05 Mei 2009

Gokkon dohot Jou-jou

Di bawah taplak plastik pasti meja makan di rumah orangtuaku tampak beberapa lembar undangan. Tanpa sampul, dihiasi gambar rumah Batak dan motif ulos di halaman depan, jelaslah itu undangan dari kerabat sesama halak hita.

"Dari siapa, Mak?" tanyaku.

"E...ida ma disi. Adong do i na tu hamu."

Ketika kuperiksa, ternyata undangan itu adalah dari beberapa pengundang yang berbeda untuk beberapa acara perkawinan. Beberapa undangan masih belum ditulisi nama dan alamat penerimanya. Artinya : yang mengedarkan undangan pun tak tahu kepada siapa undangan tersebut diberikan. Aku baca nama dan alamat pengundang; tapi, tak kenal.

Lalu, ibuku menjelaskan bagaimana partuturon dengan sang pengundang.

Tak dekat-dekat amat, pikirku. Dan memang belum pernah bertemu.

Tapi, itulah adat Batak. Atau, itukah adat Batak ? Undangan harus disebar ke berbagai kerabat yang masih dekat hubungan kekerabatannya, kenal atau tidak kenal.

Yang lebih aneh sebenarnya adalah kegiatan 'marhara'. Sebenarnya ini kegiatan menemui dan mengundang orang-orang sekelompok (misal dongan tubu dan boru) untuk menghadiri suatu acara. Tetapi, kalau kelompok atau 'horong' kita tidak cukup banyak, maka kita akan mengajak orang-orang yang sebenarnya tidak diundang untuk 'memperkuat' rombongan kita, sehingga uduran rombongan kita terlihat banyak. Nah, CMIIW, bukankah dengan begini pesta (pernikahan atau kematian) berubah menjadi ajang 'unjuk' koneksi ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon sertakan alamat email.