Ketika masih kanak-kanak, salah satu hal yang ditabukan aku lakukan adalah "cakap kotor".
"Pantang!" Begitu nasihat bapakku; juga nasihat ibuku. Juga nasihat orang-orang dewasa lain. Kuingat sekali waktu - aku masih SD - abang beca kami mengucapkan kepada seorang kawannya tukang beca lain beberapa kata yang belum kami pernah kami - aku dan adik-adikku - dengar. Kami tidak mengerti artinya, tapi terdengar lucu, karena kata-kata tersebut dibalas oleh abang beca lain sambil tertawa keras-keras.
Di rumah kami menirukannya dengan bangga. Ketika ada tamu datang ke rumah, kami berteriak-teriak menggunakan kata-kata tersebut untuk pamer pengetahuan - ? - baru kami itu. Hasilnya : kami dibentak untuk diam, dan ketika tamu pulang, bapak membantingi kami dengan sapu lidi, hingga beberapa ujung lidi bersarang di kaki kami. Belakangan kami tahu, setelah dijelaskan dengan bentakan dan teriakan keras, bahwa apa yang kami ucapkan adalah "cakap kotor."
Tetapi, sekarang ini perkataan kotor sudah tidak terlalu dianggap kotor lagi rupanya. Dimana-mana terdengar orang memaki atau bercanda dengan ucapan yang tak senonoh. Televisi menjadi guru yang rajin mengajarkan kosa kata yang dulu tergolong 'kotor.' Orang cukup tertawa atau tersenyum mendengar kata kotor diucapkan di depan umum, karena konon tidak ada lagi yang kotor. Itu - kata mereka - semua hanya ada di pikiran. Kotor yang berarti porno hanya terjadi kalau yang mendengar 'ngeres'. Kotor yang berarti kasar hanya terjadi kalau yang mendengar terlalu sensitif.
Hebatnya lagi ada orang-orang Kristen yang membenarkan penggunaan kata kasar untuk menegur - begitu kata mereka - saudara seiman. Kata-kata "goblok, tolol, bebal" dengan ringan berseliweran di udara dan di monitor komputer. Katanya, mereka terinspirasi oleh Rasul Paulus yang pernah menyamakan penyesat dengan anjing, dan juga cara Yesus menegur orang munafik sebagai "hai, keturunan ular beludak!" Mereka lupa, baik Paulus maupun Yesus menggunakan kata yang keras untuk kondisi yang sangat khusus dan dengan emosi yang terpelihara, sedangkan orang Kristen masa kini menggunakannya untuk memaki, meninggikan diri dan mengintimidasi yang lain.
Adakah gunanya mengucapkan kata kotor ? Rasul Paulus mengingatkan :
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
(Efesus 4 : 29)
29 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.