30 Juni 2009

Bapa yang berduka

Ketika anakku yang baru berusia 5 tahun sakit hampir satu minggu ini, hatiku sangat sedih melihat tubuhnya layu dan semangatnya pudar. Syukurlah mulai kemarin dia sudah terlihat pulih, dan kelakukannya cerianya mulai muncul kembali. Ketika anakku sakit, aku sebagai bapanya juga merasa sakit. Ingin rasanya mengambil alih segala rasa sakit yang hinggap pada diri bocah kecilku.

Ketika anakku berbuat lasak dan memecahkan kaca meja di sebuah rumah sakit, aku marah dan menegurnya.

Ketika anakku berbuat nakal dan merampas mainan temannya, aku marah dan menegurnya.

Ketika anak-anak beranjak remaja, menjadi dewasa, kemudian membangun rumah-tangganya sendiri, apakah orang tua masih dapat marah dan menegur mereka yang berbuat salah ?

Ketika orang-tua telah memberikan yang terbaik bagi anaknya, tetapi anak berbuat jahat, bagaimanakah perasaan hati bapanya ? Akankah sang bapa membuat iklan pernyataan "putus hubungan keluarga" di koran ?

Ketika seorang anak yang telah dijanjikan warisan - resmi bermeterai di hadapan notaris - oleh orangtuanya tetapi berbuat hal-hal yang menentang ajaran orangtuanya, apakah sang orangtua akan mencabut janji itu ?

Ketika manusia yang telah meminta ampun dosa ditebus dosanya - dan diangkat menjadi anak Allah serta mendapat bagian dalam Kerajaan Allah - kembali berbuat dosa, apakah yang akan dilakukan oleh Allah Bapa kita terhadap kita ?


Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

(Efesus 4 : 30)

29 Juni 2009

Cakap kotor

Ketika masih kanak-kanak, salah satu hal yang ditabukan aku lakukan adalah "cakap kotor".

"Pantang!" Begitu nasihat bapakku; juga nasihat ibuku. Juga nasihat orang-orang dewasa lain. Kuingat sekali waktu - aku masih SD - abang beca kami mengucapkan kepada seorang kawannya tukang beca lain beberapa kata yang belum kami pernah kami - aku dan adik-adikku - dengar. Kami tidak mengerti artinya, tapi terdengar lucu, karena kata-kata tersebut dibalas oleh abang beca lain sambil tertawa keras-keras.

Di rumah kami menirukannya dengan bangga. Ketika ada tamu datang ke rumah, kami berteriak-teriak menggunakan kata-kata tersebut untuk pamer pengetahuan - ? - baru kami itu. Hasilnya : kami dibentak untuk diam, dan ketika tamu pulang, bapak membantingi kami dengan sapu lidi, hingga beberapa ujung lidi bersarang di kaki kami. Belakangan kami tahu, setelah dijelaskan dengan bentakan dan teriakan keras, bahwa apa yang kami ucapkan adalah "cakap kotor."

Tetapi, sekarang ini perkataan kotor sudah tidak terlalu dianggap kotor lagi rupanya. Dimana-mana terdengar orang memaki atau bercanda dengan ucapan yang tak senonoh. Televisi menjadi guru yang rajin mengajarkan kosa kata yang dulu tergolong 'kotor.' Orang cukup tertawa atau tersenyum mendengar kata kotor diucapkan di depan umum, karena konon tidak ada lagi yang kotor. Itu - kata mereka - semua hanya ada di pikiran. Kotor yang berarti porno hanya terjadi kalau yang mendengar 'ngeres'. Kotor yang berarti kasar hanya terjadi kalau yang mendengar terlalu sensitif.

Hebatnya lagi ada orang-orang Kristen yang membenarkan penggunaan kata kasar untuk menegur - begitu kata mereka - saudara seiman. Kata-kata "goblok, tolol, bebal" dengan ringan berseliweran di udara dan di monitor komputer. Katanya, mereka terinspirasi oleh Rasul Paulus yang pernah menyamakan penyesat dengan anjing, dan juga cara Yesus menegur orang munafik sebagai "hai, keturunan ular beludak!" Mereka lupa, baik Paulus maupun Yesus menggunakan kata yang keras untuk kondisi yang sangat khusus dan dengan emosi yang terpelihara, sedangkan orang Kristen masa kini menggunakannya untuk memaki, meninggikan diri dan mengintimidasi yang lain.

Adakah gunanya mengucapkan kata kotor ? Rasul Paulus mengingatkan :

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

(Efesus 4 : 29)

28 Juni 2009

Untuk siapakah kita bekerja keras ?

Anakku suka mendengarkan lagu pelajaran bahasa Inggerisnya ini :

People work in the country
People work in the town
People work night and day
to make the world go round....

