31 Desember 2008

Naung moru do muse sataon

Kalender yang tergantujng di dinding selama setahun ini akan segera dibuang.
Buku agenda akan diganti.

Betul kata lagu itu ... naung moru do muse sataon

Kalau menghitung usia dengan mengurangkan tahun sekarang dengan tahun lahir, maka sebentar lagi satu tahun akan segera ditambahkan.

... huhut lam sude bohal hi

Pas pergantian tahun aku dan keluarga akan mengadakan kebaktian di rumah. Sedikit introspeksi.

... beha do ahu nasailaon
... ture do pangalo hi ?

Dan doa.

Dan saling mengucapkan selamat kepada anggota keluarga.

30 Desember 2008

Wajib Beragama

Bahwa setiap warga negara Indonesia haruslah menganut agama atau suatu kepercayaan tertentu yang mengakui Tuhan Yang Esa sudah merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar. Itu amanah Dasar Negara dan UUD. Maka di Indonesia kita tak akan menemukan satu orangpun yang tak percaya kepada Tuhan (artinya kolom agama di Kartu Keluarga atau KTP tidak boleh dikosongkan).

Sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, aku tentu tak akan bisa sepaham dengan orang-orang yang tidak percaya kepadaNya. Tetapi, apakah Tuhan menginginkan negara menggiring orang-orang ke kubu "orang percaya" dengan dalih itu merupakan kewajiban warganegara ? Bukankah percaya atau tidak merupakan soal individu ?

Nah, "akibat" kewajiban ini maka banyaklah orang-orang yang menganut berbagai agama atau kepercayaan bukan karena memilih agama/kepercayaan itu, tetapi hanya sekedar meneruskan tradisi komunitasnya. Jarang sekali orang-orang memilih secara sengaja apa yang diimaninya. Probelmnya semakin sulit karena soal iman juga menjadi soal sosial. Seseorang yang meninggalkan kepercayaan lingkungan keluarga besarnya akan menghadapi stigma "pengucilan".

Bagaimana dengan hita halak Batak Kristen ? Tampaknya, sama saja. Kita pun menganggap bahwa setiap anak yang dilahirkan di keluarga Kristen wajib menjadi Kristen...dan sampai mati tetap Kristen. Jika ada yang meninggalkan agama Kristen, kita pun tak beda dengan yang lain menuding bahwa hal tersebut dilakukan karena pernikahan, demi karir,... Padahal, apa pun alasannya, soal berubah kepercayaan itu terserah masing-masing orang. Yang penting bukan karena ditipu atau dipaksa.

Menjadi Kristen memanglah mudah. Tak banyak syarat. Tak banyak kewajiban. Meninggalkannya pun mudah. Tak ada ancaman mati untuk orang yang murtad.

Sebaliknya, menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Setiap muridNya diminta untuk memikul salib. Setiap orang diminta untuk taat dan setia sampai akhir. Bahkan, dituntut untuk meniru teladan Kristus yang taat sampai mati di kayu salib.

Mengikut Kristus berarti mengasihi orang lain, bahkan musuh yang menganiaya kita, ketika setiap sel tubuh kita dipenuhi oleh amarah, kebencian dan dendam. Mengikut Kristus berarti menyangkal keinginan tubuh, merendahkan hati dan diri, mendahulukan orang lain. Sangat...sangat sulit. Cobalah sendiri. Menurutku, jauh lebih sulit dari kewajiban ritual yang sifatnya fisikal. Tapi, upah mengikut Kristus sungguh nyata dan besar : tempat di rumah BapaNya di surga NANTI. Juga : damai sejahtera di hati SAAT INI.

Menjadi warganegara Indonesia wajib beragama. Menjadi Kristen adalah salah satunya. Di antara warganegara Indonesia, suku bangsa terbesar yang menjadi Kristen adalah suku bangsa Batak. Puji Tuhan. Doaku : halak Batak bukan sekedar Kristen sebagai kewajiban warga negara, tetapi sebagai pengikut Kristus "na mandapot parjambaran di harajaon ni Debata."

29 Desember 2008

Penghinaan Agama

Di Seram Maluku terjadi bentrokan berbau SARA karena ada seorang guru menghina agama.
Akh, cerita lama berulang lagi. Dan akan terus berulang.

Sungguh tak masuk diakalku bagaimana orang berkelahi karena membela agama dan Tuhan. Tapi, lebih tak masuk di akal lagi bagaimana seorang penganut agama tertentu menghina agama dan nabi agama lain. Masuk akal atau tidak, cobalah masuk forum diskusi di internet...astaga... berjibun thread yang berisi maki memaki, hina menghina, fitnah memfitnah antar agama. Menyebalkan. Dan menjijikkan.

Sebagai orang Kristen, hal yang paling tidak masuk akal adalah ketika orang Kristen pun melakukan hal yang sama. Memang inilah ironinya pe-label-an : seseorang yang ber KTP Kristen dengan mudah mengambil posisi Kristen ketika menjelek-jelekkan agama lain. Padahal, demi Tuhan yang hidup, tak sekalipun Kristus mengajarkan penghinaan terhadap agama lain. Bahkan di awal kekristenan, umat masih beribadah di sinagog.

Aku bertanya-tanya : Apalah untungnya menghina agama orang lain atau mengangkat 'kejelekan' pimpinanan atau umat agama lain ? Setahuku, tak sedikitpun kita akan dibenarkan di depan Allah karena kita bisa menunjukkan agama lain 'tidak benar'. Kita dibenarkan hanya karena iman : pengakuan bahwa kita terlahir dan telah berdosa, tetapi Kristus telah menebus kita dan kita berupaya hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.

