"Dia orang yang berhasil."
"Aku orang gagal."
"Anaknya orang-orang hebat."
"Hidupnya betul-betul sukses."
"Mereka bukan siapa-siapa."
Ketika kita menilai seseorang - termasuk diri sendiri - tentulah kita secara sadar atau tidak menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Yang paling mudah adalah menggunakan ukuran yang lazim digunakan oleh kebanyakan manusia lain. Karena itu, banyak orang berduyun-duyun mengidolakan seseorang yang disanjung oleh banyak orang lain. Banyak orang ingin seperti orang yang diidolakan oleh banyak orang.
Kita mengukur dengan apa yang kita pandang baik.
Padahal, sebagai orang berdosa, alat ukur kita banyak yang sudah rusak.
Lihatlah! Kita mengelu-elukan orang yang berhasil menjadi pemimpin - meskipun dia adalah seorang yang curang dan korup. Kita mengelu-elukan orang yang berhasil secara finansial - meskipun dia sering memanipulasi orang lain. Kita mengelu-elukan seorang pesohor - meskipun pola hidupnya jauh dari kesusilaan.
Lebih menyimpang lagi : kita juga mengukur Kristus menurut ukuran manusia. Kita membandingkannya dengan nabi-nabi dan pengajar-pengajar dunia ini.
Bukankah seharusnya kita kembali kepada ukuran yang baku, yaitu ukuran Sang Pencipta Alam Semesta ? Siapakah orang itu di mata Tuhan ? Siapakah aku di mata Tuhan ? Siapa Kristus menurut Tuhan ?
Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.
( 2 Korintus 5 : 16)
04 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.