22 Desember 2008

Tardidi

Di gereja tempat aku mengikuti kebaktian hari ini ada kegiatan baptis anak. Beberapa anak yang dibaptis adalah anak-anak orang Batak, terlihat dari marga orangtuanya yang tertera di Warta Jemaat. Meskipun gereja tersebut bukan 'Gereja Batak' (artinya yang bermula dari gereja komunitas Batak), tetapi memanglah lazim bahwa orang Batak menjadi anggota di berbagai gereja yang tak ada kait-mengaitnya dengan kebatakan. Jelas di gereja demikian tidak ada ibadah dalam Bahasa Batak. Jadi, tidak ada keharusan bertemu Tuhan Yesus dalam tata ibadah yang berisi pujian dan doa di dalam bahasa Batak (seperti yang sering kudengar ketika aku masih ikut orang tuaku di sebuah gereja Batak).

But don't get me wrong. Aku sama sekali tidak anti gereja suku (termasuk gereja Batak). Sesekali aku ikut bergereja di HKBP yang bahasa pengantarnya bahasa Batak, karena aku pun rindu melantunkan lagu dari Buku Ende (walaupun aku tak mengerti sepenuhnya kata-katanya).

Persoalan yang menggelitik adalah identifikasi Kristen Batak dengan gereja Batak.

Yang lebih mendalam lagi adalah persoalan identifikasi Batak (khususnya Batak Toba) dengan Kristen.

Sering orang (termasuk orang Batak Toba) beranggapan bahwa manusia Batak Toba adalah wajib Kristen. Padahal jelas ada sejumlah orang Batak yang asli dari Toba adalah non-Kristen sejak kakek buyutnya. Dan sekarang banyak pula yang meninggalkan iman Kristennya karena berbagai alasan.

Sebagai pengikut Kristus, aku bersyukur dilahirkan di keluarga dan komunitas yang sudah mengenal Kristus dan memperkenalkanku kepadaNya sejak aku kecil. Aku pun pernah tardidi (pasti di HKBP), malua (di HKBP juga) dan mangoli (lagi-lagi di HKBP) seperti kebanyakan orang Batak Toba. Tetapi, lingkungan Kristen tidak serta merta menjadikanku pengikut Kristus seperti yang Dia inginkan. Satu lagu dari Buku Ende yang sering kuingat adalah yang syairnya berisi kira-kira begini ...Kristen ahu, alai hutondong Jesus.Hanya karena kasihNya saja aku beroleh kesempatan untuk mengenalnya secara pribadi dan tetap terhitung sebagai salah seorang dari umat yang diselamatkanNya.

Aku sering bertemu dengan keluarga Batak yang menceritakan dukanya karena putra atau putri mereka yang lahir dan besar di dalam lingkungan Kristen, ketika menikah mereka menyangkal iman kepada Kristus. Sungguh menyedihkan. Semua pengajaran yang mereka dapatkan mulai dari Singkola Minggu, Marguru Malua, Marburende Naposobulung, dsbnya tidak ada artinya demi 'cinta' pada lawan jenis yang berbeda keyakinan.

Jadi, ketika tadi di gereja aku menyaksikan ikrar para orangtua untuk membawa anak-anak mereka kepada Yesus, aku terharu. Akankah ikrar tersebut mereka penuhi dengan penuh tanggung-jawab ? Selanjutnya, apakah anak-anak mereka pun akan tetap mengikut Yesus di masa dewasa mereka ? Seandainya mereka menyangkal Yesus karena mereka membuat pilihan yang didasarkan pada hikmah atau hidayah tertentu, secara manusiawi masih dapat diterima (lagi pula : ".... bukan engkau yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih engkau", kata Yesus). Tetapi, keputusan berpindah iman untuk memuluskan perkawinan atau karir..... oh, betapa dangkalnya kesetiaan manusia.

Kiranya anak-anak yang hari ini dibaptis di gereja tadi adalah anak-anak yang telah terpilih sebelum bumi dijadikan. Sebagai halak Batak Kristen, aku pun berdoa : semoga generasi penerus Batak Kristen yang hari ini dibaptis itu akan memelihara iman yang diteruskan orang tuanya dan dapat tumbuh sebagai manusia dewasa sebagai orang Batak. Botima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.