Setiap kali aku mendengar seseorang Kristen (termasuk pemimpin gereja ) berkata jelek tentang agama atau umat agama lain, aku selalu khawatir bahwa dia tidak punya ide yang baik tentang Kristus untuk diberitakan. Para pemberita Injil sama sekali tidak mengurusi baik buruknya kepercayaan lain; mereka hanya memberitakan tentang "dewa yang tidak mereka kenal", entah orang lain tersebut mau percaya atau tidak, itu adalah pilihannya sendiri dan misteri kehendak Allah.

Aku percaya bahwa hubungan sosial antar manusia dapat berjalan dengan baik di antara orang-orang yang berbeda iman, tanpa perlu melakukan "dialog iman" ataupun "perbandingan agama". Suatu agama yang mencari Tuhan tidak akan menohok dan memberangus agama lain secara "head-to-head"; kebenaran suatu agama akan dibukakan kepada penganut agama lain melalui "buah" yang dihasilkan dari kepercayaan itu, bukan dari pembuktian, iming-iming apalagi pemaksaan. Tapi, sejujurnya aku merasa bahwa kebanyakan organisasi agama lebih peduli dengan "jumlah penganut" daripada membawakan kabar baik, sukacita, pembebasan dan kesejahteraan bagi umatnya. Dan...sebagian besar umat / jemaat pun tak pernah sungguh-sungguh mencoba memahami apa yang dipercayainya. Agama lebih banyak sebagai label.

Aku ingat ada lagu koor yang isinya antara lain :
.... kutahu Yang Kupercayai
dan aku yakin 'kan kuasaNya
menjaga petaruhanku
hingga akhir.....

Andaikan setiap orang tahu apa yang dipercayainya dan menjalani hidup sesuai kepercayaannya itu, bukan usil tentang apa yang dipercayai oleh orang lain.

28 Desember 2008

Pindah Gereja

Masih suasana Natal. Ya, namanya juga cerita-cerita di antara orang dekat. Apa pun diceritain.
Sampai juga cerita ke tentang perbandingan antar gereja. Biasalah. Ada yang mengeluh tentang suasana gerejanya yang tidak 'kondusif'. Atau kurang greget.
Ada yang mengomentari bahwa di gerejanya suasananya 'asyik punya'. Mulai dari acaranya sampai perhatian yang diberikan oleh para pekerja gereja (maksudnya pendeta, majelis dsbnya) kepada anggota (maksudnya jemaat). Ujung-ujungnya, "silahkan datang berkunjung ke gereja kami". Atau "kami lebih diberkati setelah pindah gereja".

Tampaknya memang agak trend sekarang ini ikut kebaktian di gereja yang 'lebih hidup'. Memang antong, toho do...beberapa gereja lebih semarak dari gereja lama (entah apa maksudnya ini, ada gereja lama ada gereja baru pula). Ada yang lebih penuh dengan mujizat dan kesaksian. Tapi, benarkah kita harus meninggalkan gereja yang tata ibadahnya tidak trendy ? Atau meninggalkan gereja yang sedang bermasalah ? Atau yang gedungnya malu-maluin ?
Dan pindah kemana ? Yang full multi-media ? Pendetanya pintar khotbah mirip motivator dahsyat di radio-radio? Yang gerejanya full AC ? Yang pelayanannya lengkap ?

Apakah menjadi anggota gereja adalah soal hak ? Bagaimana dengan panggilan untuk turut membangun tubuh Kristus ? Termasuk untuk menyelamatkan gereja dari tangan orang-orang tertentu ?

Ironisnya, banyak orang bertahan di gereja tertentu karena alasan organisatoris : mempertahankan posisi dan aset gereja (maka tidak heran, yang sering ribut 'kan gereja yang besar). Kalau tak bisa menang, buat gereja baru. Atau kalau mau jadi pimpinan, cari 'franchise'. Menjamurnya denominasi gereja sekarang mirip dengan parpol, cuma beda nama, yang penting 'kita yang mengatur.' Ada juga yang buat gereja baru karena konon dapat 'mandat khusus' dari Tuhan. Entahlah, aku tak cukup info untuk memahami hal-hal tersebut.

Sayangnya, yang paling banyak di'gerogoti' adalah gereja halak Batak Kristen. Marketing pitch mereka : Gereja lama dituding kental dengan animisme, menyembah nenek moyang, memberhalakan ulos, ,... Hei, di antara jemaat atau gereja itu mungkin saja ada yang melakukan itu, tapi jangan pukul rata, dong. Sekali waktu ada seorang muda yang menurutnya telah lahir baru berkenalan denganku dan dengan bersemangat bersaksi tentang imannya. Aku bangga sekali melihatnya, dan bertanya di mana orang tinggal orang tuanya. Dia menyebutkan sebuah kota kecil dan "... tapi mereka belum mengenal Kristus.,," Aku pikir, maksudnya mereka masih animis, tapi ternyata maksudnya "..,karena mereka anggota Gereja xxx (sebuah gereja Kristen Batak)". Aku terperangah. Boleh jadi orang tuanya belum mengenal Kristus secara utuh, tapi bukan karena mereka anggota Gereja xxx yang Protestan, sementara si orang muda aliran Kharismatik.

Menyedihkan sekali, orang-orang muda Kristen yang merasa 'selamat sendiri', berpandangan mereka selamat karena sudah meninggalkan tradisi orang tuanya. Pindah gereja sepertinya adalah jalan keselamatan. Oh my God!

Di keluarga besar kami ada yang Lutheran, ada Calvinist, ada Betel/Kharismatik, ada Pentakosta, ada Katolik.... Mereka semua, menurutku, adalah Batak Kristen. Tak usahlah merasa yang satu lebih benar dari yang lain. Ukuran kekristenan sangat sederhana : apakah kita mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan akal budi dan apakah kita mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri ? Jika kita tidak lolos dari kriteria itu, sorry, apa pun gereja kita, surga bukan milik kita. Jadi, mau di gereja Batak, gereja Indonesia, gereja Amerika...sama saja. Kristus adalah satu untuk semua.

