Sejak kecil di rumah kami ayah dan ibu (Bapak dan Mamak) berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan anak-anaknya. Antara mereka berdua, mereka bicara dalam bahasa Batak. Jadi aku mengerti sebagian besar bahasa Batak sehari-hari (tapi tidak bahasa Batak adat, seperti umpasa dsbnya). Maka, wajar sajalah jika bertemu dengan siapapun aku berbahasa Indonesa.
Sewaktu aku merantau ke sebuah kota di Jawa, bertemulah aku dengan seorang Batak asal Sumut yang sekolah SMA di Jawa kemudian melanjut kuliah di sana pula. Dia memang BTL, jadi bahasa Bataknya OK sekali. Waktu aku ketemu dia pertama, dia langsung komunikasi bahasa Batak, dan aku jawab pakai bahasa Indonesia. Dia marah dan 'ngenyek', "Hira so Batak do bayo on... Hape iba nungnga xxx taon di son boi dope marhata Batak, ia bayo on baru dope ro sian Medan...na sombong ma ho!"
Sebagai kawan, ya, aku tertawa saja. Cuma, miris juga identitas kebatakanku dipertanyakan.
Dalam perjalanan hidupku yang relatif panjang, sering aku bertanya : beruntungkah aku menjadi Batak ? Apakah aku ikut bangga dengan sederetan nama bermarga yang menjadi tokoh hebat di pentas nasional ? Ikutkah aku menjadi pecundang dengan pencopet, perampok dan pembunuh yang juga bermarga ?
Dari bapak yang Batak dan ibu yang Batak, aku tak bisa mengingkari bahwa aku ini Batak. Aku pun tak mau mengingkari hal itu. Tapi, seperti apakah diriku seharusnya supaya aku tetap bisa dianggap Batak ? Dan, jika aku tak bisa memenuhi kriteria lain (di luar garis keturunan), apakah bernilai untuk tetap mempertahankan kebatakanku ? Haruskah aku melepas margaku jika aku sudah tidak bisa berbahasa Batak, tidak paham adat Batak, tidak mengikuti tradisi Batak tertentu...? Atau, bolehkah aku mengintroduksikan perubahan kepada kebatakan, karena akupun berhak mengatasnamakan generasi Batak ?
21 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.