Ketika anakku yang baru berusia 5 tahun sakit hampir satu minggu ini, hatiku sangat sedih melihat tubuhnya layu dan semangatnya pudar. Syukurlah mulai kemarin dia sudah terlihat pulih, dan kelakukannya cerianya mulai muncul kembali. Ketika anakku sakit, aku sebagai bapanya juga merasa sakit. Ingin rasanya mengambil alih segala rasa sakit yang hinggap pada diri bocah kecilku.
Ketika anakku berbuat lasak dan memecahkan kaca meja di sebuah rumah sakit, aku marah dan menegurnya.
Ketika anakku berbuat nakal dan merampas mainan temannya, aku marah dan menegurnya.
Ketika anak-anak beranjak remaja, menjadi dewasa, kemudian membangun rumah-tangganya sendiri, apakah orang tua masih dapat marah dan menegur mereka yang berbuat salah ?
Ketika orang-tua telah memberikan yang terbaik bagi anaknya, tetapi anak berbuat jahat, bagaimanakah perasaan hati bapanya ? Akankah sang bapa membuat iklan pernyataan "putus hubungan keluarga" di koran ?
Ketika seorang anak yang telah dijanjikan warisan - resmi bermeterai di hadapan notaris - oleh orangtuanya tetapi berbuat hal-hal yang menentang ajaran orangtuanya, apakah sang orangtua akan mencabut janji itu ?
Ketika manusia yang telah meminta ampun dosa ditebus dosanya - dan diangkat menjadi anak Allah serta mendapat bagian dalam Kerajaan Allah - kembali berbuat dosa, apakah yang akan dilakukan oleh Allah Bapa kita terhadap kita ?
Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
(Efesus 4 : 30)
30 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.