Bekerja. Bekerja. Bekerja.

Orang sekolah belasan tahun agar bisa bekerja.
Orang kursus di sana sini, ikut pelatihan di mana mana, agar bisa bekerja.
Juga...cari koneksi ke sana ke mari, agar bisa bekerja.
Sampai-sampai... berani bayar berjuta-juta, puluhan juta, agar bisa 'masuk' kerja.

Buruh pabrik berdemonstrasi karena pekerjaan mereka terancam.

Bekerja untuk apa ? Untuk menghasilkan uang.
Uang untuk apa ? Untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan keluarga.
Lebih lanjut lagi ... untuk dapat menikmati kemudahan yang dapat dibeli dengan uang
Dan ... untuk dapat membeli kemewahan yang disediakan dunia ... untuk diri sendiri dan keluarga ... atau orang-orang yang dikasihi... termasuk selingkuhan ?

Kalau tidak bisa bekerja halal, yang haram pun jadi.
Pokoknya : bekerja !

Bekerja untuk hidup

Hidupnya siapa ?

Bagaimana jika ada yang mengatakan bekerja keraslah untuk hidup orang lain ? Adakah yang mau mengikuti nasihat ini ?

Bagaimana jika nasihat ini berasal dari rasul Tuhan ?

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.


(Efesus 4 : 28)

27 Juni 2009

Marah

Marah!
Apakah itu ?
Karena gagal, kita bisa marah... tapi, tidak harus, karena kita bisa cukup bersedih saja.
Karena kecewa, kita bisa marah... tapi, tidak harus, karena kita bisa cukup bersedih saja.
Karena tidak dipatuhi, kita bisa marah... tapi, tidak harus, karena kita bisa cukup mengurut dada.
Karena tidak didengarkan, kita bisa marah... tapi, tidak harus, karena kita bisa cukup mengurut dada.
Karena dikhianati, difitnah, dibohongi, kita bisa marah... tapi, tidak harus
Karena disrempet, kita bisa marah
Karena ditegur, dinasihati, diomelin, dirasanin... kita bisa marah

Karena dimarahi, kita bisa membalas marah

Ada banyak alasan untuk marah.
Tapi tidak setiap kejadian memerlukan kemunculan amarah.

Marah seperti hak.


Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis

(Efesus 4 : 26,27)

26 Juni 2009

Jangan ada dusta di antara kita

Di awal perkembangannya Jemaat Kristen menggunakan prinsip "jangan ada dusta di antara kita" dalam hubungan sesama anggota di dalam komunitasnya. Alkitab mencatat bagaimana Ananias dan Safira menemui ajal karena mendustai jemaat.

Tetapi, prinsip ini tampaknya tidak lagi dipegang teguh oleh Jemaat Kristen sekarang.

Para pendusta bertebaran di lingkungan anggota dan pemimpin umat. Ada yang mencuri uang gereja. Ada yang mengorupsi dana pembangunan. Ada yang memanfaatkan gereja untuk kepentingan politik. Ada yang menahan-nahan persembahan. Ada yang bermuka manis dan menjelek-jelekkan sesama anggota. Ada yang bermuka dua : lain yang diucapkan di dalam jemaat, lain yang diucapkan di lingkungan umum.

Berapa lama lagikah Tuhan sabar akan dusta di dalam jemaatNya ? Bukankah dusta merupakan salah satu sifat manusia lama yang sudah dibuang oleh manusia baru ? Mengapakah orang Kristen selalu bersembunyi di balik ungkapan "gereja adalah tempat orang-orang berdosa yang ingin bertobat" untuk membenarkan kelakuan gemar berdusta ?

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

(Efesus 4 : 25)

25 Juni 2009

Karena kamu telah mendengar tentang Dia....

"Orang lain juga begitu..... Tak usahlah kita sok pahlawan. Ikut saja dulu. Yang penting, kita jangan berniat jahat."

Begitulah jawaban yang sering kudengar jika mencoba mengingatkan orang-orang sekitarku untuk menolak tindakan yang - menurutku - tidak benar. Memang, mereka biasanya juga tahu bahwa tindakan mereka tidak benar, tetapi berhubung cara yang tidak benar sudah menjadi norma yang diterima luas, maka mereka enggan bersikap berbeda. Ucapan yang sama keluar dari mulut orang Kristen dan orang bukan Kristen.

Jadi, herankah kita bahwa orang orang Kristen tak akan berbeda dalam kelakuan dengan orang bukan Kristen ?

Padahal, bukankah orang Kristen telah memiliki roh dan pikiran yang telah diperbarui ?

Mengapakah seharusnya orang Kristen berbeda dengan orang bukan Kristen ?

Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaanya oleh nafsunya yang menyesatkan,

supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

(Efesus 4 : 21-24)

24 Juni 2009

Cara hidup orang yang telah mengenal Allah

Pergilah ke sebuah instansi pemerintah atau swasta. Jika berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di sana, dapatkah kita mengenali yang mana di antara mereka orang Kristen ?

Dengarkanlah diskusi orang-orang. Dapatkah kita mengetahui mana di antara mereka adalah orang Kristen ?

Berbelanjalah ke toko. Yang manakah toko orang Kristen ?

Yang manakah sekolah orang Kristen ? Rumah sakit orang Kristen ?

Biasanya hanya dari cara berpakaian, aksesori yang dikenakan, dan kata-kata yang lazim digunakan, kita bisa mengenali 'label agama' seseorang. Praktis - dalam hampir semua keadaan - kita tidak bisa membedakan antara mana orang Kristen dan mana yang bukan dari perilaku dan pikirannya.

Padahal, bukankah orang Kristen adalah orang-orang yang telah mengenal Kristus dan Allah ? Apakah gunanya mengenal Krisus dan Allah jika pikiran dan kelakuan kita tidak berbeda dengan orang yang tidak mengenalNya ?


Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan : Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia


dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup pesekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

(Efesus 4 : 17-20)

23 Juni 2009

Berdosa, tetapi sombong

Sekarang ini mudah menemukan orang yang mengaku Kristen, bahkan pemimpin Kristen, berkelakuan jauh dari apa yang diajarkan oleh Kristus dan murid-muridNya. Berita tentang mereka terpampang di situs internet, televisi, koran dan majalah. Dan di antara kita - ya, di lingkungan dekat kita - kita pun membicarakan saudara seiman dan pemimpin komunitas Kristen atau gereja kita yang berperilaku jauh dari apa yang selayaknya dilakukan oleh seorang Kristen.

Apa yang harus kita lakukan jika ada orang-orang demikian ada di dalam lingkungan kita? Kita bertameng pada perintah "jangan menghakimi" dan membungkan kebenaran. Alih-alih mengaku dosa yang sedang terjadi di dalam komunitas kita dan memohon ampun kepada Allah, kita berupaya habis-habisan untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu baik-baik saja, bahkan berupaya menampilkan komunitas kita sebagai suatu teladan.

Kita menipu diri sendiri dengan menyangkali bahwa kita telah menjadi bagian dari suatu lingkungan yang bobrok, agar kita tidak kecipratan - atau ketahuan - sebagai orang yang jelek moral. Kita mencampuradukkan pengertian Kristen dalam arti ideal dengan Kristen yang dipraktikkan oleh orang-orang yang mengaku Kristen.

Lihatlah! Kita ikut berpesta-ria di dalam pesta pernikahan yang diselenggarakan seorang anggota jemaat untuk puterinya - semua orang tahu, tetapi ... sudahlah tak usah diomongin - sedang hamil muda.

Lihatlah! Kita menganggap biasa bahwa di antara pemuda jemaat ada yang berperilaku homoseksual.

Lihatlah! Kita tidak pernah menegur keras dua orang anggota paduan suara yang terlibat affair padahal mereka masing-masing sudah menikah dengan orang lain.

Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.
Sekalipun demikian, kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang-orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu ?

(1 Korintus 5 : 1,2)

22 Juni 2009

Kabupaten Kristen ?

Berkendaraan dari Tomok hingga Pangururan, aku melihat di sepanjang jalan berdiri di kiri kanan jalan bangunan gereja dan kuburan yang - hampir semuanya - dihiasi salib. Kecuali satu wihara dan sebuah mesjid di kota, praktis tidak ada rumah ibadah agama selain Kristen yang terlihat. Bagaimanakah orang-orang tidak mengatakan bahwa daerah ini adalah daerah Kristen ?

Adakah kabupaten ini secara nyata berbeda dari kabupaten lain di Indonesia dalam hal perilaku aparat, tingkat kejahatan, dan etos kerja ? Tak tahulah, tak ada berita yang menonjol mengenai hal itu.

21 Juni 2009

Doa syafaat yang kontekstual

Hari Minggu. Aku dan keluarga mengikuti kebaktian di HKBP Parapat.

Ada yang menarik dalam warta jemaat. Salah satu topik dalam doa syafaat adalah para pedagang; mereka didoakan agar dapat tetap ramah melayani para pelanggannya.

Hal ini menjadi menarik bagiku karena dari dulu aku sudah terbiasa dengan keluhan orang-orang dan juga pengalaman pribadi dengan para pedagang mangga di Parapat. Harganya mahal, timbangannya menipu dan buahnya banyak yang busuk.

Tapi itu dulu.

