29 Desember 2008

Penghinaan Agama

Di Seram Maluku terjadi bentrokan berbau SARA karena ada seorang guru menghina agama.
Akh, cerita lama berulang lagi. Dan akan terus berulang.

Sungguh tak masuk diakalku bagaimana orang berkelahi karena membela agama dan Tuhan. Tapi, lebih tak masuk di akal lagi bagaimana seorang penganut agama tertentu menghina agama dan nabi agama lain. Masuk akal atau tidak, cobalah masuk forum diskusi di internet...astaga... berjibun thread yang berisi maki memaki, hina menghina, fitnah memfitnah antar agama. Menyebalkan. Dan menjijikkan.

Sebagai orang Kristen, hal yang paling tidak masuk akal adalah ketika orang Kristen pun melakukan hal yang sama. Memang inilah ironinya pe-label-an : seseorang yang ber KTP Kristen dengan mudah mengambil posisi Kristen ketika menjelek-jelekkan agama lain. Padahal, demi Tuhan yang hidup, tak sekalipun Kristus mengajarkan penghinaan terhadap agama lain. Bahkan di awal kekristenan, umat masih beribadah di sinagog.

Aku bertanya-tanya : Apalah untungnya menghina agama orang lain atau mengangkat 'kejelekan' pimpinanan atau umat agama lain ? Setahuku, tak sedikitpun kita akan dibenarkan di depan Allah karena kita bisa menunjukkan agama lain 'tidak benar'. Kita dibenarkan hanya karena iman : pengakuan bahwa kita terlahir dan telah berdosa, tetapi Kristus telah menebus kita dan kita berupaya hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.

Setiap kali aku mendengar seseorang Kristen (termasuk pemimpin gereja ) berkata jelek tentang agama atau umat agama lain, aku selalu khawatir bahwa dia tidak punya ide yang baik tentang Kristus untuk diberitakan. Para pemberita Injil sama sekali tidak mengurusi baik buruknya kepercayaan lain; mereka hanya memberitakan tentang "dewa yang tidak mereka kenal", entah orang lain tersebut mau percaya atau tidak, itu adalah pilihannya sendiri dan misteri kehendak Allah.

Aku percaya bahwa hubungan sosial antar manusia dapat berjalan dengan baik di antara orang-orang yang berbeda iman, tanpa perlu melakukan "dialog iman" ataupun "perbandingan agama". Suatu agama yang mencari Tuhan tidak akan menohok dan memberangus agama lain secara "head-to-head"; kebenaran suatu agama akan dibukakan kepada penganut agama lain melalui "buah" yang dihasilkan dari kepercayaan itu, bukan dari pembuktian, iming-iming apalagi pemaksaan. Tapi, sejujurnya aku merasa bahwa kebanyakan organisasi agama lebih peduli dengan "jumlah penganut" daripada membawakan kabar baik, sukacita, pembebasan dan kesejahteraan bagi umatnya. Dan...sebagian besar umat / jemaat pun tak pernah sungguh-sungguh mencoba memahami apa yang dipercayainya. Agama lebih banyak sebagai label.

Aku ingat ada lagu koor yang isinya antara lain :
.... kutahu Yang Kupercayai
dan aku yakin 'kan kuasaNya
menjaga petaruhanku
hingga akhir.....

Andaikan setiap orang tahu apa yang dipercayainya dan menjalani hidup sesuai kepercayaannya itu, bukan usil tentang apa yang dipercayai oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.