27 Desember 2008

Keluarga Kristen

Masih hasil cerita-cerita waktu bertemu di natalan keluarga.

Mulanya cerita tentang maraknya kawin-cerai selebritis. Lanjut ke cerita tentang "gak usah jauh-jauh, di orang kita pun banyak kayak gitu sekarang ini".

Makin dalam lagi ... "eeeh, ndang binoto portibi nuaeng on. Ai anak ni si ... (menyebut nama) pe nungnga mangoli, alai tu halak .... (menyebut suku non-Batak), nungnga gabe ... (menyebut agama non-Kristen) ibana".

Maka ada yang menimpali betapa sedihnya bermenantukan orang yang bukan Kristen. Bukan Batak pula. Lebih lagi : anaknya pun beralih kepercayaan. Ada yang menambahkan kasus lain : "ia anak ni si.... pe nungnga mangoli sip sip tu halak xxx. Ndang hea binege kabarna, hape tarboto ma naung adong do gellengna. Ba...tong do gabe xxx ibana mangihuthon haporseaon ni tungga ni boruna i."

Yang bernada positif ada juga. "Piga-piga ari na salpu diadopi hami do parsarimatuaan ni sada ina. Hape parumaenna sian buhabajuna halak sileban do (non-Kristen non-Batak), hape amanta dohot buhabaju na i nungga parjolo marujung. Alai daba, boi do dibaen parumaen na i denggan ulaon sarimatua i."

Berbincang-bincang tentang pernikahan dengan pasangan tidak seiman umumnya akan menuai pro kontra. Pandangan-pandangan yang muncul sering kali lebih beraroma kepentingan sendiri tetapi dibungkus dengan berbagai dalil, teori, contoh kasus, ayat, tradisi dan sebagainya. Di antara yang melalukan pernikahan linta iman : yang langsung meninggalkan imannya banyak...yang bertahan dalam iman masing-masing ada.... yang mengajak pasangannya mengikuti imannya pun ada.

Tapi, apakah arti pernikahan sebenarnya ? Persekutuan daging ? Persekutuan sosial ? Atau, persekutuan roh ?

Sayangnya, pada banyak orang Batak, pernikahan lebih kental sebagai persekutuan sosial. Maka muncullah permintaan orang tua : kawinlah dengan orang Batak, carilah yang bagus paradation ni natorasna, na denggan karejo na, molo boi pegawai negeri ma,...


Pada orang muda, perkawinan adalah legalisasi hubungan fisikal, jaminan finansial dan status sosial. Maka muncullah keinginan orang muda : aku mau yang cantik kayak Luna Maya, yang ganteng kayak Christian Sugiono, yang macho, yang tajir, yang 'gak malu-maluin kalau dibawa.

Yang manakah yang diinginkan Yesus pada pengikutnya ? Jelas, pernikahan berkaitan dengan kedagingan ('maka mereka akan menjadi satu daging'), berkaitan pula dengan soal sosial (ingat cerita Ruth dan Naomi). Tapi, adakah dasar untuk menikah karena ketertarikan fisikal emosional atau kecocokan sosial boleh menafikan dasar 'satu iman' ?

Pernikahan inter-faith bagi orang yang telah percaya kepada Kristus sesungguhnya adalah penyangkalan terhadap Kristus. Entah tetap bertahan pada iman masing-masing, entah menggiring pasangan kepada iman Kristen nominal, dasar pernikahan tetaplah tak Kristiani. Bagaimanakah seorang isteri harus tunduk kepada suami secara unconditional (sementara mereka berbeda kepercayaan) ? Bagaimanakah seorang suami harus mengasihi isteri hingga rela mati untuknya (sementara mereka berbeda keyakinan) ?

Dalam diskusi, muncul pendapat yang agak nyeleneh : orang-orang Kristen yang menikah dengan dengan bukan Kristen sebaiknya meninggalkan kekristenan dan beralih ke iman pasangannya, karena Tuhan akan 'memuntahkan' orang yang kepercayaannya suam-suam kuku. Aku pikir betul juga. Bagusnya, menurutku, tidak ada kepura-puraan di dalam rumah tangga dan lingkungan sosial. Tapi, itu memang pilihan, soalnya Tuhan sendiri yang bilang 'lalang dan gandum akan dipisahkan Tuhan setelah akhir zaman.'

Hei, aku tak berkata bahwa pernikahan dua orang Kristen selalu lebih baik dari orang yang bukan Kristen. Far from it. Tapi, sudahlah, kalau kita memang tak bisa mengikut Kristus ketika kita bisa memilih, mengapa kita tidak konsisten saja menyandang atribut baru ? Lagi pula, apa menariknya mempertahankan status Kristen ? (Ini 'kan seperti menyimpan KTP lama, sementara kita sudah bermukim di kota lain).

Aku merindukan keluarga Kristen (suami-isteri, orangtua-anak, mertua-menantu) yang dalam sukacita dan dukacita berseru kepada Tuhan yang sama dan Juruselamat yang sama.

26 Desember 2008

Gereja dan Perilaku Para Pangula Huria

Namanya juga Natal, maka kunjung mengunjungi keluarga dan kerabat lazim dilakukan (walaupun di kalangan halak hita martaon baru lebih umum,ya) . Maka, berkumpullah orang-orang yang kenal baik satu sama lainnya. Pasti cerita-cerita lah. Semua bisa didiskusikan (siapa bilang diskusi, cuma cerita-cerita kok). Mulai dari suasana Natal, harga mentega, SBY/Sultan/Megawati, angka tondong na gabe caleg, sekolah anak-anak, anggota keluarga yang sakit, etc etc.

