Siapakah aku ?
Pertanyaan bernada filosofis ini muncul beberapa kali dalam pikiranku. Tapi, entah kapan pertama kali aku berpikir tentang itu aku tak ingat. Yang jelas, semakin bertambah usiaku, semakin kusadari bahwa aku memiliki identitas tertentu yang, lagi-lagi, entah bagaimana melekat pada diriku. Artinya : tanpa aku pilih, suatu waktu aku menyadari 'aku adalah aku yang ini.'
Ada tiga identitas yang perlahan-lahan kusadari merupakan bagian dari diriku.
Pertama : Aku orang Indonesia. Ini dipatrikan oleh bahasa yang aku pergunakan sehari-hari di rumah dan di sekolah serta lagu 'Indonesia Raya' yang setiap Senin kami kumandangkan dalam upacara bendera. Tentu saja pengertianku tentang kewarganegaraan dan nasionalisme masih dangkal ketika aku di Sekolah Dasar, tetapi setidak-tidaknya guru-guruku menjelaskan bahwa aku orang Indonesia (dikontraskan dengan penjajah Belanda).
Kedua : Aku orang Kristen. Aku tidak ingat kapan aku menyadari aku ini orang Kristen, karena di masa kecil aku tak begitu memahami perbedaan agama, karena hingga usia (mungkin sekitar 10 tahun) aku tinggal di lingkungan rumah dan sekolah Kristen. Jadi, tentang adanya kepercayaan lain aku tak begitu menyadari. Lalu pada usia tertentu (aku tak ingat kapan - belasan tahun), kami pindah ke sebuah rumah yang bersebelahan dengan taepekong (rumah ibadah Kong Hu Chu); tapi, pada saat itu pun kupikir perbedaannya bukan soal agama, tapi soal kebangsaan (aku pikir itu rumah ibadah bangsa Cina, karena jemaat taepekong identik dengan warga turunan Cina). Di sekolahku (yang Kristen) memang ada beberapa siswa Muslim, Buddha dan Kong Hu Chu, tapi sama sekali kami tidak pernah mempersoalkan perbedaan ini, jadi ya, bahwa aku Kristen itu cuma soal aku pergi hari Minggu ke gereja, sedangkan kawan yang Muslim (Islam) hari Jumat ke mesjid.
Ketiga : Aku orang Batak. Aku pun tak ingat kapan mulai sadar bahwa aku orang Batak. Yang aku tahu ternyata orang yang berbeda ('etnis'nya, istilah yang saat itu belum aku tahu), berbeda bahasanya. Yang Batak berbahasa Batak, yang Cina bisa bahasa Cina.
Jadi, kalau kupikir-pikir, aku tak tahu kapan aku menyadari siapa aku (setidak-tidaknya secara nominal). Baru setelah aku merantau ke Tanah Jawa (maksudku Pulau Jawa, bukan yang di Simalungun itu), pada usia 18 an, mulailah aku sadar, identitasku itu. Di hari pertama atau kedua di kampus, aku dikejutkan oleh seseorang (yang kemudian ternyata menjadi kawan sekelasku, dan dia berasal dari etnis di Pulau Jawa dan bukan Kristen) yang bertanya : "Kamu orang Batak ya?", dan kujawab "ya". Lalu dia lanjutkan "Kamu Kristen ya?", kujawab lagi "ya". Aku tidak ingat persisnya apa yang dia katakan, tapi nadanya agak mencemoh, kata-katanya kira-kira berarti "mengapa kamu datang kuliah ke sini?". Aku kaget, tapi tidak menanggapi. Sebagai pendatang yang baru menginjakkan kaki di negeri orang, aku tak mau cari perkara. (Menariknya, setelah kuliah, kami juga ternyata berteman cukup baik, dan tak pernah mengingat-ingat insiden itu; jadi, kupikir, pertemuan dengan perantau dari Utara Pulau Sumatera juga cuma 'culture shock' bagi dia yang juga ternyata berasal dari udik di Pulau Jawa).
Tapi bagiku insiden itu mengungkit sesuatu di dalam diriku yang sebelumnya tak pernah kupersoalkan. Ternyata aku Batak. Ternyata aku Kristen. Begitulah orang memandangku. Soal aku orang Indonesia tak begitu soal, karena aku (hingga saat ini pun) jarang berhubungan dengan warga negara asing. Ada kalanya keberadaanku sebagai Batak dan Kristen ini mengusik pikiran. Ingin juga aku tahu, bagaimana kawan-kawanku yang segolongan memandang dirinya.
Inilah pikiranku.
21 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.