Setidak-tidaknya ketika membeli mangga di tepi jalan utama Parapat hari Sabtu siang, pedagangnya cukup ramah. Harganya memang lebih mahal (ternyata di Balige harganya cuma Rp. 7000 sementara di Parapat Rp. 10.000), memang ada yang busuk, tetapi tidak banyak, tentang timbangannya mungkin OK lah.

Barangkali ini berkat doa syafaat itu, ya.

20 Juni 2009

Mengenang

Hari ini kami pulang kampung ke Balige. Pulang kampung bagi keluarga kami bukan lagi bermakna mengunjungi kerabat yang masih hidup, tetapi lebih mengunjungi makam orang-orang tercinta yang telah meninggal lebih dahulu.

Di dalam sebuah tambah di kampung kami dikuburkan dan disimpan saring-saring ompung doliku dan kedua ompung boru, juga seluruh kakak dan adik ompung doli dan orangtuanya. Di depan tambak itu ada makam bapakku.

Tidak ada acara ziarah.

Aku mampir melihat-lihat tambak dan beberapa makam yang ada di sekitarnya. Sebentar aku berdiri tercenung mengingat bapakku. Aku tahu di dalam makam yang bernisan namanya ada tubuhnya, tetapi jiwanya ada di suatu tempat - yang kupercaya - adalah surga. Di sanalah dia sekarang.

Aku tak tahu harus bagaimana terhadap makamnya yang telah kami keramik rapi.

Ini cuma sebuah makam.

Tetapi, bapakku ada di dalam hatiku dan pikiranku. Aku terkenang kepeduliannya terhadap kami anak-anaknya.

Ada rasa haru dan terenyuh.

Ada rindu.

Aku berjanji dalam hati : aku akan mengasihi anakku sebagaimana telah diteladankan bapakku kepadaku. Aku akan mengasihi isteriku sebagaimana telah diperlihatkan bapakku kepada ibuku selama hidupnya.

Begitulah aku mengenangnya.

Dengan cinta.

Dan rindu.

19 Juni 2009

Haholongan saleleng-lelengna

Meski aku sering mendengar lagu Peter Pan "Tak Ada Yang Abadi" dengan melodinya yang enak di telinga, aku tidak tahu apa persisnya syair lagu itu. Hanya pada bagian refrain ada kata "tak ada yang abadi" diulang-ulang dan hanya kata-kata itu yang terrekam di benakku.

Di bumi ini kita sudah terbiasa dengan ucapan "tak ada yang abadi."

Memangnya ada ? Tampaknya memang di bumi ini tak ada. Ariel Peter Pan benar.

Tapi, bagaimana kalau "yang abadi" itu berasal dari luar bumi ?

Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri acara pernikahan di sebuah gereja dan di dinding belakang altar terbaca :

Haholongan saleleng-lelengna hubahen mangkaholongi ho.

(Jer 31:3)

Hmmm... Ternyata ada yang abadi. Sadarkah kita?

18 Juni 2009

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu

Anak-anak masa kini memang hebat-hebat. Masih balita tetapi sudah bisa banyak omong, bahkan menggunakan kosa kata yang biasanya hanya dipahami oleh orang dewasa atau orang terdidik. Mungkin hasil didikan sinetron dan film kartun di televisi.

Kalau anak-anak sudah demikian hebat, apalagi orang dewasa.

Coba lihat dan dengar televisi. Artis yang terlibat kasus tertentu dengan lihai bersilat lidah mencoba melurus-luruskan pandangan orang tentang perilakunya. Begitu pula pejabat negara yang terlibat korupsi. Pembenaran diri dan pembentukan citra baik menjadi tujuan dari setiap kata-kata yang diucapkan.

Bagaimana pula dengan capres dengan segala janji-janji manis dari mulut mereka ? Dan segala sindirian dan fitnahan kepada kandidat presiden lain : bacalah bibir mereka yang mengucapkannya !

Betapa manusia mudah dan cepat berkata-kata.

Terbiasa gesit bersilat kata dengan sesama manusia, kita pun menjadi gampang berkelit lidah dengan Tuhan. Bukankah dalam kesesakan kita berdoa habis-habisan kepada Tuhan seakan-akan hidup kita sepenuhnya dalam kendaliNya, tetapi ketika pencobaan itu lewat kita menjalani hidup sesuka hati seperti kitalah penentu segala sesuatunya ?

Tak sedikit pula orang yang membuat kaul atau nazar ketika meminta Tuhan untuk memberkati suatu upaya. Yang paling gampang, lihatlah : setiap hari di banyak gereja di permukaan bumi ini ribuan janji pernikahan diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaatNya. Apa yang terjadi dengan janji itu ?



Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.

Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.

Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodah. Tepatilah nazarmu.

Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.

(Pengkhotbah 5 : 1-5)

17 Juni 2009

Menuntut ganti rugi kepada Allah

Ketika apa yang kita harapkan tak kunjung datang....
Ketika bencana, musibah, kegagalan tak kunjung usai....
Ketika segala sesuatu dalam hidup seperti tak akan pernah pulih kembali ....

Putus asa, kecewa, marah....
Kepada siapa ?

Ketika doa teramat sering dilantunkan
Ketika kepasrahan sering diamanatkan
Ketika nama Tuhan teramat sering disebut

Bukankah Dia yang layak jadi sasaran ?

Tetapi, siapakah kita terhadap Dia ?


Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya ?

(Roma 11 : 35)

16 Juni 2009

Jangan mencari keuntungan sendiri

Bolehkah orang Kristen berdagang ? Tidak ada larangan untuk itu.

Bolehkah orang berdagang mencari untung ? Tidak ada larangan untuk itu.

Bolehkah orang Kristen menjadi kaya ? Tidak ada larangan untuk itu.

Bolehkah orang kaya menggunakan kekayaannya untuk membangun rumah yang mewah, membeli mobil mewah, dan berlibur di tempat yang super mahal ? Tidak ada larangan untuk itu.

Bolehkah orang Kristen beradem-adem di mobil berpendingin, sementara di luar kendaraan roda dua dan pejalan kaki berpanas-panas di bawah terik matahari 33 derajat Celcius ?

Bolehkah orang Kristen berpesta berbiaya Rp. 100.000 per kepala, sementara di luar ribuan anak jalanan mengais nasi basi dari tong sampah ?

Bolehkah orang Kristen menikmati kopi Rp 40.000 segelas di sebuah kedai kopi internasional sementara seorang bocah 2 tahun menggelepar lapar di dekapan perempuan pengemis di bawah deraan hujan ?

Bolehkah anak-anak Kristen merayakan pesta ulang-tahun di restoran mahal ? Bolehkah anak-anak Kristen berbaju, bersepatu, bertas, berHP mahal ?

Bolehkah perempuan Kristen menggunakan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk perawatan tubuhnya di salon elit ?

Bolehkah .... ? Teruskanlah sendiri pertanyaan ini. Jawablah sendiri berdasarkan pengetahuan dan hati nurani yang dikaruniakan Tuhan kepadamu.

"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

(1 Korintus 10 : 24,25)

15 Juni 2009

Kedaulatan Allah

Ketika hidup terasa sulit dan kita membanding-bandingkan 'nasib' dengan orang lain, kadang terbersit keinginan untuk protes kepada Tuhan, "Mengapa aku Tuhan ? Mengapa harus begini ? Apa lagi yang kurang kulakukan ? Engkau tidak adil, ya, Tuhan ?"

Akh, siapakah kita manusia ? Debu tanah yang hendak menggugat kepada Sang Pemberi Hidup ? Tanah liat yang coba-coba mengatur Sang Tukang Periuk ?

Kita hanyalah manusia berdosa yang sudah dicampakkan dan tak berhak atas apa pun. Jika kita mendapatkan sesuatu, itu semua hanya karena kasih karunia.

Sebab Ia berfirman kepada Musa : "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siap Aku mau bermurah hati."

Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

(Roma 9 : 15,16)

14 Juni 2009

Lampak ni gaol

Pendeta Ambon yang hari ini berkhotbah di gereja mengibaratkan orang Jawa seperti padi, orang Maluku sebagai pohon sagu, sedangkan orang Batak sebagai pohon pisang. Akh, tentunya dia sudah cukup lama bergaul dengan orang Batak hingga tahu filosofi orang Batak :

masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masi tungkol-tungkolan songon suhat di robean

Masyarakat Batak memang memegang teguh ikatan kekeluargaan dan kekerabatan. Memang banyak yang mempersoalkan : apakah kadar waktu yang dialokasikan untuk menjalin kekerabatan tersebut tidak berlebihan ? Lihatlah berapa banyak waktu untuk 'maradat' dan menghadiri berbagai acara keluarga jauh di sana-sini.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa di masa kini, di mana tuntutan kedisiplinan dalam waktu kerja, akan menyulitkan orang Batak dalam memenuhi undangan dan berbagai kewajiban adat. Tetapi, meninggalkan kebiasaan yang sudah mendarah-daging ini akan membuat orang Batak tercerabut dari budayanya.

"Masiamin-aminan songon lampak ni gaol" adalah filosofi yang luhur yang tak lekang oleh zaman yang diwariskan oleh leluhur kita. Barangkali kita tidak bisa mengikuti seluruh format adat-istiadat kita, tetapi kita pasti tahu bahwa ada kebenaran universal dalam metafora pohon pisang itu.