Aku pun menjalani ritual itu. Dan salah satu topik... perilaku pangula huria. Muncullah anekdot tentang kelakuan pangula huria yang sama sekali tidak mencerminkan sifat pelayan Kristus. Mulai dari yang korupsi dana gereja, mengemil uang pelean, diam-diam pergi mardatu, punya cem-ceman, KDRT, cuek terhadap jemaat... ya semuanya ada (dan sampai pada kesimpulan : Pangula Huria juga manusia).

Salah seorang cerita tentang kejadian di gerejanya yang lagi hot. Konon mereka bikin acara penggalangan dana pembangunan gereja; acara penggalangan sudah selesai, dana sudah terkumpul, selanjutnya akan beli tanah di samping gereja yang sudah ada dan memulai pembangunan. Proses selanjutnya, panita pengumpulan dana akan menyerahkan dana yang terkumpul ke panitia pembangunan. Tetapi kata pangula huria, panita pengumpulan dana harus menyetorkan dana ke Huria, setelah itu Huria meneruskan ke panita pembangunan. Ternyata sebagian besar jemaat protes. Soalnya, selama beberapa periode kepemimpinan pendeta sebelumnya, tiap kali ada uang di tangan Huria, tak jelas pertanggung-jawabannya. Nah, Amang Pandita yang sekarang pun tak cukup diyakini tidak akan tergelincir di lantai yang sama. Maka, jemaat mau biar Panitia saja yang memegang dana hingga pembelian tanah dan pembangunan gedung terwujud. Dalam pelaksanaannya, akuntabilitas dan tanggung-jawab Panitia akan diminta.

Memang lucu juga. Jemaat menjadi lebih percaya kepada 'para awam' daripada kepada 'para penilik jemaat dan gembala jemaat'. Teramat sering aku mendengar kisah para gembala jemaat yang memperlakukan jabatannya sebagai profesi (tempat cari makan). Btw, aku pernah baca judul buku : "Menjadi Gembala Jemaat yang Profesional". Dan kelakuan pun tak beda dengan para profesional : kulakukan tugasku, kuminta reward (bayaranku). Padahal, bukankah bayaran bagi para pekerja di ladang Tuhan akan didapat dari pemilik ladang yaitu Tuhan sendiri ?

Penulis Alkitab memang telah mengingatkan jemaat untuk mencukupkan kebutuhan orang-orang kudus. Cuma ya itulah... tiap kali cerita-cerita soal ini akan muncul 'apologi' seperti ini : ago poang...beha do bahenon pandita (atau amang guru) mangolu molo holan margaji xxx rupiah, hape adong dope gelleng na marsingkola, adong na kuliah... tung antusi hamu ma.

Aku tak bisa komentar. Tapi, lihat jugalah jemaatnya. Ada yang supir angkot, ada yang parengge-rengge, ada yang martani... pendapatannya pun tak selalu baik. Tapi, jika memang hidup sebagai pangula tak mencukupi, maka marilah mempersoalkan sistem penafkahan pangula (jangan-jangan memang jemaat tertentu tidak akan pernah cukup untuk membiayai sebuah 'keluarga' pangula , maka mungkin untuk jemaat tersebut lebih cocok diutus seorang pengerja single).

Tapi above all, seorang pangula huria (termasuk para sintua, tua-tua, penatua, diaken, etc...) haruslah jadi teladan. Pangula huria juga manusia. Orang Kristen juga manusia. Tetapi baik pangula maupun jemaat adalah orang-orang yang telah dikuduskan.... mereka ada di dunia, tapi tidak sama dengan dunia ini. Kalau ini tidak diimani.... quo vadis kekristenan?

25 Desember 2008

Natal di Televisi

Tadi malam, 24 Desember, di RCTI ada acara Natal. Sederetan penyanyi Kristen tersohor berpartisipasi.

Baguslah! Ada yang mengingat Natal.

Tapi, ketika mendengar dan melihat ilustrasi di panggung, aku tersadar ini bukan acara Natal 'original version', tapi Natal 'new definition'.

Sebagian lagu-lagunya adalah lagu pop yang - sepertinya - ada aroma Kristennya (When You Believe, terus ada lagu Celine Dion yang aku lupa judulnya, lalu ada lagu It's Christmas yang isinya tentang nikmatnya berdua di hari Natal); ada juga lagu musim Natal (tentang Snowman dstnya) yang tak ada kait mengaitnya dengan Natal di Indonesia; ada juga lagu rohani yang dibawakan dengan nada pop. Oh ya, memang ada juga lagu rohani populer. Campur-campurlah. Plus...iklan, tentu saja.

Aku tak akan protes. Terimakasih, RCTI. Sebuah bisnis sekuler memang bukanlah wadah pewartaan Injil. Memang, dengan format seperti acara yang aku saksikan tersebut, citra Natal dan Kristen memang sangat terdistorsi; tapi, mau bilang apa ya. Pasti banyak juga dongan sahaporseaon yang bisa menikmati dan 'mendapat berkat' dari acara tersebut.

Sesiung terimakasih dan syukur aku panjatkan kepadaNya, karena aku telah dibesarkan di masa TV swasta belum ada di Indonesia, dan acara Natal terhebat adalah 'drama Natal' yang digelar di panggung sederhana di kampung Durian atau gereja Sidorame (waktu itu masih kecil). Makanan Natal berupa sepotong atau dua potong kue basah sudah merupakan kenikmatan 'surgawi'. Dengan cara apapun Natal dirayakan, yang penting adalah niatan untuk menyampaikan pesan yang original. Yang pasti, aku masih memelihara iman yang aku pelajari di masa kecil itu.

Oh ya, by the way, aku jadi ingat mengapa aku agak alergi dengan artis Natal. Beberapa artis (Kristen) Natal yang berlenggak-lenggok atau ber-acting di televisi tahun lalu ternyata sudah meninggalkan imannya. So, I say to myself : enjoy their show... but, never bet your faith on them. Tak perlu membanding-bandingkan mereka dengan koor naposo bulung atau koor ama atau ina parari Kamis dalam 'perfomance'. Akhirnya, aku hanya mau mengingat yang dikatakan oleh seorang penulis Alkitab "kerjakanlah keselamatanmu".

