran Tuhan, mengapakah kita menuntut kepadaNya bahwa rumah tangga kita akan langgeng dan membawa kebahagiaan ?
07 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.