Aku ini mungkin kurang banyak kenal suku bangsa lain. Sejauh yang kutahu, halak Batak Toba adalah yang paling rajin mengadakan persekutuan doa (partangiangan) di antara orang yang berkerabat. Seorang yang telah menikah mungkin akan mengikuti beberapa partangiangan : (1) Partangiangan marganya sendiri (2) Partangiangan marga suami/isteri (3) Partangiangan marga ibunya (4) Partangiangan marga ibu mertuanya... dan itu bisa punya varian, seperti partangiangan na sa-ompu, partangiangan se kecamatan, partangiangan se-kota, .... tambahkah lagi partangiangan satu RT/RW (atau satu STM kata orang Sumut)... tambahkan lagi partangiangan gereja... belum kalau si Bapak atau si Ibu ikut kelompok tertentu di gereja.... Betapa seringnya orang Batak martangiang.
Jauh sebelum musim istilah persekutuan doa, halak Batak Kristen sudah rajin marsaor martangiang. Karena rajin berdoa, wajarlah jika halak Batak Kristen akan lebih baik (secara moral dan spiritual) dari orang lain...bukan begitu ? Atau, apa begitu kenyataannya?
Sejauh yang kulihat, tak banyak bedanya halak Batak Kristen dengan orang Kristen lain (yang tak rajin berdoa) atau dengan orang bukan Kristen. Perilaku kasar dalam kata-kata dan tindakan, perilaku tidak peduli terhadap sesama, perilaku selingkuh, perilaku korup... sama saja. Jadi, apakah partangiangan-partangiangan tersebut tidak ada gunanya?
Sekali waktu aku menghadiri partangiangan marga, dan salah seorang tetua (sesepuh) mengingatkan : percuma kita rajin ke partangiangan, kalau pada saat 'adong ulaon di sada-sada hita' tidak banyak yang datang. Nah, amang itu malah berpandangan bahwa parsaoran marga tidaklah terlalu penting mengadakan partangiagan, yang penting 'ngumpul kalau ada acara salah seorang anggota kelompok.
Lucunya lagi (lucu dalam bahasa Medan), banyak orang Batak mencari dan ikut persekutuan doa tambahan di luar gereja dan di luar kumpulan marga. Jadi, apakah memang ada yang kurang dari partangiangan di gereja dan lingkungan kekerabatan itu ? Yang juga menarik adalah : partangiangan biasanya dihadiri oleh orang-orang yang relatif tua. Yang muda (termasuk yang sudah menikah) entah ada dimana. Ya, mirip-mirip kondisi di gereja halak hita lah.
Molo hurimang-rimangi, persoalannya adalah format partangiangan halak hita itu. Sepertinya, menurut yang kuikuti selama ini, partangiangan itu hanya memindahkan kebaktian gereja ke rumah dalam skala yang lebih kecil. Interaksi dalam ibadah praktis tidak ada. (Interaksi di luar ibadah jelas banyak; habis partangiangan bisa kombur, buka catur dan Joker Karo pula...). Pendeta atau sintua yang memimpin acara pun biasanya membawakan dengan cara yang, maaf, tanpa greget. Memang seringkali ada diselipkan di dalam khotbah atau doa tentang kelompok atau anggota kelompok partangiangan itu. Tetapi, jarang sekali ada 'real action' sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok doa khusus. Jadinya, ikut partangiangan seperti sekedar 'setor muka' dan kangen-kangenan dengan kerabat.
Kalau saja hita halak Batak Kristen bisa menggunakan mekanisme unik di dalam komunitas Batak ini untuk meningkatkan kasih persaudaraan, kepedulian, pembinaan iman Kristiani....seperti yang dilakukan oleh jemaat pertama.
24 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.