Mengapa kita mengikut Yesus ? Ada banyak agama, kepercayaan atau ketidakpercayaan yang juga menawarkan cara hidup yang 'sejati.'
Membaca hidup para murid Yesus 'angkatan pertama' sebagaimana dicatat di Kitab Perjanjian Baru, tahulah kita tak seorang pun dari mereka - menurut yang tercatat - hidup 'bahagia' sebagaimana ukuran manusia umumnya. Tak ada dari mereka yang berlimpah kekayaan, atau mendapat kekuasaan yang tinggi, atau mendapat anak cucu yang banyak. Malahan yang diceritakan adalah penderitaan yang luar biasa.
Berdustakah Yesus ketika mengatakan bahwa para pengikutNya akan mendapatkan 'imbalan' yang berlipat ganda karena telah meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mengikutNya ? Ataukah pengertian kita mengenai 'imbalan' berupa hamoraon, hagabeon dan hasangapan yang keliru ? Tak ada kata penyesalan keluar dari mulut para murid. Masihkah kita - pengikutNya masa kini - hendak menuntut kepada Tuhan ?
Petrus berkata: "Kami telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau."
Kata Yesus kepada mereka : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang-tuanya atau anak-anaknya,
akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia menerima hidup yang kekal."
(Lukas 18 : 28-30)
09 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.