Namanya juga Natal, maka kunjung mengunjungi keluarga dan kerabat lazim dilakukan (walaupun di kalangan halak hita martaon baru lebih umum,ya) . Maka, berkumpullah orang-orang yang kenal baik satu sama lainnya. Pasti cerita-cerita lah. Semua bisa didiskusikan (siapa bilang diskusi, cuma cerita-cerita kok). Mulai dari suasana Natal, harga mentega, SBY/Sultan/Megawati, angka tondong na gabe caleg, sekolah anak-anak, anggota keluarga yang sakit, etc etc.
Aku pun menjalani ritual itu. Dan salah satu topik... perilaku pangula huria. Muncullah anekdot tentang kelakuan pangula huria yang sama sekali tidak mencerminkan sifat pelayan Kristus. Mulai dari yang korupsi dana gereja, mengemil uang pelean, diam-diam pergi mardatu, punya cem-ceman, KDRT, cuek terhadap jemaat... ya semuanya ada (dan sampai pada kesimpulan : Pangula Huria juga manusia).
Salah seorang cerita tentang kejadian di gerejanya yang lagi hot. Konon mereka bikin acara penggalangan dana pembangunan gereja; acara penggalangan sudah selesai, dana sudah terkumpul, selanjutnya akan beli tanah di samping gereja yang sudah ada dan memulai pembangunan. Proses selanjutnya, panita pengumpulan dana akan menyerahkan dana yang terkumpul ke panitia pembangunan. Tetapi kata pangula huria, panita pengumpulan dana harus menyetorkan dana ke Huria, setelah itu Huria meneruskan ke panita pembangunan. Ternyata sebagian besar jemaat protes. Soalnya, selama beberapa periode kepemimpinan pendeta sebelumnya, tiap kali ada uang di tangan Huria, tak jelas pertanggung-jawabannya. Nah, Amang Pandita yang sekarang pun tak cukup diyakini tidak akan tergelincir di lantai yang sama. Maka, jemaat mau biar Panitia saja yang memegang dana hingga pembelian tanah dan pembangunan gedung terwujud. Dalam pelaksanaannya, akuntabilitas dan tanggung-jawab Panitia akan diminta.
Memang lucu juga. Jemaat menjadi lebih percaya kepada 'para awam' daripada kepada 'para penilik jemaat dan gembala jemaat'. Teramat sering aku mendengar kisah para gembala jemaat yang memperlakukan jabatannya sebagai profesi (tempat cari makan). Btw, aku pernah baca judul buku : "Menjadi Gembala Jemaat yang Profesional". Dan kelakuan pun tak beda dengan para profesional : kulakukan tugasku, kuminta reward (bayaranku). Padahal, bukankah bayaran bagi para pekerja di ladang Tuhan akan didapat dari pemilik ladang yaitu Tuhan sendiri ?
Penulis Alkitab memang telah mengingatkan jemaat untuk mencukupkan kebutuhan orang-orang kudus. Cuma ya itulah... tiap kali cerita-cerita soal ini akan muncul 'apologi' seperti ini : ago poang...beha do bahenon pandita (atau amang guru) mangolu molo holan margaji xxx rupiah, hape adong dope gelleng na marsingkola, adong na kuliah... tung antusi hamu ma.
Aku tak bisa komentar. Tapi, lihat jugalah jemaatnya. Ada yang supir angkot, ada yang parengge-rengge, ada yang martani... pendapatannya pun tak selalu baik. Tapi, jika memang hidup sebagai pangula tak mencukupi, maka marilah mempersoalkan sistem penafkahan pangula (jangan-jangan memang jemaat tertentu tidak akan pernah cukup untuk membiayai sebuah 'keluarga' pangula , maka mungkin untuk jemaat tersebut lebih cocok diutus seorang pengerja single).
Tapi above all, seorang pangula huria (termasuk para sintua, tua-tua, penatua, diaken, etc...) haruslah jadi teladan. Pangula huria juga manusia. Orang Kristen juga manusia. Tetapi baik pangula maupun jemaat adalah orang-orang yang telah dikuduskan.... mereka ada di dunia, tapi tidak sama dengan dunia ini. Kalau ini tidak diimani.... quo vadis kekristenan?
26 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.