Pagi ini aku dan istriku membaca satu perikop dari Kitab Rut mengikuti panduan dari buku renungan Saat Teduh.
Kisah Rut dan Naomi sangat dikenal oleh orang Kristen, karena menjadi teladan hubungan yang mesra antara mertua dan menantu. Tetapi, renungan pagi ini lebih menekankan tentang perilaku Boaz - yang kelak akan menikahi Rut - dalam memberikan kesempatan kepada Rut untuk mengutip jelai yang tercecer dan tersisa. Boaz melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan (tertulis di dalam Kitab Ulangan) agar dari setiap hasil panen, disisakan sebagian bagi para janda, yatim piatu dan orang asing. Rut memenuhi ketiga kriteria tersebut.
Hampir semua gereja mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan dana dari jemaatnya. Ada yang disebut gugu tok-tok ripe atau persembahan bulanan yang - walau tidak disebut wajib - dikumpulkan rutin, ada persembahan ucapan syukur untuk hari Natal, Paskah atau Pentakosta, ada kolekte rutin mingguan, ada kolekte untuk pembangunan rumah ibadah, ada kolekte di partangiangan wijk atau bajem (bagian jemaat),.... Gereja tidak kekurangan ide untuk mengumpulkan dana.
Bagaimanakah dengan hak para janda ? Adakah gereja rutin mengumpulkan dana dan menyantuni para janda dan yatim piatu ?
Berapa banyakkah dana yang dikumpulkan oleh gereja disalurkan bagi para janda, anak yatim dan orang asing ? Tidakkah sebagian besar uang yang dikumpulkan digunakan sendiri oleh gereja untuk berbagai kegiatan internalnya ?
Berapa banyakkah hasil ladang atau dari mata pencarian lainnya disisihkan langsung oleh anggota jemaat untuk para janda, anak yatim dan orang asing ? Ingat, ini adalah di luar perintah perpuluhan.
Dapatkah kita mengatakan diri sebagai pengikut Kristus, jika kita mengabaikan nasihat "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka" (Yakobus 1 : 27) ?
E..he.., na godangan hata do halak Kristen i ?
01 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon sertakan alamat email.