Sepulang kebaktian di gereja aku menjemput ibu di rumahnya dan bersama-sama pergi menghadiri acara pemakaman seorang kerabat.
Masih relatif muda. Anak-anaknya belum ada yang menikah.
"Mate timpul", kata para kerabat yang mandok hata.
Aku tercenung.
Usia almarhum hanya terpaut enam tahun denganku.
"Enam tahun lagi...", bisikku kepada isteriku.
Dia tersenyum kecut.
Ketika salah satu rombongan pelayat mengajak menyanyikan lagu "Nasa jolma ingkon mate", aku tersadar : Tak perlu menunggu enam tahun lagi. Setiap saat aku bisa mati.
Kematian begitu pasti.
Maka hidup harus dijalani dengan sungguh hati.
12 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.