13 Juni 2009

Welcome to the real world

Kemarin putriku yang masih TK menerima rapor. Ada acara sekolah sebelum raport dibagikan, yaitu pengumuman juara kelas dan juara umum.

Beberapa bocah berusia empat hingga enam tahun mengungguli temannya dalam nilai raport, sehingga berhak menyandang gelar juara dan menerima hadiah. Para juara diminta naik ke panggung untuk menerima sertifikat dan hadiahnya.

Hidup adalah perlombaan.

Hidup adalah hirarki : ada juara 1,2,3, ada juara harapan, ada bukan siapa-siapa.

Begitulah kita diajarkan sejak dini.

Begitukah seharusnya kita mengajarkan anak kita ?

12 Juni 2009

Mendengarkan hikmat

Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Begitulah kata-kata yang digunakan untuk orang yang tak mau mendengarkan nasihat. Seberapa banyakpun pengertian diberikan, orang bebal tak peduli dan tetap berpegang pada pemikirannya sendiri dan berperilaku semaunya sendiri.

Banyak orang tak mau tahu bahwa mereka tidak tahu. Alih-alih mencari tahu, mereka sok tahu. Sampai suatu saat mereka ketahuan bahwa mereka cuma pura-pura tahu. Mereka benci kepada pengetahuan, karena pengetahuan menelanjangi keadaan mereka yang buruk.

Lihatlah di televisi. Bacalah di koran. Dengarkanlah diskusi di radio. Atau terlibatlah langsung dengan pembicaraan dengan orang-orang. Betapa banyak di antara kita merasa sudah tahu dan merasa tak perlu lagi mencari pengetahuan. Lebih dahsyat lagi, mereka menempatkan diri sebagai orang yang serba tahu : menjadi komentator di sana sini, kritik kiri, kanan,atas, bawah, lalu bla...bla...bla.... Ikutlah saya, sayalah orang hebat itu (seperti cara kampanye para capres). Banyak orang menjadi pencemooh.

Di puncak sok tahunya, banyak orang merasa tidak memerlukan lagi panduan dari orang yang lebih bijak. Anak-anak mengabaikan tuntunan orang tua. Rakyat mengolok-olok pemimpin. Jemaat menertawakan gembalanya.

Manusia tidak lagi takut lagi memandang tinggi Firman Tuhan. Manusia tidak lagi takut kepada Tuhan.

Herankah kita bahwa begitu banyak kekacauan, kebingungan dan kecelakaan terjadi di antara manusia ?


Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya,

di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.

"Berapa lama lagi, hai orangyang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?

Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.

Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku,

bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku,

maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu,

apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu.

Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku.

Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN,

tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku,

maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.

Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.

Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka."

(Amsal 1 : 20-33)

11 Juni 2009

Tuhan ialah tempat perlindungan kita

Dalam beberapa minggu terakhir ini kita dikejutkan oleh berbagai berita mengenai kecelakaan pesawat TNI. Banyak orang meninggal dunia.

Kecelakaan kereta api juga terjadi beberapa kali.

Kecelakaan bus apalagi. Juga kecelakaan mobil pribadi. Sepeda motor diserempet juga tak terbilang.

Ada pula berita tentang beberapa orang anak yang mati tenggelam di kolam dekat rumah mereka.

Wabah flu babi mengancam. Wabah flu burung belum hilang. Wabah demam berdarah bermunculan secara sporadis di banyak wilayah.

Perampok menyatorni rumah, lalu membunuh penghuninya.

Kecelakaan. Wabah. Kejahatan.

Bagaimanakah kita melindungi diri ? Siapakah yang dapat melindungi kita ?


Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,

malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;

sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamuu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.

Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.

Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.

"Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu.

Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.

Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu."

(Mazmur 91 : 9 -16)

10 Juni 2009

Datanglah KerajaanMu

Setiap kita berdoa "Bapa Kami", kita selalu menyebutkan - sebagai suatu harapan - agar Kerajaan Tuhan datang. Apakah maksud baris doa ini ?

Setelah puluhan atau ratusan kali kita berdoa agar Kerajaan Tuhan datang, apakah Tuhan telah menjawab ?

Tahukah kita bilamana Tuhan menjawab doa kita ? Dan lagi, apakah Kerajaan Allah itu ? Apakah itu bumi seperti pada awal penciptaan dunia ? Ataukah itu seperti sebuah tempat yang lazim kita sebut surga ?

Jangan-jangan Kerajaan Allah sudah datang ! Tahukah kita bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya ada di antara kita ?


Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kataNya : "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,

juga orang tidak dapat mengatakan : Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."