24 Desember 2008

Selamat Hari Natal

Nunga jumpang muse ari pesta i....hatutubu ni Tuhanta Jesus i.
Bagi orang Batak Kristen, hari Natal adalah hari besar. Ari Pesta!

Halalas ni roha godang, na hubaritahon on.
Bagi orang Batak Kristen, berita Natal adalah kesukaan besar.

Sonang ni, borngin na i, uju ro Jesus i.
Dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris "Malam Kudus" dan "Silent Night", penekanannya adalah pada suatu malam yang sunyi dan senyap; pada versi Batak, penekanannya adalah pada suatu malam yang indah dan berbahagia

Terima kasih, Tuhan, karena telah menanamkan benih pengetahuan tentang Natal yang benar di hati kami umatMu Halak Batak Kristen. Biarlah benih itu tumbuh, menjadi besar, dan menghasilkan buah-buah yang benar. Biarlah umatMu yang kau pilih ini bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain di dunia, khususnya bagi bangsa-bangsa Eropa yang telah memperkenalkan Kristus kepada orang Batak, tetapi sekarang keturunan mereka mulai meninggalkan Tuhan.

Kiranya Natal berfokus pada pemahaman tentang penggenapan janji perdamaian antara Allah dengan manusia. Biarlah pesona kerlap-kerlip lampu hias dan lilin, pancaran blitz dan lampu sorot, kesyahduan denting piano dan uning-uningan, gemuruh terompet dan synthesizer, kenikmatan kue, makanana, minuman, kemeriahan pementasan dan tari-tarian....terredam oleh kesadaran bahwa Natal adalah soal kesediaan membukakan pintu bagi Juruselamat yang kedatanganNya di bumi kita rayakan hari ini.

Partangiangan ni halak Batak

Aku ini mungkin kurang banyak kenal suku bangsa lain. Sejauh yang kutahu, halak Batak Toba adalah yang paling rajin mengadakan persekutuan doa (partangiangan) di antara orang yang berkerabat. Seorang yang telah menikah mungkin akan mengikuti beberapa partangiangan : (1) Partangiangan marganya sendiri (2) Partangiangan marga suami/isteri (3) Partangiangan marga ibunya (4) Partangiangan marga ibu mertuanya... dan itu bisa punya varian, seperti partangiangan na sa-ompu, partangiangan se kecamatan, partangiangan se-kota, .... tambahkah lagi partangiangan satu RT/RW (atau satu STM kata orang Sumut)... tambahkan lagi partangiangan gereja... belum kalau si Bapak atau si Ibu ikut kelompok tertentu di gereja.... Betapa seringnya orang Batak martangiang.

Jauh sebelum musim istilah persekutuan doa, halak Batak Kristen sudah rajin marsaor martangiang. Karena rajin berdoa, wajarlah jika halak Batak Kristen akan lebih baik (secara moral dan spiritual) dari orang lain...bukan begitu ? Atau, apa begitu kenyataannya?

Sejauh yang kulihat, tak banyak bedanya halak Batak Kristen dengan orang Kristen lain (yang tak rajin berdoa) atau dengan orang bukan Kristen. Perilaku kasar dalam kata-kata dan tindakan, perilaku tidak peduli terhadap sesama, perilaku selingkuh, perilaku korup... sama saja. Jadi, apakah partangiangan-partangiangan tersebut tidak ada gunanya?

Sekali waktu aku menghadiri partangiangan marga, dan salah seorang tetua (sesepuh) mengingatkan : percuma kita rajin ke partangiangan, kalau pada saat 'adong ulaon di sada-sada hita' tidak banyak yang datang. Nah, amang itu malah berpandangan bahwa parsaoran marga tidaklah terlalu penting mengadakan partangiagan, yang penting 'ngumpul kalau ada acara salah seorang anggota kelompok.

Lucunya lagi (lucu dalam bahasa Medan), banyak orang Batak mencari dan ikut persekutuan doa tambahan di luar gereja dan di luar kumpulan marga. Jadi, apakah memang ada yang kurang dari partangiangan di gereja dan lingkungan kekerabatan itu ? Yang juga menarik adalah : partangiangan biasanya dihadiri oleh orang-orang yang relatif tua. Yang muda (termasuk yang sudah menikah) entah ada dimana. Ya, mirip-mirip kondisi di gereja halak hita lah.

Molo hurimang-rimangi, persoalannya adalah format partangiangan halak hita itu. Sepertinya, menurut yang kuikuti selama ini, partangiangan itu hanya memindahkan kebaktian gereja ke rumah dalam skala yang lebih kecil. Interaksi dalam ibadah praktis tidak ada. (Interaksi di luar ibadah jelas banyak; habis partangiangan bisa kombur, buka catur dan Joker Karo pula...). Pendeta atau sintua yang memimpin acara pun biasanya membawakan dengan cara yang, maaf, tanpa greget. Memang seringkali ada diselipkan di dalam khotbah atau doa tentang kelompok atau anggota kelompok partangiangan itu. Tetapi, jarang sekali ada 'real action' sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok doa khusus. Jadinya, ikut partangiangan seperti sekedar 'setor muka' dan kangen-kangenan dengan kerabat.

Kalau saja hita halak Batak Kristen bisa menggunakan mekanisme unik di dalam komunitas Batak ini untuk meningkatkan kasih persaudaraan, kepedulian, pembinaan iman Kristiani....seperti yang dilakukan oleh jemaat pertama.

23 Desember 2008

Matina dulu dan martina kini....

