Beginilah pada mulanya : pasangan muda itu membeli kursi tamu sederhana. Mereka sangat bangga. Lalu, mereka membetulkan talang air yang bocor. Mereka sangat senang.
Kemudian, mereka mampu menyewa rumah untuk 3 tahun. Mereka tersenyum. Sang isteri mulai mencicil membeli peralatan dapur yang baik.
Mereka mampu beli sepeda motor. Juga beli lemari pendingin. Mereka saling berpandangan dengan mesra.
Waktu berlalu.
Cut! Sudah rumah sendiri. Karir yang baik diiringi pendapatan yang meningkat. Anak-anak bisa sekolah di sekolah unggulan yang mahal. Mobil yang bagus.
Cek-cok karena anak minta dibelikan mobil untuk transportasi ke sekolah. Sakit hati karena tidak liburan ke Phuket diganti menjadi liburan ke Bali. Sebal karena lama menunggu antrian di rumah sakit internasional. Ngomel karena tiga pembantu tidak bisa membuat lantai gemerlapan.
Stres karena promosi menjadi direktur belum diputuskan juga.
Memang, Alkitab mengajarkan bahwa lelaki harus berjerih payah untuk menafkahi keluarga. Tetapi, jika kita tunduk kepadaNya, maka kita akan berbahagia menikmati hasil jerih payah itu. So, mengapakah kita tak henti menuntut lagi dan lagi dan lagi dalam hidup ini ?
Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!
Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu.
(Mazmur 128:1-2)
15 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.