(Lukas 17:20,21)

09 Juni 2009

Upah mengikut Yesus

Mengapa kita mengikut Yesus ? Ada banyak agama, kepercayaan atau ketidakpercayaan yang juga menawarkan cara hidup yang 'sejati.'

Membaca hidup para murid Yesus 'angkatan pertama' sebagaimana dicatat di Kitab Perjanjian Baru, tahulah kita tak seorang pun dari mereka - menurut yang tercatat - hidup 'bahagia' sebagaimana ukuran manusia umumnya. Tak ada dari mereka yang berlimpah kekayaan, atau mendapat kekuasaan yang tinggi, atau mendapat anak cucu yang banyak. Malahan yang diceritakan adalah penderitaan yang luar biasa.

Berdustakah Yesus ketika mengatakan bahwa para pengikutNya akan mendapatkan 'imbalan' yang berlipat ganda karena telah meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mengikutNya ? Ataukah pengertian kita mengenai 'imbalan' berupa hamoraon, hagabeon dan hasangapan yang keliru ? Tak ada kata penyesalan keluar dari mulut para murid. Masihkah kita - pengikutNya masa kini - hendak menuntut kepada Tuhan ?

Petrus berkata: "Kami telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau."

Kata Yesus kepada mereka : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang-tuanya atau anak-anaknya,

akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia menerima hidup yang kekal."

(Lukas 18 : 28-30)

08 Juni 2009

Siapa yang boleh datang kepada Tuhan ?

Kemarin. Hari Minggu : Banyak orang Kristen datang ke gereja.

Siapa saja boleh masuk gereja ketika pintunya sedang terbuka.

Semua boleh datang ke gereja.

Ke gereja : untuk apakah ? Ingin bertemu Tuhan ?

Bolehkah semua datang kepada Tuhan ?

Mazmur Daud,
TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu?
Siapa yang boleh diam di gunungMu yang kudus?

Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,

yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya
yang tidak berbuat jahat terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;

yang memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;

yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian,
tidak akan goyah selama-lamanya

(Mazmur 15)

07 Juni 2009

Hari Minggu

Hari Minggu. Ke gereja. Memuji Tuhan. Menyembah Tuhan. Belajar Firman Tuhan.

Ke gereja pada hari Minggu. Begitulah lazimnya orang Kristen.

Tetapi, jika aku tak memiliki kasih, semua itu tak berarti.

06 Juni 2009

Karena percaya, bukan karena melihat

Tak seorang pun dari kita yang hidup saat ini pernah melihat Yesus Kristus ketika Dia berkarya di bumi ini sekitar 2000 tahun lalu. Meskipun banyak upaya untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar pernah lahir, mati dan bangkit ( dan juga banyak upaya untuk membuktikan sebaliknya), bagi orang-orang yang mengikut Kristus, dasar untuk mengakui bahwa Yesus adalah benar-benar Juruselamat yang telah menebus dosa manusia - menurut pemahamanku - adalah kepercayaan.

Andaikan memang perihal Yesus, ketuhananNya dan pekerjaanNya semuanya otentik berdasarkan fakta dan teori ilmiah yang tak terbantahkan, akankah semua manusia menjadi percaya kepadaNya dan Bapa ?

Banyak orang yang hidup di zaman Yesus menolakNya, bahkan menyalibkanNya. Banyak orang yang hidup di zaman Para Rasul, yang merupakan saksi dan penerus ajaran Yesus, tak mau mengikut kepada Yesus.

Banyak orang yang sebelumnya mengikut Yesus, karena mendengar ajaran lain, kemudian meninggalkanNya.

Akhirnya, bukan soal bukti karena melihat sendiri, bukan pula soal kebenaran karena dibuktikan secara ilmiah,..., tetapi soal apakah mau percaya atau tidak. Mengapa seorang mau percaya, sedangkan yang lain tidak, aku tidak tahu dan tidak paham. Kalau aku termasuk yang percaya dan mau mengikut Yesus, aku hanya bisa bersujud syukur kepada Sang Pencipta semesta yang memberikanku iman untuk memercayai Yesus.

-- sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat --

(2 Korintus 5:7)

05 Juni 2009

Orang-orang yang diutus

Ketika seseorang menyerahkan hidupnya kepada Kristus, dia berpindah dari hukuman ke dalam janji keselamatan. Tetapi, tubuhnya tetap di bumi untuk sementara waktu. Ada tugas yang diemban oleh setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus.

Tuhan mengangkat beban dosa kita, tetapi Dia belum mengangkat kita dari dunia.

Ketika kita mengikut Kristus, maka kita pun menjadi utusanNya di bumi ini.


Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat.

Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran

Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia; demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia

(Yohanes 17 : 16-19)

04 Juni 2009

Bijaksanalah : kematian begitu pasti

Keangkuhan. Ketidaksediaan mengampuni.

Abai terhadap Tuhan. Abai terhadap sesama.

Kemalasan. Kebebalan.

Ketegaran tengkuk.

Ketidakpedulian.

Siapakah yang tahu masih ada kesempatan untuk memaafkan dan meminta maaf ?

Siapakah yang tahu masih ada kesempatan untuk menemukan arti hidup ?


Siapakah orang yang hidup yang tidak mengalami kematian,
yang dapat meluputkan nyawanya dari dunia orang mati ?
(Mazmur 89:49)

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana
(Mazmur 90:12)

03 Juni 2009

Allah berkehendak agar umatNya hidup kudus

Perselingkuhan : seorang lelaki ditemani anaknya menggebrek isterinya yang sedang berduaan dengan lelaki asing di rumah kosong lewat tengah malam. Seorang isteri ketahuan punya affair dengan lelaki lain dari memori handphonenya. Seorang anggota DPR tertangkap di hotel sedang berduaan dengan PSK.... banyak berita seperti ini membanjiri halaman koran dan infotainment televisi.

Lelaki dan perempuan - entah pasangan sah atau cuma pacaran atau pasangan selingkuh - menggoyangkan kepala dan badan seperti orang kesurupan di acara 'dugem' di diskotik.

Lelaki dan perempuan - dewasa dan bocah ABG - memelototi gambar-gambar cabul yang dengan mudah diakses melalui internet.

Lelaki dan perempuan - dewasa dan bocah ABG - berbincang-bincang dengan ringan, bercanda dan berolok-olok, tentang seks dan kenikmatan yang dulu hanya dibicarakan secara privat.

Orang-orang melecehkan kemurnian cara hidup. Itu adalah trend. Semua orang digiring dan ikut-ikutan juga menggiring yang lain untuk mengikuti trend. Karena semua melakukannya, terasa aneh kalau menentang arus dan mengatakannya keliru.

Tetapi, tidak bagi umat yang mau tetap setia kepada Tuhan.

Karena inilah kehendak Allah : pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,


supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,

bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,

dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalasan dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.

Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

(1 Tesalonika 4:3-8)

02 Juni 2009

Ketika aku terjaga esok pagi..,

Sudah larut malam ketika aku menuliskan renungan ini. Tak lama lagi aku akan tertidur. Lalu, pagi hari aku terjaga. Apakah yang akan muncul di benakku pertama kali besok pagi ?

Tugas-tugas yang tak kunjung usai ? Berbagai ketidakpastian yang mengganjal ? Kegembiraan menyambut tercapainya suatu acara yang telah lama dinantikan ? Sederetan tindakan dan emosi yang - mungkin positif mungkin negatif - terkait dengan kehidupanku di bumi ini.

Dapatkah berbagai hal yang akan kujelang esok dalam kehidupan ini memberiku rasa cukup dan puas ?


Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajahMu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupaMu

(Mazmur 17:15)

01 Juni 2009

Sang Penuntun

Kemarin adalah Hari Minggu Pentakosta - hari peringatan Roh Kudus turun ke umat Kristus. Tema ibadah yang tercermin dalam khotbah dan lagu berkaitan dengan peran Roh Kudus sebagai penghibur dan juga penuntun dalam hidup orang Kristen.

Kita adalah musafir yang mengembara di bumi. Penuntun : seperti tiang awan yang memandu bangsa Israel menyeberangi gurun pasir dan laut, demikianlah Sang Penuntun akan memandu kita menapaki jalan kehidupan. Tetapi bukan itu saja, Dia akan memberikan pertolongan dan penghiburan ketika kita menjadi lemah dan lesu. Dia tak akan pernah gagal menjalankan peranNya, karena Sang Penuntun adalah Roh Kudus yang adalah juga Allah.



Kidung Jemaat 237 Roh Kudus Tetap Teguh

1.
Roh Kudus, tetap teguh Kau Pemimpin umatMu

Tuntun kami yang lemah lewat gurun dunia
Jiwa yang letih lesu mendengar mendengar panggilanMu,
“Hai musafir, ikutlah ke neg’ri sejahtera!”

2.
Kawan karib terdekat, Kau menolong yang penat

B’ri di jalan yang kelam hati anakMu tent’ram
Bila badai menderu, perdengarkan suaraMu,
“Hai musafir, ikutlah ke neg’ri!”

3.
Bila nanti tamatlah pergumulan dunia,

Dalam sorga mulia nama kita tertera,
Asal kita ditebus, pun dipanggil Roh Kudus,
“Hai musafir, ikutlah ke neg’ri sejahtera!”