Hari ini hari pertama sekolah : ada pembagian kelas, karena itu aku ikut mengantar anakku ke sekolah. Di papan pengumuman ditempelkan lembar-lembar berisi daftar nama siswa untuk setiap kelas.
Di salah satu kolom ada entry yang hampir semua berisi "KA", dan satu atau dua berisi "A" untuk setiap kelas. Anakku juga mendapat "A". Karena tidak ada judul kolom, aku coba menebak dengan menelusuri nama-nama yang mendapatkan A. Ha! Ternyata segelintir nama Batak semua mendapatkan "A", dan...ya juga nama Nias. Apa istimewanya Batak dan Nias ini ? pikirku.
Kebetulan ada guru yang berdiri di dekat papan pengumuman. Maka aku bertanya. Penjelasannya : "A" = asli Indonesia, "KA" = keturunan asing. Setahuku di sekolah itu tidak pernah terlihat siswa asing, seperti bule. Yang paling banyak orang Indonesia yang bermata agak sipit, berkulit kuning cerah, berrambut lurus dan berbahasa Hokkien. Tentu merekalah yang disebut sebagai keturunan asing itu.
Astaga : mengapakah di sekolah Kristen kita masih membeda-bedakan suku bangsa ? Bukankah dalam Yesus kita bersaudara ?
Akh, siapakah yang bersikap dikriminatif ? Tak dapatkah kita melebur sebagai satu bangsa dan mengabaikan asal muasal kita jika tidak benar-benar relevan dengan kegiatan yang sedang dijalankan ?
Betapa omong-kosongnya orang-orang Kristen yang bernyanyi "Keluarga Allah" yang sebagian liriknya mengatakan "...kau saudaraku, kau saudariku, tiada yang dapat memisahkan kita."
Yesus mungkin cinta segala bangsa : kuning, putih dan merah semua dicinta Tuhan.
Tetapi, tampaknya orang Kristen tidak begitu cinta sesama Kristen yang berasal dari suku bangsa lain. Kita masih menginginkan perbedaan ketika perbedaan tidak diperlukan.
Sebagai orang Batak, aku memang berhak menyandang atribut "asli Indonesia" dan anakku pun berhak atas identitas itu. Tapi apakah status itu sesuatu yang perlu ditinggikan atau direndahkan atau dipersoalkan di lingkungan sekolah Kristen ?
13 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.