14 Juni 2009

Lampak ni gaol

Pendeta Ambon yang hari ini berkhotbah di gereja mengibaratkan orang Jawa seperti padi, orang Maluku sebagai pohon sagu, sedangkan orang Batak sebagai pohon pisang. Akh, tentunya dia sudah cukup lama bergaul dengan orang Batak hingga tahu filosofi orang Batak :

masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masi tungkol-tungkolan songon suhat di robean

Masyarakat Batak memang memegang teguh ikatan kekeluargaan dan kekerabatan. Memang banyak yang mempersoalkan : apakah kadar waktu yang dialokasikan untuk menjalin kekerabatan tersebut tidak berlebihan ? Lihatlah berapa banyak waktu untuk 'maradat' dan menghadiri berbagai acara keluarga jauh di sana-sini.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa di masa kini, di mana tuntutan kedisiplinan dalam waktu kerja, akan menyulitkan orang Batak dalam memenuhi undangan dan berbagai kewajiban adat. Tetapi, meninggalkan kebiasaan yang sudah mendarah-daging ini akan membuat orang Batak tercerabut dari budayanya.

"Masiamin-aminan songon lampak ni gaol" adalah filosofi yang luhur yang tak lekang oleh zaman yang diwariskan oleh leluhur kita. Barangkali kita tidak bisa mengikuti seluruh format adat-istiadat kita, tetapi kita pasti tahu bahwa ada kebenaran universal dalam metafora pohon pisang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.