Masih hasil cerita-cerita waktu bertemu di natalan keluarga.
Mulanya cerita tentang maraknya kawin-cerai selebritis. Lanjut ke cerita tentang "gak usah jauh-jauh, di orang kita pun banyak kayak gitu sekarang ini".
Makin dalam lagi ... "eeeh, ndang binoto portibi nuaeng on. Ai anak ni si ... (menyebut nama) pe nungnga mangoli, alai tu halak .... (menyebut suku non-Batak), nungnga gabe ... (menyebut agama non-Kristen) ibana".
Maka ada yang menimpali betapa sedihnya bermenantukan orang yang bukan Kristen. Bukan Batak pula. Lebih lagi : anaknya pun beralih kepercayaan. Ada yang menambahkan kasus lain : "ia anak ni si.... pe nungnga mangoli sip sip tu halak xxx. Ndang hea binege kabarna, hape tarboto ma naung adong do gellengna. Ba...tong do gabe xxx ibana mangihuthon haporseaon ni tungga ni boruna i."
Yang bernada positif ada juga. "Piga-piga ari na salpu diadopi hami do parsarimatuaan ni sada ina. Hape parumaenna sian buhabajuna halak sileban do (non-Kristen non-Batak), hape amanta dohot buhabaju na i nungga parjolo marujung. Alai daba, boi do dibaen parumaen na i denggan ulaon sarimatua i."
Berbincang-bincang tentang pernikahan dengan pasangan tidak seiman umumnya akan menuai pro kontra. Pandangan-pandangan yang muncul sering kali lebih beraroma kepentingan sendiri tetapi dibungkus dengan berbagai dalil, teori, contoh kasus, ayat, tradisi dan sebagainya. Di antara yang melalukan pernikahan linta iman : yang langsung meninggalkan imannya banyak...yang bertahan dalam iman masing-masing ada.... yang mengajak pasangannya mengikuti imannya pun ada.
Tapi, apakah arti pernikahan sebenarnya ? Persekutuan daging ? Persekutuan sosial ? Atau, persekutuan roh ?
Sayangnya, pada banyak orang Batak, pernikahan lebih kental sebagai persekutuan sosial. Maka muncullah permintaan orang tua : kawinlah dengan orang Batak, carilah yang bagus paradation ni natorasna, na denggan karejo na, molo boi pegawai negeri ma,...
Pada orang muda, perkawinan adalah legalisasi hubungan fisikal, jaminan finansial dan status sosial. Maka muncullah keinginan orang muda : aku mau yang cantik kayak Luna Maya, yang ganteng kayak Christian Sugiono, yang macho, yang tajir, yang 'gak malu-maluin kalau dibawa.
Yang manakah yang diinginkan Yesus pada pengikutnya ? Jelas, pernikahan berkaitan dengan kedagingan ('maka mereka akan menjadi satu daging'), berkaitan pula dengan soal sosial (ingat cerita Ruth dan Naomi). Tapi, adakah dasar untuk menikah karena ketertarikan fisikal emosional atau kecocokan sosial boleh menafikan dasar 'satu iman' ?
Pernikahan inter-faith bagi orang yang telah percaya kepada Kristus sesungguhnya adalah penyangkalan terhadap Kristus. Entah tetap bertahan pada iman masing-masing, entah menggiring pasangan kepada iman Kristen nominal, dasar pernikahan tetaplah tak Kristiani. Bagaimanakah seorang isteri harus tunduk kepada suami secara unconditional (sementara mereka berbeda kepercayaan) ? Bagaimanakah seorang suami harus mengasihi isteri hingga rela mati untuknya (sementara mereka berbeda keyakinan) ?
Dalam diskusi, muncul pendapat yang agak nyeleneh : orang-orang Kristen yang menikah dengan dengan bukan Kristen sebaiknya meninggalkan kekristenan dan beralih ke iman pasangannya, karena Tuhan akan 'memuntahkan' orang yang kepercayaannya suam-suam kuku. Aku pikir betul juga. Bagusnya, menurutku, tidak ada kepura-puraan di dalam rumah tangga dan lingkungan sosial. Tapi, itu memang pilihan, soalnya Tuhan sendiri yang bilang 'lalang dan gandum akan dipisahkan Tuhan setelah akhir zaman.'
Hei, aku tak berkata bahwa pernikahan dua orang Kristen selalu lebih baik dari orang yang bukan Kristen. Far from it. Tapi, sudahlah, kalau kita memang tak bisa mengikut Kristus ketika kita bisa memilih, mengapa kita tidak konsisten saja menyandang atribut baru ? Lagi pula, apa menariknya mempertahankan status Kristen ? (Ini 'kan seperti menyimpan KTP lama, sementara kita sudah bermukim di kota lain).
Aku merindukan keluarga Kristen (suami-isteri, orangtua-anak, mertua-menantu) yang dalam sukacita dan dukacita berseru kepada Tuhan yang sama dan Juruselamat yang sama.
27 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.