Hingga beberapa tahun lalu, ada konsensus tak tertulis di masyarakat Batak bahwa upacara pernikahan tidak dilakukan dekat-dekat dengan Hari Natal. Tapi sekarang,ya ampun, hari ini (tanggal 23 Desember, besok sudah malam Natal) aku dapat undangan kawinan dari kerabat. Mau bilang apa lagi? Tradisi kawin di masa libur Natal dan Tahun Baru semakin menjadi. Karena hari Jumat dan Sabtu di awal tahun 2009 adalah tanggal 2 dan 3, banyak pula memanfaatkan untuk mengawinkan anak atau borunya pada tanggal-tanggal itu. Seingatku, zaman kuliah dulu, libur Natal dan tahun baru dipakai untuk martandang (maka ada istilah martina = martandang tingki natal); rupanya sekarang telah terjadi pergeseran arti : martina = marbagas (mambuka parbagasan) tingki natal.

Di beberapa kota besar di Indonesia juga jarang sekali mengadakan kebaktian pernikahan pada hari Minggu. Tetapi di kota-kota kecamatan (aku banyak menjumpainya di daerah perkebunan) mengadakan pernikahan hari Minggu lazim, karena saat itulah para pegawai libur dan bisa menghadiri undangan pernikahan.

Memang tidaklah ada larangan melangsungkan pernikahan pada hari Natal dan Tahun Baru atau pada hari besar Kristen lain. Juga tidak ada larangan menikah Hari Minggu. Yang mengusikku adalah penghargaan halak Batak Kristen terhadap hari-hari besar tersebut.

Lihatlah di kota-kota. Orang-orang yang mengikuti kebaktian pagi, segera bergegas ke tempat rekreasi atau mall selepas 'menjalankan kewajiban agama' (???). Hari Hamamate yang nyambung dengan Hari Paskah atau Hari Turunnya Roh Kudus menjadi hari libur umum, yaitu kesempatan untuk melepaskan diri dari kerutinan hidup. Gereja memang membuat ibadah khusus, tetapi bagi kebanyakan umat, semuanya itu hanya sekadar variasi. Sedikit sekali kerinduan untuk membuat Hari Raya Kristen (yang telah ditetapkan sebagai libur nasional) menjadi hari yang dikhususkan untuk mengenangkan peristiwa yang dirayakan tersebut dan mengejawantahkan relevansinya dalam kehidupan masa kini.

Menjadi pertanyaan bagi diriku, apakah kami ini Kristen yang Batak, atau Batak yang Kristen ? Mana yang menjadi identitas yang lebih mendasar? Sesungguhnya Pemerintah Republik Indonesia telah bersikap adil dan murah hati dalam menetapkan beberapa hari besar Kristen menjadi hari libur nasional. Di balik keputusan tersebut, aku pikir, tersedia keleluasaan untuk menjalankan ibadah dengan khusyu. Kenyataannya? Yang penting liburnya (kebaktian gerejanya 'kan paling 2 jam-an...). Jika memang orang Kristen memang hanya membutuhkan 2 jam saja untuk merayakan hari-hari besar tersebut, mengapa libur tersebut tidak dijadikan fakultatif saja ya ? Mungkin negeri ini bisa lebih produktif.

Alasan menggunakan hari-hari sekitar Natal dan Tahun Baru untuk acara kawinan sebenarnya cukup jelas ('kan di situ waktu libur yang cukup panjang? Bisa sambil pulang kampung). Okeylah. Tapi minta ampun... ada bertumpuk undangan kawin di bawah plastik meja makan pada akhir tahun ini. Betapa "heppot" nya para emak yang harus menghadiri acara kawinan para tutur dan kerabat, sementara kambang-loyang dan kacang tojin sudah menanti untuk dikerjakan.

Dan di bawah pohon Natal, ada boneka bayi dalam palungan yang semakin terlupakan.

22 Desember 2008

Tardidi

Di gereja tempat aku mengikuti kebaktian hari ini ada kegiatan baptis anak. Beberapa anak yang dibaptis adalah anak-anak orang Batak, terlihat dari marga orangtuanya yang tertera di Warta Jemaat. Meskipun gereja tersebut bukan 'Gereja Batak' (artinya yang bermula dari gereja komunitas Batak), tetapi memanglah lazim bahwa orang Batak menjadi anggota di berbagai gereja yang tak ada kait-mengaitnya dengan kebatakan. Jelas di gereja demikian tidak ada ibadah dalam Bahasa Batak. Jadi, tidak ada keharusan bertemu Tuhan Yesus dalam tata ibadah yang berisi pujian dan doa di dalam bahasa Batak (seperti yang sering kudengar ketika aku masih ikut orang tuaku di sebuah gereja Batak).

But don't get me wrong. Aku sama sekali tidak anti gereja suku (termasuk gereja Batak). Sesekali aku ikut bergereja di HKBP yang bahasa pengantarnya bahasa Batak, karena aku pun rindu melantunkan lagu dari Buku Ende (walaupun aku tak mengerti sepenuhnya kata-katanya).

Persoalan yang menggelitik adalah identifikasi Kristen Batak dengan gereja Batak.

Yang lebih mendalam lagi adalah persoalan identifikasi Batak (khususnya Batak Toba) dengan Kristen.

Sering orang (termasuk orang Batak Toba) beranggapan bahwa manusia Batak Toba adalah wajib Kristen. Padahal jelas ada sejumlah orang Batak yang asli dari Toba adalah non-Kristen sejak kakek buyutnya. Dan sekarang banyak pula yang meninggalkan iman Kristennya karena berbagai alasan.

