Masih suasana Natal. Ya, namanya juga cerita-cerita di antara orang dekat. Apa pun diceritain.
Sampai juga cerita ke tentang perbandingan antar gereja. Biasalah. Ada yang mengeluh tentang suasana gerejanya yang tidak 'kondusif'. Atau kurang greget.
Ada yang mengomentari bahwa di gerejanya suasananya 'asyik punya'. Mulai dari acaranya sampai perhatian yang diberikan oleh para pekerja gereja (maksudnya pendeta, majelis dsbnya) kepada anggota (maksudnya jemaat). Ujung-ujungnya, "silahkan datang berkunjung ke gereja kami". Atau "kami lebih diberkati setelah pindah gereja".
Tampaknya memang agak trend sekarang ini ikut kebaktian di gereja yang 'lebih hidup'. Memang antong, toho do...beberapa gereja lebih semarak dari gereja lama (entah apa maksudnya ini, ada gereja lama ada gereja baru pula). Ada yang lebih penuh dengan mujizat dan kesaksian. Tapi, benarkah kita harus meninggalkan gereja yang tata ibadahnya tidak trendy ? Atau meninggalkan gereja yang sedang bermasalah ? Atau yang gedungnya malu-maluin ?
Dan pindah kemana ? Yang full multi-media ? Pendetanya pintar khotbah mirip motivator dahsyat di radio-radio? Yang gerejanya full AC ? Yang pelayanannya lengkap ?
Apakah menjadi anggota gereja adalah soal hak ? Bagaimana dengan panggilan untuk turut membangun tubuh Kristus ? Termasuk untuk menyelamatkan gereja dari tangan orang-orang tertentu ?
Ironisnya, banyak orang bertahan di gereja tertentu karena alasan organisatoris : mempertahankan posisi dan aset gereja (maka tidak heran, yang sering ribut 'kan gereja yang besar). Kalau tak bisa menang, buat gereja baru. Atau kalau mau jadi pimpinan, cari 'franchise'. Menjamurnya denominasi gereja sekarang mirip dengan parpol, cuma beda nama, yang penting 'kita yang mengatur.' Ada juga yang buat gereja baru karena konon dapat 'mandat khusus' dari Tuhan. Entahlah, aku tak cukup info untuk memahami hal-hal tersebut.
Sayangnya, yang paling banyak di'gerogoti' adalah gereja halak Batak Kristen. Marketing pitch mereka : Gereja lama dituding kental dengan animisme, menyembah nenek moyang, memberhalakan ulos, ,... Hei, di antara jemaat atau gereja itu mungkin saja ada yang melakukan itu, tapi jangan pukul rata, dong. Sekali waktu ada seorang muda yang menurutnya telah lahir baru berkenalan denganku dan dengan bersemangat bersaksi tentang imannya. Aku bangga sekali melihatnya, dan bertanya di mana orang tinggal orang tuanya. Dia menyebutkan sebuah kota kecil dan "... tapi mereka belum mengenal Kristus.,," Aku pikir, maksudnya mereka masih animis, tapi ternyata maksudnya "..,karena mereka anggota Gereja xxx (sebuah gereja Kristen Batak)". Aku terperangah. Boleh jadi orang tuanya belum mengenal Kristus secara utuh, tapi bukan karena mereka anggota Gereja xxx yang Protestan, sementara si orang muda aliran Kharismatik.
Menyedihkan sekali, orang-orang muda Kristen yang merasa 'selamat sendiri', berpandangan mereka selamat karena sudah meninggalkan tradisi orang tuanya. Pindah gereja sepertinya adalah jalan keselamatan. Oh my God!
Di keluarga besar kami ada yang Lutheran, ada Calvinist, ada Betel/Kharismatik, ada Pentakosta, ada Katolik.... Mereka semua, menurutku, adalah Batak Kristen. Tak usahlah merasa yang satu lebih benar dari yang lain. Ukuran kekristenan sangat sederhana : apakah kita mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan akal budi dan apakah kita mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri ? Jika kita tidak lolos dari kriteria itu, sorry, apa pun gereja kita, surga bukan milik kita. Jadi, mau di gereja Batak, gereja Indonesia, gereja Amerika...sama saja. Kristus adalah satu untuk semua.
28 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.