Tadi aku mengikuti acara mengangkat (mangain) seorang pria bukan Batak menjadi anak di dalam sebuah keluarga Batak. Pria tersebut akan menikah dengan boru Batak, dan karena - orang tua calon pengantin waninta - ingin pernikahan dilangsungkan secara adat Batak, maka perlulah calon pengantin pria dirajahon dulu menjadi Batak.
Ketika memberikan dengke, indahan dan aek saur, pihak tulang menyampaikan kata-kata kepada pria yang diain tersebut yang isinya seperti ini : "Kamu sekarang sudah sah menjadi anggota keluarga ini. Artinya kamu terikat pada ada istiadat Batak. Kami, marga ...., adalah tulangmu, karena ibu pengayommu ini adalah ito atau adik kami. Di mana pun kamu bertemu dengan orang-orang dari marga ... , sapalah mereka dengan hormat karena di dalam adat Batak, tulang atau hula-hula adalah posisi yang tertinggi. Bagi orang Batak, hula-hula adalah Tuhan yang kelihatan."
Aku tidak tahu apakah anggota keluarga baru tersebut bisa menangkap apa yang disampaikan oleh sang tulang. Tampaknya itulah kuliah perdana pengantar budaya Batak 101 baginya. Welcome to the Batak world, Lae!
30 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.