Sebagai pengikut Kristus, aku bersyukur dilahirkan di keluarga dan komunitas yang sudah mengenal Kristus dan memperkenalkanku kepadaNya sejak aku kecil. Aku pun pernah tardidi (pasti di HKBP), malua (di HKBP juga) dan mangoli (lagi-lagi di HKBP) seperti kebanyakan orang Batak Toba. Tetapi, lingkungan Kristen tidak serta merta menjadikanku pengikut Kristus seperti yang Dia inginkan. Satu lagu dari Buku Ende yang sering kuingat adalah yang syairnya berisi kira-kira begini ...Kristen ahu, alai hutondong Jesus.Hanya karena kasihNya saja aku beroleh kesempatan untuk mengenalnya secara pribadi dan tetap terhitung sebagai salah seorang dari umat yang diselamatkanNya.

Aku sering bertemu dengan keluarga Batak yang menceritakan dukanya karena putra atau putri mereka yang lahir dan besar di dalam lingkungan Kristen, ketika menikah mereka menyangkal iman kepada Kristus. Sungguh menyedihkan. Semua pengajaran yang mereka dapatkan mulai dari Singkola Minggu, Marguru Malua, Marburende Naposobulung, dsbnya tidak ada artinya demi 'cinta' pada lawan jenis yang berbeda keyakinan.

Jadi, ketika tadi di gereja aku menyaksikan ikrar para orangtua untuk membawa anak-anak mereka kepada Yesus, aku terharu. Akankah ikrar tersebut mereka penuhi dengan penuh tanggung-jawab ? Selanjutnya, apakah anak-anak mereka pun akan tetap mengikut Yesus di masa dewasa mereka ? Seandainya mereka menyangkal Yesus karena mereka membuat pilihan yang didasarkan pada hikmah atau hidayah tertentu, secara manusiawi masih dapat diterima (lagi pula : ".... bukan engkau yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih engkau", kata Yesus). Tetapi, keputusan berpindah iman untuk memuluskan perkawinan atau karir..... oh, betapa dangkalnya kesetiaan manusia.

Kiranya anak-anak yang hari ini dibaptis di gereja tadi adalah anak-anak yang telah terpilih sebelum bumi dijadikan. Sebagai halak Batak Kristen, aku pun berdoa : semoga generasi penerus Batak Kristen yang hari ini dibaptis itu akan memelihara iman yang diteruskan orang tuanya dan dapat tumbuh sebagai manusia dewasa sebagai orang Batak. Botima.

21 Desember 2008

Bangga Jadi Batak ?

Sejak kecil di rumah kami ayah dan ibu (Bapak dan Mamak) berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan anak-anaknya. Antara mereka berdua, mereka bicara dalam bahasa Batak. Jadi aku mengerti sebagian besar bahasa Batak sehari-hari (tapi tidak bahasa Batak adat, seperti umpasa dsbnya). Maka, wajar sajalah jika bertemu dengan siapapun aku berbahasa Indonesa.

Sewaktu aku merantau ke sebuah kota di Jawa, bertemulah aku dengan seorang Batak asal Sumut yang sekolah SMA di Jawa kemudian melanjut kuliah di sana pula. Dia memang BTL, jadi bahasa Bataknya OK sekali. Waktu aku ketemu dia pertama, dia langsung komunikasi bahasa Batak, dan aku jawab pakai bahasa Indonesia. Dia marah dan 'ngenyek', "Hira so Batak do bayo on... Hape iba nungnga xxx taon di son boi dope marhata Batak, ia bayo on baru dope ro sian Medan...na sombong ma ho!"

Sebagai kawan, ya, aku tertawa saja. Cuma, miris juga identitas kebatakanku dipertanyakan.

Dalam perjalanan hidupku yang relatif panjang, sering aku bertanya : beruntungkah aku menjadi Batak ? Apakah aku ikut bangga dengan sederetan nama bermarga yang menjadi tokoh hebat di pentas nasional ? Ikutkah aku menjadi pecundang dengan pencopet, perampok dan pembunuh yang juga bermarga ?

Dari bapak yang Batak dan ibu yang Batak, aku tak bisa mengingkari bahwa aku ini Batak. Aku pun tak mau mengingkari hal itu. Tapi, seperti apakah diriku seharusnya supaya aku tetap bisa dianggap Batak ? Dan, jika aku tak bisa memenuhi kriteria lain (di luar garis keturunan), apakah bernilai untuk tetap mempertahankan kebatakanku ? Haruskah aku melepas margaku jika aku sudah tidak bisa berbahasa Batak, tidak paham adat Batak, tidak mengikuti tradisi Batak tertentu...? Atau, bolehkah aku mengintroduksikan perubahan kepada kebatakan, karena akupun berhak mengatasnamakan generasi Batak ?

Bangga Jadi Kristen ?

Sebelum aku lupa tentang siapa aku, baik aku tuliskan terlebih dahulu : Aku ingin menjadi pengikut Kristus yang benar.

Tapi itu tidak mudah.

Pengikut Kristus diberi nama Kristen. Kata "Kristen" ini sudah menjadi istilah yang bisa berarti apapun, maka ada Sekolah Kristen, Rumah Sakit Kristen, Partai Kristen, Pengusaha Kristen, Karyawan Kristen, Yayasan Kristen,..... silahkan teruskan sendiri.

Sebagai seseorang yang sudah ditempeli label Kristen (di dokumen kependudukan yang kumiliki) maka apa-apa yang ada kata 'Kristen' nya menjadi terkait denganku pula. Padahal aku sering sebal dengan berbagai atribut 'Kristen'. (btw, jangan pikir aku ini fundamentalis yang sedang mendefinisikan ulang Kristen, take it easy....).

Ambillah contoh sekolah Kristen. Aku tak tahu bagaimana di kotamu, tetapi di kotaku ada beberapa sekolah Kristen yang buat jalan umum macet semacet-macetnya. Jujur saja, setiap aku terjebak kemacetan di daerah tersebut, aku sering marah : apanya yang Kristen di sekolah ini ? Mereka pasti tahu sudah mengambil hak pemakai jalan yang lain dengan membuat macet jalan di depan sekolah tersebut dua kali sehari masing-masing selama 1 jam. Tega sekali mereka membangun sekolah dan sistem perparkiran yang menyebabkan derita bagi orang lain. Kristenkah itu?

Atau, sekali waktu aku membawa keluarga berobat di rumah sakit Kristen. Dua hari pasien tidak dilirik oleh dokter. Kristen kah itu?

Ada banyak kejadian yang sering membuatku bertanya : apakah aku layak bangga menjadi orang Kristen? Jadi, lucu sekali ketika aku membaca berita ada upaya orang 'meng-Kristen-kan' orang lain. Enaknya apa jadi Kristen? Bangganya apa jadi Kristen?

Sebelum aku menjadi bete, aku akan mengingat kembali apa yang kutulis di kalimat pertama : Aku ingin menjadi pengikut Kristus saja. Hal-hal yang terkait dengan 'label Kristen' barangkali tak perlu terlalu kupersoalkan. Apalagi di 'musim natal' (???) ini, kekristenan sedang didegradasi dan dikomersialisasi habis-habisan, tak ada menariknya menjadi Kristen. Tapi, sekali lagi... mengikut Yesus adalah keputusanku...mengikut Yesu keputusanku... 'ku tak ingkar...'ku tak ingkar (begitu satu lagu gereja yang aku sukai dan aku amini).

Ise Do Ahu ?

Siapakah aku ?

Pertanyaan bernada filosofis ini muncul beberapa kali dalam pikiranku. Tapi, entah kapan pertama kali aku berpikir tentang itu aku tak ingat. Yang jelas, semakin bertambah usiaku, semakin kusadari bahwa aku memiliki identitas tertentu yang, lagi-lagi, entah bagaimana melekat pada diriku. Artinya : tanpa aku pilih, suatu waktu aku menyadari 'aku adalah aku yang ini.'

Ada tiga identitas yang perlahan-lahan kusadari merupakan bagian dari diriku.
Pertama : Aku orang Indonesia. Ini dipatrikan oleh bahasa yang aku pergunakan sehari-hari di rumah dan di sekolah serta lagu 'Indonesia Raya' yang setiap Senin kami kumandangkan dalam upacara bendera. Tentu saja pengertianku tentang kewarganegaraan dan nasionalisme masih dangkal ketika aku di Sekolah Dasar, tetapi setidak-tidaknya guru-guruku menjelaskan bahwa aku orang Indonesia (dikontraskan dengan penjajah Belanda).

Kedua : Aku orang Kristen. Aku tidak ingat kapan aku menyadari aku ini orang Kristen, karena di masa kecil aku tak begitu memahami perbedaan agama, karena hingga usia (mungkin sekitar 10 tahun) aku tinggal di lingkungan rumah dan sekolah Kristen. Jadi, tentang adanya kepercayaan lain aku tak begitu menyadari. Lalu pada usia tertentu (aku tak ingat kapan - belasan tahun), kami pindah ke sebuah rumah yang bersebelahan dengan taepekong (rumah ibadah Kong Hu Chu); tapi, pada saat itu pun kupikir perbedaannya bukan soal agama, tapi soal kebangsaan (aku pikir itu rumah ibadah bangsa Cina, karena jemaat taepekong identik dengan warga turunan Cina). Di sekolahku (yang Kristen) memang ada beberapa siswa Muslim, Buddha dan Kong Hu Chu, tapi sama sekali kami tidak pernah mempersoalkan perbedaan ini, jadi ya, bahwa aku Kristen itu cuma soal aku pergi hari Minggu ke gereja, sedangkan kawan yang Muslim (Islam) hari Jumat ke mesjid.

Ketiga : Aku orang Batak. Aku pun tak ingat kapan mulai sadar bahwa aku orang Batak. Yang aku tahu ternyata orang yang berbeda ('etnis'nya, istilah yang saat itu belum aku tahu), berbeda bahasanya. Yang Batak berbahasa Batak, yang Cina bisa bahasa Cina.

Jadi, kalau kupikir-pikir, aku tak tahu kapan aku menyadari siapa aku (setidak-tidaknya secara nominal). Baru setelah aku merantau ke Tanah Jawa (maksudku Pulau Jawa, bukan yang di Simalungun itu), pada usia 18 an, mulailah aku sadar, identitasku itu. Di hari pertama atau kedua di kampus, aku dikejutkan oleh seseorang (yang kemudian ternyata menjadi kawan sekelasku, dan dia berasal dari etnis di Pulau Jawa dan bukan Kristen) yang bertanya : "Kamu orang Batak ya?", dan kujawab "ya". Lalu dia lanjutkan "Kamu Kristen ya?", kujawab lagi "ya". Aku tidak ingat persisnya apa yang dia katakan, tapi nadanya agak mencemoh, kata-katanya kira-kira berarti "mengapa kamu datang kuliah ke sini?". Aku kaget, tapi tidak menanggapi. Sebagai pendatang yang baru menginjakkan kaki di negeri orang, aku tak mau cari perkara. (Menariknya, setelah kuliah, kami juga ternyata berteman cukup baik, dan tak pernah mengingat-ingat insiden itu; jadi, kupikir, pertemuan dengan perantau dari Utara Pulau Sumatera juga cuma 'culture shock' bagi dia yang juga ternyata berasal dari udik di Pulau Jawa).

Tapi bagiku insiden itu mengungkit sesuatu di dalam diriku yang sebelumnya tak pernah kupersoalkan. Ternyata aku Batak. Ternyata aku Kristen. Begitulah orang memandangku. Soal aku orang Indonesia tak begitu soal, karena aku (hingga saat ini pun) jarang berhubungan dengan warga negara asing. Ada kalanya keberadaanku sebagai Batak dan Kristen ini mengusik pikiran. Ingin juga aku tahu, bagaimana kawan-kawanku yang segolongan memandang dirinya.

Inilah pikiranku.